Minggu, 18 Oktober 2009

Murtad

Ibr 6:4-6 Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.

Manusia adalah mahluk yang bebas untuk berpikir. Badan bisa diikat, mulut bisa dibungkam, mata bisa ditutup, tetapi pikiran tidak bisa dihentikan. Pikiran tidak terlihat, orang yang kelihatan begitu tenang dan damai mungkin memiliki pikiran yang bergejolak dan penuh pergumulan. Yang terlihat bijaksana dan berpengetahuan, bisa saja hanya merupakan topeng dan sandiwara untuk menutupi kecemasan dan kebimbangan, karena hati yang sebenarnya adalah serba-tidak-tahu dan serba-ragu. Tidak semua pikiran terwujud dalam tindakan, bahkan mungkin orang mempunyai dua atau tiga set pikiran yang berbeda, seperti mengikuti naskah-naskah yang sesuai dengan panggungnya.

Sementara manusia memainkan naskah di panggungnya, yang terlihat oleh Tuhan adalah hati manusia. Siapa yang bisa menyembunyikan isi hatinya dari Tuhan, Allah semesta alam? Kalau pikiran manusia dibukakan begitu rupa, siapa yang bisa menyangkal bahwa sudah seharusnya orang dihukum karena dosanya? Tetapi sebaliknya, justru TUHAN menyelamatkan! Dia memberi hati yang baru, keberadaan yang baru – itulah lahir baru. Dalam hati mereka kini ada pelita yang menjadi terang dalam pengertian, sekaligus memperoleh pengalaman-pengalaman rohani.

Bagi manusia, apa yang mereka dapatkan adalah karunia sorgawi – sesuatu yang tidak berasal dari bumi. Beberapa mendapatkan kemampuan khusus, seperti melihat dan membedakan roh, bicara berbahasa roh, mampu membaca pikiran, hal-hal supranatural lainnya. Tapi ada juga yang mendapat kemampuan yang lebih halus seperti mampu mengampuni kesalahan yang tidak terampuni, menjadi tetap berani saat orang yang paling kuat pun terbirit-birit lari ketakutan, atau mampu melepaskan semua keamanan dan kenyamanan demi melayani orang yang menderita di tengah medan perang atau tengah hutan – yang sekali masuk ke sana mungkin tidak dapat pulang lagi. Ini jelas bukan sesuatu yang berasal dari bumi!

Keberadaan karunia ini menunjukkan bahwa ada Roh Kudus yang menyertainya, karena apa yang bisa dilakukan manusia bukan berasal dari dirinya sendiri. Semua karunia itu dikerjakan oleh Roh yang satu yang mengerjakannya dalam semua orang. Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Bagi manusia itu, ia diberi makan Firman yang dari Tuhan untuk terus hidup, menikmati makanan rohani yang lezat dan nikmat, memberi pengertian dan kepastian akan masa depan. Itu adalah suatu cicipan pengalaman tentang apa yang akan diterimanya di masa yang akan datang.

Bayangkanlah, bukankah manusia itu hidup karena visinya? Ketika orang sudah merasakan apa yang akan sepenuhnya diterima kelak, seharusnya ia menjalani kehidupan di jalur yang mengarah ke Sorga, bukan? Seharusnya dia berani berkorban sekarang, menderita sekarang, karena tahu bahwa semua bayaran itu masih lebih murah dan ringan dibandingkan kemuliaan yang diterimanya – bukankah begitu?

Tetapi, sekali lagi kita melihat bahwa manusia adalah mahluk yang bebas untuk berpikir. Sebagaimana penderitaan tidak dapat mengekang pikiran, ternyata kenikmatan dan kesejahteraan pun tidak dapat mengikatnya. Meskipun dalam kenyataannya ada orang-orang yang pikirannya berhasil ditaklukkan – entah oleh susah atau oleh senang – ada orang yang memilih untuk berpikir secara berbeda. Ini adalah pilihan yang sadar, yang diputuskan oleh orang itu sendiri.

Bagaimana orang berpikir? Ini adalah proses mengumpulkan informasi dan menyusunnya berdasarkan apa yang paling bernilai, menimbang-nimbang apa yang lebih berharga dibandingkan yang lainnya. Dalam pikiran ada suatu alat yang disebut logika, suatu cara untuk memahami informasi, nilai-nilai, dan membuat kesimpulan-kesimpulan. Dari satu kesimpulan muncul kesimpulan yang lain – itulah berpikir. Kita bisa mempelajari bagaimana logika yang baik dilakukan – karena masalah orang antara lain adalah tidak memiliki logika yang baik. Tetapi kalau ada dua orang yang mempunyai logika sama baiknya berpikir tentang hal yang sama, mereka bisa memunculkan kesimpulan yang berbeda. Ini bukan karena perbedaan dalam logika, melainkan perbedaan dalam nilai-nilainya.

Pertanyaan berikutnya menjadi: bagaimanakah orang membuat nilai-nilai? Ini muncul dari wawasan dunianya, dibangun oleh seluruh pengalaman, perasaan, dan pengetahuan yang diterima seseorang sejak lahir. Itulah yang dibentuk ketika seseorang mendapatkan karunia sorgawi – ia bisa membuat penilaian tentang hal-hal yang akan datang, yang bisa diterimanya dalam Tuhan di Sorga. Iman juga menjadi dasar dari wawasan dunia, karena iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang belum kita lihat. Tidak dibutuhkan pengalaman duniawi untuk percaya, walaupun ada juga orang yang tidak mau percaya kalau tidak melihat.

Dengan semua pengalaman itu, nyatanya, ada juga orang yang memilih untuk berbeda. Mereka menginginkan yang lain, tidak menghendaki nilai-nilai iman. Sebagian karena pengalaman, misalnya mengalami bagaimana orang yang seharusnya 'kudus' bersikap munafik dan tidak benar. Sebagian lagi karena filsafat yang muncul dari pemikiran kontemporer, dibentuk oleh penderitaan dan perang dan kesusahan ekonomi. Pada hakekatnya, mereka melihat bahwa ada gambaran masa depan yang diberikan oleh dunia, yang sama sekali tidak sesuai dengan gambaran masa depan yang diterimanya melalui iman.

Allah tidak melarang orang untuk berpikir, sekalipun hal itu bertentangan. Mereka ini mungkin saja sudah mengalami semua pengalaman rohani yang hebat, tetapi di akhir kesimpulan, mereka tidak menerima nilai-nilai Kristus. Mereka meragukan ketuhanan Yesus Kristus. Mereka sudah mengalami kelahiran baru, namun segala hal yang seharusnya dimuliakan, justru mereka rendahkan demi meninggikan apa yang ingin mereka tinggikan – demi masa depan yang ingin mereka bentuk sendiri.

Bukankah Tuhan Yesus sendiri sudah mengatakan, kedatangan-Nya akan menimbulkan perpecahan? Karena Tuhan dengan jelas menempatkan diri-Nya berbeda dengan dunia, bukan berasal dari dunia. Tetapi orang-orang ini menginginkan dunia yang bersatu, dunia yang tidak ada perpecahan atau konflik atau keributan – apapun dapat dilakukan, kalau bisa tidak perlu ada agama dan perdebatan di atas muka bumi ini. Nilai keselamatan menjadi sesuatu yang tidak berarti, karena lebih penting keselamatan selama masih bernafas di atas muka bumi ini daripada selamat di kehidupan setelah kematian – toh mereka tidak bisa melihatnya, mengukurnya, apalagi mempercayainya.

Bagaimana dengan nilai kesetiaan? Itu pun tidak berarti, karena yang penting adalah mempertahankan ketenangan dan bebas konflik, sekalipun itu berarti menjaga status quo. Jika memuridkan segala bangsa menjadi hal yang kontraproduktif bagi kedamaian dunia, maka upaya penginjilan menjadi hal yang buruk untuk dilakukan. Bagaimana satu kematian di kayu salib dahulu cukup berharga untuk mereka, kalau yang dilihatnya adalah jumlah jutaan kematian orang-orang karena keyakinan kepada Kristus? Mereka bilang, seandainya Kristus dahulu tidak mati, mungkin jutaan orang itu tidak perlu mati sekarang.

Dapatkah mereka mengingat pengalaman rohani? Ya, tetapi kemudian ada banyak penjelasan lain diberikan terhadap pengalaman-pengalaman itu. Mereka sekarang meragukan pengalaman mereka sendiri, membuat tafsir baru atas apa yang mereka ketahui selama ini. Ada banyak penjelasan yang bisa diberikan orang yang tidak percaya, bahkan dengan penjelasan yang sangat tidak masuk akal – itu mereka terima karena bagi mereka lebih tidak masuk akal lagi untuk mempercayai Kristus.

Itulah murtad. Sikap murtad bukanlah tentang melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Bukan tentang mengikuti suatu perintah, kemudian tidak lagi mengikutinya – perubahan dalam tindakan belum tentu disebabkan perubahan dalam tata nilai. Ini adalah kematian kedua dari orang yang telah lahir baru, saat nilai-nilai yang kudus dan mulia dari Roh Kudus dicampakkan, ditanggalkan, demi pikiran sendiri. Mereka yang telah murtad tidak dapat dibaharui lagi, tidak ada lagi kelahiran baru kedua atau pertobatan baru, karena sekali lagi mereka membunuh karakter Kristus dalam hati mereka, bahkan menghina-Nya di muka umum dengan segala "pendapat ahli" berdasarkan label-label kehormatan manusia.

Ironisnya, orang-orang yang murtad ini seringkali masih menduduki posisi-posisi di berbagai organisasi keagamaan, menjadi pemimpin-pemimpin gereja. Tentunya, mereka adalah orang-orang yang berkelakuan baik dan terhormat di masyarakat, tidak ada masalah perilaku – kalau adapun pasti tersembunyi dengan baik. Mereka menjadi "pemikir-pemikir Kristen" tetapi apa yang mereka tinggikan sama sekali bukan Kristus atau tujuan dan kehendak-Nya. Dalam posisi mereka, seperti yang terjadi sejak dahulu, orang-orang yang mempunyai nilai berbeda menjadi objek untuk 'pendidikan' dan 'pencerahan', tidak jarang dengan cara yang represif. Ada pertimbangan untuk melakukan sedikit kekerasan pada segelintir orang, demi mencegah kekerasan terjadi bagi lebih banyak orang. Itulah orang yang murtad di bawah tekanan dan ancaman agama dan perdamaian dunia.

Hari ini, kita melihat bagaimana sikap meninggikan perdamaian dunia menjadi pokok utama, dengan hadiah Nobel yang memicu berbagai polemik. Kita juga melihat sikap orang-orang yang semula menyebut diri Kristen, untuk meninggalkan tujuan-tujuan dan nilai-nilai Kristiani demi merangkul berbagai pihak, termasuk memuaskan mereka yang selama ini bersikap agresif, fanatik, dan menekan. Dimanakah kebenaran? Tidak perlu bicara kebenaran, karena semuanya kini bersifat relatif – tetapi semua ini mengikis segala fondasi kuat yang berabad-abad lalu diletakkan. Kita pun melihat bagaimana Tuhan meninggalkan bangsa dan negara yang murtad – mereka yang semula hebat dan menjadi pusat kekristenan, mereka yang beberapa tahun ini masih bisa dianggap sebagai negara adikuasa – perlahan-lahan kehilangan nilai dan makna, habis dalam kerusakan moralitas dan kepercayaan.

TUHAN tidak dapat, tidak bersedia, untuk dipermainkan. Ketika orang kehilangan rasa takut yang sehat kepada-Nya dan bersikap tidak peduli serta merendahkan-Nya demi kepentingan ekonomi dan politik, hanya doa orang benar yang masih membuat Tuhan hadir, untuk menyelamatkan mereka yang masih teguh percaya. Setelah itu, Dia akan datang kembali, setelah dunia jatuh dalam murtad dan salib tidak lagi berarti bagi umat manusia. Demikianlah tanda-tanda akhir jaman diberikan: terlebih dahulu akan dinyatakan dia yang murtad dan meninggikan diri lebih daripada Allah, dan seluruh dunia mengikutinya.

Semoga, kita tetap setia kepada Tuhan dan tidak turut murtad – awaslah, itu ada dalam pikiran, bukan tindakan. Terpujilah TUHAN!

Senin, 05 Oktober 2009

Menjadi Dewasa

Ibr 6:1-3 Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada perkembangannya yang penuh. Janganlah kita meletakkan lagi dasar pertobatan dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, dan dasar kepercayaan kepada Allah, yaitu ajaran tentang pelbagai pembaptisan, penumpangan tangan, kebangkitan orang-orang mati dan hukuman kekal. Dan itulah yang akan kita perbuat, jika Allah mengizinkannya.

Menjadi tua adalah pertumbuhan alami, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan. Mengalami perubahan adalah peristiwa yang tidak bisa dielakkan manusia, namun menjadi pemenang adalah keputusan yang tidak selalu mudah. Enak ya, mengucapkan kalimat-kalimat seperti ini. Siapa yang tidak mau menjadi dewasa? Siapa yang tidak mau menjadi pemenang? Bagi orang percaya, bahkan ingin menjadi lebih daripada pemenang!

Masalahnya, kata-kata saja tidak mengubah kehidupan orang, jika kata-kata itu tidak menyatu dengan perbuatannya. Renungkanlah: ketika dikatakan bahwa menjadi dewasa adalah pilihan, siapa yang memberikan pilihan? Bagaimana orang bisa menyadari pilihan-pilihan yang ada, untuk mengambil sebuah keputusan yang tidak selalu mudah? Ini adalah masalah penting, karena kalau orang tidak menyadari adanya pilihan, maka ia tidak memilih. Untuk hampir segala perkara, orang sudah berpikir bahwa satu-satunya cara yang 'benar' adalah cara ini, jalan yang secara tradisional diturunkan dari leluhur kepada buyut, kepada kakek, kepada ayah, dan kepada anak.

Kebenaran akhirnya menjadi suatu pengekalan dari kebiasaan, di mana sesuatu dianggap benar karena selama waktu yang panjang, kebiasaan itu terbukti 'benar' dalam ukuran manusia. Bayangkan jika kita menjadi bangsa Israel: selama berabad-abad, ada hal-hal mendasar yang 'benar' bagi seorang Yahudi. Lakukanlah hukum Taurat. Penuhilah ritual-ritual mendasar, mulai dari sunat di masa kecil dan segala upacara rumit setiap tahun di Yerusalem.

Ketika orang-orang Yahudi menjadi Kristen, beberapa hal tidak berubah. Apa yang harus dipenuhi tetaplah harus dipenuhi, namun sekarang dilakukan dengan cara dan tujuan yang berbeda. Sekarang yang penting adalah melakukan ritual 'Kristen', cara pembaptisan, penumpangan tangan, menyatakan keyakinan tentang kebangkitan orang mati, dan menegaskan pembebasan dari hukuman kekal. Memang bukan lagi membahas tentang mengikuti Hukum Taurat, melainkan suatu tradisi yang baru, cara beragama yang baru. Muatannya berbeda, tetapi esensinya masih tetap sama: lakukanlah ini dan itu – begitulah caranya memahami kebenaran, serta memperoleh keselamatan.

Satu hal yang utama dalam keselamatan adalah tentang bagaimana membangun saluran keselamatan dari Bapa kepada manusia; dan di sini orang Kristen pun tetap mengenal jabatan imam, yang disusun secara terstruktur dari suatu Gereja pusat hingga pelosok terjauh dari orang Kristen perantauan – yang disebut juga orang Kristen diaspora. Tetapi, ketika orang-orang membahas siapa yang jadi pemimpin dan berpengaruh, ada banyak kepentingan yang terlibat.

Kalau kita berpikir bahwa hal ini hanya masalah yang terjadi di masa lalu, perhatikanlah bahwa sampai sekarang pun keberadaan Pendeta dan "Hamba Tuhan" masih melibatkan banyak kepentingan. Yang diributkan juga masih belum jauh berbeda, yaitu tentang bagaimana menjalankan ritual yang 'benar' setepat-tepatnya, karena di sana ada pokok-pokok syarat keselamatan. Tidak sedikit orang yang berpendapat bahwa penting untuk mengikuti imam yang benar, atau Pendeta yang benar, jika memang bersungguh-sungguh mau menerima keselamatan, kesehatan, dan kemakmuran.

Pertanyaannya menjadi ini: apa yang menjadi dasar pertobatan? Demikianlah orang menjawab: jika orang sudah mengikuti upacara baptisan yang benar (dan sampai hari ini, masih banyak denominasi yang mengklaim bahwa inilah cara baptis yang paling benar), jika sudah mengalami mujizat, jika sudah menerima penumpangan tangan, dan seterusnya. Orang yang 'bertobat' adalah orang yang bersedia mengikuti segala ketentuan-ketentuan ini, serta menjalankan sejumlah kebiasaan dan aturan yang bisa diamati, seperti menghadiri kebaktian di Gereja setiap hari Minggu.

Semua hal yang menandai kekristenan adalah baik, selama masih tetap ada dalam posisinya yaitu sebagai tanda. Jika TUHAN mengizinkan, kita akan melakukan semua itu: baptisan, penumpangan tangan, serta entah apa lagi yang ditetapkan oleh Gereja. Tetapi itu bukanlah bagian dari kedewasaan, itu adalah sesuatu yang alami untuk dilakukan. Itulah tradisi, suatu asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus.

Perhatikanlah: bukan asas-asas pertama yang menandai kedewasaan – yang pertama itu adalah bagi orang yang masih baru percaya, masih bayi dalam hal rohani. Karena kekristenan bersentuhan dengan banyak pikiran yang belum mengenal Kristus, maka ada banyak hal yang disederhanakan, dipermudah, dengan maksud agar dapat diterima dengan lebih mudah. Jalannya sederhana, dan hampir tidak ada pilihan untuk diambil.

Apakah orang hanya berhenti di sana? Penulis Ibrani mengajak untuk menjadi dewasa, beralih kepada perkembangan yang penuh. Keselamatan yang sudah diperoleh adalah keselamatan yang harus diisi dengan tanggung jawab, dan dalam hal inilah kita menemukan pilihan-pilihan. Bisakah kita menjadi dewasa? Siapkah kita mengambil keputusan yang sukar, agar menjadi lebih dari pemenang?

Ada banyak konsekuensi dari menjadi orang Kristen; bukan saja dalam hal menerima kuasa dan mendapatkan berkat serta karunia, tetapi juga dalam hal bertanggung jawab atas talenta yang telah diberikan pada kita. Ketika kita berkembang sepenuhnya, kita berfungsi sepenuhnya bagi TUHAN yang telah menjadikan kita, melahirkan kita kembali dalam keselamatan dan kekekalan. Urusannya bukan lagi soal menerima dan mendapat, bukan tentang menerima kasih dan mengalami mujizat yang terjadi bagi diri kita sendiri.

Urusan kita adalah mematuhi hukum yang pertama dan terutama, yaitu mengasihi TUHAN Allah dengan segenap kekuatan, hati, dan akal budi. Urusan kita juga adalah mengasihi sesama manusia, seperti mengasihi diri sendiri. Ini bukan hal yang mudah, karena yang disebut bukan mengasihi hanya istri dan anak-anak, melainkan sesama manusia – yang dalam perumpamaan Tuhan Yesus juga meliputi pihak yang secara ekstrim berbeda, bahkan bersikap bermusuhan, seperti antara orang Samaria dan orang Yahudi. Segala sesuatu tidak lagi semudah membahas tentang baptisan, tetapi itulah yang akan kita lakukan.

Mari kita lakukan.