Betapa mudahnya kita membeda-bedakan orang. Betapa dalamnya orang berakar pada apa yang diyakini, sehingga dengan kesadaran penuh sanggup membantai orang-orang lain yang dipandang berbeda kepercayaan, berbeda keyakinan -- sekalipun mengenakan atribut yang sama. Sama-sama mengaku Kristen, tetapi merasa tidak cocok satu sama lain. Sama-sama mengaku Islam, tetapi pengikut Ahmadiyah boleh diserang dan dibinasakan karena dianggap membawa kepercayaan yang "sesat". Sejarah manusia menunjukkan bahwa pembedaan dan penganiayaan ini tidak hanya terjadi di sini, tetapi juga dalam banyak tempat lain, dalam waktu-waktu lain, dengan satu alasan yang sama: "sesat".
Dalam satu hal yang mendasar, kenyataannya memang ada perbedaan antara satu kepercayaan dengan kepercayaan lain, sekalipun berada dalam satu agama. Kita menyebutnya perbedaan denominasi -- dan di sana harus dilihat bahwa memang ada hal-hal yang berbeda. Ada perilaku religius yang berbeda, karena berakar pada pendekatan yang berbeda, prinsip berbeda, dan teologia yang berbeda. Adalah suatu kebohongan jika kita melihat perbedaan, tetapi mengatakan bahwa semuanya sama saja. Berbeda adalah berbeda, tidak sama, tidak sejalan. Kesadaran akan perbedaan membutuhkan kejujuran, karena kita suka pada "kesatuan" dan "kesamaan", sekalipun hal itupun harus diteliti kembali. Benarkah memang sama dan menyatu?
Ketika orang menyadari perbedaan, muncul tantangan persepsi. Perbedaan yang terlihat membuat orang ditantang untuk membuktikan persepsinya, atau cara pandangnya. Misalnya, kita selama ini memandang bahwa "politik itu jahat" atau "pajak itu memeras". Ketika kita bertemu dengan seseorang yang mengatakan, "saya mau ikut politik" atau "saya mau bayar pajak", padahal kita tahu bahwa orang ini baik, jujur, dan bisa diandalkan -- apa yang kita pandang semula menjadi ditantang. Dalam satu sisi, jelaslah bahwa kita dan orang ini berbeda. Kita menganggap politik jahat, tapi orang baik ini mau ikut politik. Apakah berarti, bahwa politik itu sebenarnya tidak jahat? Atau, mungkin orang ini masih terlalu polos, lugu, dan agak bodoh karena tidak tahu jahatnya politik atau kerasnya pajak memeras?
Tantangan persepsi dapat dijawab dengan berbagai cara. Yang satu menjawabnya secara ilmiah: melakukan pengumpulan data, membuat analisa-analisa, dan membuat kesimpulan. Yang lain menjawab berdasarkan prinsip dan kepemimpinan: melihat apa tujuan besarnya dan mengukur apakah pandangan itu sejalan dengan tujuan yang hendak dicapai. Tapi ada juga yang menjawab menggunakan emosinya, tanpa melakukan penalaran lebih lanjut, langsung memberikan perlawanan atas dasar "kesetiaan pada keyakinan agama" dan "orang percaya harus teguh imannya." Seperti apa cara kita menjawab tantangan persepsi?
Tantangan yang paling sukar terjadi ketika berhadapan dengan "label" yang dikenakan kepada orang-orang lain. Misalnya, orang memandang orang-orang Israel adalah penipu dan pembohong, penjajah yang jahat, yang harus dibasmi dari muka bumi. Inilah yang dijejalkan kepada anak-anak kecil di kota-kota timur tengah, juga kepada anak-anak di Indonesia. Hasilnya adalah keyakinan yang aneh tentang kejahatan orang-orang di seberang lautan yang tidak pernah dijumpai, namun dibenci setengah mati. Jika kita memikirkannya lebih jauh, maka kita mendapati bahwa keanehan itu juga terjadi pada banyak bangsa dan suku bangsa lainnya. Perjumpaan selama berabad-abad, sejarah relasi yang panjang (jika mau ditelusuri) tidak menghapuskan kecurigaan dan persepsi negatif mengenai orang lain.
Saat terjadi peristiwa atau pengalaman yang menunjukkan kebaikan dari orang-orang yang kita labeli "jahat", tantangan persepsi yang muncul lebih sering dijawab dengan kecurigaan -- dikatakan bahwa semua kebaikan itu hanya pura-pura belaka. Bagaimana orang dapat mengatasi keyakinan yang berakar mendalam, kacamata hitam yang menggelapkan pandangan kepada orang lain, sehingga apapun yang mereka lakukan selalu dicurigai tanpa alasan?
Kasih. Itulah yang didoakan oleh Rasul Paulus bagi jemaat di Efesus. Paulus berdoa demikian bukannya tanpa alasan, karena ia tahu bahwa ada tanda-tanda orang Efesus akan kehilangan kasih mula-mulanya. Manusia kehilangan kasih ketika memakai persepsi negatif terhadap orang lain, namun pemahaman tentang betapa dalamnya kasih Kristus lebih besar daripada pengetahuan yang dijejalkan sejak masa kecil. Ketika kita menyadari betapa hebatnya kasih Kristus terhadap orang-orang yang dibenci, seperti kebencian terhadap Israel, bagaimana mungkin kita dapat turut membenci dengan cara serupa? Kristus mencabut setiap label "jahat" atau "baik" dari bangsa dan suku bangsa di dunia. Kejahatan bukanlah bagian dari ras, bukan sifat suatu bangsa. Tidak ada bangsa atau suku bangsa yang "jahat" atau "malas" atau "serakah". Hanya individu-individu yang jahat, malas, atau berkarakter buruk lainnya, di mana individu-individu buruk ada di setiap bangsa dan suku bangsa di dunia. Sebaliknya, TUHAN juga memilih orang-orang dari setiap bangsa dan suku bangsa untuk menjadi anak-anak-Nya, mereka diangkat dan diubah-Nya menjadi seperti Kristus, dipersatukan dalam-Nya.
Kristus menarik orang Israel, juga orang Arab atau Pakistan atau India atau Cina atau Indonesia -- kita bisa sebut semua negara di sini -- menjadi pengikut-Nya yang disebut "Kristen", artinya pengikut Kristus. Di manapun mereka berada, pengikut Kristus menghadapi tekanan yang sama dari dunia, karena dunia tidak mengenal Kristus serta tidak mengakui-Nya sebagai TUHAN. Hanya dengan bersama Tuhan kita sanggup menanggung tekanan itu, sekaligus melepaskan diri dari tantangan persepsi negatif terhadap orang lain. Saat kita dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah, kita mampu untuk memandang dari tempat yang lebih tinggi serta memiliki wawasan yang lebih jauh.
Sungguh, kiranya kita dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah! Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Tidak ada komentar:
Posting Komentar