Sabtu, 20 Oktober 2012

Renungan Sehari - 8 Juni 2012

Ef 6:14-20 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.

Jadi berdirilah tegap. Syarat pertama untuk mengenakan perlengkapan perang adalah berdiri tegap. Jangan bayangkan perlengkapan itu seperti baju tempur jaman sekarang yang bisa dipakai sambil duduk. Bukan kain polyester yang kuat dan ringan. Bayangkanlah perlengkapan itu berasal dari jaman Rasul Paulus, terbuat dari besi dan perunggu, dalam ikatan cincin-cincin besi yang rapat, pelat logam yang berat, dan tali pengikat dari kulit yang kuat dan tebal. Upaya untuk memakai baju perang membutuhkan tubuh yang kuat dan tegap, berdiri perlu tegak karena harus menahan beban. Perlengkapan perang yang melindungi juga merupakan peralatan yang berat dan tidak mudah memakainya.

Di permulaan persiapan perang ini, ada tiga ujian yang harus orang hadapi. Yang pertama adalah ujian ketaatan: seorang tentara mengenakan baju perangnya bukan karena ia suka, melainkan karena ia harus. Yang kedua adalah ujian kekuatan: baju perang itu memiliki berat yang lumayan, yang akan melelahkan bagi orang yang tidak kuat badannya. Yang ketiga adalah ujian daya tahan: tentara tidak memakai baju perang untuk sesaat saja, melainkan memakainya seharian, bahkan mungkin juga berhari-hari dalam perang yang berkepanjangan. Tidak ada yang tahu berapa lama baju perang itu harus dipakai, atau apakah ada waktu untuk beristirahat dan melepaskan beban berat ini. Jika bajunya dilepas, butuh waktu dan tenaga ekstra -- seringkali membutuhkan bantuan orang lain -- untuk memakainya kembali. Tujuan memakai perlengkapan perang bukan pada keberhasilan bisa mengenakannya, melainkan agar bisa bertahan lebih lama, bisa bertempur lebih baik, dan memenangkan peperangan.

Jadi, berdiri tegap juga bisa diartikan menjadi taat, kuat, dan bertahan. Rasul Paulus sebelumnya menulis tentang bertahan sampai akhir, menguatkan diri sampai tujuan, tetap berdiri di saat segala sesuatunya selesai. Perlengkapan senjata Allah, atau perlengkapan senjata apapun, tidak ada gunanya bila tidak taat, tidak kuat, dan tidak dikenakan terus sampai pertempuran berakhir. Waktu perang dimulai, maka pikiran tidak lagi ditujukan kepada beban dari perlengkapan, melainkan difokuskan pada musuh dan upaya memenangkan perang. Untuk itu, proses mengenakan perlengkapan perang harus benar, harus detil, harus teguh, dan kuat ketika ada tebasan pedang musuh ke dada atau punggung, tidak terlepas saat terjatuh, serta tidak pecah saat terhantam.

Apa saja perlengkapan senjata Allah? Lihatlah daftar yang diberikan: sebagian besar bukan alat menyerang, melainkan peralatan untuk bertahan. Peperangan yang hebat ini tidak membutuhkan pemenang yang menyerbu mengalahkan setiap musuh, melainkan prajurit yang bertahan di tengah badai amukan perang. Jika dibandingkan, mungkin serupa dengan perahu yang dibuat oleh Nuh; perahu yang tanpa layar, tanpa tenaga penggerak, tanpa meriam, dan satu-satunya tujuan adalah tetap bertahan saat dunia mulai tenggelam dan binasa. Nuh menjadi pemenang karena tetap hidup, sementara yang lain binasa. Kenakanlah semuanya, dan bertahanlah dengan setia. Mari kita lihat apa saja yang mau dipakai.

Ikat pinggang kebenaran. Semua dipersatukan oleh ikat pinggang. Jika ikat pinggang tidak kuat, maka celana melorot, kaki terbelit, dan tubuh terjatuh. Betapapun besar dan kuatnya baju pelindung dada, perisai yang kuat, atau pedang yang mengkilat -- jika ikat pinggang terlepas maka semuanya sia-sia. Orang bisa memakai berbagai skenario dan kecerdasan untuk mengatasi suatu masalah, tapi tanpa kebenaran maka setiap saat  ada resiko semuanya berantakan sampai akhirnya sia-sia bahkan dipermalukan. Betapa sering kita ketahui dan mungkin telah alami, bagaimana seseorang membangun reputasi dan karirnya diatas kebohongan dan bualan... sampai suatu hari semuanya terbongkar dan si penipu masuk penjara dengan kepala tertunduk lesu. Ikat pinggangnya terlepas, karena bukan kebenaran yang mengikatnya.

Orang jaman dahulu tahu pentingnya ikat pinggang yang baik, bukan hanya untuk mode atau untuk gaya belaka. Kebenaran adalah bahan terbaik bagi ikat pinggang, yang tidak akan gagal dalam situasi apapun juga. Masalahnya, orang mungkin tidak menyukai ikat pinggang kebenaran, karena ikat pinggang yang baik juga bisa membuat tubuh terasa sesak dan berat. Kebenaran juga bisa membuat nafas sesak, ketika harus mengungkapkannya, ketika membayangkan akibatnya seperti perasaan yang terluka, emosi yang meledak, juga permusuhan yang timbul. Di dunia yang menyukai relativisme -- segala sesuatu relatif -- kebenaran menjadi bahan beracun yang dihindari. Lebih baik berbohong, walaupun untuk itu harus berjuang untuk menjaga kebohongan, hingga akhirnya terjatuh ketika kebohongan itu akhirnya terbongkar. Aneh, tapi nyatanya orang masih lebih memilih berbohong daripada bicara yang sebenarnya. Kebenaran itu berat, menyesakkan, tetapi itulah hal pokok pertama yang memampukan laskar Kristus maju berperang.

Baju zirah keadilan. Tubuh terlindungi oleh baju zirah dari segala arah. Kehidupan terlindungi oleh keadilan, aman dari serangan yang muncul di segala arah. Keadilan adalah memperlakukan semua orang sesuai dengan porsinya, sesuai dengan kebutuhannya dan perannya. Orang yang mengerjakan sedikit mendapat sedikit. Orang yang mengerjakan banyak mendapat banyak. Butuh sedikit mendapat sedikit. Butuh banyak mendapat banyak. Untuk pengerjaan diatur demikian: orang yang membutuhkan banyak diberi kesempatan untuk bekerja lebih banyak. Seseorang yang bisa memastikan keadilan terjadi di sekitarnya, akan menjadi orang penting bagi lingkungannya. Orang yang penting akan dilindungi; akhirnya keadilan itu akan melekat dan melindungi setiap orang percaya terhadap dunia yang jahat.

Masalah terbesarnya adalah, dunia ini menginginkan semuanya dengan bekerja sesedikit mungkin. Itulah "hukum ekonomi". Pertentanganlah yang membuat pertukaran terjadi, di mana harga dan jumlah barang atau jasa disepakati. Namun, pertukaran tidak selalu adil, karena dunia berpikir keras bagaimana caranya memberi sedikit tapi memperoleh banyak, sebanyak-banyaknya, jauh lebih banyak daripada apa yang ia butuhkan. Dunia mengajar orang untuk menaruh impiannya setinggi bintang, diterjemahkan menjadi berharap untuk mendapatkan segala-galanya karena impian manusia umumnya berkaitan dengan memperoleh hal-hal di dunia ini: kekayaan, ketenaran, kekuasaan, kenikmatan, dan ke-an lainnya. Karena itu, orang tidak ragu untuk mencederai sesamanya. Orang yang tidak kuat, lantas mencari perlindungan dari "ketidakadilan", karena ia sendiri tidak sanggup untuk melawan.

Ada orang yang berpikir bahwa ia bisa mencari perlindungan dari seseorang, atau dari suatu kelompok. Tetapi untuk mendapatkan perlindungan itu, ia harus berkorban -- akhirnya mungkin harga yang harus dibayar menjadi terlalu tinggi. Tetapi, orang yang adil akan menerima perlindungan dari orang-orang yang menerima keadilan darinya. Mereka menjadi pelindung yang setia karena mendapatkan keadilan, yang memberi kepastian di tengah dunia yang tidak pasti ini. Ingin mendapatkan perlindungan? Jadilah adil, dan tegakkanlah keadilan! Baju zirah keadilan bukanlah sesuatu yang diterima, melainkan bersikap adil terhadap dunia.

Kaki berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil. Kasut alias alas kaki adalah perlengkapan yang memungkinkan orang berjalan lebih jauh. Tanpa alas kaki jarak yang bisa dicapai terbatas pada area yang biasa dilalui. Kaki yang telanjang beresiko menginjak benda-benda tajam sehingga terluka. Perhatikanlah: orang yang terluka tangannya masih bisa berperang namun jika telapak kaki terluka, ia tidak berdaya untuk melangkah. Telapak kaki menopang seluruh berat tubuh beserta segala yang dikenakan, menentukan apakah seseorang masih bisa berdiri atau tidak. Pernah mencoba berdiri dengan telapak kaki terluka karena tertusuk paku?

Orang bisa menjadi aktivis di Gereja, bisa menjadi seorang yang religius bagi dirinya sendiri. Ia mungkin juga mengikuti program Gereja untuk memberitakan Injil - selama ia masih berjalan di area yang nyaman di dalam komunitasnya. Ini seperti bertelanjang kaki dan berjalan-jalan di kamar yang lantainya berlapis karpet tebal dan lembut, rasanya enak dan nyaman sehingga betah untuk berlama-lama beraktivitas. Ketika harus berperang, harus bertemu dengan orang-orang di luar komunitasnya, perjalanan tidak lagi terasa nyaman dan bahkan mungkin melukai.

Saat kekristenan menjadi sulit, pelindung yang memampukan kita tetap melangkah adalah kerelaan untuk memberitakan Injil. Jika dikatakan "rela", maka harus dipahami bahwa pengertian dasarnya berkaitan dengan "tidak ada untungnya". Memberitakan Injil tidak berkaitan dengan untung dan rugi secara duniawi, tidak menghitung nilai ekonomi dan apa yang diperoleh. Sayangnya, banyak orang Kristen masih tidak rela jika merugi -- mereka mau memberikan persembahan, tetapi tidak mau rugi dalam berjemaat. Persembahan adalah sesuatu yang bisa diatur, diukur, dan direlakan, tapi kerugian, ketersinggungan, penghinaan, bahkan kehilangan hal yang berharga -- itu tidak terkendali. Jika kita rela untuk memberitakan Injil, maka tidak ada perhitungan tentang rugi atau untung.

Perisai Iman. Perisai dibutuhkan ketika ada serangan -- dan hidup dalam dunia berarti siap untuk menerima banyak serangan. Bukan hanya orang Kristen yang menerima serangan; sebenarnya manusia saling serang satu sama lainnya. Sejarah kekristenan menunjukkan bahwa orang Kristen tidak terkecuali sebagai pihak yang menyerang. Bagi dunia, pertahanan yang terbaik adalah dengan menyerang, karena hanya dengan menyerang dan menghancurkan sumber serangan musuh baru hidup bisa aman, untuk sementara. Perang di dunia bisa berlangsung selama bertahun-tahun, karena pihak-pihak bergantian saling serang untuk "aman".

Perisai menjadi pilihan yang lebih dicari, karena manusia masa kini dapat membuat alat penghancur massal yang mengerikan: senjata nuklir, yang diharapkan tidak lagi pernah digunakan, atau senjata biologi yang efeknya mengerikan. Lebih baik berupaya agar lawan tidak bisa menyerang masuk, karena tidak ada orang yang siap untuk memakai kekuatan penghancur atas dasar alasan kemanusiaan. Tetapi, bukankah saat ini banyak negara berupaya memiliki kekuatan nuklirnya sendiri? Mungkin akan tiba saatnya, banyak negara memiliki senjata nuklir dan mungkin tidak semua orang sependapat soal kemanusiaan. Lalu, apakah yang menjadi perisai sesungguhnya bagi manusia?

Perisai iman adalah kepercayaan yang melindungi sepenuhnya, sehingga orang yang memakainya tidak lagi perlu menyerang untuk menghancurkan musuh. Iman menjadi dasar bagi segala sesuatu yang diharapkan, bukti dari segala hal yang belum terlihat. Dunia menyerang dengan menghancurkan dasar dari harapan, meniadakan apa yang terlihat sebagai sumber kekuatan. Dikatakan, si jahat mengirimkan panah api, yaitu sebuah serangan jarak jauh yang tujuannya adalah untuk membakar habis kehidupan orang percaya. Perisai iman memadamkan semua usaha untuk menghanguskan kehidupan sampai tidak dapat pulih lagi, karena iman selalu menghadirkan kembali pengharapan. Tidak ada satupun yang dapat menghancurkan janji keselamatan yang telah Tuhan berikan, bahkan ketika orang Kristen melakukan kesalahan.

Jika orang-orang lain meluncurkan tuduhan dan fitnahan, kita mungkin dapat menepisnya. Tapi, jika kita sendiri melakukan kesalahan, maka tuduhan itu kita benarkan. Kita mungkin merasa harus menerima hukumannya, kehilangan harta yang berharga berupa nilai diri. Jika diri tidak bernilai, maka tidak ada hal bernilai yang patut kita miliki. Itulah sebabnya, begitu banyak orang berusaha keras menampilkan dirinya berharga sehingga berkelahi oleh sebab "harga diri yang terinjak". Namun orang tidak bisa memungkiri hatinya sendiri; ia tahu betul apa yang dilakukannya, dan nuraninya tahu seperti apa nilai sebenarnya.

Perisai iman menjadi pelindung karena tidak bergantung pada manusia, melainkan sepenuhnya bergantung pada anugerah Tuhan yang menyelamatkan. Kita memiliki hal yang paling berharga, yaitu keselamatan dan hidup kekal, bukan karena kita layak untuk menerima melainkan karena Tuhan mengasihi kita. Kita memang harus dihukum, tetapi Kristus telah menanggung hukuman itu bagi kita. Setelah kita memegang hal yang paling berharga yang bisa dimiliki manusia, maka kita layak untuk memiliki hal apapun lainnya, karena tidak ada satu pun di dalam dunia yang lebih berharga daripada karya keselamatan Tuhan Yesus Kristus.

Ketopong keselamatan. Perhatikan: Itulah yang diberikan, dianugerahkan, bukan dibuat atau diambil oleh pemakainya. Keselamatan diberikan sebagai ketopong, yaitu topi atau helm yang dikenakan ksatria. Perhatikanlah: ketopong memberikan perlindungan terhadap kepala pemakainya dari benturan, melindungi kesadaran manusia. Saat kehidupan terasa begitu menekan dan menghancurkan sehingga membuat kesadaran hilang, keselamatan menjadi penjaga kewarasan kita. Saat gada masalah menghantam, keselamatan dari Kristus menjaga kita dari gila, menahan semua nilai tetap ada pada tempatnya.

Berapa banyak kita melihat orang, termasuk orang Kristen, melakukan tindakan yang tidak masuk akal karena mengalami musibah dalam keluarganya? Ada orang yang pasangannya berselingkuh. Ada yang anaknya kecanduan narkoba. Ada yang terjerat dalam hutang setelah sebelumnya ditipu orang. Yang lain lagi mengalami sakit yang berat dan menghabiskan seluruh kekayaan. Ada juga yang suaminya atau istrinya meninggal dunia, meninggalkan anak-anak yang masih kecil. Dan bagi sang anak, kehilangan orang tua sungguh menyakitkan, sulit untuk diterima. Akibatnya orang-orang ini kehilangan pegangan, tidak lagi memiliki ketenangan. Merasa takut, merasa gentar, kehilangan pijakan.

Ketopong keselamatan bekerja dua arah. Yang pertama, dari luar ke dalam, ketopong keselamatan menjaga agar hantaman masalah tidak menjungkir-balikkan nilai-nilai dalam kehidupan anak-anak Tuhan. Yang utama dan termulia tetap adalah TUHAN, yang selalu menjaga dan menyertai anak-anak-Nya. Yang kedua dari dalam ke luar, ketopong keselamatan juga membuat orang tidak memandang ke terlalu banyak arah, tidak mendengar terlalu banyak suara. Ketopong membuat pemakainya hanya melihat ke depan, melihat salib Kristus yang sedang berperang melawan musuh di depannya. Pemakai ketopong keselamatan bukan berdiri di garis depan, melainkan berdiri di belakang Tuhan yang berperang. Tidak perlu memikirkan hal lain, tidak usah kuatir serangan iblis dari belakang dan samping dan atas dan bawah, karena perlindungan Tuhan berputar di seluruh arah. Kita hanya perlu melihat Tuhan memenangkan pertempuran ini, karena keselamatan sudah kita kenakan.

Tak ada yang bisa melepaskan ketopong keselamatan, kecuali tangan kita sendiri yang melepasnya. Tapi, mengapa kita melepaskan ketopong saat sedang perang masih berkecamuk di sekeliling kita? Jangan berhenti karena ingin mendengarkan dunia, karena tertarik bujuk rayu bisikan iblis. Kenakanlah terus, tetaplah selamat.

Pedang Roh adalah Firman Allah. Pedang merupakan senjata dengan dua sisi tajam. Itulah satu-satunya senjata yang kita pegang. Ada yang berkata bahwa senjata orang Kristen adalah doa; mungkin itu benar, namun yang lebih jelas di sini, pedang itu adalah kata-kata Tuhan sendiri. Sabda-Nya melebihi segala sesuatu, berkuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang dapat menentang kehendak Tuhan, sebaliknya ukuran bagi segala hal adalah kesesuaian dengan kehendak-Nya yang mulia. Tuhan Yesus pernah menegaskan, bukan orang yang berkata-kata religius (atau menadakan mujizat) yang benar, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa di Surga. Sifatnya final dan mutlak, sempurna.

Masalahnya ada tiga. Pertama, pedang itu terasa berat, melelahkan, bahkan menakutkan. Ada orang yang tidak mau bawa pedang, karena tidak mau berperang. Mereka berharap dengan bertangan kosong, maka musuh tidak akan menyerang. Salah. Kalau tidak bawa pedang, tidak ada kemungkinan bisa memenangkan pertempuran. Kalau orang Kristen menolak membawa Firman Allah, tidak mungkin ia mampu melawan tipu muslihat iblis. Ini bukan perang melawan sesama manusia; ini adalah perang melawan penguasa kerajaan angkasa. Yang tidak mau menyandang pedang, tidak dapat menghadapi serangan dalam pikiran.

Masalah kedua, orang memilih membawa pedang yang lain. Mereka bisa memegang berbagai filsafat dunia dan kata-kata motivasi yang terasa suci. Ada yang memegang keyakinan pada kemampuan pikir manusia, dalam rasionalisme. Lainnya lagi berpegang pada pengetahuan yang luas dan mendalam tentang alam, dalam naturalisme. Ada yang merasa ajaran agama dan kepercayaan temannya nampak menarik, jadi mereka ambil itu sebagai pedang pengganti Firman Allah. Mereka masih menjadi Kristen dalam warna corak baju dan umbul-umbul dan panji yang diangkat, tapi pedangnya diambil dari tempat lain.

Masalah ketiga, orang memegang pedang yang benar namun dengan cara yang salah. Memegang pedang itu seharusnya di bagian gagangnya, bukan? Kristuslah yang kita pegang. Karakternyalah yang kita jadikan acuan. Tapi, ada orang yang tidak mau memegang gagangnya, mereka meremas bagian tajam dan melukai diri mereka sendiri. Mereka adalah orang-orang yang mengakui keutamaan doktrin Kristen, namun tidak memegang Kristus. Mereka melukai diri mereka sendiri, dalam usaha gila-gilaan untuk menjadi benar di hadapan Allah.

Semua perlengkapan ini diterima dalam komunikasi yang tidak terputus dengan Tuhan, suatu doa dan permohonan dalam Roh yang tidak terhenti dan tiada terputus. Doa bukan senjata, melainkan saluran energi dimana semua kemampuan kita berasal. Semua doa dan permohonan berangkat dari satu kenyataan: tidak ada manusia yang sanggup mengenakan sendiri semua senjata pelengkapan Allah. Untuk menjadi taat, kuat, dan bertahan, seorang manusia harus dimampukan, diberi kemampuan untuk melakukannya. Tidak ada cara lain.

Bahkan untuk Rasul Paulus, ia masih butuh berdoa. Ia masih butuh didoakan sama seperti semua orang kudus lainnya. Jika tidak demikian, bagaimana Paulus dapat berkata-kata dengan benar? Sebagai manusia, kesulitan terbesar adalah menghadapi diri sendiri. Walaupun seorang bisa berdoa, ia mungkin berdoa demi dirinya sendiri. Bahkan di saat ia berkata bahwa harapannya adalah pertumbuhan orang lain, ukuran yang dipakai adalah diri sendiri.

Bayangkanlah posisi seorang pemimpin jemaat seperti Rasul Paulus. Kata-katanya diperhatikan secara seksama. Penilaiannya, pendapatnya diterima sebagai kebenaran mutlak. Bukankah saat ini pun, Perjanjian Baru berisi paling banyak tulisan Rasul Paulus? Kita mengakui bahwa setiap tulisannya diberi nafas Allah, di bawah kuasa Roh Kudus, sehingga membawa kebenaran mutlak Ilahi.

Tapi, Paulus sendiri tetaplah seorang manusia biasa. Ia sendiri harus mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah, harus berperang. Paulus juga harus memerangi dirinya dari penyalahgunaan kuasa yang dianugerahkan padanya; itu peperangan yang lebih hebat, lebih keras. Bersama kekuasaan dan kekuatan datang juga tanggung jawab di pundak penguasa. Doanya sendiri tidaklah cukup, ia butuh orang lain mendoakannya. Pemimpin butuh doa yang dipanjatkan para pengikutnya.

Tiga hal yang dibutuhkan pemimpin perang ini. Yang pertama adalah kebenaran dalam perkataan. Bukan kata-kata yang "politically correct" seperti para politikus. Bukan propaganda. Bukan bujuk rayu agar rakyat menurut. Bukan ajakan dan bujuk rayu agar orang-orang memilihnya sebagai pemimpin, atau terus mendukung. Benar adalah benar. Tidak kurang, tidak lebih.

Yang kedua, pemimpin butuh keberanian untuk menyatakannya. Keberanian seorang utusan yang dipenjarakan. Penjara adalah tempat buruk, seorang utusan dapat dihukum karena pesan yang dibawanya. Ia mungkin dipenggal karena pesan yang dibawanya itu! Maka, keberanian untuk tetap menyatakan berita Injil bukan keberanian yang kecil atau mudah. Bukan keberanian tanpa rasa takut, sebaliknya mungkin keberanian tanpa pengharapan dapat bebas dari penjara. Tetap saja, berani untuk menyatakan kebenaran itu tidak surut dari diri sang pemimpin. Apapun resikonya.

Yang terakhir, pemimpin butuh jalan untuk menyatakan kebenaran. Ia butuh kesempatan agar suaranya terdengar. Ia perlu didukung untuk berkata-kata kepada publik. Dukungan agar kata-katanya disebarkan, diteruskan, diperdengarkan kepada banyak orang lain. Seorang pemimpin tidak dapat menjangkau banyak orang, hanya jaringan kerja pengikutnyalah yang membuat kebenaran, berita Injil tersebar. Dari keberanian untuk menyatakan apa yang seharusnya dikatakan, ada dorongan agar semua kebenaran itu disampaikan hingga semua orang mendengarnya.

Inilah peperangan kita. Siapkah kita untuk taat, kuat dan bertahan?

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny