Ibr 6:1-3 Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada perkembangannya yang penuh. Janganlah kita meletakkan lagi dasar pertobatan dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, dan dasar kepercayaan kepada Allah, yaitu ajaran tentang pelbagai pembaptisan, penumpangan tangan, kebangkitan orang-orang mati dan hukuman kekal. Dan itulah yang akan kita perbuat, jika Allah mengizinkannya.
Menjadi tua adalah pertumbuhan alami, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan. Mengalami perubahan adalah peristiwa yang tidak bisa dielakkan manusia, namun menjadi pemenang adalah keputusan yang tidak selalu mudah. Enak ya, mengucapkan kalimat-kalimat seperti ini. Siapa yang tidak mau menjadi dewasa? Siapa yang tidak mau menjadi pemenang? Bagi orang percaya, bahkan ingin menjadi lebih daripada pemenang!
Masalahnya, kata-kata saja tidak mengubah kehidupan orang, jika kata-kata itu tidak menyatu dengan perbuatannya. Renungkanlah: ketika dikatakan bahwa menjadi dewasa adalah pilihan, siapa yang memberikan pilihan? Bagaimana orang bisa menyadari pilihan-pilihan yang ada, untuk mengambil sebuah keputusan yang tidak selalu mudah? Ini adalah masalah penting, karena kalau orang tidak menyadari adanya pilihan, maka ia tidak memilih. Untuk hampir segala perkara, orang sudah berpikir bahwa satu-satunya cara yang 'benar' adalah cara ini, jalan yang secara tradisional diturunkan dari leluhur kepada buyut, kepada kakek, kepada ayah, dan kepada anak.
Kebenaran akhirnya menjadi suatu pengekalan dari kebiasaan, di mana sesuatu dianggap benar karena selama waktu yang panjang, kebiasaan itu terbukti 'benar' dalam ukuran manusia. Bayangkan jika kita menjadi bangsa Israel: selama berabad-abad, ada hal-hal mendasar yang 'benar' bagi seorang Yahudi. Lakukanlah hukum Taurat. Penuhilah ritual-ritual mendasar, mulai dari sunat di masa kecil dan segala upacara rumit setiap tahun di Yerusalem.
Ketika orang-orang Yahudi menjadi Kristen, beberapa hal tidak berubah. Apa yang harus dipenuhi tetaplah harus dipenuhi, namun sekarang dilakukan dengan cara dan tujuan yang berbeda. Sekarang yang penting adalah melakukan ritual 'Kristen', cara pembaptisan, penumpangan tangan, menyatakan keyakinan tentang kebangkitan orang mati, dan menegaskan pembebasan dari hukuman kekal. Memang bukan lagi membahas tentang mengikuti Hukum Taurat, melainkan suatu tradisi yang baru, cara beragama yang baru. Muatannya berbeda, tetapi esensinya masih tetap sama: lakukanlah ini dan itu – begitulah caranya memahami kebenaran, serta memperoleh keselamatan.
Satu hal yang utama dalam keselamatan adalah tentang bagaimana membangun saluran keselamatan dari Bapa kepada manusia; dan di sini orang Kristen pun tetap mengenal jabatan imam, yang disusun secara terstruktur dari suatu Gereja pusat hingga pelosok terjauh dari orang Kristen perantauan – yang disebut juga orang Kristen diaspora. Tetapi, ketika orang-orang membahas siapa yang jadi pemimpin dan berpengaruh, ada banyak kepentingan yang terlibat.
Kalau kita berpikir bahwa hal ini hanya masalah yang terjadi di masa lalu, perhatikanlah bahwa sampai sekarang pun keberadaan Pendeta dan "Hamba Tuhan" masih melibatkan banyak kepentingan. Yang diributkan juga masih belum jauh berbeda, yaitu tentang bagaimana menjalankan ritual yang 'benar' setepat-tepatnya, karena di sana ada pokok-pokok syarat keselamatan. Tidak sedikit orang yang berpendapat bahwa penting untuk mengikuti imam yang benar, atau Pendeta yang benar, jika memang bersungguh-sungguh mau menerima keselamatan, kesehatan, dan kemakmuran.
Pertanyaannya menjadi ini: apa yang menjadi dasar pertobatan? Demikianlah orang menjawab: jika orang sudah mengikuti upacara baptisan yang benar (dan sampai hari ini, masih banyak denominasi yang mengklaim bahwa inilah cara baptis yang paling benar), jika sudah mengalami mujizat, jika sudah menerima penumpangan tangan, dan seterusnya. Orang yang 'bertobat' adalah orang yang bersedia mengikuti segala ketentuan-ketentuan ini, serta menjalankan sejumlah kebiasaan dan aturan yang bisa diamati, seperti menghadiri kebaktian di Gereja setiap hari Minggu.
Semua hal yang menandai kekristenan adalah baik, selama masih tetap ada dalam posisinya yaitu sebagai tanda. Jika TUHAN mengizinkan, kita akan melakukan semua itu: baptisan, penumpangan tangan, serta entah apa lagi yang ditetapkan oleh Gereja. Tetapi itu bukanlah bagian dari kedewasaan, itu adalah sesuatu yang alami untuk dilakukan. Itulah tradisi, suatu asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus.
Perhatikanlah: bukan asas-asas pertama yang menandai kedewasaan – yang pertama itu adalah bagi orang yang masih baru percaya, masih bayi dalam hal rohani. Karena kekristenan bersentuhan dengan banyak pikiran yang belum mengenal Kristus, maka ada banyak hal yang disederhanakan, dipermudah, dengan maksud agar dapat diterima dengan lebih mudah. Jalannya sederhana, dan hampir tidak ada pilihan untuk diambil.
Apakah orang hanya berhenti di sana? Penulis Ibrani mengajak untuk menjadi dewasa, beralih kepada perkembangan yang penuh. Keselamatan yang sudah diperoleh adalah keselamatan yang harus diisi dengan tanggung jawab, dan dalam hal inilah kita menemukan pilihan-pilihan. Bisakah kita menjadi dewasa? Siapkah kita mengambil keputusan yang sukar, agar menjadi lebih dari pemenang?
Ada banyak konsekuensi dari menjadi orang Kristen; bukan saja dalam hal menerima kuasa dan mendapatkan berkat serta karunia, tetapi juga dalam hal bertanggung jawab atas talenta yang telah diberikan pada kita. Ketika kita berkembang sepenuhnya, kita berfungsi sepenuhnya bagi TUHAN yang telah menjadikan kita, melahirkan kita kembali dalam keselamatan dan kekekalan. Urusannya bukan lagi soal menerima dan mendapat, bukan tentang menerima kasih dan mengalami mujizat yang terjadi bagi diri kita sendiri.
Urusan kita adalah mematuhi hukum yang pertama dan terutama, yaitu mengasihi TUHAN Allah dengan segenap kekuatan, hati, dan akal budi. Urusan kita juga adalah mengasihi sesama manusia, seperti mengasihi diri sendiri. Ini bukan hal yang mudah, karena yang disebut bukan mengasihi hanya istri dan anak-anak, melainkan sesama manusia – yang dalam perumpamaan Tuhan Yesus juga meliputi pihak yang secara ekstrim berbeda, bahkan bersikap bermusuhan, seperti antara orang Samaria dan orang Yahudi. Segala sesuatu tidak lagi semudah membahas tentang baptisan, tetapi itulah yang akan kita lakukan.
Mari kita lakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar