Kej 38:9-10 Tetapi Onan tahu, bahwa bukan ia yang empunya keturunannya nanti, sebab itu setiap kali ia menghampiri isteri kakaknya itu, ia membiarkan maninya terbuang, supaya ia jangan memberi keturunan kepada kakaknya. Tetapi yang dilakukannya itu adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia juga.
Di hari-hari jaman modern seperti sekarang, banyak orang menghubungkan cinta dengan hubungan badani antara dua orang – seharusnya laki-laki dan perempuan, walau penyimpangan masih ada juga di mana-mana. Cinta menjadi sama dengan keintiman, sampai disebutkan dengan istilah "Making Love" disingkat ML alias bercinta. Tetapi, sungguhkah ada cinta di sana? Benarkah ada sesuatu yang harus 'ada dalam hati' ketika dua orang sama-sama melakukan persetubuhan? Nampaknya, kita perlu belajar dari apa yang terjadi, suatu tragedi yang mengenaskan.
Ini adalah tragedi pada keturunan Yehuda. Ia mempunyai anak yang jahat, bernama Er yang dinikahkan dengan Tamar. Karena Er jahat, maka ia mati. Menurut pemikiran orang-orang saat itu, Onan adik Er harus meneruskan keturunan kakaknya dengan menghamili iparnya, Tamar. Maka demikianlah terjadi: Onan menghampiri isteri kakaknya itu. Mereka berhubungan badan, tetapi Onan tidak membiarkan Tamar hamil dengan cara membiarkan maninya terbuang. Lihatlah: mereka berhubungan badan, tetapi tidak ada cinta di sana. Tidak ada cinta kepada kakaknya yang telah meninggal. Juga tidak ada cinta kepada iparnya yang menantikan keturunan. Onan pun harus mati karena perbuatannya yang jahat di mata TUHAN.
Cinta kasih yang sejati menginginkan pertumbuhan, hingga membawa keturunan. Demikianlah manusia diciptakan oleh TUHAN untuk memenuhi bumi, karena cinta yang timbul antara laki-laki dan perempuan. Namun, cinta juga mendefinisikan hubungan-hubungan dalam keluarga, antar keluarga, hingga ke dalam masyarakat. Renungkanlah: bukankah masyarakat berubah karena hubungan cinta – atau sebaliknya, karena ketiadaan cinta? Kejahatan Onan bukan sekedar karena maninya terbuang, melainkan karena keangkuhan dan keegoisan yang ada dalam dirinya.
Perilaku itu menjadi corak beberapa masyarakat modern, dan kita lihat betapa orang-orang menginginkan hubungan badan tanpa menjadi anak. Mereka menginginkannya tak lebih dari sekedar rekreasi, hanya untuk bersenang-senang – sehingga dengan sengaja membiarkan mani terbuang. Lihatlah apa yang terjadi: populasi bangsa menyusut, dan akhirnya menjadi masalah sosial karena banyaknya kaum migran yang memenuhi Eropa dan berbagai tempat di Barat. Itu adalah suatu kejahatan; mereka yang berbuat juga harus menanggung akibatnya, sebagai suatu bangsa, sebagai suatu negara.
Jangan remehkan cinta kasih, dan jangan berbuat dosa. Terpujilah TUHAN!