Rabu, 19 Mei 2010

Onan

Kej 38:9-10 Tetapi Onan tahu, bahwa bukan ia yang empunya keturunannya nanti, sebab itu setiap kali ia menghampiri isteri kakaknya itu, ia membiarkan maninya terbuang, supaya ia jangan memberi keturunan kepada kakaknya. Tetapi yang dilakukannya itu adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia juga.

Di hari-hari jaman modern seperti sekarang, banyak orang menghubungkan cinta dengan hubungan badani antara dua orang – seharusnya laki-laki dan perempuan, walau penyimpangan masih ada juga di mana-mana. Cinta menjadi sama dengan keintiman, sampai disebutkan dengan istilah "Making Love" disingkat ML alias bercinta. Tetapi, sungguhkah ada cinta di sana? Benarkah ada sesuatu yang harus 'ada dalam hati' ketika dua orang sama-sama melakukan persetubuhan? Nampaknya, kita perlu belajar dari apa yang terjadi, suatu tragedi yang mengenaskan.

Ini adalah tragedi pada keturunan Yehuda. Ia mempunyai anak yang jahat, bernama Er yang dinikahkan dengan Tamar. Karena Er jahat, maka ia mati. Menurut pemikiran orang-orang saat itu, Onan adik Er harus meneruskan keturunan kakaknya dengan menghamili iparnya, Tamar. Maka demikianlah terjadi: Onan menghampiri isteri kakaknya itu. Mereka berhubungan badan, tetapi Onan tidak membiarkan Tamar hamil dengan cara membiarkan maninya terbuang. Lihatlah: mereka berhubungan badan, tetapi tidak ada cinta di sana. Tidak ada cinta kepada kakaknya yang telah meninggal. Juga tidak ada cinta kepada iparnya yang menantikan keturunan. Onan pun harus mati karena perbuatannya yang jahat di mata TUHAN.

Cinta kasih yang sejati menginginkan pertumbuhan, hingga membawa keturunan. Demikianlah manusia diciptakan oleh TUHAN untuk memenuhi bumi, karena cinta yang timbul antara laki-laki dan perempuan. Namun, cinta juga mendefinisikan hubungan-hubungan dalam keluarga, antar keluarga, hingga ke dalam masyarakat. Renungkanlah: bukankah masyarakat berubah karena hubungan cinta – atau sebaliknya, karena ketiadaan cinta? Kejahatan Onan bukan sekedar karena maninya terbuang, melainkan karena keangkuhan dan keegoisan yang ada dalam dirinya.

Perilaku itu menjadi corak beberapa masyarakat modern, dan kita lihat betapa orang-orang menginginkan hubungan badan tanpa menjadi anak. Mereka menginginkannya tak lebih dari sekedar rekreasi, hanya untuk bersenang-senang – sehingga dengan sengaja membiarkan mani terbuang. Lihatlah apa yang terjadi: populasi bangsa menyusut, dan akhirnya menjadi masalah sosial karena banyaknya kaum migran yang memenuhi Eropa dan berbagai tempat di Barat. Itu adalah suatu kejahatan; mereka yang berbuat juga harus menanggung akibatnya, sebagai suatu bangsa, sebagai suatu negara.

Jangan remehkan cinta kasih, dan jangan berbuat dosa. Terpujilah TUHAN!

Kerja Demi Cinta

Kej 29:20 Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel.

Seperti apa cinta yang sebenarnya? Para pria muda di jaman sekarang mendandani dirinya dengan berbagai-bagai penampilan; tidak sedikit yang membentuk tubuh yang atletis, pakaian yang perlente, dan rambut yang mengkilap. Para gadis berbisik-bisik tentang sosok yang gagah dan ganteng, dalam khayalan yang manis serta hati berbunga-bunga mendengarkan si dia berbicara. Mereka bertemu, berkasih-kasihan, dan tidak dapat lagi dipisahkan, karena sudah jatuh cinta dan dimabuk asmara.

Tetapi, siapa yang benar-benar mencintai harus membayar harganya, dan di sanalah ada ujian yang sesungguhnya. Bayangkan apa yang terjadi bila kita menjadi Yakub: ia bekerja tujuh tahun lamanya untuk mendapatkan Rahel, kekasihnya. Kalau dipikir, tugas yang berpanas lelah menggembalakan kambing domba, menjagainya, merawat binatang sepanjang hari – 24 jam – selama 7 TAHUN bukanlah hal yang ringan. Tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cinta. Apakah kita benar-benar bisa melakukan apa yang Yakub perbuat? Apakah kita benar-benar mencintai, sehingga bersedia membayar dengan seluruh kehidupan kita selama 7 tahun?

Ada orang yang berkata mencinta, tetapi ketika ia harus sedikit berjerih lelah, langsung mundur teratur. Ada yang berkasih-kasihan tetapi hanya dalam konteks bersenang-senang, sehingga ketika disuruh membangun diri agar menjadi lebih bertanggung jawab langsung berhenti berpacaran. Ia tidak bersedia membayar harganya hari ini untuk calon istri yang (katanya) dicintai. Padahal, ketika seorang laki-laki menyatakan diri menjadi suami, ia juga harus meletakkan dirinya sebagai tumpuan keluarga – sesuatu yang harus ditanggungnya sampai kematian datang menjemput kelak.

Tidak ada hal yang berharga, yang diperoleh dengan begitu saja tanpa membayar harga. Jika sungguh-sungguh mencintai, maka segala hal yang lainnya tidaklah terlalu mahal untuk dikerjakan. Tidak ada gengsi – sekalipun bagi Yakub yang semula menjadi anak Ishak yang kaya raya dan biasa hidup dilayani. Jika kita menjadi Rahel, betapa hati kita diserahkan dengan segenap jiwa raga bagi orang yang mencintai kita begitu rupa! Rahel juga harus menunggu, bahkan ia menanti dengan tekun karena Yakub harus bekerja bukan cuma 7 tahun, tetapi 14 tahun untuk mendapatkannya. Penantian yang mengukuhkan cinta mereka – atas kerja demi cinta yang diberikan Yakub baginya.

Ketika cinta itu sudah dibayar mahal, maka yang didapatkannya adalah kemurnian yang indah. Terpujilah TUHAN!