Ef 1:1-2 Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.
"Siapa saya?" adalah pertanyaan yang patut dilontarkan sebagai introspeksi diri. "Saya adalah seorang guru," atau "Saya adalah seorang pedagang," baru menunjukkan apa yang kita lakukan. "Saya didorong orang tua saya," atau "Saya diminta oleh kekasih saya," menunjukkan apa yang menjadi motivasi kita. Berapa banyak dari antara kita yang dapat bertanya pada diri sendiri serta menjawabnya dengan sebuah kepastian? Seringkali inilah sumber dari berbagai kebimbangan dan rasa tidak percaya diri -- karena orang yang tidak mengetahui dirinya sendiri, sukar untuk mempercayainya. Tindakan mempercayai diri sendiri merupakan sebuah pilihan. Bagaimana kita bisa percaya kepada seseorang yang tidak kita kenal, sekalipun itu adalah diri kita sendiri?
Perhatikanlah Rasul Paulus. Ia dengan tegas menyebut namanya Paulus, bukan Saulus -- ini adalah pemahaman tentang siapa dirinya dan posisi apa yang diambilnya. Di dalam sejarah, nama Saulus adalah nama yang menggemparkan seluruh orang Yahudi, sebagai sosok yang ditakuti, farisinya orang Farisi, dan momok bagi Yahudi pengikut Kristus dimanapun berada. Ia dijumpai secara langsung oleh Tuhan Yesus dalam perjalanan ke Damsyik (Damaskus, ibukota Syria), di mana seluruh kepercayaannya diguncang dan dijungkir-balikkan, hingga namanya pun diubah menjadi Paulus. Jika nama Saulus menjadi nama yang dibanggakan di tengah-tengah manusia, disebut dan dikagumi oleh orang-orang Farisi, dibisikkan dan ditakuti oleh orang-orang Kristen, maka nama Paulus menempati posisi yang sebaliknya. Berapa banyak orang yang berani mengubah namanya secara demikian?
Tidak sedikit orang yang melihat diri sebagai hasil dari pengalaman seluruh kehidupannya; mereka mengatakan, "saya begini karena dahulu pengalaman saya demikian...," -- beberapa mengacu kepada trauma masa kecilnya. Paulus melihat dirinya adalah hasil dari kehendak Allah -- ia ada sebagai rasul Kristus Yesus bukan oleh pengalamannya atau bujukan orang atau kepentingannya sebagai manusia di muka bumi. Coba renungkan, dapatkah kita dengan keyakinan penuh melihat diri kita sekarang adalah hasil dari kehendak Allah?
Dari pengenalan yang kokoh tentang dirinya, Paulus dengan yakin dapat menyapa orang-orang kudus di Efesus, yaitu orang yang percaya dalam Kristus Yesus. Paulus tahu siapa dirinya, juga mengenal orang-orang lain yang serupa dengannya secara eksklusif -- karena itulah arti dari kudus, yaitu dikhususkan, dibedakan di dalam percayanya pada Kristus. Mereka juga menjadi orang-orang yang ada sebagai hasil dari kehendak Allah, sehingga mendapatkan kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Penyertaan ini adalah hal yang luar biasa: pertama-tama berasal dari keilahian yang menciptakan langit dan bumi, yang menjadi kepastian besar tentang kuasa-Nya. Jika kita disertai Allah, siapa yang akan menjadi lawan kita?
Kedua, penyertaan itu tidak diberikan dalam hubungan yang jauh, melainkan dalam hubungan ayah dengan anak, sehingga kita dapat memanggil-Nya Bapa. Bagi Paulus yang hadir sebagai hasil dari kehendak Allah, keberadaan hubungan ini menjadi hal yang sewajarnya, Sebagaimana Allah berkehendak membalikkan Saulus menjadi Paulus, demikian pula Ia berkehendak mengangkatnya sebagai anak. Bukan hanya Paulus yang mendapatkan kasih karunia secara demikian: setiap orang yang hidupnya di dalam keyakinan iman percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, ia juga menerima karunia serupa, karena percaya.
Ketiga, kasih karunia bukan datang dari satu Pribadi saja, melainkan dari Bapa dan Anak -- masing-masing memiliki peran yang berbeda dalam hidup kita. Di saat kita bisa memanggil Allah Bapa, kita juga memiliki Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Pemberian anugerah dari berbagai sisi membuat hubungan yang lengkap dengan Allah yang satu, yaitu Allah Tritunggal, membuat kasih karunia itu hadir sebagai jejak masa lalu, penyertaan masa kini, dan harapan masa depan. Allah tidak hadir hanya sebagai Pribadi yang berkuasa dan dahulu pernah berhubungan dengan manusia serta memberi aturan ini-itu dalam berbagai ritual agama, melainkan juga hadir sebagai Pribadi yang menjadi Pembela atas pilihan yang kita ambil hari ini, dan juga menjadi Pendamping atas perjalanan kita memasuki masa depan.
Terimalah salam di awal tahun baru ini, wahai orang-orang percaya! Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu! Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny