Kamis, 31 Desember 2009

Terusir

Kej 3:23-24 Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil. Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyala beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.

Permulaan kehidupan manusia di dunia sekarang ini dimulai dengan pengusiran. Perubahan yang terjadi bukanlah hal yang menyenangkan – bayangkan, dari kemakmuran dan kebebasan dalam Allah, kini harus berjerih lelah sendiri di tanah yang ikut mengalami kutuk dosa. Maka, jangan heran kalau kehidupan selanjutnya juga dipenuhi oleh pengusiran-pengusiran, ketika manusia harus mengalami kenyataan pahit kehilangan kenyamanan dan kemakmurannya, menempuh kehidupan yang baru yang keras dan kejam. Itulah akibat dari dosa: yaitu manusia mati, terputus dari sumber kehidupan karena ingin menjadi seperti Allah.

Ketika manusia memakan buah yang menarik hati itu, dorongannya adalah mendapatkan pengertian seperti Allah. Sampai sekarang pun manusia masih membanggakan pengertiannya sendiri, bahkan dalam kesombongan berani membandingkan pendapat sendiri dengan Firman Tuhan. Menjadi bijaksana dan berhikmat adalah keutamaan manusia, yang semakin merasa diri sanggup menguasai apa saja, membuat apa saja di atas bumi ini – tidak butuh Tuhan lagi – dan di saat yang sama membuat berbagai kerusakan. Tuhan perlu menghalau manusia dan memasang penjaga agar orang tidak datang ke pohon kehidupan, karena nampaknya kematian adalah 'obat' satu-satunya untuk mencegah seseorang merusakkan terlalu banyak.

Jika orang sudah terusir, seperti apa jalan yang perlu ditempuhnya? Beberapa berpikir, kalau sudah terusir maka ia harus hidup mandiri. Mereka mengatakan, Tuhan yang menciptakan dunia ini sudah tidak mengurusinya lagi, sehingga manusia yang berkuasa melalui rasio dan kekuatannya. Tetapi pikiran ini membuat orang semakin jauh terpisah dari sumber kehidupan – berakhir dengan kematian yang paling dingin. Tidak ada kehidupan di luar TUHAN yang menghidupkan. Maka, jalan yang harus ditempuh adalah perjalanan kembali. Perjalanan pulang.

Apakah kita sudah ada dalam perjalanan pulang? Di saat kita membuat keputusan-keputusan yang merubah kehidupan, apakah keputusan itu membawa kita lebih dekat kepada Tuhan? Atau sebaliknya, justru kita semakin tenggelam dalam sikap "ini bagian saya sendiri, tanggungan saya sendiri" lengkap dengan kekhawatiran dan keputusasaan yang membayanginya? Dahulu, nenek moyang kita telah terusir dari Tuhan. Itu adalah pilihan mereka, keputusan mereka, yang akibatnya ditanggung oleh setiap orang yang terlahir di muka bumi ini. Namun bagi setiap orang yang percaya, ia dapat memilih untuk kembali, untuk pulang.

Maukah? Terpujilah TUHAN!

Tidak ada komentar: