Ef 5:25-27 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.
Totalitas adalah ciri kasih yang sejati. Totalitas adalah perintah yang diberikan kepada suami dalam hal mengasihi istrinya. Tuhan Yesus Kristus mengasihi jemaat dalam totalitas, sampai Ia menyerahkan tubuh dan darah-Nya sendiri. Totalitas juga merupakan suatu proses yang berkelanjutan, seperti hubungan suami dan istri yang tidak berakhir sampai maut memisahkannya.
Ketika Tuhan Yesus Kristus memulai jemaat-Nya, Ia mengasihi secara total: menyerahkan diri-Nya. Tuhan bukan seperti seorang pencipta yang membuat sebuah barang hanya untuk dijual, diberikan pada orang lain, atau dibuang. Tidak ada seorang suami yang baik yang membuang istrinya -- apalagi Tuhan yang menciptakan konsep tentang pernikahan antara laki-laki dan perempuan. Jadi, hal terpenting yang dinyatakan oleh ayat-ayat ini adalah suatu kepastian, bahwa Kristus mendampingi jemaat-Nya.
Pendampingan yang Kristus lakukan bukan sekedar "berada di rumah" seperti seorang suami yang duduk-duduk saja di depan teras. Ia membuat jemaat menjadi berbeda, menjadi khusus -- itulah artinya kata 'kudus'. Tuhan menerima jemaat apa adanya, tetapi Ia tidak akan membiarkan mereka tetap dalam keadaan buruk, berkarakter jelek, atau berkebiasaan tidak terpuji. Kalau orang datang dengan tubuh kotor, dengan pikiran kotor, Ia akan membersihkannya. Jika orang itu bersikap seperti binatang, yang setelah bersih suka kembali ke comberan kotor, Kristus akan menyeretnya dan menyemprotnya kembali sampai bersih. Kristus memakai air, suatu kiasan dari segala situasi dan peristiwa disekitar kita, dan memakai Firman, untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik kita dalam kebenaran.
Kristus melakukan itu, karena Ia sendiri sangat bersih. Ia tidak membiarkan jemaat yang menjadi bagian dari diri-Nya -- sama seperti istri menjadi bagian dari suami -- memiliki keadaan atau standar yang berbeda dibandingkan diri-Nya sendiri. Tuhan Yesus mau agar jemaat menyerupai diri-Nya, demikianlah jemaat bersatu dengan Kristus dalam segala cara, dalam segala peristiwa. Ia mau agar kita memahami segala peristiwa yang terjadi tidak pernah lepas dari rancangan-Nya. Manusia menikmati air dalam berbagai cara, bahkan hidup dari air, tetapi juga bisa mengalami kesakitan yang hebat karena air -- seperti dalam ombak besar atau badai hujan angin yang menderu. Manusia hidup dengan memanfaatkan air. Tuhan memanfaatkan "air" untuk mengajari manusia.
Namun, tidak cukup hanya melihat pengalaman saja untuk mengerti dan menjadi serupa dengan Kristus. Kita juga membutuhkan Firman, untuk mengerti apa yang tersembunyi dari-Nya, untuk mengerti apa pesan-Nya, dan untuk mentaati perintah-Nya. Pengalaman harus ditafsirkan dan diukur menurut Firman Tuhan. Kurang lebih serupa seperti istri perlu memahami suaminya bukan hanya dari tindak tanduknya, tapi juga dari kata-kata dan komunikasi yang disampaikan.
Semua pengalaman -- itulah 'air' dalam hidup kita -- dan Firman yang diberikan menempatkan jemaat yang sempurna di hadapan Kristus. Kesempurnaan itu bukan datang dari usaha atau jasa dari jemaat sendiri, melainkan sebagai hasil dari proses yang Kristus lakukan. Hasilnya adalah jemaat yang kudus, dikhususkan, dan suci, tidak bercela.
Sebagai tambahan dari ayat ini, ada petunjuk yang diberikan kepada para suami untuk bertindak menyerupai Kristus. Menjadi suami bukan berarti boleh menjadi penguasa yang bisa asal memerintah dan mendikte istrinya, menuntut ketaatan sempurna tanpa bantahan. Bukan juga berarti menjadi "sahabat baik" yang bisa hadir di sana tetapi tidak menjadi satu kesatuan, karena "urusan kamu adalah urusan kamu, urusanku adalah urusanku". Menjadi suami berarti memiliki seseorang untuk dicintai, untuk diterima sebagai diri sendiri.
Mengasihi istri memiliki nilai sama dengan mengasihi diri sendiri -- karena itu banyak pernikahan yang gagal karena ketidakmampuan suami menghargai dirinya sendiri, sehingga akibatnya juga tidak mampu menghargai istrinya. Suami yang tidak yakin atas nilai dirinya sendiri, akan memaksa istri untuk menghargai dan menghormati apa yang sebenarnya tidak dipandang berharga atau layak menerima hormat. Suami yang demikian menjadi penakut dan pemalu di antara lingkungan teman-temannya, sebaliknya menjadi tiran bagi keluarga. Kalau diperhatikan, akhirnya suami demikian tidak yakin bahwa dirinya layak memiliki keluarga, juga tidak yakin keluarganya akan mengasihi dan menerima dirinya apa adanya.
Suami yang mengasihi dirinya dengan cara yang sehat, juga mengasihi istri dan anak-anaknya. Kasih itu membuat seorang suami menerima apapun keadaan awal istrinya -- segala hal yang terasa atau terlihat buruk, tidak menyenangkan, tidak benar. Suami yang benar tidak mencela atau menilai rendah istrinya, melainkan berusaha membangunnya. Kasih mengubah orang. Cinta seorang suami mengubah istrinya menjadi penolong yang sepadan baginya.
Kristus membuat kita, jemaat-Nya menjadi penolong yang sepadan untuk-Nya. Sebagai mempelai Kristus, kita juga mentaati-Nya untuk mengerjakan karya-Nya di atas dunia. Demikianlah kita berkarya dan bekerja, dalam pemahaman yang tidak tergoyahkan: apapun yang terjadi, Kristus beserta kita.
Immanuel!
Salam kasih,
Donny
Sabtu, 29 Oktober 2011
Senin, 17 Oktober 2011
Renungan Sehari - 17 Oktober 2011
Eph 5:22-24 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.
Dalam sebuah keluarga, permulaan dari keharmonisan adalah sikap tunduk. Sebelum dua orang bersama-sama dapat membangun sesuatu yang baik, mereka terlebih dahulu harus tunduk satu sama lainnya, merendahkan satu terhadap yang lain di dalam Kristus. Dalam hal ini, ada sesuatu posisi yang istimewa yang diberikan kepada istri, sesuatu yang berharga sekaligus sering dipandang sebelah mata. Ini adalah kebebasan seorang istri untuk tunduk kepada suaminya.
Banyak yang tidak memahami bahwa dalam bagian surat Efesus ini, Rasul Paulus tidak membuat paksaan bagi istri untuk tunduk kepada suami. Ada saja para suami, dan banyak laki-laki, yang memakai ayat ini sebagai perintah bagi istri untuk tunduk. Mereka memakai ayat-ayat ini sebagai pembenaran diri, karena ingin agar istri mentaati dan mengikuti apa saja kehendak suami. Namun, pemaksaan dan penaklukkan tidak sama dengan sikap tunduk yang sungguh-sungguh, walaupun tindakannya serupa.
Perbedaan terbesar antara pemaksaan dengan penundukkan diri adalah pengakuan. Saat seorang istri dengan rela dan sadar mengakui bahwa suaminya adalah kepalanya, ia bersikap tunduk. Saat seorang istri takut kepada suaminya, ia menyerah dalam paksaan. Ketika istri takut kepada suami, ia mungkin memiliki "kepala" lain, pikiran lain, tujuan-tujuan lain, dan bahkan juga kesenangan lain -- tetapi semua itu ditutupi oleh rasa takut, dihentikan oleh rasa gentar. Ketika istri mengakui suami adalah kepalanya, ia menyeleraskan pikirannya, tujuan-tujuannya, dan juga kesenangannya berdasarkan suaminya. Ia berpikir mengikuti cara pikir suami. Ia menginginkan apa yang suaminya inginkan. Ia merasa senang dalam hal yang sama yang membuat suaminya senang.
Suami juga tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari jemaat di mana Kristus adalah Kepala. Itu juga berarti, apa yang jemaat -- suami -- pikirkan adalah apa yang Kristus pikirkan. Tujuan-tujuannya adalah tujuan Kristus. Apa yang menyenangkan hati Tuhan menjadi hal yang juga menyenangkan jemaat, menyenangkan hati sang suami. Demikianlah jemaat tunduk kepada Kristus.
Hubungan ini hanya dapat terjadi karena Tuhan Yesus Kristus sudah lebih dahulu menyelesaikan karya-Nya, suatu perwujudan kasih terbesar dalam sejarah dunia dan manusia. Kita sekalian tunduk kepada Kristus bukan karena paksaan, melainkan suatu penerimaan atas anugerah beserta kehidupan yang menyertai anugerah itu. Kita tunduk bukan karena ingin mendapatkan sesuatu, melainkan karena sudah menerima kehidupan kekal dari Tuhan.
Demikian juga dengan istri yang tunduk kepada suaminya, dalam prinsip yang serupa. Istri bukan tunduk karena ingin memperoleh sesuatu, melainkan karena telah menerima laki-laki ini menjadi suaminya, menerima cinta kasih dan perlindungan serta kehidupan. Ini adalah pilihan bebas untuk membangun masa depan, menaruh dasar-dasar untuk berbahagia, serta menjadi satu daging dengan suaminya, lalu bersama-sama hidup tunduk kepada Tuhan. Yang istimewa: pilihan untuk tunduk diberikan kepada istri. Syukurilah.
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Dalam sebuah keluarga, permulaan dari keharmonisan adalah sikap tunduk. Sebelum dua orang bersama-sama dapat membangun sesuatu yang baik, mereka terlebih dahulu harus tunduk satu sama lainnya, merendahkan satu terhadap yang lain di dalam Kristus. Dalam hal ini, ada sesuatu posisi yang istimewa yang diberikan kepada istri, sesuatu yang berharga sekaligus sering dipandang sebelah mata. Ini adalah kebebasan seorang istri untuk tunduk kepada suaminya.
Banyak yang tidak memahami bahwa dalam bagian surat Efesus ini, Rasul Paulus tidak membuat paksaan bagi istri untuk tunduk kepada suami. Ada saja para suami, dan banyak laki-laki, yang memakai ayat ini sebagai perintah bagi istri untuk tunduk. Mereka memakai ayat-ayat ini sebagai pembenaran diri, karena ingin agar istri mentaati dan mengikuti apa saja kehendak suami. Namun, pemaksaan dan penaklukkan tidak sama dengan sikap tunduk yang sungguh-sungguh, walaupun tindakannya serupa.
Perbedaan terbesar antara pemaksaan dengan penundukkan diri adalah pengakuan. Saat seorang istri dengan rela dan sadar mengakui bahwa suaminya adalah kepalanya, ia bersikap tunduk. Saat seorang istri takut kepada suaminya, ia menyerah dalam paksaan. Ketika istri takut kepada suami, ia mungkin memiliki "kepala" lain, pikiran lain, tujuan-tujuan lain, dan bahkan juga kesenangan lain -- tetapi semua itu ditutupi oleh rasa takut, dihentikan oleh rasa gentar. Ketika istri mengakui suami adalah kepalanya, ia menyeleraskan pikirannya, tujuan-tujuannya, dan juga kesenangannya berdasarkan suaminya. Ia berpikir mengikuti cara pikir suami. Ia menginginkan apa yang suaminya inginkan. Ia merasa senang dalam hal yang sama yang membuat suaminya senang.
Suami juga tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari jemaat di mana Kristus adalah Kepala. Itu juga berarti, apa yang jemaat -- suami -- pikirkan adalah apa yang Kristus pikirkan. Tujuan-tujuannya adalah tujuan Kristus. Apa yang menyenangkan hati Tuhan menjadi hal yang juga menyenangkan jemaat, menyenangkan hati sang suami. Demikianlah jemaat tunduk kepada Kristus.
Hubungan ini hanya dapat terjadi karena Tuhan Yesus Kristus sudah lebih dahulu menyelesaikan karya-Nya, suatu perwujudan kasih terbesar dalam sejarah dunia dan manusia. Kita sekalian tunduk kepada Kristus bukan karena paksaan, melainkan suatu penerimaan atas anugerah beserta kehidupan yang menyertai anugerah itu. Kita tunduk bukan karena ingin mendapatkan sesuatu, melainkan karena sudah menerima kehidupan kekal dari Tuhan.
Demikian juga dengan istri yang tunduk kepada suaminya, dalam prinsip yang serupa. Istri bukan tunduk karena ingin memperoleh sesuatu, melainkan karena telah menerima laki-laki ini menjadi suaminya, menerima cinta kasih dan perlindungan serta kehidupan. Ini adalah pilihan bebas untuk membangun masa depan, menaruh dasar-dasar untuk berbahagia, serta menjadi satu daging dengan suaminya, lalu bersama-sama hidup tunduk kepada Tuhan. Yang istimewa: pilihan untuk tunduk diberikan kepada istri. Syukurilah.
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Langganan:
Komentar (Atom)