Sabtu, 30 Juli 2011

Renungan Sehari - 30 Juli 2011

Ef 5:1-2 Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.

Menjadi "penurut-penurut Allah" bukan sekedar bicara ketaatan. Ini adalah suatu pengajaran untuk menjadi orang yang mengikuti Tuhan, bahkan kalau dilihat dalam bahasa aslinya, "mimetes" artinya adalah mengimitasi, meniru, meneladani tindakan Tuhan Yesus Kristus. Kita bisa belajar untuk mengikuti-Nya, karena Kristus Yesus sendiri juga telah menjadi manusia yang berjalan-jalan di atas muka bumi, mengalami semua kesusahan, kesulitan, penyiksaan, sampai kematian di kayu salib -- dan di dalam semua hal itu, Ia menjadi manusia sempurna yang tidak melakukan dosa.

Apa dan bagaimana kita dapat meniru Tuhan Yesus, sedangkan kita sendiri bukan Tuhan? Di sini ada batasan yang jelas tentang menjadi penurut Allah, yaitu seperti anak-anak yang kekasih dan hidup di dalam kasih. Manusia mempunyai kapasitas kasih yang luar biasa, merupakan bagian dari nafas Ilahi yang tidak pernah hilang dari manusia, walaupun manusia mati karena jatuh dalam dosa. Kapasitas kasih itu mempunyai dua segi: dikasihi dan mengasihi. Jika kita melihat anak-anak yang dikasihi, kita menemukan di sana ada kemampuan yang luar biasa untuk menerima kasih -- seperti anak-anak yang dengan keyakinan penuh mempercayai orang tuanya dan berharap terus berada dalam kasih mereka. Namun, semakin orang menjadi dewasa, semakin ia beralih menjadi orang yang mengasihi. Sayangnya, karena orang masih diikat oleh dosa di dalam dagingnya -- keegoisannya -- maka orang kehilangan sebagian dari kapasitas mengasihi.

Jadi di hadapan Tuhan, bagian yang belum tercemar dari manusia adalah kapasitas dikasihi, seperti anak-anak yang kekasih. Inilah bagian yang pertama dapat kita teladani dari Tuhan Yesus: bagaimana Ia menaruh diri-Nya di tangan Bapa di Sorga, menerima kasih yang penuh dan terus menerus menyatu dalam seluruh gerak kehidupan Yesus. Tidak ada peristiwa atau tekanan dari siapapun yang dapat mengendurkan keyakinan Tuhan Yesus akan kasih Bapa-Nya. Seharusnya, demikian juga kita bersikap dalam menerima kasih Tuhan: sepenuhnya, terus menerus.

Pernahkah kita meragukan bahwa Tuhan sungguh mengasihi kita? Pernahkah kita berpikir, tentang betapa kurangnya dan lemahnya dan salahnya diri kita, sehingga kita tidak pantas dikasihi -- atau dengan kata lain, Tuhan tidak cukup besar kasih-Nya untuk menjangkau kita yang jauh berada di bawah ini? Saat kita terlalu memandang besar pada kesalahan dan kekurangan kita sendiri, sebenarnya kita sedang meragukan besarnya kasih Tuhan! Saat kita meminta, dengan usaha ekstra keras, tanda dan mujizat dari Tuhan untuk menunjukkan perhatian-Nya pada kita, mungkin kita sedang meragukan kasih-Nya dan kepedulian-Nya. Meneladani Tuhan Yesus dalam kasih bukan dimulai dari mengasihi, melainkan dari sikap bersedia dikasihi seperti anak kecil yang tidak memikirkan kekurangannya sendiri karena percaya kasih bapanya lebih besar daripada kesalahannya.

Dasar dari beriman adalah keyakinan dikasihi, sehingga percaya bahwa keselamatan itu datang hanya oleh anugerah, dimana hanya butuh iman, dan hanya butuh petunjuk Firman dari Tuhan -- bukan segala filsafat dan rekaan manusia yang justru memperlihatkan kekurangan serta keharusan untuk usaha keras menjadi baik, dimana segala filsafat itu gagal memahami betapa besarnya kasih Tuhan.

Ketika orang memahami posisinya yang dikasihi, maka tindakan mengasihi adalah respon, suatu jawaban, yang wajar dan mengalir secara alami. Anak yang dibesarkan dalam bimbingan kasih orang tua, akan menjadi orang yang juga mempunyai kapasitas mengasihi yang besar bagi sesamanya. Sebaliknya, anak yang tidak merasakan dikasihi akan tumbuh menjadi orang yang egois dan tidak peduli, memuaskan dirinya sendiri saja serta hawa nafsunya dalam keserakahan. Kasih dari Tuhan Yesus sedemikian besar, sehingga mengubah orang secara mendasar ketika Roh Tuhan mengubah, melahirkan orang itu kembali.

Kasih Tuhan Yesus bukan semata-mata dalam perhatian, atau pertolongan di kala orang mengalami kesusahan: sakit, miskin, terjerat masalah. Betapa sering orang mengecilkan arti kasih Tuhan Yesus menjadi hanya sekedar sumber supranatural untuk menyelesaikan segala masalah manusia, dan dikemas dalam istilah "berkat"! Kasih-Nya jauh lebih luas dan dalam, karena kasih yang terbesar adalah kasih yang memberikan pengorbanan diri. Itulah yang dikatakan oleh Tuhan Yesus: kasih yang terbesar adalah kasih seorang yang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya.

Tuhan Yesus, di dalam kasih Allah yang begitu besar kepada dunia ini, telah memberikan diri-Nya sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. Dia sudah memberikan diri-Nya sendiri, lebih daripada segala "berkat" dan kebaikan yang pernah dapat manusia pikirkan untuk diperoleh dari Tuhan! Tanda dan mujizat memang menarik, tetapi jangan pernah menaruhnya lebih tinggi dari apa yang sudah diberikan Kristus Yesus! Seperti apa respon kita dengan mengasihi orang yang ada di sekitar kita? Bagaimana kita juga mengasihi Tuhan, dengan segenap hati, kekuatan, akal budi kita? Dan bagaimana kita mengasihi sesama kita?

Respon adalah jawaban yang wajar -- orang mempunyai banyak perbedaan dalam memberikan respon, tetapi pada hakekatnya respon itu harusnya ada. Jika orang tidak berespon terhadap kasih Allah, kemungkinan besar orang itu tidak pernah mempercayai kasih Allah, walaupun aktivitas dan perkataannya mengatakan ia adalah orang percaya. Menjadi orang percaya lebih dari ritual yang rumit atau persembahan yang besar, karena di pusatnya harus ada hati yang terbuka untuk disentuh kasih Tuhan.

Maukah membuka hati bagi Tuhan?

Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny