Rabu, 16 Februari 2011

Renungan Sehari - 16 Januari 2011

Ef 4:1-2 Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu. Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.

 

Semua orang mempunyai peran. Di rumah, seorang anak menjadi anak dan seorang pria dewasa menjadi ayah. Di kantor, sang ayah menjadi manager -- dia mempunyai karyawan anak buah, mempunyai rekan-rekan sejawat, dan juga mempunyai atasan yang harus ditaati. Di gereja, ia mungkin menjadi bagian dari pelayanan, misalnya menjadi diaken, yang harus berkomitmen untuk melayani jemaat lainnya. Jadi, setiap orang mempunyai tempat, dan di tempatnya itu ada tuntutan peran yang harus dipenuhi.

 

Masalahnya, seorang pria yang berusia cukup tua ternyata tidak selalu dewasa; menjadi tua adalah alamiah namun menjadi dewasa adalah pilihan. Pria ini menjadi tua dan mempunyai anak, tetapi ia tidak menjalankan perannya sebagai ayah yang baik dan mendidik, sebaliknya ia mengumbar keegoisan dan memaksa semua anggota keluarga untuk hormat dan tunduk -- betapapun ada banyak alasan untuk tidak menghormati dan tidak mengikuti kemauannya yang aneh dan sesat itu. Di kantor, ia menjadi manager yang buruk karena bersikap serba menjilat dan manipulatif, bukan menjadi penyelesai masalah sebaliknya menjadi sumber masalah. Di gereja, ia menjadi orang yang berusaha "menegakkan aturan" dan menjadi hakim, bukan seorang pelayan, walaupun ia merasa telah menjadi pelayan Tuhan yang baik dengan melakukan hal itu.

 

Pada akhirnya, ada banyak orang yang melakukan apa saja sekehendak hatinya sendiri, memainkan perannya sesukanya, dan merasa bangga dengan itu. Anugerah yang diterima dari Tuhan menjadi pembenaran atas perasaan lebih tinggi, terpilih, dan patut lebih dihormati dibandingkan orang-orang lainnya. Tidak sedikit orang yang merasa bangga ketika telah menjadi ayah, atau manager, atau menjadi diaken di gereja -- di sisi lain, pilihan yang dibuat komunitas juga mencerminkan keyakinan itu: hanya orang yang "sukses", mempunyai kekayaan dan berpengaruh yang dianggap lebih layak untuk menempati posisi manager atau diaken, apalagi majelis. Dalam masyarakat yang meyakini demikian, sosok seorang pendeta bukan hanya saleh dan berkharisma, tapi juga seharusnya mempunyai kekayaan yang nyata: rumah dan mobil yang bagus, anak-anak yang sekolah di luar negeri, dan lain sebagainya. Anak-anak Tuhan seharusnya tampil sebagai orang-orang yang diberkati, bukan?


Bayangkan, apa jawaban mereka yang percaya pada berkat dan kebebasan berperan, ketika mendapat nasihat dari seorang hamba Tuhan di balik penjara. Tidak ada kekayaan yang bisa dibanggakan. Tidak ada pengaruh dari seorang yang  hidup dipenjara, sekalipun bentuknya adalah penjara rumahan. Dan dalam hal ini, sang hamba Tuhan tidak mendefinisikan sendiri perannya. Ia tidak memilih bagaimana harus bersikap, atau memilih apa yang baik menurut pikirannya, menurut perasaannya sendiri.


Bukan berarti Paulus tidak tahu seperti apa rasanya kenikmatan menjadi orang yang berkuasa -- ia sudah tahu seperti apa rasanya. Sebagai orang yang dahulu penting, Paulus tahu seperti apa kesejahteraan yang dapat dinikmati orang yang dihormati, yang terpilih sebagai farisinya orang farisi. Paulus tahu bagaimana dahulu ia mendapatkan peran sebagai orang farisi, kemudian memaksakan aturan berdasarkan pendapatnya sendiri. Paulus sendiri -- dahulu waktu namanya Saulus -- yang meminta otoritas untuk "membereskan" orang-orang Yahudi Kristen di tempat-tempat jauh. Ia menjadi "pelayan Tuhan" namun pada akhirnya menjadi seorang diktator, sebelum Tuhan Yesus menghentikannya dalam perjalanan ke Damaskus.


Perbedaan antara manusia dan hamba Tuhan terletak pada responnya atas peran yang diberikan Tuhan. Anugerah, ketika diberikan kepada manusia, direspon dengan kebanggaan, dipajang di atas lemari pajangan, foto bersama Presiden dicetak besar-besar dan dipasang di ruang tamu. Anugerah, ketika diberikan kepada hamba Tuhan, direspon dengan ucapan syukur dan ketaatan, membuatnya lebih rendah hati dan melayani. Manusia yang menerima anugerah, merasa bisa menuntut orang lain untuk melayaninya, menghormatinya. Hamba Tuhan  yang menerima anugerah, merasa harus melayani orang lain sebagai perpanjangan tangan Tuhan membagikan berkat.


Manusia, saat menerima Anugerah, menginginkan lebih banyak. Hamba Tuhan, saat menerima Anugerah, memberikan lebih banyak.


Apakah hidup kita berpadanan dengan panggilan Tuhan untuk menjadi hamba-hamba-Nya? Atau justru kita menonjolkan kemanusiaan, karena merasa menjadi manusia yang "lebih" dibandingkan orang-orang berdosa lain? Bukankah seharusnya kita menjadi lebih rendah hati, lemah lembut, dan sabar?


Kehidupan orang Kristen hanya berhasil jika sesuai dengan kehendak Tuhan, bukan kehendak manusia. Sekalipun orang terlihat kaya dan makmur diberkati, belum tentu ia diterima di hadapan Tuhan. Bukan orang yang berseru "Tuhan! Tuhan!" yang diterima, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa di Surga. Dialah TUHAN yang mengasihi, yang memberikan kasih karunia, dan betapa kita pun seharusnya memahami kedalaman kasih-Nya! Itulah hukum yang Tuhan berikan pada kita, hukum kasih. Dan ketika orang saling mengasihi, keegoisan tidak ada tempat. Menjadi farisinya orang farisi adalah sampah, kata Paulus, karena hal itu sama sekali tidak berguna.


Apakah kita menjadi bagian dari gereja yang kembali menegakkan doktrin dan kebanggaan, melupakan kasih mula-mula? Itulah yang terjadi dengan Efesus, dan betapa jemaat Efesus ditegur keras! Marilah kita menunjukkan kasih dalam hal saling membantu, bukan hanya omong-omong saja. Kasih itu memberi tanpa perlu dibayar. Kasih itu merendah karena mau melayani yang dikasihi, bukan supaya ditinggikan.


Terpujilah TUHAN!


Salam kasih,

Donny

Tidak ada komentar: