Rabu, 19 Mei 2010

Kerja Demi Cinta

Kej 29:20 Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel.

Seperti apa cinta yang sebenarnya? Para pria muda di jaman sekarang mendandani dirinya dengan berbagai-bagai penampilan; tidak sedikit yang membentuk tubuh yang atletis, pakaian yang perlente, dan rambut yang mengkilap. Para gadis berbisik-bisik tentang sosok yang gagah dan ganteng, dalam khayalan yang manis serta hati berbunga-bunga mendengarkan si dia berbicara. Mereka bertemu, berkasih-kasihan, dan tidak dapat lagi dipisahkan, karena sudah jatuh cinta dan dimabuk asmara.

Tetapi, siapa yang benar-benar mencintai harus membayar harganya, dan di sanalah ada ujian yang sesungguhnya. Bayangkan apa yang terjadi bila kita menjadi Yakub: ia bekerja tujuh tahun lamanya untuk mendapatkan Rahel, kekasihnya. Kalau dipikir, tugas yang berpanas lelah menggembalakan kambing domba, menjagainya, merawat binatang sepanjang hari – 24 jam – selama 7 TAHUN bukanlah hal yang ringan. Tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cinta. Apakah kita benar-benar bisa melakukan apa yang Yakub perbuat? Apakah kita benar-benar mencintai, sehingga bersedia membayar dengan seluruh kehidupan kita selama 7 tahun?

Ada orang yang berkata mencinta, tetapi ketika ia harus sedikit berjerih lelah, langsung mundur teratur. Ada yang berkasih-kasihan tetapi hanya dalam konteks bersenang-senang, sehingga ketika disuruh membangun diri agar menjadi lebih bertanggung jawab langsung berhenti berpacaran. Ia tidak bersedia membayar harganya hari ini untuk calon istri yang (katanya) dicintai. Padahal, ketika seorang laki-laki menyatakan diri menjadi suami, ia juga harus meletakkan dirinya sebagai tumpuan keluarga – sesuatu yang harus ditanggungnya sampai kematian datang menjemput kelak.

Tidak ada hal yang berharga, yang diperoleh dengan begitu saja tanpa membayar harga. Jika sungguh-sungguh mencintai, maka segala hal yang lainnya tidaklah terlalu mahal untuk dikerjakan. Tidak ada gengsi – sekalipun bagi Yakub yang semula menjadi anak Ishak yang kaya raya dan biasa hidup dilayani. Jika kita menjadi Rahel, betapa hati kita diserahkan dengan segenap jiwa raga bagi orang yang mencintai kita begitu rupa! Rahel juga harus menunggu, bahkan ia menanti dengan tekun karena Yakub harus bekerja bukan cuma 7 tahun, tetapi 14 tahun untuk mendapatkannya. Penantian yang mengukuhkan cinta mereka – atas kerja demi cinta yang diberikan Yakub baginya.

Ketika cinta itu sudah dibayar mahal, maka yang didapatkannya adalah kemurnian yang indah. Terpujilah TUHAN!

Tidak ada komentar: