Ibr 5:1-4 Sebab setiap imam besar, yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa. Ia harus dapat mengerti orang-orang yang jahil dan orang-orang yang sesat, karena ia sendiri penuh dengan kelemahan, yang mengharuskannya untuk mempersembahkan korban karena dosa, bukan saja bagi umat, tetapi juga bagi dirinya sendiri. Dan tidak seorangpun yang mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri, tetapi dipanggil untuk itu oleh Allah, seperti yang telah terjadi dengan Harun.
Siapa yang paling baik dalam gedung gereja? Mari kita perhatikan. Ke mana mata kita tertuju? Barangkali, pertama-tama kita akan melihat ke arah mimbar. Bukankah di sana Pak Pendeta berdiri? Dia tentunya, seharusnya, menjadi yang paling baik dalam gedung gereja – walau nyatanya sekarang ini banyak juga orang yang tidak suka pada pendetanya sendiri (tanya kenapa?). Kalau bukan Pak Pendeta yang paling baik, kita melihat orang-orang yang duduk di sisi, mungkin anggota Majelis, mungkin Penatua, mungkin Diaken, atau sebutan apapun bagi mereka yang bertanggung jawab mengurus organisasi gereja. Dan kita mulai menimbang-nimbang, mengukur kebaikan orang...
Bagaimana kita mengukur kebaikan orang, sehingga kita bisa memutuskan siapa yang paling baik dalam gedung gereja? Pada manusia ada yang disebut dengan sekumpulan pemahaman di dalam sebuah sistem nilai, yaitu sistem untuk memberikan penilaian. Cara kerja sistem ini tergantung dari wawasan dunia, yang dibentuk oleh pengetahuan, perasaan, dan pengalaman orang tersebut. Sistem nilai akan mensortir apa yang kita temukan di sekitar kehidupan kita, membuat yang satu penting dan lain tidak penting, menghargai yang satu lebih tinggi daripada yang lain. Kemudian, ketika sistem nilai ini dihubungkan dengan proses manusia membuat keputusan, kita mendapati apa yang disebut dengan paradigma, yaitu pemikiran yang mendorong dan membatasi perilaku manusia berdasarkan apa yang dilihat dan dipahaminya.
Apa paradigma kita tentang orang yang baik di gereja? Barangkali (karena, setiap orang bisa memiliki paradigma sendiri) kita mempunyai kondisi ideal di mana orang yang baik adalah orang yang tidak bergaul dengan orang yang jahat. Hal ini tidak mungkin terjadi, bukan? Air tidak bersatu dengan minyak. Orang yang berpakaian bersih tidak duduk bersisian di samping yang pakaiannya kotor – nanti kotoran bisa berpindah, bukan? Dan tentu saja kita ingat amsal yang menyatakan bahwa pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Bagaimana nanti orang baik bisa bergaul dengan orang yang tidak baik? Di atas semuanya, orang baik justru bergaul dengan TUHAN, merenungkan Firman itu siang dan malam, mengucapkan pujian dan mazmur serta kata-kata bijak. Itulah orang baik!
Apakah itu yang kita harapkan dari Bapak atau Ibu Pendeta? Begitu juga yang diharapkan dari seorang imam, dan kali ini mari kita melihat imam yang hidup di antara orang Israel. Bukankah dia seharusnya menjadi orang baik yang dikuduskan dari pergaulan yang sesat? Tetapi, apa yang dituntut sebagai tanggung jawab seorang imam adalah menghubungkan manusia dengan Allah. Karena ada begini banyak manusia, orang Israel, yang telah menjadi jahil dan sesat, yang penuh kelemahan dan berdosa – semua itu bermaksud untuk berdamai dengan Allah melalui imam. Sebagai penghubung demi perdamaian, imam harus menjadi orang yang paling baik. Tidak boleh ada cacatnya, tidak boleh ada celanya.
Masalahnya, di saat yang sama imam juga harus mengerti orang-orang yang penuh cacat dan cela. Bagaimana ia bisa mengerti mereka? Imam tidak bisa membaca pikiran orang lain, bukan? Dia tidak tahu apa yang benar-benar ada dalam hati orang, dan betapa mudah mata dan telinga manusia dipermainkan oleh penampilan sandiwara! Ada orang yang terlihat bersih sekali, baik sekali, ternyata belakangan diketahui ia mempunyai hati yang busuk, rencana yang jahat, dan tangan yang diam-diam berlumuran darah. Mereka pada awalnya tampil sebagai orang yang bijaksana, siap membela orang miskin, siap untuk berkorban – sampai tiba waktunya mereka tidak mendapat apa yang mereka inginkan, mereka menunjukkan taring kemarahannya dan tidak peduli kalau ada orang miskin yang terluka akibat perbuatannya itu.
Sebaliknya, ada juga yang berpenampilan aneh, dengan rambut yang barangkali jarang sekali dicuci sampai menjadi gimbal, dengan kata-kata yang membingungkan, antara serius dan bercanda tidak ketahuan, tetapi dia bisa menghibur dunia hanya dengan tertawa ha ha ha. Dalam kesempatan lain, bertemu orang seperti itu mungkin mendatangkan perasaan tidak nyaman, meski toh orang sekarang melihat sosok seperti ini sebagai lambang kebebasan yang baik. Jika imam bertemu orang seperti ini, apakah ia tidak lantas berpikir tentang dosa-dosa yang perlu disucikan, dengan membawanya ke hadapan Tuhan?
Jadi kita kembali pada kesulitan imam untuk mengerti orang-orang yang harus diwakilinya. Masalahnya adalah keberpihakan; apakah imam itu memihak manusia, umatnya? Jika ia tidak menjadi pihak manusia, sedangkan ia sendiri masih tetap seorang manusia, lantas bagaimana ia dapat membawa segala pergumulan manusia ke hadapan TUHAN? Sebaliknya, jika ia mau menjadi bagian dari umat yang berdosa, ia sendiri harus mengerti tentang dosa. Bagaimana caranya, mengingat kenyataan bahwa imam sendiri membawa dosa dalam dirinya? Jika imam masuk dalam kehidupan orang-orang itu, ia dapat turut jatuh dalam kesalahan yang sama. Ada seorang pendeta muda yang tadinya mau menolong para wanita tuna susila, akhirnya ia sendiri jatuh dalam percabulan. Dalam kenyataan, manusia tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk melindungi sistem nilainya sendiri. Pengalaman dan perasaan bisa mempengaruhi orang dengan kuat sehingga wawasan dunianya berubah, paradigmanya berubah.
Apapun juga kesulitan yang muncul, kita kembali kepada tanggung jawab imam yang sudah ditetapkan baginya untuk mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa. Ini adalah kehidupan yang diperjuangkan, termasuk bagi mereka yang jahil dan berdosa, menempatkan imam di posisi yang penting dan terhormat. Siapa yang bisa mendapatkan kehormatan, itu bukan dari pilihan manusia melainkan ketetapan Allah, seperti panggilan Allah bagi Harun. Panggilan yang sempurna, yang direspon dengan tidak sempurna karena kita tahu betapa Harun justru tunduk pada kehendak bangsa Israel dan membuat patung anak lembu emas, yang mengingkari TUHAN, Allah semesta alam.
Memikirkan demikian, maka kita tahu bahwa sebenarnya tidak ada manusia yang dapat mewakili umat untuk menghadap Allah. Satu-satunya cara adalah Tuhan datang dari Sorga dan menjadi bagian dari manusia, mengerti dengan benar karena Tuhan Yesus tahu isi hati orang, untuk dibawa ke dalam hubungan dengan Bapa di Sorga. Tuhan Yesus menjadi Pahlawan bagi kita sekalian, karena memberikan kehidupan yang kekal bagi orang yang percaya.
Terpujilah TUHAN!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar