Jumat, 22 April 2011

Terang Datang Kedalam Kematian

Mzm 22:1-4 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Rusa di kala fajar. Mazmur Daud.

 

Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?

Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.

Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang.

Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.

 

Mat 27:45-46 Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga. Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring:

"Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

 

Peristiwa penyaliban adalah peristiwa pemisahan. Manusia, sekalipun ia adalah seorang yang sungguh dekat dengan Allah seperti Daud, berseru dengan nyaring: "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?" Kata-kata yang artinya sama disuarakan pula oleh Yesus dari kayu salib, "Eli, Eli, lama sabakhtani?"

 

Perbedaan dari kedua seruan ini, apa yang dinyatakan oleh Daud merupakan kenyataan kuasa dosa yang melingkupi seluruh dunia. Inilah kegelapan manusia, yang tidak memiliki terang pada dirinya sendiri. Manusia berdosa tidak pernah melihat Allah, karena barangsiapa yang melihat-Nya pastilah mati karena terang-Nya. Namun manusia juga tidak dapat mengikuti Allah, kecuali Allah menuntun tangannya. Orang buta tidak bisa mengikuti dengan penglihatannya, bukan? Ketika pegangan tangannya terlepas, orang buta kehilangan arah dan tujuan. Daud merintih-rintih dalam kegelapan situasi dan kondisi; tangannya menggapai-gapai dan tidak ada yang menolong!

 

Tetapi bukan demikian halnya dengan Tuhan Yesus. Dia adalah manusia, sekaligus Dia adalah Allah yang memiliki terang pada dirinya. Tuhan Yesus dari semula berada bersama-sama dengan Allah, melihat dan mendengar Bapa di Sorga -- maka seluruh perkataan Bapa disampaikan Tuhan Yesus kepada kita. Dialah yang mencelikkan mata orang buta, Dialah yang membangkitkan orang lumpuh, dan Dialah yang memberikan kehidupan kembali kepada orang yang sudah mati. Tuhan Yesus tidak pernah kehilangan arah atau tidak tahu tujuan. Namun ketika Ia disalib, Tuhan Yesus merintih karena harus terpisah dengan Allah, agar dengan demikian kita, semua manusia yang percaya, dapat bersatu kembali dengan Allah di Sorga!

 

Bayangkan ada jurang yang besar memisahkan manusia dengan Allah. Di sisi Allah adalah terang, sedang di sisi manusia adalah gelap. Tidak ada cara bagi manusia yang berada dalam gelap untuk melalui jurang itu agar bisa mencapai terang; semakin keras manusia berusaha mencapai terang, semakin pasti manusia akan jatuh dalam jurang kebinasaan. Hanya Allah yang dapat menjangkau manusia, untuk itulah Tuhan Yesus datang ke dalam dunia. Namun, untuk mencapai sisi gelap, Yesus harus berpisah dengan terang. Allah meninggalkan Yesus di atas salib -- itulah kematian sejati, yaitu kematian pertama yang dialami Adam dan Hawa. Pemisahan itu sangat, sangat menyakitkan dan menakutkan -- bahkan bagi Tuhan Yesus -- sehingga di malam sebelumnya, di Taman Getsemane, Yesus mengharapkan dukungan dari manusia lain, dari para murid-Nya. Mereka tertidur, tidak sanggup berjaga-jaga -- karena mereka buta, tidak mampu melihat apa yang sedang terjadi.

 

Kematian dan kegelapan datang menyelimuti, bukan saja dalam ranah rohani, tapi juga secara nyata ketika mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga. Yesus terpisah dari Allah, dari terangnya Sorga, terhisap masuk dalam kematian manusia. Yesus mengalami kematian Adam yang pertama, ketika Allah terpisah dengannya. Yesus mengalami kematian Adam yang kedua, ketika Ia mati di atas kayu salib dan menyerahkan nyawa-Nya. Kegelapan menyelimuti, membungkus Yesus, seperti berusaha menelan-Nya dan membuat-Nya hilang dalam waktu. Kematian berarti tidak ada lagi hidup, tidak ada lagi pertumbuhan, tidak ada lagi cinta kasih dan segala hal yang mengikutinya. Berakhir. Terhilang.

 

Manusia sejak semula takut pada kematian. Para raja di Mesir kuno, para kaisar yang berkuasa di Tionggoan, di tanah Tiongkok, mencari-cari jalan menghindari kematian. Bangsa lain memikirkan tentang reinkarnasi, bahwa kematian adalah awal dari kehidupan berikutnya. Bangsa lain lagi berusaha mencari tahu ada apa dibalik kematian, tentang dunia para dewa, tentang dunia orang mati dengan aliran sungai yang hanya bisa dilalui perahu berisi arwah orang mati… Beberapa menjadi percaya dan meninggikan kepercayaannya itu melebihi apapun yang lain, menjadi fanatik.

 

Sebenarnya tidak apa-apa menjadi fanatik, jika apa yang dipercayainya itu memang BENAR. Untuk sesuatu yang benar, memang harus diutamakan melebihi hal lain, bukan? Tetapi, jika apa yang dipercayai itu tidak benar, sikap fanatik menjadi kengerian bagi manusia. Ada yang percaya bahwa meledakkan diri adalah suatu perbuatan yang mendatangkan Sorga setelah ia mati; maka di mana-mana orang mengikatkan bom ditubuhnya sendiri agar bisa membawa mati sejumlah orang "kafir" besertanya. Ada juga yang percaya jika bisa membersihkan dunia dari "orang sesat dan kafir" maka pahalanya besar; maka mereka mulai membakari gedung ibadah agama lain, menganiaya pengikut agama lain -- dan tentunya terjadi perlawanan, sehingga menjadi perang agama yang berdarah-darah dan mengerikan bagi yang tidak percaya. Bagi orang yang percaya itu sendiri, semua yang dilakukannya adalah benar, semua kekejian yang dilakukannya adalah tindakan yang membawa pahala. Jika apa yang dipercaya itu tidak benar, dengan penuh kepastian mereka berderap maju menuju jurang kebinasaan, yang malangnya tidak mereka pahami.

 

Dalam percayanya, mereka berkhayal akan masuk Sorga dan dilayani oleh sekian puluh bidadari di sana.  Tetapi mereka hanya mendapatkan kegelapan belaka; segelap mereka hidup, demikianlah gelapnya mereka mati.

 

Tuhan Yesus datang dalam kegelapan, tetapi kegelapan itu tidak dapat membungkus terang di dalam diri-Nya. Perbedaan utama dan nyata adalah realita bahwa kematian tidak dapat menguasai Tuhan Yesus, karena Dia adalah Allah, Dia adalah Sumber Terang. Sebaliknya dari dilingkupi, kini Terang yang dibawa oleh Tuhan Yesus diteruskan kepada setiap orang yang sungguh-sungguh percaya pada-Nya. Yang dibawa-Nya adalah kehidupan kekal, ketika jurang itu dijembatani oleh Tuhan Yesus sendiri -- "Akulah jalan, dan kebenaran, dan hidup…" dan "setiap orang yang percaya pada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."

 

Kepercayaan pada-Nya tidak mengharuskan suatu perbuatan untuk mencapainya. Tidak ada "perbuatan baik" yang diwajibkan -- karena dalam pandangan manusia, apa yang disebut "perbuatan baik" itu mungkin termasuk membunuh orang kafir dan menghancurkan tempat ibadahnya, serta menganiaya mereka yang tidak mau taat. Manusia itu buta, apa yang dianggap "berbuat baik" mungkin sepenuhnya adalah kesalahan. Percaya kepada Tuhan Yesus berarti sepenuhnya membuka diri agar Yesus masuk ke dalam dan mengambil kemudi kehidupan. Itu berarti bersedia menyangkal diri, memikul salib -- yaitu kematian terhadap dunia -- dan mengikuti Yesus setiap hari. Itu berarti menjadi fanatik dalam mempercayai Tuhan Yesus, mengutamakan Dia dan meninggikan, menganggap mulia, segala nilai yang diberikan-Nya.

 

Pada hari kita merayakan Perjamuan Kudus, mengingat bagaimana Tuhan Yesus memecahkan tubuh-Nya dan mencurahkan darah-Nya, ingatlah bahwa kematian itu telah dikalahkan oleh-Nya. Apa yang terjadi pada hari Jumat saat itu adalah titik balik, saat di mana Terang turun tepat di tengah-tengah jantung kegelapan dan meruntuhkan kuasa maut dari akarnya.

 

Selamat Hari Paskah -- apapun yang terjadi dalam hidup, ingatlah bahwa Tuhan Yesus telah bangkit dan membawa kita sekalian bersama-Nya!

 

Salam kasih,

Donny

Senin, 11 April 2011

Renungan Sehari - 11 April 2011

Ef. 4:20-24 Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

Kamu bukan demikian. Kamu tidak sama. Eksklusif, berbeda, tidak serupa dalam segala sesuatu dibandingkan dengan kehidupan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Mereka itu buta, pikiran mereka sia-sia. Kamu melihat, seharusnya memiliki pikiran yang berguna. Itulah pernyataan yang jelas dan tegas mengenai perbedaan antara orang yang tidak mengenal Allah dengan orang yang belajar mengenal Kristus, karena Yesus Kristus adalah Allah. Disebutkan "belajar" karena pada dasarnya pengenalan akan Kristus adalah proses, semakin lama seseorang menjalani proses itu, semakin besar perbedaannya dengan orang-orang dunia yang dengan serakah mengerjakan segala macam kecemaran.

Perbedaan dan eksklusivitas menjadi momok di antara masyarakat yang "pluralis" dan menginginkan kesetaraan. Tetapi bagian ini dengan jelas menunjukkan bahwa orang yang tidak mengenal Allah tidak setara dengan orang yang mengenal Kristus, sekalipun masih dalam proses belajar. Perbedaannya bukan terletak pada keadaan fisik atau finansial, atau "nasib" (demikianlah dunia mengatakannya) yang dialami, melainkan perbedaan pada hakekat, pada esensi kemanusiaannya: yang satu adalah anak dunia, yang lain adalah anak Allah. Manusia yang berbeda.

Perbedaan ini menimbulkan akibat, namun dalam pengertian yang sama sekali berbeda antara satu dengan yang lainnya. Bagi anak dunia, perbedaan berkaitan dengan kekuatan dan kekuasaan, tentang siapa yang menjadi penguasa dan siapa yang menjadi hamba. Ketika yang satu disebut lebih bermartabat dibandingkan yang lain, maka ia seolah-olah mempunyai kelebihan untuk memerintah sedangkan yang lain harus mentaati, kata-katanya harus didengar, dan perbuatannya tidak pernah salah. Dalam dunia, perbedaan pandangan terhadap manusia menimbulkan keyakinan bahwa yang satu boleh memperbudak yang lain -- demikianlah selama berabad-abad perbudakan menjadi bagian dari sejarah manusia.

Tidak demikian halnya dengan anak Allah. Perbedaan tidak dikaitkan dengan kekuatan, karena semua kemampuan berasal dari Tuhan. Perbedaan tidak berkaitan dengan kuasa, karena hanya kepada Tuhan saja kita harus menyembah. Perbedaan kemanusiaan adalah perbedaan dalam merespon dunia disekeliling, berbeda dalam menyikapi hawa nafsu yang timbul dari dalam diri, berbeda dalam nilai-nilai yang diberikan ke dalam dunia. Kalau orang dunia memandang segala sesuatu bagi kelangsungan dirinya sendiri, anak Allah memandang segala sesuatu untuk dipelihara dan dibaharui bagi kepentingan Allah.

Hanya, di dalam menjadi anak Allah orang masih berada dalam kemanusiaan -- tetap memiliki daging yang sama dan masalah yang sama dengan semua orang di dunia. Orang Kristen masih mempunyai hawa nafsu dan emosi, masih timbul segala macam keinginan dan hasrat. Karena itu dikatakan bahwa kita harus menanggalkan manusia lama, sebagai suatu tindakan yang kita lakukan sendiri, pilihan kita sendiri. Tuhan Yesus sendiri telah menjadi sama dengan manusia, namun Ia tidak meresponi dengan cara yang sama; itulah yang seharusnya kita lakukan juga.

Kehendak Allah adalah agar kita menjadi seperti Kristus, Tuhan Yesus yang mengenakan kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Tidak ada kebenaran selain Yesus Kristus, maka di bawah kolong langit ini hanya Nama itu saja yang diberikan kepada manusia untuk keselamatan. Itu adalah penentu yang mutlak, yang membedakan, tidak dapat lagi dianggap sama saja atau biasa saja. Kekudusan adalah suatu pengakuan bahwa diri kita dikhususkan sebagai anak Allah, karena kata "kudus" sesungguhnya berarti "dikhususkan".

Apa yang kita lakukan selama ini? Bagaimana kita mengambil keputusan, bagaimana kita memberikan respon terhadap segala sesuatu di sekitar kita? Apa yang kita katakan dan lakukan terhadap orang-orang yang berbeda? Jika kita membedakan orang tetapi melakukan hal-hal yang sama, bersikap sama seperti orang dunia lainnya -- maka kita tidaklah berbeda dari dunia. Perbedaan yang sejati adalah memahami bahwa diri kita berbeda dan oleh karena itu bersikap berbeda pula terhadap orang dunia lainnya, yaitu membagikan kasih dan pengampunan dan kebaikan, yang tidak seperti diberikan oleh dunia ini.

Jika kita benar-benar berbeda, maka kita benar-benar menjadi anak-anak Allah. Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny