Rabu, 02 Maret 2011

Renungan Sehari - 2 Maret 2011

Ef 4:11-15 Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. 

Siapa yang menjadi Pemimpin di dalam gereja, atau di dalam masyarakat? Banyak orang mau menjadi pemimpin. Beberapa berusaha sangat, sangat keras melalui berbagai pendekatan dan pengaruh. Menjadi Pemimpin adalah suatu kebanggaan, sekaligus suatu aset karena dari sana diperoleh berbagai keuntungan. Bukankan para pengikut bersedia memberikan apa saja bagi pemimpinnya? Tetapi, dalam kenyataan kita juga melihat pertikaian terjadi dan gereja-gereja terpecah dalam berbagai nama dan bentuk. Beberapa mempunyai alasan yang kuat, tapi ada juga yang alasan sebenarnya adalah perebutan rejeki dari jemaat. Bagaimanapun umat membutuhkan Pemimpin, kalau tidak anak-anak Tuhan bagaikan domba tanpa gembala yang berkeliaran di tengah-tengah sarang serigala.

Sekalipun orang menginginkan kepemimpinan itu, sebenarnya Pemimpin sejati bukan dilahirkan, juga bukan dibentuk oleh lingkungan, melainkan diberikan oleh TUHAN. Posisi-posisi ini tidak pernah dapat dicapai oleh manusia, juga tidak bisa diklaim oleh manusia, karena memang merupakan hak prerogatifnya TUHAN sendiri. Coba saja: Rasul -- adalah orang yang berjumpa sendiri dengan TUHAN. Jika TUHAN tidak menunjukkan diri kepadanya, siapa yang dapat menjadi Rasul? Demikian juga dengan Nabi: hanya orang yang terpilih dapat menjadi Nabi, yaitu penyampai berita dan suara TUHAN bagi jemaat. Sekarang ini ada orang yang mengklaim dirinya rasul, juga sebagai nabi, kemudian menuntut perlakuan khusus. Perhatikanlah: sebagai Rasul atau Nabi seharusnya ada tanda dan mujizat yang meneguhkan kepemimpinannya.

Lalu, ada pemberita Injil, suatu fungsi yang nampaknya sederhana, sampai tiba kita memikirkan sendiri mengenai berita Injil. Kalau Tuhan tidak memberi kesanggupan, siapa yang dapat memberitakan Injil? Berita itu begitu besar untuk dibawa oleh seorang manusia saja -- kenyataannya ada hambatan yang sangat besar untuk mengatakannya di antara orang yang tidak percaya. Demikian pula tentang menjadi gembala, siapa yang dapat jika tidak dibantu? Dan pengajar, karena siapa yang sanggup mengajarkan kebenaran Firman Tuhan?

Semua itu adalah pemberian Tuhan: kepemimpinan adalah anugerah yang memampukan orang berfungsi dengan baik, artinya harus diukur dari apa yang menjadi tujuan dari kepemimpinan. Lihatlah, ada beberapa tujuan.

Yang pertama, kepemimpinan diberikan untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan. Ada banyak orang yang dipisahkan dari dunia -- itulah arti "kudus" -- di mana mereka bekerja untuk melayani, sesuai dengan kehendak Tuhan. Memikirkan hal ini, ada beberapa masalah. Yang jelas, orang harus bertahan hidup sekalipun ia tidak lagi bersatu dengan dunia. Toh ia nyatanya tetap membutuhkan makan dan minum serta segala kebutuhan hidup yang harus dipenuhinya; bagaimana ia dapat melayani orang lain jika harus memikirkan diri sendiri? Kepemimpinan memberikan alasan dan motivasi untuk tetap melayani, sekalipun di saat yang sama juga perlu menghidupi diri. Masalah kedua adalah mengenai kemampuan; ada orang yang mampu dan ada orang yang tidak mampu di mana kepemimpinan dibutuhkan untuk membuat mereka yang mampu, yang berpengetahuan, yang kreatif, untuk membagi kemampuannya kepada mereka yang lain. Cara-cara yang lebih baik yang ditemukan oleh satu orang, dapat segera disebarkan kepada orang lain, dan membuat kehidupan menjadi lebih baik bagi semuanya. Masalah ketiga adalah fasilitas, di mana orang membutuhkan banyak hal untuk pekerjaan pelayanan. Kepemimpinan membuat hal-hal yang dibutuhkan tersedia, seperti ruangan untuk persekutuan, makanan dan minuman, penghangat di musim dingin, dan lain-lainnya -- disediakan oleh mereka yang mempunyai bagi mereka yang tidak mempunyai. Semua pekerjaan pelayanan membutuhkan hal-hal ini.

Yang kedua, kepemimpinan diberikan untuk pembangunan tubuh Kristus -- ini adalah suatu proyek besar yang berlangsung berabad-abad, dialihkan dari satu generasi ke generasi lain. Suatu kepemimpinan dibutuhkan secara mutlak dalam pembangunan organisasi. Tanpa kepemimpinan, orang-orang hanya beraktivitas tapi tidak membangun sesuatu. Pekerjaan pelayanan menjadi sesuatu yang rutin dan berjalan karena biasa dijalankan, tanpa tujuan yang dipahami oleh yang menjalankan -- seperti berkeliling kota tanpa tujuan, tanpa pemimpin untuk menunjukkan arah. Suatu pembangunan merupakan siklus dari menetapkan tujuan, membuat rencana, mengerjakan rencana, melakukan pengawasan, dan evaluasi untuk menetapkan tujuan berikutnya. Kepemimpinan dibutuhkan untuk seluruh siklus serta memastikan arah dan aktivitas selalu berjalan beriringan untuk membangun tubuh Kristus, bukan yang lain.

Ukuran dari kepemimpinan adalah hasilnya: kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah. Kita tidak lagi tercerai berai untuk berdebat mengenai apa yang dipercaya, kita tidak lagi mencampur-adukkan pengetahuan yang benar dengan filosofi dan rekaan manusia. Sayangnya, kita tidak bisa mengatakan bahwa kepemimpinan kita berhasil saat ini, jika memperhatikan bagaimana orang Kristen masih saling bertikai soal iman dan mencampur adukkan pengetahuan dari Firman dengan berbagai pandangan dunia.

Tuhan juga menginginkan kedewasaan yang penuh; inilah hasil dari kepemimpinan yang membawa orang-orang dari sifat kekanak-kanakan menjadi sepenuhnya bertanggung jawab sebagai orang dewasa. Jika kita gagal dalam membangun tubuh Kristus, sikap kita adalah mengakui apa yang kurang dan keliru serta memperbaiki kesalahan. Orang dewasa tidak sekedar menunjuk kepada orang lain atau mencela dan menghakimi sesama, melainkan memandang secara utuh dan mendalam. Pemimpin tidak menghukum seseorang lebih dari kadar kesalahannya, tidak membebankan seluruh akibat pada satu orang yang paling lemah dan bisa ditindas.

Kedewasaan penuh bukan dihasilkan oleh manusia, melainkan terjadi karena kepenuhan Kristus di dalam Roh. Ada pertumbuhan yang mengubah manusia; tadinya seorang yang penakut, pembohong, serakah, dan sebagainya -- menjadi orang yang berani, rendah hati, murah hati serta mau berbagi. Proses ini tidak berlangsung seketika, melainkan suatu pertumbuhan yang terjadi sehari demi sehari. Jika dibandingkan, mungkin serupa dengan pertumbuhan manusia -- suatu hal yang kompleks dan melibatkan banyak aspek. Ada yang bertumbuh dimulai dari kemampuan bicara, ada juga yang mulai dari kemampuan berjalan. Demikian pula orang Kristen: ada yang mulai dengan bernyanyi, ada yang mulai dengan pemahaman Alkitab -- dimulai dari aktivitas, kemudian mulai mengubah karakter, mentalitas, dan spiritualitas.

Orang yang bertumbuh tidak lagi seperti anak-anak. Sebaliknya, mereka yang menjadi tua tapi tidak menjadi dewasa, masih belum mempunyai keyakinan tentang apa yang benar dan apa yang salah. Mereka yang tidak punya keyakinan, dengan mudah diombang-ambingkan berbagai pandangan, pendapat, dan pengajaran. Mereka dengan polosnya menganggap dunia dengan sendirinya akan berkata jujur dan benar, merasa yakin bahwa sistem yang dibangun manusia pasti sebaik apa yang diiklankan. Tetapi para pemasar (dan para politikus) tahu, betapa banyak orang yang percaya hanya karena mereka ingin percaya, seperti anak-anak. Yang dibutuhkan adalah sentuhan emosional di sana sini, dan sedikit data yang benar secukupnya untuk membentuk opini publik. Toh orang kebanyakan mengininkan sensasi dan kehebohan -- berikanlah itu!

Semua hal ini menyesatkan, digerakkan oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan. Itulah permainan yang peraturannya bisa diubah-ubah di tengah jalan, semua bisa disesuaikan untuk memenuhi target pelakunya. Coba saja lihat: saat orang lain berbuat sedikit salah, kehebohannya terjadi berhari-hari. Ketika diri sendiri berbuat salah besar, yang ditonjolkan adalah toleransi dan mohon pengertian, "mohon maklum adanya". Kebenaran menjadi relatif, tidak bisa dibandingkan, tidak boleh dimutlakkan. Etika juga menjadi estetika, lebih ke arah dirasakan benar atau sesuai dengan kondisi saat itu, tergantung dari sudut pandangnya.

Kebenaran yang sejati adalah benar secara mutlak, tidak tergantung waktu atau situasi kondisi yang ada. Kebenaran adalah tiang yang teguh, yang menjadi dasar berpijak untuk bertumbuh dalam segala hal ke arah Kristus. Dia menjadi Pemimpin Tertinggi,  yang memberikan semua pemimpin lainnya untuk menolong kita semua bertumbuh. Dengan Dia, kita dapat bertumbuh dan mencapai tujuan Tuhan yang diberikan-Nya bagi kita. Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Tidak ada komentar: