Minggu, 01 April 2012

Renungan Sehari - 1 April 2012

Ef 6:13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.

Perang itu  bukan permainan yang asing. Perang itu tertanam dalam sanubari manusia, sehingga kita lihat bagaimana anak-anak sejak kecil suka bermain perang-perangan. Sudah besar, orang suka menonton tinju dan gulat -- yang entah bagaimana bisa disebut "pertandingan" jika orang yang satu berlomba untuk menghajar orang lain. Orang suka melihat  olah raga seperti sepak bola, yang di dalamnya ada perang.

Dari sepak bola, beberapa orang yang bijak melihat hal-hal serupa pada persaingan usaha. Jadi apa yang ada dalam laga di lapangan hijau menjadi inspirasi untuk berlaga di dalam persaingan bisnis. Kekuatan, kecepatan, kegigihan mengolah kesempatan saat bola berada di kaki, dalam kerja sama tim yang kuat -- itulah yang juga dibutuhkan dalam persaingan hebat para pengusaha. Cara-cara yang sama juga berlaku dalam perang yang sesungguhnya, ketika pasukan yang satu berhadapan dengan pasukan yang lain, sama-sama berusaha menghancurkan musuh.

Ketika dahulu ahli-ahli perang menuliskan ilmunya, tujuannya adalah memenangkan perang yang berdarah-darah. Tidak ada yang indah atau menyenangkan dari perang, namun kemampuan dan kesiapan berperang dibutuhkan untuk melindungi negara. Jika sebuah kerajaan atau negara tidak siap untuk berperang, ia harus rela ditaklukkan kerajaan lain. Dilihat dari dekat, persiapannya berisi kekerasan, kedisiplinan, bahkan kekejaman. Dilihat dari jauh, semua hal yang mengerikan ini dibutuhkan demi keutuhan dan ketenteraman rakyat. Maka ilmu perang yang terkenal seperti "Seni Perang" yang ditulis Sun Tzu bukan berisi tentang kekejaman atau cara terbaik membantai musuh, melainkan bagaimana mempertahankan negara.

Seni ini menjadi mata pelajaran penting dalam sekolah-sekolah bisnis. Persaingan bisnis adalah peperangan yang kejam, yang bisa membuat pengusaha yang lemah menjadi bangkrut, karyawannya menganggur, hartanya disita. Seringkali untuk menjadi pengusaha yang tangguh dibutuhkan mental yang kuat, yang berarti mampu untuk bersikap kejam terhadap bawahan, kejam terhadap supplier, mampu memanipulasi situasi sehingga tetap memperoleh keuntungan, tetap menjadi pemenang di antara pengusaha lainnya. Seni perang menjadi seni bisnis yang sukar dan tidak mudah dipahami. Kadang pengusaha yang berusaha "berperang" hanya mampu meniru-niru saja, bersikap kejam dan bengis pada karyawannya, tanpa memahami seninya. Pengusaha yang meniru saja tentunya akan jatuh dalam kebodohan dan hancur melawan pengusaha yang benar-benar memahami seninya. Kekejaman memang dibutuhkan, tetapi itu untuk memberikan kesejahteraan bagi semua yang ada dalam perusahaan, menyelamatkan hidup semua keluarga yang bernaung di dalamnya.

Masalahnya, seni perang ini sangat sukar dipahami karena dua hal. Yang pertama, orang tidak menginginkannya. Yang kedua, sebelum manusia bisa benar-benar memasuki peperangan di dunia, ia harus berperang melawan kekuasaan jahat yang mengikat dirinya dari dalam. Manusia harus berperang menghadapi kejahatan dalam dirinya sendiri. Tanpa menyelesaikan dan memenangkan perang yang kedua, tindakan memasuki perang di dunia hanya berarti menjadi bulan-bulanan dan permainan iblis yang memanipulasi pikiran. Seorang manusia yang hatinya masih dikuasai iblis, bisa merasa sangat berkuasa dan menjadi pemenang di dunia tanpa sadar bahwa dirinya sedang dirusak dan diremukkan, sehingga ia akan terbenam dalam sejarah hitam, dikenang umat manusia sebagai pribadi tercela dan jahat. Cobalah tanya pada diri sendiri, bagaimana cara kita mengenang Adolf Hitler?

Kesulitan terbesarnya, perang itu datang pada diri kita sekaligus. Kita harus berperang melawan kejahatan di dalam diri, sekaligus berperang melawan tekanan dunia. Kita harus waspada pada setiap manipulasi iblis yang bekerja siang dan malam menggerogoti kepercayaan dan iman, dan di saat yang sama juga harus berjuang dalam persaingan usaha, dalam persaingan merebut pangsa pasar, membangun kesadaran dan citra merek, agar tetap mendapatkan penghasilan. Tidak ada perang yang dengan mudah dimenangkan; iblis menjadi semakin kejam dan terang-terangan, demikian juga persaingan bisnis menjadi semakin sengit. Setiap hari orang-orang kehilangan pekerjaan, kita lihat anak-anak muda yang kuat menjadi pengemis dan mengerumuni mobil-mobil di lampu merah. Tidak sedikit yang jatuh menjadi pencuri, menjadi pelacur, menjadi apapun juga yang dikehendaki setan-setan di jalanan karena mereka sudah kalah dalam kedua perang di dalam dan di luar dirinya.

Bagaimana kita bisa bertahan? Bagaimana kita bisa memenangkan kedua medan perang di saat yang sama? Apakah belajar seni perang ada artinya? Sementara itu, waktu terus berjalan dan peperangan menjadi semakin sengit sampai mencapai puncaknya. Inilah hari yang dimaksud oleh Roh Kudus, yang dituliskan melalui Rasul Paulus, inilah hari yang jahat. Hari yang paling jahat dalam sejarah manusia, adalah hari di mana kedua perang menjadi sangat kejam dan nyata. Hari-hari di mana angkara murka merajalela; manusia memerangi satu sama lainnya dalam semua tingkatan: negara melawan negara, politisi melawan politisi, perusahaan melawan perusahaan, komunitas melawan komunitas. Manusia juga harus melawan kejahatan di dalam, ketika moralitas dihilangkan dalam hukum rimba dan evolusioner: yang benar adalah yang terkuat dan bertahan dalam seleksi alam.

Tidak ada seni perang yang berarti jika manusia hanya mengandalkan dirinya. Satu-satunya harapan, satu-satunya peluang, adalah dengan mengenakan semua yang Tuhan sediakan. Bapa kita yang di Surga tidak hanya mengirimkan anak-anak-Nya untuk disembelih di medan perang. Ia juga memberikan perlengkapan yang kita butuhkan. Tetapi, untuk mengenakan perlengkapan-Nya, pertama-tama kita harus mengambilnya. Ini adalah bagian kita, aktivitas yang harus kita lakukan. Kita tidak dapat menunggu, tidak dapat berpangku tangan dan berharap perlengkapan itu menempel begitu saja. Kita harus bergerak, berderap, mengambil semua perlengkapan senjata Allah.

Setelah kita mengambil dan mengenakan senjata Allah, kita harus mengadakan perlawanan. Perhatikan: kita tidak duduk di balik batu, tidak bersembunyi di balik benteng. Kata "mengadakan" menunjukkan bahwa peran kita adalah aktif, membuat perlawanan di saat tidak ada yang melawan. Saat orang lain sudah menyerah, saat tidak ada lagi pertahanan, kita bangkit dan membuat perlawanan dan berperang di kedua medan perang, di hari yang paling kejam dalam sejarah manusia. Berperang dan memenangkannya.

Apakah hal ini mudah? Tidak. Bahkan, kemungkinan besar di akhir peperangan itu kita menjadi pemenang yang kelelahan. Kita tidak lagi kuat untuk berlari dan bersorak sorai; kita hanya bisa berdiri, memandangi medan yang dipenuhi sosok-sosok yang kalah tergeletak berdarah-darah. Orang-orang yang jatuh dalam sihir dan narkoba dan merusak dirinya. Orang-orang yang dilanda kemiskinan, usahanya bangkrut dan seluruh hartanya dirampas dan harga dirinya diinjak-injak. Negara-negara yang sangat miskin dan dilanda hutang yang tidak mampu dibayar oleh tujuh turunan rakyatnya. Negara yang kematian tiap hari terjadi dalam terorisme dan bom, di mana orang bisa mati dibunuh hanya untuk kesenangan si pembunuh. Di antara semua itu, kita hanya berdiri, tetap utuh, tetapi tidak bisa melangkah lebih jauh.

Tuhan menginginkan kita mengerjakan bagian kita. Ada peran yang harus kita lakukan, dan kita harus mentaatinya sampai akhir, sampai kita menyelesaikan segala sesuatu. Ya, ada akhir yang Tuhan berikan; Dia tidak akan membiarkan iblis terus-menerus memberikan perang yang membinasakan manusia. Jika iblis dibiarkan semua orang akan mati -- tetapi Tuhan tidak akan membiarkannya.

Sampai saat itu tiba, kenakanlah semua perlengkapan senjata Allah dan adakanlah perlawanan, dan tetaplah berdiri bagi Tuhan. Karena saat itu, di saat tidak ada lagi kekuatan selain untuk berdiri, Tuhan akan turun kembali. Itulah yang dijanjikan-Nya, itulah pengharapan kita yang pasti.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny