Selasa, 25 Agustus 2009

Anak-Ku Engkau

Ibr 5:5-6 Demikian pula Kristus tidak memuliakan diri-Nya sendiri dengan menjadi Imam Besar, tetapi dimuliakan oleh Dia yang berfirman kepada-Nya: "Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini", sebagaimana firman-Nya dalam suatu nas lain: "Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek."

Dari jaman dahulu, pengakuan adalah hal yang penting. Pengakuan berkaitan dengan aktualisasi diri, itulah saat seseorang menemukan bahwa keberadaannya 'aktual', artinya sungguh-sungguh bermakna di masyarakat. Kehidupan orang banyak akan berbeda seandainya orang yang aktual itu tidak hadir di sana. Dan betapa banyak orang yang menginginkan dirinya diakui penting! Mereka berlomba-lomba menyatakan diri sebagai orang penting, kadang-kadang dengan melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak penting, melainkan jarang orang lain mau melakukannya.

Bagaimana dengan status rohani? Sama juga, ada yang menyukai keberadaan dirinya yang 'penting' sebagai rohaniwan. Tidak bisa dipungkiri, nyatanya orang menyadari 'tingkat' rohani. Maka, ada yang menjadi 'gembala senior' atau 'pendeta senior'. Lain lagi, ada orang yang menunjukkan dirinya memiliki karunia dan melakukan mujizat. Orang demikian tentunya lebih rohani daripada orang awam lainnya, bukan? Jadinya, betapa orang berdoa ingin mendapatkan karunia, supaya bisa buat mujizat, memuliakan TUHAN, sekaligus menempatkan dirinya jadi penting!

Siapa yang bisa menyatakan bahwa peran seseorang benar-benar penting? Di sinilah kita menemukan bahwa secara mutlak, penentuan diberikan oleh TUHAN, Allah Bapa, Allah semesta alam. Jika orang memuliakan dirinya sendiri, dia tidak bisa menilai dengan benar. Bukankah ada orang merasa diri penting, tetapi sesungguhnya peran dia tidak berarti? Waktu yang menjadi penentu, apakah orang ini benar-benar berharga atau tidak. Tetapi Allah tidak dibatasi waktu, Dia mengetahui masa depan sebaik masa lalu.

Panggilan Allah menyatakan pengakuan-Nya. Ketika Harun dipanggil, ia merupakan pilihan yang tepat, sekalipun ada hal-hal yang menunjukkan respon Harun tidak pantas. Itu menunjukkan, TUHAN tidak memilih berdasarkan kesempurnaan manusia untuk suatu fungsi; bagaimanapun juga, manusia memang penuh kelemahan, tidak ada yang sempurna. Tetapi, panggilan itu menjadi berbeda ketika yang dinyatakan bukanlah tentang fungsi, melainkan relasi.

Hal ini perlu kita pahami. Harun dipanggil dalam konteks fungsi, yaitu menjadi imam. Ini adalah suatu peran, sebuah posisi yang diemban, bahkan diwariskan kepada seluruh suku Lewi. Posisi ini bisa dijabat oleh banyak orang, beberapa melakukannya dengan baik, lainnya dengan buruk. Sama seperti posisi yang diberi istilah "Pendeta" di jaman sekarang, beberapa menjadi saluran berkat, tapi ada juga yang mendatangkan kutuk bagi jemaat.

Sangat berbeda keadaannya ketika Allah Bapa memanggil dengan "Anak-Ku Engkau!" Ini adalah suatu relasi, suatu hubungan yang khusus dan khas. Hubungan ini telah dinyatakan dengan jelas pada suatu saat oleh Bapa, seperti yang diketahui oleh pemazmur tentang ketetapan TUHAN: "Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini." (Mzm 2:7). Relasi yang diakui oleh Allah dan dipahami oleh manusia, menunjukkan kualitas hubungan yang istimewa – sebagai Anak Allah.

Relasi ini juga ditetapkan dalam konteks waktu Allah, di luar waktu manusia. Hubungannya dipertegas dengan sebuah pengakuan lain, yaitu penetapan sebagai Imam untuk selama-lamanya menurut peraturan Melkisedek. Anak TUHAN ditetapkan sebagai Imam yang kekal sesuai dengan peraturan yang penetapannya juga di luar waktu manusia – itulah Melkisedek, yang menerima persembahan dari Abraham.

Kekhususan relasi dan fungsi ini menyatu pada Kristus, tetapi juga menjadi contoh bahwa kita pun memiliki peluang yang serupa, untuk menjadi anak-anak Allah. Tentu kita tidak mempunyai relasi yang khusus itu, atau menjadi Imam untuk selama-lamanya – sebaliknya justru kita dapat turut punya relasi yang istimewa karena Kristus, sebagaimana Dia menjadi Imam bagi kita untuk selama-lamanya. Kita juga mempunyai relasi, bukan hanya fungsi, dengan Bapa.

Renungkanlah: mari kita bersyukur karena Kristus! Maka kita memiliki relasi sebagai anak, yang tidak pernah terputus lagi – apa yang dapat memisahkan kita dari Kristus? Di dalam Dia kita mempunyai perantara yang kekal, karena Dialah Imam yang menjadi Raja, sebagaimana Melkisedek adanya.

Terpujilah TUHAN!

Tidak ada komentar: