Ibr 5:7-10 Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya, dan Ia dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah, menurut peraturan Melkisedek.
Pernah dengar anak kecil menangis? Tentu, di mana saja kita bertemu dengan sekumpulan anak, ada kemungkinan besar kita menemukan tangisan. Tetapi bagaimana seandainya yang menangis itu adalah anak kita sendiri? Nah, ini menjadi mimpi buruk orang tua, ketika anaknya menangis meraung-raung di tempat umum; barangkali di pasar, mungkin di mall. Atau di gereja. Semua orang menoleh, memandang dengan prihatin. Beberapa memandang dengan muka sebal, terganggu, sungguh tidak menyenangkan.
Hal pertama yang perlu dipahami orang tua, anak tidak menangis tanpa sebab. Tangisan itu menunjukkan sesuatu, kadang-kadang merupakan hal yang gawat untuk diatasi (seperti, kalau popoknya basah), kadang-kadang hanya hal yang sepele (seperti, ingin mainan yang jatuh di lantai). Anak kecil tidak sekedar 'iseng' menangis keras-keras. Ada alasan-alasan, beberapa merupakan alasan yang bagus, yang lainnya alasan yang ego-sentris, yang pada intinya ingin agar kemauannya dituruti. Apapun juga alasannya, di sana ada perasaan menderita, yang berangkat dari kesadaran akan kelemahan, ketidak-mampuan, menyadari diri kecil dan tergantung kepada orang tua untuk menyediakan segala kebutuhan.
Menjadi manusia adalah menjadi mahluk yang tidak berdaya. Perhatikanlah: di alam ini, mahluk hidup biasanya sudah mempunyai kemampuan tertentu pada saat dilahirkan, namun manusia terlahir dalam kondisi sepenuhnya tidak berdaya. Manusia tidak punya tanduk atau taring, tidak ada kaki yang berlari secepat angin, atau sengatan racun yang mematikan. Bayi terlahir dengan kulit yang halus dan tipis, tulang yang lembek, disertai kehalusan dan kelembutan yang menunjukkan kelemahan. Dibutuhkan naluri kuat dari ibu untuk melindungi dan membesarkan anak, sampai ia cukup tangguh untuk bertahan menghadapi dunia.
Sekarang bayangkanlah seandainya seorang yang gagah perkasa, pahlawan perang yang sakti mandraguna, pada suatu hari berubah kembali menjadi seorang bayi dengan segala kelembutan dan kelemahannya. Ia kehilangan semua kekuatan, semua kekebalan, dan juga semua kemuliaannya dalam sosok yang lemah itu. Celakanya, Sang Pahlawan harus berhadapan dengan musuh bebuyutan, yang masih tetap kuat dan perkasa. Renungkanlah; bisakah membayangkan apa yang dirasakan?
Kira-kira begitulah yang terjadi dengan Tuhan Yesus Kristus. Ketika Dia menjadi manusia, segala kekuatan, keperkasaan, serta kemuliaan-Nya ditanggalkan. Dia terlahir sebagai seorang bayi, sama dengan manusia lain. Ia mengalami segala rasa sakit, perasaan yang tidak enak, juga perasaan tertekan – semua hal yang kita punya. Dia juga mengerti tuntutan dari keinginan, seperti dosa yang memanggil-manggil dari balik pintu dan menunggu satu keputusan salah dilakukan. Dia mengalami bagaimana hormon-hormon itu menciptakan dorongan-dorongan yang banyak menjerumuskan anak muda dalam jurang kesulitan. Namun Tuhan Yesus bertahan, dengan menangis.
Tangisan Tuhan Yesus bukan sebuah tangisan perlahan-lahan, isak sedu-sedan yang samar-samar. Bukan. Tangisannya adalah tangisan kuat, sebuah ratapan, sebagai doa permohonan kepada Bapa yang sanggup menyelamatkan. Jika melihatnya, tangisan itu digambarkan seperti jeritan seorang anak bayi di tengah malam. Mendesak, seperti terancam maut, karena memang hanya dengan menjerit kepada Bapa saja satu-satunya cara untuk terlepas dari kuasa dosa. Di sana ada hubungan yang mendalam antara Bapa dan Anak, yang disebut sebagai kesalehan, yaitu sikap takut akan Allah. Dari sanalah kekuatan-Nya.
Hubungan tidak mengurangi ketaatan Anak kepada Bapa. Betapa banyaknya orang yang suka akan status sebagai 'anak' tanpa berusaha menghidupi ketaatan kepada Bapa yang mengangkatnya. Itulah pelajaran dari penderitaan: belajar untuk taat selagi melalui kesulitan. Renungkanlah: tidak sulit untuk taat dikala sedang tenang, senang, tidak ada kesusahan. Tetapi waktu kesulitan tiba, rasanya ada alasan untuk bersikap tidak taat, ada alasan untuk tidak melakukan apa yang harusnya dilakukan – bukankah sekarang ini memang lagi susah, jadi orang lain harus maklum dan memberi toleransi? Apalagi ini adalah Anak, tentu saja seharusnya mendapatkan toleransi yang lebih besar!
Mungkin begitulah orang tua di dunia. Anak Allah tetap taat dalam kesulitan, tanpa toleransi atau kompromi; Tuhan Yesus tetap menanggung beban sepenuhnya. Hidup-Nya tidak menjadi lebih mudah, penderitaan-Nya tidak berkurang, tetapi Ia tetap taat walaupun sampai menangis menjerit kepada Bapa di Sorga. Tangisan-Nya bukan hanya bagi diri-Nya, seperti orang-orang yang ego-sentris, tetapi Tuhan Yesus juga menangis bagi Yerusalem, bagi Israel, dan bagi dunia. Bagi kita semua. Dia menangis, dalam ketaatan, agar manusia diselamatkan. Agar orang-orang yang tidak tahu bahwa mereka ini celaka, akhirnya bisa diselamatkan.
Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya, pertama-tama karena Dia sendiri mengalami kesusahan manusia, kemudian Dia memberikan diri-Nya sendiri sebagai tebusan bagi dosa manusia, dalam ketaatan yang sempurna. Untuk mendapatkan-Nya, pertama-tama kita perlu percaya kepada-Nya, dan kemudian kita harus mentaati-Nya – karena tidak mungkin seseorang benar-benar percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Allah, kalau tidak mau taat kepada-Nya. Relasi Allah-manusia adalah relasi yang ditandai oleh ketaatan.
Relasi itu juga menjadikan Tuhan Yesus sebagai Imam Besar, sesuai panggilan Allah menurut peraturan Melkisedek. Kita meletakkan semua hal dalam hubungan kita ke dalam tangan Tuhan Yesus, seperti umat yang meletakkan segala sesuatu dipundak Imam yang mewakili mereka. Dan kita terdiam mendengar tangisan-Nya bagi kita... karena kita berdosa dan melanggar ketetapan-Nya. Apakah kita tidak terus berhenti dari segala kejahatan, supaya Tuhan Yesus juga tidak perlu lagi menangis bagi kita? Menjadi taat melakukan kehendak Bapa – itulah sukacita-Nya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar