Ef 3:12-13 Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya. Sebab itu aku minta kepadamu, supaya kamu jangan tawar hati melihat kesesakanku karena kamu, karena kesesakanku itu adalah kemuliaanmu.
Salah satu ciri khas orang Asia adalah merasa sungkan. Bukankah bagi kita sekalian, sopan santun adalah suatu hal yang sangat, teramat penting? Orang bisa berkelahi karena yang satu tidak bersikap cukup sopan di mata yang lain. Kadang-kadang, urusan sopan santun juga dipakai untuk menyatakan kedudukan, atau martabat, yang biasanya diikuti oleh kemarahan kalau orang lain bersikap kurang hormat. Kata-kata yang sering terlontar untuk menyatakan kemarahan adalah, "kurang ajar!" -- ini adalah kata-kata khas, yang tidak ada padanannya dalam bahasa Inggris, terutama di Amerika. Mungkin di Barat orang tidak berpikir sopan santun dengan intensitas seperti di Timur.
Ada sesuatu yang berbeda dalam masa lalu bangsa-bangsa, antara yang mengembangkan feodalisme seperti di Eropa dan Asia, dengan yang menjelajah seperti di Amerika. Namun masa penjelajahan baru dimulai pada abad ke-15, sebelumnya orang-orang bersikap tahu diri di bawah kekuasaan raja-raja di dalam dunia. Kalau sekarang kita bisa mengekspresikan diri dengan bebas, bisa berpendapat dan bertindak tanpa memikirkan sopan santun kecuali apa yang disebut "norma masyarakat" yang longgar -- dahulu sama sekali tidak demikian. Dahulu, orang harus berpakaian dengan cara tertentu, berjalan dengan cara tertentu, berkata-kata dengan cara tertentu, untuk disebut "sopan". Kalau tidak sopan, orang itu tidak dapat diterima bekerja, tidak diterima dalam masyarakat, dan --bisa dibilang suatu kekejaman-- diusir dan dikucilkan oleh penguasa atau pemimpin komunitas.
Sopan santun berasal dari kepercayaan masyarakat. Di jaman dahulu, ada orang kuno yang mempercayai bahwa tubuh adalah penjara bagi jiwa, hasrat adalah akar dari kejahatan, dan hanya dengan mendisiplinkan diri orang bisa mencapai pencerahan. Maka tubuh tidak boleh dihias, tidak patut diperlihatkan -- dan standar sopan santun adalah menutupi tubuh dengan jubah bagi laki-laki dan tubuh perempuan tertutup seluruhnya, Seksualitas hanyalah tugas untuk menyambung keturunan, suatu tindakan tidak suci yang tidak sopan, suatu kekotoran, bahkan suatu kejahatan karena memenjarakan jiwa baru atas dasar kepentingan keluarga. Yang diharapkan dari suatu seksualitas adalah anak laki-laki demi menyambung marga keluarga, sedang perempuan lebih 'rendah' karena menjadi penjara jiwa berikutnya. Tidak sopan membicarakan seks, bahkan menyebutkan "seks" pun adalah sebuah tabu. (semoga pembaca tidak tersinggung karena harus membaca kata itu dalam artikel ini).
Dalam masyarakat kuno lainnya, tubuh adalah bagian dari alam, suatu pecahan dari semesta -- allah adalah semesta itu sendiri. Maka tubuh adalah bagian yang mulia dari manusia, suatu keindahan yang harus diapresiasi, disukai, dan dinikmati. Sebagaimana dalam alam ada mahluk yang tinggi dan mahluk yang rendah, demikian pula manusia dibagi dalam kasta-kasta yang berbeda -- tapi ada hal yang serupa dalam semuanya, sama-sama terbuka dan menyatu dengan alam semesta, walaupun tidak saling bercampur satu sama lain. Seksualitas adalah hal yang alami, bahkan merupakan puncak dalam keberadaan hidup manusia. Kenikmatan dalam seks adalah bagian dari kenikmatan sorgawi, yaitu tempat di mana para dewa berada dan menikmati hidup mereka. Demikianlah seks menjadi bagian dari ritual penyembahan kepada para dewa -- sopan santun adalah memperlihatkan tubuh yang indah, serta melayani satu sama lain dalam memberikan kepuasan dan kesenangan. Tulisan seperti Kamasutra adalah kitab suci. Ketelanjangan adalah alami, karena di alam ini segala sesuatunya telanjang, tidak berpakaian...
Masyarakat manakah yang lebih sopan? Tergantung pada apa yang kita percaya -- sekali lagi, sopan santun berasal dari kepercayaan. Kita tidak hanya membicarakan tentang tubuh dan hubungan badani, melainkan seluruh hubungan sosial dan spiritual dalam masyarakat, yang seluruhnya disebut sopan santun. Di masa dahulu kala, masyarakat masih terbagi-bagi, dan sebuah tempat mempunyai kepercayaan yang dipaksakan oleh penguasa. Dibutuhkan keberanian untuk tidak mengikuti sopan santun, dibutuhkan keyakinan yang kokoh untuk bersikap sesuai dengan apa yang benar, bukan apa yang 'baik' di mata orang lain.
Dahulu, sopan santun dalam hal seksualitas dalam beberapa masyarakat merupakan sesuatu yang sensitif, namun sopan santun dalam hal religius lebih sensitif lagi di seluruh masyarakat. Jika urusan seks orang bisa marah, dalam urusan agama orang bisa saling membunuh satu sama lain, sekalipun terhadap keluarganya sendiri. Untungnya, di jaman sekarang, manusia telah belajar untuk lebih menerima satu sama lain, di mana di dalam satu masyarakat, misalnya dalam sebuah kota, ada banyak kepercayaan di dalamnya --disebut pluralisme-- sehingga sopan santun lebih longgar. Tetap saja, disini pun ada respon kekuasaan mayoritas terhadap minoritas. Kita melihat dampaknya dalam penutupan gereja, atau pengusiran ahmadiyah, atau sidang Ariel - Peterpan. Seluruhnya berakar dari kepercayaan yang berbeda, sehingga sikap sebagian orang tidak dapat diterima oleh orang lainnya.
Bagaiman dengan sikap hidup para pengikut Kristus? Jika kita berharap untuk hidup 'baik', pertama-tama kita harus menerima standar tentang apa yang 'baik' itu. Paulus kalau mau 'baik' harus menjadi Yahudi, sesuai darah dan dagingnya. Seharusnya ia tetap menjadi Saulus. Seharusnya ia tidak membuat murka para imam dan pemuka agama di Yerusalem. Seharusnya ia tetap menjadi farisinya orang farisi.
Tapi, Paulus memiliki yang lebih tinggi, lebih besar, dan lebih penting daripada dipandang baik di hadapan manusia. Ia memilih melanggar Hukum Taurat supaya dapat memberitakan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi. Ia memilih dipandang tidak baik daripada tidak mengikuti Tuhan. Ia memilih ditolak manusia, daripada ditolak Tuhan. Ia memilih berada dalam Kristus daripada berada di tempat ibadah yang tidak mengakui-Nya.
Semua itu membutuhkan keberanian. Bayangkan, waktu itu Paulus menjadi orang yang dibenci banyak orang Yahudi sebangsanya. Ia juga tidak disukai dalam berbagai masyarakat karena menyebarkan Injil. Dalam istilah kita sekarang, Paulus tidak sopan. Persona non grata. Dia ditangkap di Yerusalem, dan dari penjara ia menulis surat kepada jemaat Efesus, untuk tujuan memberitakan Injil. Pada dasarnya, ia tidak berhenti, penjara tidak menghentikannya. Ia tidak sungkan.
Apa yang membuat Paulus kuat? Dia berada di dalam Kristus. Jika kita membutuhkan ketegaran yang sama, satu-satunya cara adalah juga berada dalam Kristus. Kemudian, Paulus bukannya tidak sopan, namun ia memiliki kepercayaan yang berbeda dengan orang lain. Paulus dan segala orang kudus berada dalam perjalanan yang pasti menuju Allah karena berada dalam Kristus -- itu adalah iman kita sekalian, bukan? Tidak ada hal yang lebih baik. Kita hidup dalam kasih karunia!
Maka, kesesakan dunia tidak sepadan dengan kemuliaan Surga. Sekalipun orang tidak memahami, menganggap tidak sopan memberitakan Injil, Rasul Paulus tetap melakukannya juga, membuat surat yang juga kita baca sekarang.
Beberapa mungkin merasa tawar hati. Jika memberitakan Injil adalah suatu sikap tidak sopan, bagaimana kita bisa menjadi "orang Kristen pembawa terang" yang disukai?
Tapi, berita Injil bukanlah tentang baik atau sopan di mata dunia. Ini adalah berita yang benar, suatu kebenaran yang mutlak tanpa melihat waktu atau tempat. Kita melayani kebenaran, bukan cocok atau tidak cocok dengan masyarakat. Kesesakan seorang Paulus adalah kemuliaan bagi orang-orang yang dilayaninya, karena dengan demikian berita Injil diberitakan dengan biaya yang mahal. Nilai tinggi datang dari fakta bahwa ada perjuangan yang besar untuk hal itu, sesuatu yang telah dilakukan dengan kesulitan. Untuk Jemaat Efesus. Untuk kita juga.
Masihkah kita berkata, tidak sopan untuk mengabarkan Injil kepada orang yang belum percaya? Masihkah kita merasa tidak enak untuk menjelaskan bahwa hidup teman kita terancam, karena tidak memiliki jaminan keselamatan? Atau kita takut dikenal sebagai orang Kristen yang sungguh-sungguh percaya?
Ingatlah, Paulus telah melaluinya. Pada akhirnya ia berpegang pada kebenaran, dan lihatlah, Paulus mendapatkan mahkota kehidupan. Adakah kita juga sanggup untuk memutuskan sikap dan mengikuti langkah Paulus?
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Tidak ada komentar:
Posting Komentar