Ibr 6:9-10 Tetapi, hai saudara-saudaraku yang kekasih, sekalipun kami berkata demikian tentang kamu, kami yakin, bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan. Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang.
Kata-kata yang diucapkan dapat mempunyai beberapa maksud dan tujuan. Ada yang dilontarkan sekedar basa basi. Ada yang mengekspresikan perhatian yang tulus, suatu bentuk empati yang membentuk persahabatan. Lebih serius, ada yang mengajar, menegur, memperingatkan. Lalu ada juga kata-kata yang diberikan dengan pisau di dalamnya, melukai pendengarnya – bahkan menikam dengan fitnah yang kejam. Yang satu menyenangkan, yang lain membuat sebal orang yang mendengarkan. Sayangnya, perasaan senang atau sebal saat mendengar itu tidak menentukan apa yang menjadi nilai dari kata-kata yang dilontarkan.
Bayangkan tentang kata-kata yang berbicara tentang murtad, tentang ladang yang sudah diurus dengan baik tetapi hanya menumbuhkan semak duri! Mendengarnya saja, rasanya tidak enak. Merenungkan bagian surat Ibrani ini tidak mudah – bisa dibayangkan bagaimana dahulu para penerima surat ini mengernyitkan dahi membaca mengenai kemurtadan. Bagaimana mungkin orang bisa murtad? Bukankah rasul Paulus mengajarkan bahwa orang diselamatkan karena iman, di mana Roh Kudus menjadi meterai – siapa yang dapat memisahkan kita dari kasih Tuhan? Penganiayaan, kesesakan, penderitaan, itu semua memang dialami tetapi tidak memisahkan kasih ilahi yang kita terima.
Bagi orang Kristen, kita belajar tentang kepastian keselamatan yang tidak diragukan. Tidak ada orang lain yang bisa merenggut keselamatan itu dari orang percaya, karena apapun yang mereka lakukan hanya sanggup menyentuh tubuh badani. Tidak ada yang dapat menyentuh Roh yang ada pada kita, bahkan sebaliknya roh mereka yang biasa menyiksa dan mengancam itu nampak kerdil dibandingkan sosok yang berlumuran darah sambil tetap memanjatkan doa pengampunan dosa bagi para perajamnya – itulah Stefanus yang dirajam (baca: Kisah Para Rasul, pasal 7).
Jadi, bagaimana sikap kita saat membaca dan merenungkan tentang kemurtadan? Mengapa surat ini begitu keras berkata-kata tentang para pendengarnya, yang diantaranya termasuk kita juga? Satu hal yang harus kita perhatikan, kenyataan bahwa peringatan ini diberikan menunjukkan bahwa kemungkinan untuk murtad itu tetap ada. Suka atau tidak suka, kita harus mengakui bahwa seorang manusia tetap bisa memilih untuk menolak segala sesuatu yang baik yang telah diterimanya, sebagai sebuah pilihan yang dibuat dengan sadar dan tanpa paksaan. Menjadi Kristen yang telah menikmati karunia Roh tidak menghilangkan kemungkinan orang ini membuang apa yang dimilikinya.
Kata-kata yang diberikan penulis surat Ibrani adalah perkataan yang keras, tetapi perlu. Kita perlu diperingatkan untuk menjaga pikiran kita sendiri, karena manusia bisa berubah dengan segala pertukaran pikiran sehingga apa yang semula nampak baik, tidak lagi diterima. Orang bisa berubah sedemikian jauhnya sehingga apa yang mendasar, yang fundamental, tidak lagi dilihat sebagai keharusan. Lihat saja, ada yang tidak lagi mau menikah, atau justru mau menikah dengan sesama jenis. Lelaki menikah dengan lelaki, perempuan menikah dengan perempuan. Ada yang masih mengaku sebagai Kristen, tetapi tidak mengakui Yesus adalah Tuhan. Ada yang aktif dan menunjukkan diri saleh, tetapi tidak ragu-ragu untuk berbuat licik dalam usaha.
Repotnya, saat kita berubah, yang kita lihat adalah lingkungan yang berubah. Seperti orang yang naik pesawat terbang, sepintas terasa dirinya diam sedangkan dunia yang melaju pesat di sekeliling. Kita berpikir bahwa diri kita masih seperti yang dulu, dunialah yang berubah. Padahal, dunia masih tetap sama – manusialah yang berubah. Itulah sebabnya John Calvin dahulu memperingatkan, agar gereja yang terbaharui tetap terus menerus dibaharui, agar kembali ke Alkitab dan dasar-dasar iman. Kalau tidak begitu, pada suatu hari gereja akan "menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman" dan tanpa terasa menjadi berbeda melalui proses perubahan yang tidak terasa.
Baiklah, gereja memang telah memperhatikan orang-orang kudus. Betul, gereja telah memberikan kebutuhan-kebutuhan baik fisik maupun fasilitas kepada mereka yang melayani jemaat. Itu adalah suatu pekerjaan yang baik, suatu perwujudan dari kasih kepada TUHAN yang dinyatakan kepada pendeta dan gembala serta penginjil – orang-orang yang mengabdi bagi Tuhan. Semua itu tidak akan dilupakan, karena Allah kita sungguh adil. Semua yang baik itu membuktikan bahwa ada hal yang baik yang dimiliki gereja, sesuatu yang mengandung keselamatan. Untuk setiap orang yang terlibat, mereka mempunyai bagian dari hal baik ini. Perbuatan dan pengorbanan orang-orang yang mengasihi Tuhan adalah bukti yang tidak terbantahkan.
Karena itu, betapa ironisnya kalau yang sudah memiliki keselamatan itu kemudian membuangnya! Jangan heran dengan kata-kata yang keras, mengingat gawatnya situasi yang muncul dari kemurtadan. Kita diingatkan untuk tetap dalam Tuhan, karena setelah memiliki keselamatan belum tentu kita sendiri selamanya menginginkan keselamatan itu – apalagi setelah kita dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran dunia yang memang tidak kenal Tuhan. Teguhkan tekad dan tetaplah berpegang pada Tuhan, seperti kita juga masih melayani orang-orang kudus sampai sekarang. Jangan berhenti, dan jangan menengok lagi ke belakang.
Terpujilah TUHAN!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar