Senin, 26 April 2010

Cinta Pada Pendengaran Pertama

Kej 24:66-67 Kemudian hamba itu menceritakan kepada Ishak segala yang dilakukannya. Lalu Ishak membawa Ribka ke dalam kemah Sara, ibunya, dan mengambil dia menjadi isterinya. Ishak mencintainya dan demikian ia dihiburkan setelah ibunya meninggal.

Memang Ribka cantik. Kecantikan itu begitu jelas, begitu nyata, sehingga mustahil untuk diabaikan. Tetapi, kecantikan bukan monopoli seorang gadis; bukankah banyak gadis lain yang juga cantik-cantik? Keindahan rupa seorang gadis berbeda antara satu dengan lainnya, tetapi sukar untuk mengatakan bahwa "inilah yang paling cantik" selama masih ada pembanding-pembanding lain yang setara. Bagaimanakah cinta kasih bisa dimulai? Apakah hanya penampilan saja sudah cukup untuk mendatangkan rasa cinta, seperti yang banyak ditunjukkan oleh berbagai kisah dan penggambaran orang-orang modern yang serba instan?

Bagi Ishak, yang pertama-tama terjadi bukanlah melihat Ribka, melainkan mendengarkan kisah hambanya. Ia mendengarkan bagaimana TUHAN telah menyertai perjalanan hambanya itu, hingga membawa gadis bernama Ribka ke hadapannya. Tidakkah Ishak merasa takjub atas sebuah kenyataan, yaitu TUHAN menyediakan istri baginya? Seumur hidupnya, ia telah melihat sendiri bagaimana ayahnya membuat perjanjian yang hebat dengan TUHAN; dirinya adalah wujud perjanjian itu. Kini, ia memandang Ribka dengan satu pengertian, bahwa inilah yang menjadi bagiannya. Dalam pengertian itu, kecantikan Ribka menjadi pelengkap yang menyempurnakan.

Berapa banyak orang yang memulai hubungannya dengan pendengaran, dari pemahaman? Masalahnya, melihat adalah sesuatu yang instan, cepat, dan langsung, tetapi pemahaman membutuhkan waktu. Melihat adalah pemeriksaan fisik, sedang mendengar adalah pemeriksaan intelektual dan emosional. Kalau berniat menjalin hubungan cinta, seharusnya dimulai dengan pendengaran yang menuntun pada pemahaman, bukan penglihatan yang menuntun kepada nafsu. Tetapi orang yang menginginkan segala sesuatu serba cepat, serba langsung – kebanyakan memilih untuk mendahulukan apa yang dilihat. Kata-kata menjadi usang, suara-suara diabaikan, atau tertutup oleh bisingnya dunia modern.

Apa yang ada pada kita sekarang? Apakah kita sedang menjalin hubungan? Apakah sekarang ini telah berhubungan? Pertanyaan sesungguhnya ada sejak pertama kali pertemuan itu terjadi: apakah dimulai dari penglihatan, atau dari pengertian mengenai apa dan siapa pasangan yang kita temui? Jika kita belum memahami calon / pasangan kita, ada baiknya kita memulai sekarang dengan memberi waktu untuk duduk dan mendengarkan, berusaha memahami, mengerti. Sebaliknya, kita pun perlu berkata-kata, perlu bersuara dalam keheningan, agar didengar dan memberikan pemahaman bagi pasangan. Dapatkah kita memahami, bahwa inilah orang yang disediakan oleh TUHAN?

Rabu, 07 April 2010

Menjadi SATU

Kej 2:22-24 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

Pada awalnya hanya ada satu manusia. Pada akhirnya, juga hanya ada satu manusia, karena laki-laki dan perempuan menyatu menjadi manusia. Dari yang satu dibuat dua, dan inilah yang disadari oleh manusia yang pertama itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku!" Manusia pertama tidak melihat orang lain; ia melihat dirinya sendiri. Dan di saat itu juga lahir istilah perempuan dan laki-laki, yang satu diambil untuk yang lain – dan pada waktunya akan bersatu kembali, menjadi satu daging.

Cinta manusia yang pertama muncul sebagai pengakuan bahwa yang lain adalah bagian dari dirinya sendiri. Ketika laki-laki itu memandang perempuan, ia tidak melihat orang lain di sana. Di saat yang sama, ia juga berhadapan dengan individu yang lain, yang memandang dengan kerinduan yang sama, dengan hasrat yang sama: untuk kembali menjadi satu kembali. Ini adalah perasaan yang mulia yang diciptakan oleh TUHAN Allah, yang membangun kedua manusia itu. Dengan demikian manusia tetap satu, walaupun ada dua. Satu perasaan, satu pikiran, satu daging, dalam dua individu yang berbeda.

Awal mulanya, semuanya baik dan indah – sampai saat di mana manusia mati di hadapan Allah dan terbuang keluar. Hubungan dengan Allah hancur, maka hancur pula hubungan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dan perempuan tidak lagi punya satu perasaan dan satu pikiran, walau hasrat untuk menjadi satu daging tetap ada – itulah yang menjadi nafsu eros, cinta badani yang masih mempersatukan manusia untuk beranak cucu dan memenuhi bumi. Itulah yang membuat laki-laki dan perempuan berbeda, dibedakan, bahkan dibuat menyimpang ketika laki-laki ingin bersatu dengan laki-laki dan perempuan ingin bersetubuh dengan perempuan.

Ketika kasih TUHAN dalam Kristus Yesus memulihkan hubungan yang hancur, mendatangkan damai sejahtera antara Allah dan manusia – pulih pula hubungan laki-laki dan perempuan. Maka, suami dan istri di dalam TUHAN kembali merasakan cinta yang pertama, yang menyatukan perasaan dan pikiran dan tubuh menjadi satu daging, satu manusia. Sang suami memandang istri bukan sebagai orang lain, melainkan melihat dirinya sendiri. Ia memandang dengan kerinduan yang sama, dengan hasrat yang sama: untuk menjadi satu kembali.

Mereka, suami dan istri, diciptakan TUHAN sebagai satu manusia. Terpujilah TUHAN!