Kej 24:66-67 Kemudian hamba itu menceritakan kepada Ishak segala yang dilakukannya. Lalu Ishak membawa Ribka ke dalam kemah Sara, ibunya, dan mengambil dia menjadi isterinya. Ishak mencintainya dan demikian ia dihiburkan setelah ibunya meninggal.
Memang Ribka cantik. Kecantikan itu begitu jelas, begitu nyata, sehingga mustahil untuk diabaikan. Tetapi, kecantikan bukan monopoli seorang gadis; bukankah banyak gadis lain yang juga cantik-cantik? Keindahan rupa seorang gadis berbeda antara satu dengan lainnya, tetapi sukar untuk mengatakan bahwa "inilah yang paling cantik" selama masih ada pembanding-pembanding lain yang setara. Bagaimanakah cinta kasih bisa dimulai? Apakah hanya penampilan saja sudah cukup untuk mendatangkan rasa cinta, seperti yang banyak ditunjukkan oleh berbagai kisah dan penggambaran orang-orang modern yang serba instan?
Bagi Ishak, yang pertama-tama terjadi bukanlah melihat Ribka, melainkan mendengarkan kisah hambanya. Ia mendengarkan bagaimana TUHAN telah menyertai perjalanan hambanya itu, hingga membawa gadis bernama Ribka ke hadapannya. Tidakkah Ishak merasa takjub atas sebuah kenyataan, yaitu TUHAN menyediakan istri baginya? Seumur hidupnya, ia telah melihat sendiri bagaimana ayahnya membuat perjanjian yang hebat dengan TUHAN; dirinya adalah wujud perjanjian itu. Kini, ia memandang Ribka dengan satu pengertian, bahwa inilah yang menjadi bagiannya. Dalam pengertian itu, kecantikan Ribka menjadi pelengkap yang menyempurnakan.
Berapa banyak orang yang memulai hubungannya dengan pendengaran, dari pemahaman? Masalahnya, melihat adalah sesuatu yang instan, cepat, dan langsung, tetapi pemahaman membutuhkan waktu. Melihat adalah pemeriksaan fisik, sedang mendengar adalah pemeriksaan intelektual dan emosional. Kalau berniat menjalin hubungan cinta, seharusnya dimulai dengan pendengaran yang menuntun pada pemahaman, bukan penglihatan yang menuntun kepada nafsu. Tetapi orang yang menginginkan segala sesuatu serba cepat, serba langsung – kebanyakan memilih untuk mendahulukan apa yang dilihat. Kata-kata menjadi usang, suara-suara diabaikan, atau tertutup oleh bisingnya dunia modern.
Apa yang ada pada kita sekarang? Apakah kita sedang menjalin hubungan? Apakah sekarang ini telah berhubungan? Pertanyaan sesungguhnya ada sejak pertama kali pertemuan itu terjadi: apakah dimulai dari penglihatan, atau dari pengertian mengenai apa dan siapa pasangan yang kita temui? Jika kita belum memahami calon / pasangan kita, ada baiknya kita memulai sekarang dengan memberi waktu untuk duduk dan mendengarkan, berusaha memahami, mengerti. Sebaliknya, kita pun perlu berkata-kata, perlu bersuara dalam keheningan, agar didengar dan memberikan pemahaman bagi pasangan. Dapatkah kita memahami, bahwa inilah orang yang disediakan oleh TUHAN?