Ef 5:28-33 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya. Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.
Sampai seperti apakah seorang suami mengasihi isterinya? Sama seperti tubuhnya sendiri! Tetapi, mungkin di sini ada masalah pertama. Karena, banyak laki-laki yang tidak memikirkan soal tubuhnya sendiri. Ia tidak terlalu peduli soal kebersihannya, tidak terlalu peduli soal kelelahannya, tidak perduli soal kebutuhannya, karena pada saat itu ia sedang berfokus pada impiannya, berkhayal tentang masa depannya. Ironi besar dari lelaki adalah, mereka bisa bermimpi tentang masa depan yang makmur dan cerah serta keadaan diri yang baik, tetapi di saat sekarang tidak menjagai badannya sendiri. Alhasil, saat masa depan itu tiba dan kemakmuran itu benar-benar nyata, hari-harinya dipenuhi oleh rutinitas makan obat, tidak boleh ini dan itu, serta harus bolak balik ke rumah sakit. Tidak jarang, yang akhirnya menerima semua hasil kekayaan yang dikumpulkan dengan susah payah adalah bagian kasir rumah sakit.
Jadi bagaimana seorang suami bisa mengasihi isterinya, sedang ia tidak mengasihi tubuhnya sendiri? Sebenarnya di sinilah TUHAN menjadikan pasangan sebagai satu tubuh. Seorang laki-laki tidak dapat mengasihi tubuhnya, tetapi ia harus mengasihi isterinya. Dengan mengasihi isterinya, maka ia menjadi mengasihi tubuhnya sendiri -- karena isteri yang baik akan menjagai suaminya, peduli soal kebersihannya, peduli soal kelelahannya, juga peduli soal kebutuhannya. Suami yang baik akan mengasihi isterinya dan membiarkan isterinya berkuasa atas keadaan dirinya, karena isteri juga mengasihi suami serta tidak akan membiarkannya tidak terawat. Tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, sekalipun banyak orang membenci kehidupan yang dijalaninya. Tidak boleh seorang suami membenci isterinya, apapun situasi kehidupan yang mereka lalui bersama.
Masalah orang jaman sekarang, keadaan ini tidak lagi demikian. Saat ini kaum pria mulai belajar untuk berdandan -- beberapa memikirkan soal keadaan tubuhnya dalam cara dan porsi yang berlebihan -- dan membawa semua pertimbangan hanya untuk dirinya sendiri. Kata-katanya adalah "badan saya, urusan saya" yang menaruh semua orang lain di luar, termasuk pasangannya. Toh saat ini ada banyak sekali jasa pelayanan dan perawatan yang diberikan untuk memanjakan kaum pria. Pegal? Ada spa. Penampilan kurang bagus? Salon buat lelaki sudah banyak. Ingin makan enak? Resto ada di setiap pojok.
Saat ini kaum wanita mulai belajar untuk memperhatikan dirinya sendiri juga, dalam fokus dan intensitas yang sangat besar sehingga tidak lagi ada waktu untuk suami dan rumah tangganya. Karena dunia sudah menawarkan banyak sekali pelayanan, maka biarlah suami dilayani dunia... isteri juga ingin dimanjakan oleh dunia yang memiliki lebih banyak lagi produk untuk kaum wanita, mulai dari atas kepala sampai ujung kaki. Bukankah yang paling menyenangkan adalah mendapatkan keamanan dan kenyamanan, merasakan kenikmatan dan gairah kehidupan seperti yang banyak ditulis di majalah dan tabloid kontemporer-modern dan feminin?
Bagi pria yang sudah dilayani dunia, bagi wanita yang sudah dilayani dunia, semua dipusatkan pada individu-individu, menjadi individualisme. Ketika pria dan wanita bertemu, hakekatnya bukan lagi saling melayani, melainkan saling memuaskan - hasrat biologis psikologis. Ada kebutuhan merasa dihargai, dihormati, dikagumi, dan "dicintai". Hubungan badan lelaki dan perempuan disebut "making love" disingkat ML, yang maksudnya bukan soal mengasihi melainkan tentang saling memuaskan. Maka kaum wanita semakin biasa menampilkan tubuhnya, demikian juga dengan kaum pria, dalam konteks seksual sekaligus individual. Pria dan wanita bisa berhubungan seks, tetapi tidak menjadi satu daging, tidak menjadi satu kesatuan. Itu hanya merupakan suatu bentuk relasi intim antara dua orang, yang tetap merupakan dua orang yang berbeda dan terpisah walaupun sudah menikah. Tidak heran, "perceraian" dengan mudah terjadi, karena memang tidak pernah menjadi satu meskipun diikat dalam "pernikahan".
Kristus dan jemaat-Nya adalah kesatuan yang tidak dapat diceraikan. Demikianlah Tuhan Yesus senantiasa merawat dan mengasuh jemaat yang merupakan anggota tubuh-Nya. Suami dan istri juga merupakan kesatuan yang tidak dapat diceraikan, kecuali oleh maut. Demikianlah suami harus selalu merawat dan mengasuh isterinya, begitu pula sebaliknya. Ketika suami berhubungan badan dengan isteri, ia menjadi satu daging. Itu bukan suatu aktivitas "making love", karena cinta tidak dibuat dengan cara demikian, melainkan suatu aktivitas penyatuan biologis yang secara harafiah mengharapkan kehadiran anak sebagai hasil penyatuan sel dari ayah dan ibu. Tidak ada individualisme di antara suami dan istri, karena bersama-sama mereka bukan lagi dua sosok yang terpisah.
Suami dan istri berasal dari dua keluarga yang berbeda. Mereka dibesarkan dalam dua situasi dan kondisi yang berbeda, sehingga hadir sebagai dua pribadi yang berbeda. Tetapi dalam kesatuan suami-istri, masing-masing meninggalkan ayah dan ibunya, meninggalkan keluarganya. Dalam penyatuan, baik suami dan istri menjadi orang yang berbeda, karena membentuk situasi dan kondisinya sendiri, keluarga di mana anak-anak lahir dan dibesarkan. Dalam penyatuan itu, suami mengasihi isteri dan isteri menghormati suami, serta tidak bergantung kepada pelayanan yang diberikan dunia.
Memang ada spa, ada panti pijat -- tetapi yang paling didambakan suami adalah pijatan isterinya. Memang ada sopir, ada layanan taksi -- tetapi yang paling diidamkan isteri adalah diantar suaminya. Mungkin isteri tidak bisa memasak sepandai chef di restoran terkenal, namun apa yang dihidangkan di rumah dari karya seorang isteri memberikan kenikmatan yang tidak dapat diberikan restoran manapun. Suami yang baik selalu menghargai usaha isteri dan isteri yang baik selalu berusaha melayani suaminya; hari ini mungkin belum pandai memasak atau membuat kue, namun tidak berarti besok tidak bisa belajar dan minggu depan tidak bisa memberi yang lebih baik, bukan?
Apakah segala idealisme ini mudah? Tidak, apalagi di jaman penuh tekanan ekonomi, sehingga suami dan isteri harus bersama-sama bekerja menghidupi keluarga. Ukurannya bukan pada hasil, karena untuk hasil paling baik harus disediakan banyak waktu dan banyak modal -- hal-hal yang semakin sukar. Ukurannya ada di dalam proses; yang dihargai adalah prosesnya, kesediaan untuk menghargai, kesediaan untuk berkorban dan berjerih lelah, serta komitmen untuk menjalankan peran. Dalam hal inilah kita semua bergantung kepada Tuhan dan percaya penuh bahwa Ia yang merawat dan mengasuh kita, jemaat-Nya, karena kita juga adalah anggota-anggota tubuh-Nya.
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Jumat, 09 Desember 2011
Langganan:
Komentar (Atom)