Heb 4:14-16 Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.
Bagaimana seseorang dapat melangkah maju dalam hidupnya? Ada dua hal yang menjadi syarat yang harus dipenuhi. Syarat yang pertama adalah syarat kepemilikan. Syarat yang kedua adalah syarat kesadaran, yaitu sadar tentang kepemilikan itu. Kedua hal ini menjadi kesatuan yang menyatu dan menjadi landasan dari semua keputusan yang diambil manusia, entah dia tahu atau tidak mengenai prinsip ini. Coba kita renungkan.
Misalnya saja, bagaimana seorang bisa melangkah dari tempat ini ke tempat itu? Pertama-tama, syaratnya ia harus memiliki kesehatan dan kekuatan yang cukup. Kalau orang sakit atau lumpuh, membuat satu langkah pun tidak bisa, bukan? Yang kedua, ia harus sadar bahwa ia punya kesehatan dan kekuatan yang cukup, sehingga ia berani melangkah. Ingat tentang orang lumpuh yang disembuhkan oleh Tuhan? Orang itu tidak bergerak sebelum diberitahu Tuhan Yesus untuk bergerak, "Angkatlah tilammu!"
Bagaimana dengan kenekatan manusia, misalnya yang bermain judi? Kedua syarat inipun berlaku: pertama-tama orang harus memiliki kesempatan untuk memenangkan judi itu. Dia bisa memperoleh kesempatan dengan membeli undian, atau memasang taruhan. Yang kedua, dia harus menyadari kemungkinan menang; dalam hal judi seringkali kesadaran ini muncul dari pengalaman orang lain. Bukankah dia melihat ada orang yang menang judi besar-besaran, sehingga menjadi sadar bahwa dirinya pun bisa memperoleh peruntungan yang sama? Kalau ada judi yang tidak pernah dimenangkan orang, tentunya tidak ada seorang pun yang mau bertaruh di sana.
Yang tidak diketahui orang, kesadaran itu sendiri bisa dimanipulasi. Ada bandar judi yang sengaja 'bermain' dengan bawahannya dalam sebuah sandiwara kemenangan judi yang besar, memberi kesan orang bisa menang besar padahal semua itu sudah diatur. Karena itu, kesadaran tidak boleh hanya bertumpu pada pengalaman, tetapi juga pada hikmat dan pengertian.
Dalam hal beriman, prinsip ini juga berlaku. Orang bisa beriman karena memiliki sesuatu dan sadar akan kepemilikan itu. Kita bisa beriman karena kita memiliki Imam Besar Agung. Bagi orang Israel, pengertian soal Imam Besar sangat penting dan mendasar dalam iman, yaitu sebagai penghubung antara manusia dan Allah. Satu kenyataan mutlak adalah: manusia dan Allah terpisah oleh jurang yang sangat lebar dan dalam, sehingga mustahil orang bisa mencapai Allah sendiri.
Untuk menjembatani jurang yang luar biasa ini, ada manusia yang berupaya dengan kesungguhan luar biasa sejak kecil, itu pun dalam rahmat dan berkat Allah, sehingga ia boleh menjadi seorang Imam Besar di masa tuanya. Sudah umum dipahami bahwa imam sama sekali tidak kebal dari salah, sehingga setiap Imam Besar yang masuk ke ruang Maha Suci datang dengan tali dan bel-bel kecil terikat di pinggangnya. Kalau ia berbuat salah dan mati di dalam, orang akan menarik tali itu untuk mengeluarkan jenazahnya. Jadi, kalau orang yang sudah sedemikian keras berusaha sejak kecil dapat mati oleh sebuah kesalahan – dan malangnya, tidak ada yang tahu apa kesalahan yang diperbuat di dalam sana – lantas bagaimana dengan orang-orang awam?
Karena dari sisi manusia tidak ada penghubung yang cukup layak, maka satu-satunya harapan yang benar adalah Penghubung yang datang dari sisi Allah. Inilah yang disebut sebagai Imam Besar Agung – sebelumnya tidak ada Imam Besar yang cukup Agung untuk disebut 'agung', 'great', atau dalam bahasa aslinya, 'mega'. Inilah Imam Besar yang datang melintasi semua langit sampai ke bumi, yaitu Yesus, Anak Allah. Kita sekarang mempunyainya, memiliki jalan, kebenaran, dan hidup!
Satu hal tentang Imam Besar, sebagai penghubung ia harus membawa keadaan manusia ke hadapan Allah. Untuk itu, Imam Besar harus memahami persoalan manusia, tahu tentang kelemahan manusia dan kejatuhannya. Kalau tidak, bagaimana ia dapat menjadi penghubung? Bayangkan saja, seandainya ada sekelompok anak kecil, yang mau memohon sesuatu kepada Sekolah yang dikelola orang dewasa. Tapi yang menjadi penghubungnya adalah sebuah terminal komputer dengan bahasa yang asing, dengan protokol dan prosedur yang telah dipahami semua orang dewasa, tetapi sama sekali asing bagi anak-anak. Bagaimana mereka dapat menyampaikan keluhan, keinginan, persoalan, atau apa pun kepada sekolahnya? Tetapi, kalau ada anak yang maju menjadi wakil, anak itu pun terbatas dalam kekanakannya, sehingga betapapun ia berusaha keras, anak kecil tidak bisa maju menghadapi orang dewasa.
Satu-satunya harapan adalah datangnya seorang dewasa yang ingat bahwa dirinya dahulu juga anak kecil (sekarang banyak orang dewasa yang lupa dia dulu pernah kecil) dan memahami dunia anak-anak. Ia mengerti kelemahan anak-anak, tahu bagaimana pikiran anak-anak, bisa mengenali mana permintaan yang serius dan mana permintaan yang main-main, serta membawa hal-hal esensial yang serius ini ke hadapan dewan Sekolah dengan cara orang dewasa berbicara.
Ini gambaran yang sangat buram, karena kalau bicara antara manusia dan Allah, perbedaannya jauh lebih besar daripada antara anak dan orang dewasa. Di sinilah kita menemukan bahwa Tuhan Yesus hadir sebagai manusia serta mengerti segala kelemahan, sudah turut menerima pencobaan, hanya Ia tidak berdosa. Kita memiliki Imam Besar Agung yang sungguh-sungguh mampu dan menguasai kemanusiaan, tanpa jatuh dalam kelemahannya.
Kalau demikian, apakah kita juga menyadari tentang kepemilikan itu? Ketika kita sadar, maka kita mempunyai iman. Kita bisa melangkah dalam iman, untuk mendekati takhta kasih karunia, sumber kasih dan karunia yang kita butuhkan untuk hidup benar di hadapan TUHAN. Apakah kita sungguh-sungguh menyadarinya?
Kesadaran ini penting, sebagai dasar keberanian kita untuk melangkah karena ada pertolongan yang dapat kita andalkan. Kita perlu menyadari kepemilikian ini sama seperti kita sadar tentang berapa jumlah uang kita dalam tabungan dan investasi, yang mungkin selama ini kita andalkan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan kita. Apa yang kita miliki dalam Tuhan jauh lebih besar, lebih penting, dan lebih berharga, sekaligus lebih sukar untuk dipahami karena bukan sesuatu yang ada dalam kendali kita.
Tidak ada seorang pun yang dapat mengendalikan Allah sebagaimana kepemilikan yang lain. Sebaliknya, ketika kita memiliki Tuhan, kitalah yang dikendalikan oleh-Nya, melalui Roh-Nya yang menunjukkan jalan kita. Bagi kita sendiri, yang kita harapkan adalah rahmat dan karunia untuk memperoleh pertolongan di setiap belokan, sampai kita menjumpai Tuhan di tempat-Nya. Dialah yang menjadi penghubung, dia yang membawa kita, dan pada Dia juga kita mendapat pertolongan kita!
Terpujilah TUHAN!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar