Jumat, 25 Maret 2011

Renungan Sehari - 24 Maret 2011

Ef 4:17-19 Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. 

Ada sebuah kisah tentang kota bernama Bandania, di mana setiap orang yang lahir langsung mengenakan bandana yang menutupi matanya. Mereka tidak pernah melihat terang sekalipun memiliki mata, sehingga secara rutin tersandung dan terjatuh. Mereka serupa dengan orang buta, sekalipun sebenarnya tidak buta dan punya mata, karena memutuskan untuk tidak percaya bahwa dibalik bandana itu ada organ tubuh yang disebut 'mata'. Maka, alkisah datanglah orang yang bisa melihat dan yang telah melepaskan bandananya, mereka menjumpai orang-orang Bandania dan berusaha meyakinkan mereka untuk melihat terang, hanya untuk ditertawakan.

"Itu imajinasi liar! Kalian orang dungu yang percaya bahwa dibalik bandana ini ada yang disebut MATA! HAHAHAHAHAHA!"

Yang belum dikisahkan di sini, bahwa ternyata di antara mereka yang telah melihat terang itu ada yang memutuskan untuk kembali mengenakan bandananya karena tidak tahan dengan perkataan orang-orang, karena tidak lagi bisa sembarangan seperti sebelumnya. Orang Bandania mengenakan baju mereka dengan kacau balau, memakai di mana mereka merasa suka dan mau -- semua yang terlihat konyol dan bodoh, jika dilihat. Kalau melihat, harus berpakaian benar, tidak bisa lagi terbalik-balik, tidak bisa lagi tidak cocok warnanya atau gayanya, bahkan sopan santunnya. Tidak dibutuhkan penutup tubuh bagi kota di mana semua orangnya buta, bukan?
 
Dalam banyak hal, orang yang melihat pun ingin berada dalam kegelapan, seperti buta. Orang yang sudah mengenal Terang, sudah pernah mencicipi kehidupan benar di dalam Tuhan ternyata merindukan kehidupan mereka yang tidak mengenal Allah, karena kesenangan dan kebebasan untuk hidup terbalik-balik sesuka hati. Hidup di mana segala sesuatu boleh dimanipulasi, tidak peduli, dan sepenuhnya hanya memikirkan kesenangan sendiri. Hidup dimana apapun bisa dilakukan, tidak ada aturan, asal "tidak mencederai dan memaksa orang lain."
 
Bagi orang-orang Kristen, cobaan ini sudah ada sejak dahulu kala, termasuk di antara Jemaat Efesus. Itulah sebabnya Rasul Paulus menegaskan, jangan lagi hidup seperti orang yang tidak mengenal Tuhan. Pertama-tama bukanlah soal perbuatan, melainkan pikiran -- itulah pikiran yang sia-sia. Manusia berpikir bagaimana bisa menyamai Tuhan dalam segala sesuatu. Manusia berpikir bahwa dirinya harus bisa apapun yang dikehendakinya, menghabiskan waktu untuk mencari cara menjadi berkuasa seperti Tuhan. Itulah salah satu pikiran yang sia-sia, dan tidak jarang berakhir dengan menganiaya dan memaksa orang lain.
 
Dengan semua pikiran yang sia-sia itu, pengertian mereka menjadi gelap karena jauh dari hidup persekutuan dengan Allah. Konsep "hidup dengan Allah" sendiri merupakan hal yang asing, sekalipun ritual agama mereka menyuruh bersembahyang sekian kali sehari. Mereka hidup rukun dengan sesama manusia, taat kepada pemimpin, memuja nabi, tetapi jauh dari Allah. Bahkan kata "Allah" menjadi istilah yang diperdebatkan, dikhususkan, dan diklaim secara eksklusif -- hanya kata saja, tanpa niatan untuk bersekutu dengan Allah, karena konsep "bersekutu dengan Allah" merupakan hal yang sama sekali asing.
 
Orang-orang yang menolak berpikir tentang Allah, pada hakekatnya menjadi orang yang bodoh, artinya tidak berpikir. Mereka memang tidak mau berpikir karena tidak mau menerima kenyataan bahwa manusia seharusnya tunduk kepada Penciptanya. Beragama menjadi serangkaian ritual dan cara untuk mengikat kelompok masyarakat, di mana yang sedikit bisa menguasai yang banyak demi nama Allah. Sekalipun demi Allah, tetapi tidak ada niat untuk melibatkan Dia dalam hidup manusia. Lebih baik Allah ada di luar, sudah menciptakan dunia dan kini meninggalkannya -- dengan begitu manusia bisa bersenang-senang semaunya. Itulah yang disebut dengan kedegilan hati, dimulai dari pikiran.
 
Selain pikiran, hidup yang sia-sia juga mempunyai perasaan yang menyimpang. Biasanya perasaan menjadi "tanda bahaya" yang menolong orang untuk takut, segan, dan menghindari masalah. Tetapi perasaan juga membuat orang menikmati dunia di sekitarnya, kadang-kadang lebih daripada apa yang seharusnya. Maka, lelaki menikmati hubungan dengan perempuan sebebasnya, dan menyebut tindakan mereka "making love" yang sama sekali tidak menghasilkan cinta selain memuaskan nafsu. Demi perasaan juga lelaki menaruh perasaan pada lelaki lain, demikian juga perempuan menaruh perasaan pada perempuan lain, yang kemudian dianggap hal yang normal dan lumrah di jaman sekarang.
 
Ketika perasaan menjadi tumpul, tidak lagi mampu memberi sinyal tanda bahaya, maka yang tersisa adalah pengejaran hawa nafsu. Waktu orang belajar untuk mengabaikan rasa takutnya, mereka ditantang untuk mencapai apapun yang mereka ingin rasakan, hingga dikuasai sepenuhnya oleh nafsu. Apa yang datang bukan sesuatu yang bisa diterima serba cukup atau serba terbatas, melainkan kehendak untuk merasakan lebih banyak lagi, lebih besar lagi, sampai menjadi keserakahan yang tidak ada akhirnya. Kalau pikiran manusia mengenal kata "sudah" dan "cukup", maka perasaan tidak mau dihentikan, tidak sanggup untuk mengakhiri.
 
Itu adalah kegelapan, suatu sikap tidak mau melihat dan tidak mau memperhatikan. Itulah kebutaan, sampai dikatakan bahwa cinta itu buta karena hanya merupakan suatu perasaan belaka. Inilah yang dimiliki oleh dunia yang tidak mengenal Allah, tidak mau tahu bahwa Allah telah menetapkan dan manusia harus mentaati. Peringatan besar oleh Rasul Paulus, yaitu peringatan dari TUHAN: jangan lagi hidup secara demikian! Jangan biarkan pikiran menyimpang, dan jangan biarkan perasaan tidak terkendali -- seperti kobaran api yang membakar seluruh diri.
 
Kiranya Tuhan menolong kita untuk menguasai diri. Terpujilah TUHAN!
 
Salam,
Donny

Tidak ada komentar: