Sabtu, 26 Februari 2011

Renungan Sehari - 26 Februari 2011

Ef 4:7-10 Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus. Itulah sebabnya kata nas: "Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia." Bukankah "Ia telah naik" berarti, bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah? Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu. 

Manusia terlahir dengan kemampuan yang berbeda-beda. Lihat saja anak kecil: ada anak yang lebih dahulu pandai berjalan baru berbicara, ada pula yang sebaliknya pandai bicara baru bisa lancar berjalan. Ada yang pandai berhitung, lainnya pandai menghafal. Kita masih berdebat tentang apakah kesuksesan itu datang dari kelahiran, atau ditumbuhkan-kembangkan selama hidup. Ada yang bilang, 90% keberhasilan berasal dari pilihan dan perjuangan. Tapi ada juga yang menunjukkan -- seperti Malcolm Gladwell dalam "Outliers" -- bahwa tanggal lahir turut berperan penting menentukan keberhasilan. Jadi, mana yang benar? Kalau kita mau mempercayai "nasib" maka kita menerima bahwa kelahiran kita di tempat yang salah, di waktu yang salah, adalah sumber dari kegagalan dalam hidup.

Masalahnya menjadi lebih kompleks ketika orang-orang dikumpulkan dalam satu lokasi, misalnya di gereja. Di satu sisi, Tuhan menghendaki ada kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera. Namun dalam kenyataan, ada perbedaan-perbedaan, yang menimbulkan gesekan. Dan gesekan sosial seperti itu dapat menimbulkan luka-luka batin yang cukup serius untuk membuat orang tidak lagi mau datang ke gereja. Bagaimana bisa bersatu, ketika yang satu adalah pengusaha besar yang terbiasa mengatur dan yang lain adalah karyawan biasa yang sudah lelah diatur-atur di tempat kerjanya? Ada yang terpelajar dan mengerti banyak hal. Ada yang kurang berpengetahuan, tetapi sangat berpengalaman. Tambah dengan masalah kepribadian, di mana tidak semua orang mampu berkata-kata dengan tepat, atau mampu mendengarkan tanpa prasangka dan kecemburuan serta iri hati.

Seandainya saja, semua orang dengan setulusnya melayani Tuhan di gereja. Mungkin tidak akan ada sebanyak itu kepahitan dan kegeraman, perpecahan dan pertengkaran. Namun orang mengikuti aktivitas gereja karena berbagai alasan, dan tidak semuanya adalah demi melayani Tuhan.... meskipun tentunya kita juga tidak dapat menghakimi atau menilai niat dari seseorang yang datang ke gereja dan beraktivitas di tengah jemaat. Tetapi mungkin kita berpaling kepada Tuhan dan bertanya dengan penuh penasaran, jika Tuhan memang menghendaki kesatuan Roh, mengapa keadaan kita sedemikian berbeda-beda?

Tuhan yang membuat kita berbeda. Kepada masing-masing orang, ada kasih karunia yang dianugerahkan menurut ukuran-Nya -- sesuai takaran, tepat untuk tiap-tiap orang. Kenyataan ini membuat perbedaan penting: pertama, tidak ada yang dapat mengatakan dirinya lebih baik karena mempunyai takaran lebih besar dalam kemampuan. Itu adalah anugerah Tuhan, suatu pemberian yang diberikan bukan karena jasa atau keberhasilan manusia. Itu juga berarti tidak ada orang yang boleh merendahkan sesamanya, sekalipun mereka mempunyai takaran yang lebih kecil atau karunia yang tidak terlihat "hebat" di mata manusia. Yang kedua, tidak ada seorangpun yang dapat mengecilkan arti dari anugerah yang diterimanya, betapapun hal itu nampak sederhana. Setiap anugerah kasih karunia adalah hal yang besar, suatu hal yang penting.

Satu dasar yang kuat mengenai besarnya nilai dari kasih karunia Tuhan Yesus, adalah nas mengenai kenaikan-Nya. Perkataan "naik" hanya dapat dipahami jika Tuhan pernah tiba di bawah, di dasar yang paling rendah dari bumi. Kebenaran ini penting, karena jika Tuhan tidak sampai di bumi yang paling bawah, maka ada suatu tempat dimana Tuhan tidak "naik". Turunnya Tuhan bukan hal yang mudah, bahkan bagi diri-Nya sendiri. Maka, Tuhan tidak main-main dalam pemberian-Nya, Dia tidak bekerja setengah-setengah, tidak hanya ala kadarnya atau asal saja. Ketika Tuhan sampai di bagian paling bawah, Ia juga mengikat orang-orang yang dikasihi-Nya pada Diri-Nya sendiri agar mereka bisa dibawa naik. Kitalah yang diikat oleh Tuhan Yesus!

Pemberian yang Tuhan berikan adalah bagian dari ikatan yang dibuat-Nya -- itulah sebabnya anugerah kasih karunia itu begitu hebat, begitu penting, sekalipun kita manusia mungkin tidak memahaminya. Bagaimana kita bisa mengerti besarnya karunia Surgawi, sedang kita masih menilai secara duniawi? Kita berpikir tentang keberhasilan dan kekayaan di atas bumi ini. Kita berpikir soal pengaruh dan kuasa, kenyamanan hidup selagi ada di dunia. Kita menilai seperti, "ini karunia yang hebat, itu karunia yang biasa saja" berdasarkan akibat yang ditimbulkan karunia itu terhadap kehidupan di atas bumi. Mungkin, kita sepenuhnya keliru. Mungkin karunia yang nampak biasa saja, seperti kemampuan memperhatikan sesama dengan tulus, justru menjadi karunia yang paling penting untuk membawa orang ke dalam Kerajaan Sorga. Itulah tempat kemana Tuhan Yesus membawa kita sekalian.

Akan tiba waktunya, semua menjadi jelas. Ketika Tuhan Yesus naik sampai ke tempat yang paling tinggi, jauh lebih tinggi daripada segala sesuatu, Ia telah memenuhkan segala sesuatu. Lengkap, komplit, sempurna. Saat itu, semua perbedaan menjadi tidak berarti, selain bahwa semuanya berasal dari Tuhan, semuanya hebat, dan amat berharga. Saat itu perbedaan menjadi hal yang indah, ketika kita semua disatukan oleh Tuhan Yesus dalam Diri-Nya sendiri. Pemiikiran semacam ini tidak perlu menunggu lama, tidak harus menanti kita semua bersatu dengan-Nya. Ini bisa dimulai sekarang, saat ini juga -- ketika kita melihat bahwa walaupun kita berbeda-beda, namun semuanya adalah karya Tuhan juga yang memberi sesuai takaran-Nya. Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Tidak ada komentar: