Senin, 11 April 2011

Renungan Sehari - 11 April 2011

Ef. 4:20-24 Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

Kamu bukan demikian. Kamu tidak sama. Eksklusif, berbeda, tidak serupa dalam segala sesuatu dibandingkan dengan kehidupan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Mereka itu buta, pikiran mereka sia-sia. Kamu melihat, seharusnya memiliki pikiran yang berguna. Itulah pernyataan yang jelas dan tegas mengenai perbedaan antara orang yang tidak mengenal Allah dengan orang yang belajar mengenal Kristus, karena Yesus Kristus adalah Allah. Disebutkan "belajar" karena pada dasarnya pengenalan akan Kristus adalah proses, semakin lama seseorang menjalani proses itu, semakin besar perbedaannya dengan orang-orang dunia yang dengan serakah mengerjakan segala macam kecemaran.

Perbedaan dan eksklusivitas menjadi momok di antara masyarakat yang "pluralis" dan menginginkan kesetaraan. Tetapi bagian ini dengan jelas menunjukkan bahwa orang yang tidak mengenal Allah tidak setara dengan orang yang mengenal Kristus, sekalipun masih dalam proses belajar. Perbedaannya bukan terletak pada keadaan fisik atau finansial, atau "nasib" (demikianlah dunia mengatakannya) yang dialami, melainkan perbedaan pada hakekat, pada esensi kemanusiaannya: yang satu adalah anak dunia, yang lain adalah anak Allah. Manusia yang berbeda.

Perbedaan ini menimbulkan akibat, namun dalam pengertian yang sama sekali berbeda antara satu dengan yang lainnya. Bagi anak dunia, perbedaan berkaitan dengan kekuatan dan kekuasaan, tentang siapa yang menjadi penguasa dan siapa yang menjadi hamba. Ketika yang satu disebut lebih bermartabat dibandingkan yang lain, maka ia seolah-olah mempunyai kelebihan untuk memerintah sedangkan yang lain harus mentaati, kata-katanya harus didengar, dan perbuatannya tidak pernah salah. Dalam dunia, perbedaan pandangan terhadap manusia menimbulkan keyakinan bahwa yang satu boleh memperbudak yang lain -- demikianlah selama berabad-abad perbudakan menjadi bagian dari sejarah manusia.

Tidak demikian halnya dengan anak Allah. Perbedaan tidak dikaitkan dengan kekuatan, karena semua kemampuan berasal dari Tuhan. Perbedaan tidak berkaitan dengan kuasa, karena hanya kepada Tuhan saja kita harus menyembah. Perbedaan kemanusiaan adalah perbedaan dalam merespon dunia disekeliling, berbeda dalam menyikapi hawa nafsu yang timbul dari dalam diri, berbeda dalam nilai-nilai yang diberikan ke dalam dunia. Kalau orang dunia memandang segala sesuatu bagi kelangsungan dirinya sendiri, anak Allah memandang segala sesuatu untuk dipelihara dan dibaharui bagi kepentingan Allah.

Hanya, di dalam menjadi anak Allah orang masih berada dalam kemanusiaan -- tetap memiliki daging yang sama dan masalah yang sama dengan semua orang di dunia. Orang Kristen masih mempunyai hawa nafsu dan emosi, masih timbul segala macam keinginan dan hasrat. Karena itu dikatakan bahwa kita harus menanggalkan manusia lama, sebagai suatu tindakan yang kita lakukan sendiri, pilihan kita sendiri. Tuhan Yesus sendiri telah menjadi sama dengan manusia, namun Ia tidak meresponi dengan cara yang sama; itulah yang seharusnya kita lakukan juga.

Kehendak Allah adalah agar kita menjadi seperti Kristus, Tuhan Yesus yang mengenakan kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Tidak ada kebenaran selain Yesus Kristus, maka di bawah kolong langit ini hanya Nama itu saja yang diberikan kepada manusia untuk keselamatan. Itu adalah penentu yang mutlak, yang membedakan, tidak dapat lagi dianggap sama saja atau biasa saja. Kekudusan adalah suatu pengakuan bahwa diri kita dikhususkan sebagai anak Allah, karena kata "kudus" sesungguhnya berarti "dikhususkan".

Apa yang kita lakukan selama ini? Bagaimana kita mengambil keputusan, bagaimana kita memberikan respon terhadap segala sesuatu di sekitar kita? Apa yang kita katakan dan lakukan terhadap orang-orang yang berbeda? Jika kita membedakan orang tetapi melakukan hal-hal yang sama, bersikap sama seperti orang dunia lainnya -- maka kita tidaklah berbeda dari dunia. Perbedaan yang sejati adalah memahami bahwa diri kita berbeda dan oleh karena itu bersikap berbeda pula terhadap orang dunia lainnya, yaitu membagikan kasih dan pengampunan dan kebaikan, yang tidak seperti diberikan oleh dunia ini.

Jika kita benar-benar berbeda, maka kita benar-benar menjadi anak-anak Allah. Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Tidak ada komentar: