Kamis, 20 Januari 2011

Renungan Sehari - 20 Januari 2011

Eph 2:17-20 Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang "jauh" dan damai sejahtera kepada mereka yang "dekat", karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.

Penyakit yang melanda banyak orang Kristen saat ini adalah perpecahan. Perpecahan besar terjadi paling sedikit dua kali dalam sejarah gereja; pertama-tama terjadi ketika gereja Barat dan gereja Timur terpecah. Perpecahan yang disebabkan oleh perbedaan dalam detil seperti "apakah roti yang dipakai dalam Perjamuan Kudus memakai ragi atau tidak", "Apakah Paus berkuasa atas seluruh wilayah kekristenan", juga "apakah kota Constantinople menjadi pusat kekristenan", disertai perseteruan politik dan perbedaan-perbedaan teologis yang tidak mudah dipahami awam -- semua itu membuat perpecahan di tahun 1054.

Perpecahan besar kedua terjadi ketika Paus begitu hebat menegaskan kekuasaannya, sehingga terjadi korupsi. Benarlah kata-kata ini, "diantara manusia dengan kekuasaan absolut, ada korupsi yang absolut." Martin Luther mengajak orang-orang untuk kembali ke Alkitab, selamat hanya oleh iman, bisa hanya karena anugerah -- dan perpecahan terjadi dalam Reformasi 1517, ketika Luther menempelkan ke 95 tesisnya di pintu gerbang gereja Castle, di Wittenberg, Saxony.

Perpecahan masih terjadi lagi dan lagi. Sebagian karena perebutan pengaruh dan kekuasaan (serta kekayaan yang mengikutinya), sebagian besar lainnya karena perbedaan teologis dan ritual -- mulai dari cara beribadah, cara baptis, sampai kepada doktrin mendasar seperti "apakah Alkitab Firman Allah yang mutlak benar atau tidak". Jika mau dituliskan, satu buku tebal saja tidak cukup menjelaskan semua perpecahan besar secara teologis, apalagi menuliskan semua peristiwa perpecahan dalam gereja, bahkan oleh karena alasan sakit hati karena suatu perkataan atau sikap seorang pendeta senior kepada juniornya.

Perpecahan begitu sering sampai menjadi norma, dan ada yang mengatakan bahwa Allah memang mengijinkan perpecahan agar Firman Tuhan bisa disampaikan hingga ke ujung bumi. Benarkah demikian?

Jika perpecahan terjadi karena kesetiaan dan ketidaksetiaan kepada Firman Tuhan, perpecahan adalah pemurnian, karena Tuhan sendiri pada saat-Nya memisahkan antara ilalang dengan gandum, antara kambing dan domba, dan antara yang sesat dengan yang tetap lurus. Masalahnya, alasan ini sudah terlalu sering disalah-tafsirkan, bahkan diam-diam digunakan sebagai alat untuk membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain. Bukan Firman Tuhan yang jadi patokan, melainkan tafsir atas Firman, yang dilakukan dengan tujuan dan niat membenarkan diri sendiri serta mengangkat kepentingan sendiri.

Pada akhirnya, yang terjadi adalah setiap orang merasa dapat menafsirkan Firman Tuhan sesuai apa yang dipikirkannya -- bahkan tanpa merasa perlu memahami dasar-dasar cara menafsirkan yang benar -- kemudian mengumumkan bahwa penafsirannya yang paling benar dan yang lain salah serta sesat -- oleh karena itu, demi meluruskan iman jemaat maka didirikanlah gereja baru.

Dahulu, suatu denominasi dalam kekristenan terdiri dari sejumlah besar gereja-gereja dengan satu asas. Sekarang, satu denominasi dapat direpresentasi cukup oleh satu gereja. Teologia telah menjadi sedemikian individual, karena bukan saja menyangkut apa dan bagaimana proses memikirkannya, namun juga perasaan dan pengalaman yang terlibat. Pengalaman orang yang satu dapat sangat berbeda dengan pengalaman orang lainnya, apalagi perasaan religius seperti "perasaan saat bertemu dengan Tuhan".

Perpecahan membawa pertentangan, dan tentunya di sana tidak ada damai sejahtera. Ini adalah hal yang ironis, karena sebenarnya sejarah menunjukkan bahwa ada bangsa yang sungguh-sungguh bertemu dengan TUHAN -- itulah bangsa Israel. Mereka "terpecah" dari dunia karena dikhususkan, dipisahkan sebagai milik TUHAN. Bangsa-bangsa lain selama berabad-abad tidak memiliki kesempatan untuk mempunyai pengetahuan, pengalaman, dan perasaan seperti bangsa Israel. Mereka tidak pecah karena manusia, melainkan karena desain TUHAN sesuai Perjanjian. Sekarang, Tuhan Yesus Kristus telah meletakkan sebuah dasar yang baru, Perjanjian Baru, di mana tidak ada lagi pemisahan. TUHAN kini mengumpulkan umat manusia di dalam diri-Nya sendiri.

Tapi manusia yang mengaku sebagai anak-anak-Nya, justru memecahkan diri.

Ada yang bertindak untuk melakukan penyatuan kembali, seperti menyatukan berbagai organisasi politik menjadi satu koalisi. Penyatuan seperti ini memang bisa dilaksanakan, tetapi dengan dasar kepentingan. Orang-orang mempunyai kepentingan yang terpenuhi hanya dengan penyatuan -- jadi mereka bersatu. Di saat kepentingannya tidak terpenuhi, perpecahan terjadi kembali.

Penyatuan yang sesungguhnya bukanlah mengenai orang yang satu bersatu kepentingan atau kehendak dengan orang yang lainnya. Kebenarannya, setiap orang dipersatukan di dalam Kristus. Artinya tiap orang harus menyatu dengan Kristus, dengan Roh Kudus yang satu. Firman Tuhan tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, melainkan harus dengan Roh Kudus -- dan karena Roh Kudus hanya satu, maka prinsip dasar juga hanya satu. Tentu masih ada ruang untuk berbeda, karena penafsiran harus berguna dalam kehidupan nyata dan kontekstual di tempat dan budaya penafsiran dilakukan -- tetapi perbedaan itu bukan dalam prinsip-prinsip utama, bukan pada doktrin-doktrin utama, yang tetap sama. Orang Kristen menyatakan percaya sesuai Pengakuan Iman Rasuli yang sama di segala abad dan tempat, yang jika benar-benar dipahami, membawa prinsip-prinsip yang serupa. Itulah satu Roh yang bekerja!

Demikianlah kita semua menjadi satu, sebagai kawan sekerja di dalam Tuhan tanpa pembedaan. Kita mempercayai apa yang diletakkan oleh para rasul sebagai dasar, dengan Tuhan Yesus Kristus sebagai fokus yang mengikat dan mempersatukan -- karena kita semua menyangkal diri dan mengikuti-Nya, bukan mengikuti kemauan sendiri. Tidak ada orang yang boleh mengatakan, "oh saya menafsirkan Firman ini begini dan begitu, jadi saya berbeda dari mereka" -- karena prinsip utama adalah bagaimana kita semua sama-sama bersatu dengan Tuhan. Satu-satunya perbedaan yang memisahkan adalah, jika yang seorang mengikuti Tuhan dan yang lain tidak mengikuti-Nya.

Marilah kita bersama-sama ada dalam Tuhan, bersama-sama berusaha untuk hidup mengikuti Firman dan Roh yang menuntun perjalanan dengan Kristus sebagai batu penjuru -- yaitu batu yang menjadi acuan dan penilaian akan ketepatan arah dan kebenaran -- sesuai dengan Pengajaran para Rasul, maka ketika kita bersatu dengan-Nya, kita juga bersatu dengan semua saudara-saudara kita lainnya, tidak perduli apapun denominasi dan asal gerejanya. Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny


Tidak ada komentar: