Kamis, 30 Juli 2009

UJUNG PERJUANGAN

Ibr 4:8-11 Sebab, andaikata Yosua telah membawa mereka masuk ke tempat perhentian, pasti Allah tidak akan berkata-kata kemudian tentang suatu hari lain. Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya. Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorangpun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga.


 

Bayangkanlah orang-orang yang berperang. Mereka bangun pagi-pagi, mempersiapkan diri. Mereka berkasih-kasihan dengan orang yang dicintai di rumah, mereka berpelukan seperti tidak akan bertemu lagi, sampai akhirnya sang prajurit mengambil perisai dan pedangnya lalu pergi tanpa menoleh lagi. Ia pergi, bersama-sama dengan segala teman dari kaumnya, dari suku bangsa, dari bangsanya, lalu berbaris, berlari, dan bertempur. Kalau tidak bertempur, mereka melakukan hal-hal lain seperti membangun, membuat sesuatu, atau mengangkut-angkut barang. Perang bukan hanya soal saling serang, tetapi juga tentang bergerak dan menduduki suatu area.

Peperangan berakhir ketika wilayah musuh sudah dikuasai, ditaklukkan. Bukankah bangsa Israel dahulu juga berperang? Mereka telah dipersiapkan selama 40 tahun di panasnya padang gurun bersama Musa. Setelah itu, di bawah kepemimpinan Yosua mereka mulai bergerak. Mereka menyerang Yerikho, benteng yang luar biasa kuat. Mereka menyeberang sungai Yordan. Mereka memasuki tanah perjanjian. Perang berlangsung bertahun-tahun, mengalahkan musuh satu per satu dan menghapuskan mereka dari muka bumi, seperti yang TUHAN perintahkan kepada mereka. Sampai akhirnya, semua tanah itu dikuasai. Semua bisa memperoleh milik pusakanya, sebagaimana tanah itu dibagi-bagi sesuai titah Allah dan setiap suku berdiam.

Perang berakhir. Pedang diganti alat tani, perjuangan yang tadinya bertujuan membinasakan, kini bertujuan untuk menghidupkan – menumbuhkan tanaman di ladang dan kebun, mengembangbiakkan ternak, dan membangun keluarga memenuhi bumi. Itu adalah apa yang dilakukan Israel di bawah Yosua. Itu dahulu.

Sekarang, perjuangan kita pada umumnya bukan lagi berperang untuk menguasai daerah yang jelas dan pasti. Perjuangan kita telah berubah menjadi peperangan dalam dagang, industri, dan teknologi. Orang bertempur untuk meraih segmen pasar yang lebih besar, berperang untuk memenangkan persaingan yang tidak habis-habisnya, tidak henti-hentinya, bahkan semakin lama semakin sengit. Pedang digantikan oleh pena, dan pena digantikan oleh tuts komputer. Kapan ini semua berakhir?

Renungkanlah. Orang yang dulu berperang bersama Yosua berpikir bahwa perang sudah usai, tapi mereka salah. Orang yang dahulu berperang bersama Gideon berpikir mereka sudah tenteram, tetapi mereka keliru. Demikian juga dengan yang berperang bersama Daud, atau berjuang membangun negeri bersama Salomo, dan begitu seterusnya hingga jaman modern ini. Mereka salah. Perjuangan terus muncul, tantangan baru harus terus dihadapi, dan tidak urung membuat orang-orang merasa frustasi.

Maka perhentian menjadi sesuatu yang didamba-dambakan. Waktu orang Israel berperang bersama Yosua, mereka mendambakan tempat perhentian tetapi Allah berkata tentang "hari ini, jangan keraskan hatimu!" Mereka yang menginginkan perhentian mungkin bersikeras bahwa sekaranglah waktunya duduk diam dan beristirahat, tapi Allah menegaskan bahwa mereka harus menundukkan hati, jangan tegar tengkuk, dan terus berjuang. Terus berjalan, bergerak memenuhi rancangan TUHAN sampai pada hari-Nya nanti. Sekarang ini, turutilah perintah-Nya – itulah yang diserukan Daud dalam mazmurnya yang indah. Belum tiba waktunya untuk berhenti.

Kapan dunia ini akan berhenti? Manusia lahir dan mati – yang belum dilahirkan belum melakukan apa-apa, sedang yang sudah mati tidak dapat melakukan apa-apa lagi. Namun yang masih hidup berjuang semakin hebat, sementara jumlah manusia menjadi semakin banyak. Itulah dunia yang masih berputar, teratur seperti terbit dan tenggelamnya matahari demikianlah manusia lahir dan mati, setelah sejenak menerangi tanah, air, dan langit. Adakah semuanya ini akan berakhir?

TUHAN, Allah semesta alam, menyediakan suatu hari perhentian. Inilah hari ketujuh bagi umat Allah. Inilah tempat dan waktu di mana ujung perjuangan berada, saat orang berhenti dari segala pekerjaannya – sama seperti Allah juga berhenti. Tempat perhentian ini sedemikian penting, sehingga Tuhan memerintahkan umat-Nya untuk menguduskan hari Sabat, agar kita senantiasa ingat dan tidak lupa; inilah hal yang didambakan, suatu pengharapan yang pasti yang telah diberikan TUHAN.

Masalahnya, banyak orang yang melupakan hari perhentian. Sekarang saja, orang mulai terbiasa dengan pola bekerja 7 hari seminggu, 365 hari setahun. Waktu istirahat adalah saat khusus yang disebut dengan "hari cuti" yang tujuannya adalah untuk beristirahat sejenak setelah perjuangan yang panjang. Hari cuti sama sekali tidak mengingatkan kita pada hari perhentian, karena semua yang mengambil cuti tahu betul bahwa hari itu akan berakhir dan perjuangan akan dimulai lagi. Betapa banyaknya yang cukup keras kepala untuk terus berperang!

Apa sebabnya orang terus mau berjuang walaupun mendambakan perhentian? Itulah hasil dari hasrat manusia, yang masing-masing berupaya menempati posisi di tengah dunia. Kita berperang demi diri kita sendiri, memenuhi keinginan dan cita-cita kita, sampai kita tidak lagi mau mentaati siapapun juga – juga tidak taat kepada Tuhan – karena kita mau menjadi penentu, pemimpin, penguasa, dan pemilik dari segala yang kita mau. Kita tidak memikirkan tentang hari perhentian, karena kita tetap menginginkan kesempatan baru untuk berjuang lebih jauh lagi, ambil selangkah lebih maju. Kalau hari berhenti, bukankah semua juga berakhir? Dan kalau manusia tidak berjuang lagi, lalu apa makna hidup manusia?

Sampai ada yang berpikir, bahwa nanti di dalam Surga pun orang akan berjuang dan bekerja, karena bagaimanapun manusia harus mengambil peluang untuk posisinya yang lebih tinggi. Apakah di Surga masih ada makna dari usaha seorang manusia?

Kita memang seringkali terlalu keras kepala untuk menetapkan makna bagi diri kita sendiri. Bukankah makna yang sesungguhnya, yang benar dan sejati, hanya datang dari Pencipta kita? Apa artinya berjuang dan menempati posisi yang dipandang semua orang di muka bumi, padahal TUHAN memandang posisi itu tidak lebih dari sebuah titik di puncak gunung sampah yang tidak berarti? Entah ada di atas, entah ada di bawah tumpukan sampah, semuanya akan bernasib sama: dihancurkan dan dibinasakan. Lalu mengapa tidak mulai untuk menyerahkan diri kepada TUHAN yang memposisikan kita di tempat yang dikehendaki-Nya?

Di posisi yang telah diberikan-Nya, ada makna hidup yang paling bernilai, yang tidak dapat lebih tinggi lagi. Di hari perhentian, Tuhan meletakkan anak-anak-Nya di tempat yang disediakan-Nya; itulah tempat yang paling mulia yang bisa diharapkan seorang manusia, mahluk yang diciptakan Allah. Marilah kita berusaha masuk ke tempat perhentian itu! Jangan ada seorangpun yang gagal, karena tidak taat dan keras kepala!

Terpujilah TUHAN!