Ef 1:7-8 Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.
Hal pertama dalam masalah dosa adalah, orang harus mengakui dosanya. Di sini ada pertanyaan besar, karena bagaimanakah kita dapat memahami bahwa diri kita dalam keadaan berdosa? Manusia terbiasa untuk merasa dirinya 'baik' dan 'benar'. Lihatlah bagaimana orang-orang berjuang untuk membela diri! Sebaliknya, jika ada orang yang merasa dirinya 'kurang' dan 'salah' atau 'tidak berharga', kita mengatakan bahwa padanya ada masalah psikologis. Motivator modern mengajarkan untuk berpikir positif, terutama tentang dirinya sendiri. Katanya hanya dengan berpikir positif saja orang bisa menjadi segala sesuatu yang diinginkan, berani keluar dari zona nyaman serta menghadapi zona tantangan dalam kehidupan yang bertumbuh.
Masalahnya, tidak ada yang positif di dalam dosa. Berpikir positif tidak membuat keadaan menjadi positif, dan keyakinan manusia bahwa "Allah itu baik" tidak menghapuskan dosa-dosanya. Sebaliknya, berpikir positif tanpa menerima penebusan yang sesungguhnya membuat manusia menjadi mahluk yang paling munafik di atas muka bumi. Mulut bisa bernyanyi dan mengatakan, "Terpujilah TUHAN!" tetapi hatinya busuk dan dipenuhi iri dengki, keegoisan, serta manipulasi. Dalam manipulasi itu bahkan orang mengajak teman-temannya, kerabatnya, orang-orang yang dekat serta mau mendengarkan, untuk turut mempercayai manipulasi yang dibuatnya. Kalau orang tidak memahami kebenaran yang sejati, ia mau saja menerima segala "kebenaran" yang disajikan, asal ada 'tanda-tanda' yang cukup meyakinkan. Pokoknya, asal ada ayat dari Alkitab yang disebutkan. Pokoknya, ada perasaan 'tergugah' saat mendengarnya. Pokoknya, ada bukti mujizat -- semakin hebat mujizatnya, semakin nyata dan pasti bahwa orang ini pasti utusan Tuhan dan perkataannya pasti benar, tidak perlu dipikirkan lagi!
Malah, kalau iman dipikir-pikir, orang dapat terjatuh menjadi tidak beriman, bukan? Jadi, sebaiknya beriman itu dirasakan saja, disyukuri saja, tidak usah dipikirkan atau dimengerti -- toh Tuhan itu begitu besar, mana sanggup dipahami oleh manusia? -- begitulah yang dikatakan orang-orang. Malah ada yang berkata, untuk menjadi hamba Tuhan tidak perlu sekolah teologia. Tidak perlu belajar macam-macam, cukup baca Alkitab, ikuti kata pemimpin, dan rasakan dengan hati untuk mengikuti Roh Kudus, semuanya akan diberikan pada saatnya. Bukankah TUHAN membuat segala sesuatu indah pada waktunya?
Mari kita mencoba untuk merasakan -- kalau belum mau berpikir -- mengenai dua hal besar. Yang pertama adalah Allah telah mengaruniakan kasih karunia-Nya kepada orang-orang yang dikasihi-Nya, yang telah ditentukan-Nya sejak semula. Bisakah kita merasakan kasih-Nya yang mulia? Tuhan tidak akan mengabaikan orang-orang yang dikasihi-Nya! Yang kedua, bisakah kita merasakan penderitaan TUHAN, ketika Ia memberi diri-Nya, darah-Nya, untuk menebus kita? Kasih-Nya bukan hanya kata-kata, melainkan suatu penyerahan darah untuk mengampuni dosa. Nyawa-Nya melayang untuk menggantikan nyawa kita yang harus mati karena dosa-dosa kita -- padahal kita menganggap diri kita baik-baik saja!
Satu hal yang pasti dari penebusan ini adalah: nilainya sangat tinggi, sangat mahal, dan sangat penting. Bagaimana mungkin kita menerima hal yang besar ini hanya oleh perasaan saja? Bukankah sebaliknya, kita perlu menerimanya dengan segenap keberadaan kita: pikiran, perasaan, dan segenap panca indera? Bagaimana mungkin kita dapat bersikap biasa saja, sambil bilang, "pusing ah, memikirkan hal seperti itu..." sedang hidup kita diselamatkan melalui penebusan oleh darah-Nya?
Ada yang mengatakan bahwa TUHAN itu sangat besar dan tidak terpahami oleh manusia. Di satu sisi hal ini memang benar -- TUHAN adalah Pencipta sedangkan manusia adalah ciptaan, sehingga mustahil manusia dapat memahami-Nya. Tapi pandangan ini melupakan fakta bahwa TUHAN memberikan segala karunia di dalam kasih, di mana kasih bersifat dua arah. Jika kasih diberikan tanpa dapat dipahami dan tanpa relasi yang tercipta, maka kasih itu menjadi kehilangan aktualisasinya, hanya berakhir sebagai angan-angan atau gambaran. Jadi ketika Tuhan memberikan kasih kepada manusia, Dia juga membatasi diri-Nya sehingga dalam tingkat tertentu bisa dipahami oleh manusia biasa, agar mereka bisa menjadi anak-anak-Nya.
Penebusan yang mahal diberikan dalam Kristus, perlu dipahami. Kita menerimanya dengan hikmat dan pengertian, karena demikianlah Tuhan mengaturnya -- dari hikmat dan pengertian muncul keputusan, dan dari keputusan hadir perilaku yang sepadan. Jika orang tidak mengerti, ia tidak dapat membuat keputusan berdasarkan penebusan yang diberikan Tuhan, sekalipun dalam ritual ia memuji-muji Tuhan, berdoa, dan berpuasa serta aktif dalam berbagai kegiatan rohani. Kalau tidak paham, apapun aktivitas agamanya, keputusan yang diambil tetap tidak menunjukkan penerimaan atas penebusan oleh Kristus. Apapun yang dikatakan atau dinyanyikan, perilakunya tetap tidak menunjukkan penghargaan yang memuliakan kasih karunia dari Allah.
Lalu, apakah hal ini berarti manusia harus mengandalkan akal budinya? Sebaliknya! Akal budi yang ditundukkan oleh kasih karunia, akan menuntun orang ke dalam sikap taat dan setia kepada Tuhan. Orang yang memahami penebusan, tidak akan menganggap enteng karya Tuhan. Apa yang ia terima mempengaruhi seluruh pilihan dan tindak tanduknya, ketika ia senang atau susah, saat kaya atau miskin, dalam keadaan sehat atau sakit. Ia tidak pernah meninggikan diri lebih dari apa adanya. Ia juga tidak rendah diri atau merasa tidak berguna, kurang dari seharusnya. Penebusan dan kekayaan kasih karunia Allah mengisi hari-hari dengan sukacita, karena kita mengerti bahwa Tuhan telah mati dan bangkit untuk kita. Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Tidak ada komentar:
Posting Komentar