Kamis, 26 November 2009

Peringatan dan Keyakinan

Ibr 6:9-10 Tetapi, hai saudara-saudaraku yang kekasih, sekalipun kami berkata demikian tentang kamu, kami yakin, bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan. Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang.

Kata-kata yang diucapkan dapat mempunyai beberapa maksud dan tujuan. Ada yang dilontarkan sekedar basa basi. Ada yang mengekspresikan perhatian yang tulus, suatu bentuk empati yang membentuk persahabatan. Lebih serius, ada yang mengajar, menegur, memperingatkan. Lalu ada juga kata-kata yang diberikan dengan pisau di dalamnya, melukai pendengarnya – bahkan menikam dengan fitnah yang kejam. Yang satu menyenangkan, yang lain membuat sebal orang yang mendengarkan. Sayangnya, perasaan senang atau sebal saat mendengar itu tidak menentukan apa yang menjadi nilai dari kata-kata yang dilontarkan.

Bayangkan tentang kata-kata yang berbicara tentang murtad, tentang ladang yang sudah diurus dengan baik tetapi hanya menumbuhkan semak duri! Mendengarnya saja, rasanya tidak enak. Merenungkan bagian surat Ibrani ini tidak mudah – bisa dibayangkan bagaimana dahulu para penerima surat ini mengernyitkan dahi membaca mengenai kemurtadan. Bagaimana mungkin orang bisa murtad? Bukankah rasul Paulus mengajarkan bahwa orang diselamatkan karena iman, di mana Roh Kudus menjadi meterai – siapa yang dapat memisahkan kita dari kasih Tuhan? Penganiayaan, kesesakan, penderitaan, itu semua memang dialami tetapi tidak memisahkan kasih ilahi yang kita terima.

Bagi orang Kristen, kita belajar tentang kepastian keselamatan yang tidak diragukan. Tidak ada orang lain yang bisa merenggut keselamatan itu dari orang percaya, karena apapun yang mereka lakukan hanya sanggup menyentuh tubuh badani. Tidak ada yang dapat menyentuh Roh yang ada pada kita, bahkan sebaliknya roh mereka yang biasa menyiksa dan mengancam itu nampak kerdil dibandingkan sosok yang berlumuran darah sambil tetap memanjatkan doa pengampunan dosa bagi para perajamnya – itulah Stefanus yang dirajam (baca: Kisah Para Rasul, pasal 7).

Jadi, bagaimana sikap kita saat membaca dan merenungkan tentang kemurtadan? Mengapa surat ini begitu keras berkata-kata tentang para pendengarnya, yang diantaranya termasuk kita juga? Satu hal yang harus kita perhatikan, kenyataan bahwa peringatan ini diberikan menunjukkan bahwa kemungkinan untuk murtad itu tetap ada. Suka atau tidak suka, kita harus mengakui bahwa seorang manusia tetap bisa memilih untuk menolak segala sesuatu yang baik yang telah diterimanya, sebagai sebuah pilihan yang dibuat dengan sadar dan tanpa paksaan. Menjadi Kristen yang telah menikmati karunia Roh tidak menghilangkan kemungkinan orang ini membuang apa yang dimilikinya.

Kata-kata yang diberikan penulis surat Ibrani adalah perkataan yang keras, tetapi perlu. Kita perlu diperingatkan untuk menjaga pikiran kita sendiri, karena manusia bisa berubah dengan segala pertukaran pikiran sehingga apa yang semula nampak baik, tidak lagi diterima. Orang bisa berubah sedemikian jauhnya sehingga apa yang mendasar, yang fundamental, tidak lagi dilihat sebagai keharusan. Lihat saja, ada yang tidak lagi mau menikah, atau justru mau menikah dengan sesama jenis. Lelaki menikah dengan lelaki, perempuan menikah dengan perempuan. Ada yang masih mengaku sebagai Kristen, tetapi tidak mengakui Yesus adalah Tuhan. Ada yang aktif dan menunjukkan diri saleh, tetapi tidak ragu-ragu untuk berbuat licik dalam usaha.

Repotnya, saat kita berubah, yang kita lihat adalah lingkungan yang berubah. Seperti orang yang naik pesawat terbang, sepintas terasa dirinya diam sedangkan dunia yang melaju pesat di sekeliling. Kita berpikir bahwa diri kita masih seperti yang dulu, dunialah yang berubah. Padahal, dunia masih tetap sama – manusialah yang berubah. Itulah sebabnya John Calvin dahulu memperingatkan, agar gereja yang terbaharui tetap terus menerus dibaharui, agar kembali ke Alkitab dan dasar-dasar iman. Kalau tidak begitu, pada suatu hari gereja akan "menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman" dan tanpa terasa menjadi berbeda melalui proses perubahan yang tidak terasa.

Baiklah, gereja memang telah memperhatikan orang-orang kudus. Betul, gereja telah memberikan kebutuhan-kebutuhan baik fisik maupun fasilitas kepada mereka yang melayani jemaat. Itu adalah suatu pekerjaan yang baik, suatu perwujudan dari kasih kepada TUHAN yang dinyatakan kepada pendeta dan gembala serta penginjil – orang-orang yang mengabdi bagi Tuhan. Semua itu tidak akan dilupakan, karena Allah kita sungguh adil. Semua yang baik itu membuktikan bahwa ada hal yang baik yang dimiliki gereja, sesuatu yang mengandung keselamatan. Untuk setiap orang yang terlibat, mereka mempunyai bagian dari hal baik ini. Perbuatan dan pengorbanan orang-orang yang mengasihi Tuhan adalah bukti yang tidak terbantahkan.

Karena itu, betapa ironisnya kalau yang sudah memiliki keselamatan itu kemudian membuangnya! Jangan heran dengan kata-kata yang keras, mengingat gawatnya situasi yang muncul dari kemurtadan. Kita diingatkan untuk tetap dalam Tuhan, karena setelah memiliki keselamatan belum tentu kita sendiri selamanya menginginkan keselamatan itu – apalagi setelah kita dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran dunia yang memang tidak kenal Tuhan. Teguhkan tekad dan tetaplah berpegang pada Tuhan, seperti kita juga masih melayani orang-orang kudus sampai sekarang. Jangan berhenti, dan jangan menengok lagi ke belakang.

Terpujilah TUHAN!

Jumat, 13 November 2009

Hasil (Semak Duri)

Ibr 6:7-8 Sebab tanah yang menghisap air hujan yang sering turun ke atasnya, dan yang menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi mereka yang mengerjakannya, menerima berkat dari Allah; tetapi jikalau tanah itu menghasilkan semak duri dan rumput duri, tidaklah ia berguna dan sudah dekat pada kutuk, yang berakhir dengan pembakaran.

Ada satu pertanyaan yang penting untuk dijawab. Jika Allah begitu mengasihi manusia, apakah Dia mengharapkan pamrih? Adakah Dia membutuhkan sesuatu dari manusia? Sama seperti para petani yang mengolah lahan pertanian, mereka menghabiskan waktu dan tetesan keringat, karena mengharapkan buah yang baik diterima dari tanah mereka. Begitukah maksud Tuhan terhadap manusia, bumi, dan segala isinya?

Ini pertanyaan yang paling sering muncul dalam relasi antar-manusia. Terbuka atau tertutup, dinyatakan dengan kejujuran atau kebohongan, satu hal ini sering menjadi pokok dalam pikiran: ABS – Apa Buat Saya. Untuk hal-hal yang sepele dan murah, perhitungannya sederhana seperti ingin mendapatkan kesenangan bersama. Tetapi untuk hal yang lebih mahal, lebih menuntut dan butuh pengorbanan, orang akan bertanya lebih detail. Apa yang bisa diharapkan untuk diterima setelah berjam-jam kerja keras dan memeras pikiran?

Apa betul, orang bisa memberikan pelayanan kepada orang lain secara cuma-cuma? Jangan salah; dalam kompleksitas hubungan antar manusia, tidak selamanya orang mendapatkan sesuatu dari mereka yang dilayani. Ada orang yang melayani kaum miskin bukan dalam harapan agar orang miskin membalas budi melainkan agar Pemerintah menaruh lebih banyak perhatian dan uang. Ada juga yang mencari kesempatan agar dana-dana bantuan dikucurkan, sehingga mereka yang melaksanakan 'perbuatan baik' itu turut menerima bagian. Itulah manusia – tidak semua begitu, tetapi ini juga bukan hal yang asing, karena memang banyak yang begitu.

Sekarang, bagaimana tentang relasi antara manusia dengan Allah? Di sisi manusia, jelaslah banyak yang berusaha 'membujuk' Allah dengan persembahan dan kegiatan-kegiatan. Mereka melakukan itu karena mengharapkan sesuatu; ada begitu banyak hal yang bisa diminta kepada Allah. Bagaimana dengan sisi Allah, apakah yang diharapkan dari manusia? Apakah hal itu berkaitan dengan kebutuhan Allah?

Kita percaya, bahwa TUHAN, Allah semesta alam adalah Pencipta, Dia adalah Khalik langit dan bumi. Dalam kebijaksanaan dan hikmat-Nya, Tuhan menyusun segala yang ada berikut segala tujuan dan fungsinya. Mengapa Tuhan menjadikannya demikian? Itu adalah rancangan Allah, yang jauh melebihi pikiran manusia, dan yang menjadi objek bagi penelitian untuk 'ditemukan'. Begitulah kita mempelajari segala sesuatu, yang kemudian dirangkum sebagai 'ilmu pengetahuan'. Kita belajar bagaimana tumbuhan tumbuh, bagaimana binatang hidup, dan bagaimana manusia menemukan kemanusiaannya.

Adakah TUHAN mempunyai pamrih, ketika Dia menciptakan manusia serupa dan segambar dengan-Nya? Betapa kita tergoda untuk merasa diri lebih penting dan istimewa! Siapa yang masih merendahkan diri untuk melihat bahwa semua ciptaan memiliki ketergantungan kepada Pencipta, di mana esensi atau hakikatnya adalah memenuhi maksud dan tujuan yang mengikuti saat diciptakan?

Lihatlah: tanah menjadi tempat tumbuhan berakar dan bertunas. Air menjadi pelarut yang membawa berbagai zat, memungkinkan tumbuhan, binatang, dan manusia hidup. Lalu ada rantai makanan, serta berbagai mahluk yang bekerja menghancurkan sisa-sisa kematian, sehingga kembali menjadi tanah, menjadi siklus yang penuh. Di manakah posisi manusia?

Mudah saja. Kalau kita bisa membahas hal ini – ketahuilah bahwa satu-satunya mahluk yang dapat membahas dan mencoba memahami alam semesta adalah manusia. Manusia menyelidiki dan menguasai. Manusia menemukan alternatif dan kemungkinan, hingga dapat mengatur ulang segala sesuatu di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Demikianlah orang membuat 'penemuan' dan 'mencipta' – akhirnya memenuhi apa artinya segambar dan serupa Allah. Ini pun adalah rancangan-Nya.

Bagaimana jika ciptaan tidak memenuhi maksud dari penciptanya? Ketika manusia 'menciptakan' ladang, ia mengatur ulang tanah, menggemburkannya, memberinya pupuk, memberinya air, membersihkannya – hingga akhirnya ia menanam bibit dengan harapan kelak akan menerima hasil yang dibutuhkannya. Sebuah ladang terdiri dari tanah dan tanaman, yang berbeda situasinya dibandingkan padang semak yang belum digarap orang.

Ketika hujan turun, air tidak memilih kemana akan jatuh. Air jatuh ke atas padang semak, juga jatuh ke atas ladang garapan. Saat air jatuh ke atas ladang semak, tidak terjadi sesuatu yang bermakna bagi manusia – itu hanya membuat semak-semak menjadi lebih lebat. Tetapi ketika jatuh ke ladang, air hujan menjadi berkat karena memberikan pertumbuhan bagi tanaman, menjadi sangat bernilai bagi petani. Renungkanlah: bukankah hujan itu sendiri tetap sama? Tetapi karena ladang adalah tanah yang sudah digarap, ada harapan pertumbuhan, nilai yang berbeda.

Bagaimana seandainya tanah yang sudah digarap itu ternyata masih menghasilkan semak, serupa dengan padang semak di luar sana yang tidak berguna? Maka perlakuannya pun kurang lebih sama: petani membakar semak-semak – itulah tanah yang kena kutuk, yang terjadi sejak Adam jatuh dalam dosa.

Allah tidak mempunyai pamrih dari ciptaan-Nya, sebaliknya setiap ciptaan memiliki tujuan, setiap garapan mempunyai maksud. Allah bukan sekedar menciptakan, lalu meninggalkannya begitu saja, seperti orang yang iseng membuat sebuah mesin untuk bekerja lalu meninggalkannya tetap hidup di dalam gudang belakang. Tujuan ini mendefinisikan makna, menjadi ukuran nilai. Dia menginginkan ciptaan menghidupi maksud dan tujuan-Nya – dan begitulah alam bekerja, kecuali pada manusia yang bisa mengatur ulang kehidupannya menurut kehendaknya sendiri.

Bagaimana manusia memenuhi maksud dan tujuan Allah? Karena jatuh dalam dosa, manusia kehilangan kemuliaan Allah. Seperti tanah menghasilkan semak dan duri, demikianlah manusia gagal di mata Tuhan. Manusia jadi padang semak duri.

Tapi, Tuhan tidak menyerah. Padang semak duri pun bisa dibuat menjadi ladang kembali. Manusia juga diselamatkan-Nya dengan harga yang sangat mahal – dengan daging dan darah Kristus. TUHAN mengasihi dunia ini sehingga Dia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Jika Tuhan adalah petani, dia sudah mengorbankan yang paling berharga demi tanah yang dikasihi-Nya.

Bagaimana seandainya manusia yang sudah diselamatkan itu ternyata masih menghasilkan semak duri, serupa dengan manusia di luar sana yang tidak kenal TUHAN? Orang yang sudah mengecap hal baik, menerima karunia yang istimewa – seperti tanah yang dipupuki dengan tekun, tapi toh memilih bersikap menentang dan menantang Tuhan. Itulah perbedaan antara manusia dan tanah: pada tanah, tumbuhnya semak duri adalah karena bibit semak terbawa angin dan jatuh di tanah yang sudah disuburkan. Itu bukan pilihan yang diambil oleh tanah, benda mati tidak bisa menolak apapun yang jatuh di atasnya. Tetapi manusia bisa memilih apa yang mau diikutinya.

Orang memang tidak bisa melarang burung yang terbang melintas di atas kepalanya, tapi dia bisa mencegah burung bersarang di sana. Bagaimana jika manusia itu ternyata sengaja memilih membiarkan kotoran menempel di kepalanya? Saat manusia memilih untuk tetap kotor – betapapun dia sudah diperkenalkan dan merasakan nikmatnya bersih – tidak ada yang bisa dilakukan untuk membuatnya tetap bersih. Berkat-berkat dari Allah sudah diterimanya, tapi ia tetap memilih untuk menolak Tuhan, menolak ajaran-Nya, menolak perintah-Nya. Ia memilih untuk berdamai dengan dunia dan menikmatinya – itu adalah pilihan yang dibuat manusia, menjadi semak duri bagi Allah.

Pertanyaannya: orang seperti apakah kita? Waktu kita berpikir tentang pamrih Allah, adakah kita juga berpikir bagaimana sikap kita di hadapan-Nya? Ini bukanlah tentang pamrih, melainkan tentang maksud dan tujuan, yang memberi makna kehidupan. Itulah kehidupan kita.