Selasa, 01 Februari 2011

Renungan Sehari - 1 Februari 2011

Eph 3:14-17 Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya. Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. 

Kapan kita berdoa, dan mengapa kita berdoa? Kita diajar untuk pertama-tama mengucap syukur, kemudian mendoakan orang yang mengajari kita, orang yang menjadi penopang kita, orang yang ada dalam lingkup pengaruh kita, dan berdoa bagi diri kita sendiri. Itu termasuk atasan dan bawahan, orang tua, guru, murid, keluarga -- istri/suami, anak -- juga Pemerintah. Beberapa memiliki sebuah daftar nama untuk didoakan, dan lihatlah betapa besar kuasa doa orang yang sungguh percaya! Baiklah. Apa yang kita pelajari dari tulisan Paulus saat ini bukan mengenai kuasa doa. Sebenarnya, kuasa doa tidak pernah perlu dipertanyakan, sama seperti kita tidak perlu bertanya-tanya tentang kuasa Allah.

Satu hal yang sering kita sebut, kita pertanyakan, kita gumulkan, adalah apa rencana Tuhan dalam hidup kita. Maka kita berdoa agar memperoleh pengertian, agar kita diberitahu tentang rencana atas diri kita. Bukan hal yang buruk jika kita berdoa tentang hal-hal ini; bukankah memang kita membutuhkan tangan Tuhan di sepanjang perjalanan hidup? Namun, ketika doa kita hanya berputar di sana, ketika dalam semua bagian doa terkandung kata "kita" atau "aku", ada baiknya kita merenungkan satu hal ini: apakah kita memikirkan rancangan TUHAN tentang dunia? Jika kita bertanya-tanya tentang rencana Tuhan bagi hidup kita, apakah kita telah mempelajari apa rencana Tuhan bagi dunia?

Kita tidak mengetahui apa rencana Tuhan bagi diri kita secara pribadi, karena hal itu tidak tertulis. Dibutuhkan kepekaan dan relasi yang akrab dengan Tuhan sampai seseorang dapat memahami rencana Tuhan secara pribadi baginya. Namun, kita dapat mengetahui apa rencana rahasia yang Tuhan telah susun bagi dunia, karena hal itu tertulis di Alkitab. Kita semua dapat membacanya. Kita semua dapat berusaha mengerti, atau paling sedikit memikirkannya. Yang dibutuhkan adalah ketaatan dan telinga seorang murid, jika kita mau belajar. Sayangnya, tidak semua orang ingin belajar. Banyak yang ingin mendapatkan apa yang mereka mau, memiliki sebuah "ideal" tentang apa yang baik dan mau dicapainya. Banyak yang mengharapkan berkat, bahkan menjadikan "berkat" sebagai ukuran iman, sedemikian rupa sampai anak Tuhan tidak boleh sakit, atau miskin, atau berkesusahan.

Entah apa yang akan dikatakan oleh para pencari berkat itu, jika disebutkan bahwa Rasul Paulus mengalami kesesakan untuk kemuliaan jemaat Efesus, yaitu orang-orang bukan Yahudi, yang menerima rencana rahasia Tuhan yang telah menetapkan mereka sejak sebelum dunia dijadikan untuk diselamatkan dalam Tuhan Yesus Kristus. Bagaimana ukuran "berkat" dapat dipakai atas kenyataan hidup Paulus yang dipenjara, sedangkan ia sujud kepada Bapa agar iman jemaat Efesus diteguhkan?

Rasul Paulus tidak mengutamakan doa bagi "kita" atau "saya", berisi berbagai harapan atau permohonan -- bukannya tidak penting, melainkan bukan yang terpenting. Paulus menunjukkan kebenaran ini: pada akhirnya, apa yang TUHAN rencanakan, jauh lebih penting daripada apa yang kita rencanakan. Rancangan-Nya bukan suatu skema acak yang berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya, melainkan semua ada dalam rencana besar TUHAN bagi dunia, untuk mewujudkan kasih karunia TUHAN, karena begitu besar kasih-Nya bagi dunia. Bisa dibayangkan, bahwa ketika kita telah mengetahui rancangan TUHAN, masihkah kita memikirkan dan bertanya-tanya apa yang TUHAN inginkan pada kehidupan kita? Tidakkah cukup jelas bahwa seharusnya, kita yang menyesuaikan diri dengan rencana Tuhan, dan bukan sebaliknya?

Pengakuan pertama Paulus adalah mengenai kedaulatan Bapa, karena semua turunan di sorga dan bumi menerima nama-Nya -- itu berarti Bapa berkuasa atas seluruhnya. Kita bersama segala alam semesta, harus tunduk di hadapan-Nya -- maka betapa luarbiasa jika kita dapat memanggil-Nya Bapa! Yang Paulus harapkan dari Bapa adalah peneguhan oleh Roh di dalam setiap orang yang masuk dalam Kristus, supaya oleh iman Kristus diam dalam hati kita dan kita berakar serta berdasar di dalam kasih. Paulus tahu apa yang sedang mengubah jemaat. Paulus tahu, bahwa kasih mula-mula mulai hilang dari jemaat di Efesus. Pada akhirnya, jika orang tidak menaruh diri dalam rencana besar Allah, urusan gerejawi membuat orang terpisah dari orang lain, dan maksud rancangan TUHAN sama sekali tidak dijalankan -- sekalipun mereka merasa telah melakukan ritual dengan tekun dan disiplin.

Renungkanlah: rencana rahasia Allah adalah kasih karunia yang diberikan bukan hanya kepada Yahudi, tetapi juga bagi segala bangsa sampai ke ujung bumi -- seluruh dunia. Itu adalah kabar yang hebat, karena tiga alasan. Yang pertama, rencana itu menerobos batas-batas yang dibuat manusia atas dasar "kebudayaan". Yang kedua, berita itu mempunyai kuasa untuk secara mendasar mengubah kehidupan. Dan yang ketiga, berita Injil disertai oleh kuasa yang luar biasa, melampaui semua kuasa di dunia -- jika saja manusia bersedia meletakkan diri di dalam rancangan itu, mengambil bagian dalam rencana-Nya. Semua sudah ditetapkan, sudah dibuka -- walau masih menjadi rahasia terhadap orang-orang yang tidak menaruh peduli. Apa yang kita lakukan, setelah mengerti tentang rencana Tuhan?

Apakah kita bersedia mengikuti-Nya? Atau kita tetap berkutat dengan urusan kita sendiri? Sebenarnya, TUHAN memberi kebebasan, kehendak bebas, bagi anak-anak-Nya. Kita dapat memilih, dan kita harus bertanggung jawab atas konsekuensi pilihan. Kalau kita bertanya tentang apa rencana Tuhan, adakah itu muncul dari kepasrahan, atau kita diam-diam ingin lepas dari akibat suatu pilihan dengan cara meminta Tuhan yang memilih? Kita bisa memilih banyak bagian di dalam hidup kita, dan apapun juga pilihan itu, Tuhan memberkatinya. Namun makna hidup yang sesungguhnya kita alami, ketika kita memilih untuk masuk dalam rencana rahasia Allah, dalam kasih karunia, dan membagikan kasih Tuhan kepada dunia.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Tidak ada komentar: