Sabtu, 08 Januari 2011

Renungan Sehari - 8 Januari 2011

Ef 1:15-17 Karena itu, setelah aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, akupun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku, dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.

Kita percaya kepada Gereja yang kudus dan am -- itulah salah satu butir dalam pengakuan iman rasuli. Kepercayaan itu bukan hanya sesuatu yang dikatakan, melainkan menjadi bagian dalam hidup, ketika kita turut bersukacita karena keadaan iman saudara-saudara lain. Di sisi lain, kita juga menyatakan iman dan kasih, yang dapat diperhatikan dan didengar sampai ke tempat yang jauh. Dalam kesadaran ini, kita mempunyai hasrat untuk menjadi satu -- itulah arti dari "am" dalam pengakuan iman. Berapa banyak dari kita yang memiliki hasrat serupa?

Dunia menyukai perbedaan dan penonjolan. Banyak dari kepentingan manusia adalah menonjolkan diri dan memperlihatkan kelebihan -- sebuah strategi pemasaran yang semakin meluas, semakin banyak dilakukan oleh individu-individu di jaman modern. Di dalam trend ini, pengungkapan iman bukanlah hal yang populer, bahkan di beberapa tempat dianggap sebagai kesalahan, sebuah "serangan" yang harus ditangkis, dan pelakunya serupa dengan kriminal lainnya. Kalau seseorang mengatakan, "saya beriman dalam Kristus," ada orang yang menanggapi dengan, "saya tidak beriman dalam Kristus, jadi kamu anggap saya lebih rendah daripada kamu?" Kenyataannya, memang ada orang-orang yang bangga karena imannya, dan sedikit banyak telah merendahkan orang lain yang tidak memiliki keyakinan yang sama, atau dengan intensitas yang serupa.

Ukuran iman yang dipakai menjadi seberapa besar "kenekadan" perilaku atas nama iman. Orang yang beriman, kalau sakit tidak perlu ke dokter. Orang yang beriman, tidak perlu menabung atau mempersiapkan hari tua. Orang yang beriman, tidak perlu merencanakan pendidikan anak-anak, juga tidak perlu memikirkan apa yang mau dikerjakan. Benarkah demikian, bahwa tidak ke dokter, tidak menabung, tidak membuat rencana adalah ukuran dari sikap beriman? Karena hasratnya adalah menonjolkan diri dan membedakan dari yang lain, maka gereja tidak lagi am. Yang satu tidak lagi bersukacita karena iman dari orang lain -- karena merasa kalah bersaing. Gereja terpecah-pecah, setiap kali ada yang merasa "tidak boleh ada dua raja di dalam satu wilayah," ada yang pergi diikuti dengan jemaat yang setia padanya (entah, apakah setia juga pada Tuhan).

Tidak demikian dengan Rasul Paulus. Ia mendengar iman dan kasih orang Efesus -- artinya, jemaat itu secara ekspresif mengungkapkan iman dan kasih mereka. Jangan anggap hal ini sederhana atau gampang; di masa itu, keyakinan iman yang berbeda dari umum atau dari penguasa setempat, bisa membawa malapetaka. Nyatanya, jemaat di Efesus tetap menaruh iman dalam Tuhan dan mengasihi semua orang kudus -- semua orang, tidak membeda-bedakan, tidak melihat latar belakang. Rasul Paulus terus menerus bersyukur karena jemaat Efesus melakukan untuk semua orang kudus, bukan hanya kelompoknya sendiri, atau yang sepikiran dengannya, atau satu misi dan aktivitas.

Apakah ada orang yang membedakan orang-orang yang dipilih Tuhan, dan mengkategorikan orang kudus berdasarkan latar belakang keluarganya? Kita menemukan banyak gereja berdasarkan kesukuan di Indonesia. Ada juga yang mengelompokkan berdasarkan misinya: yang satu mempunyai misi penginjilan, yang lain misi pelayanan sosial, yang lain lagi misi berdoa. Sedemikian bangga dan setia dengan identitas kelompoknya, sehingga yang berbeda tidak lagi disebut "satu gereja dengan saya". Itu adalah anggota gereja itu, beda dari saya yang anggota gereja ini. Lebih parah lagi: hamba Tuhan, orang kudus, yang tidak berasal dari kelompok yang sama tidak boleh melayani di sini. Hamba Tuhan tidak lagi dilihat dan dinilai berdasarkan perilakunya dan pengajarannya, melainkan berdasarkan dari mana sekolahnya dan latar belakang keluarganya atau organisasi yang diikutinya. Seperti itulah yang dilakukan oleh orang yang mengaku gereja yang kudus dan am...

Kita bisa menuntut orang untuk bersikap benar, artinya berkata-kata dan berperilaku sesuai dengan kenyataannya, sesuai dengan kebenaran. Namun dapatkah orang menuntut orang lain untuk memiliki keyakinan atau kepercayaan? Tidak bisa! Yang bisa dilakukan adalah menunjukkan ketidaksesuaian antara apa yang diyakini dengan kebenaran dalam realita dan menurut Firman Tuhan. Jika yang satu meyakini bahwa ia harus mengabarkan Injil di daerah pedalaman, sedang yang lain meyakini bahwa ia harus mengajar orang-orang untuk bertumbuh dalam Kristus, maka kedua-duanya benar dan tidak dapat dipertentangkan. Yang menginjili tidak dapat mengatakan bahwa hanya penginjilan saja yang benar, sebaliknya yang bertekun dalam pengembangan jemaat dan pelayanan sosial juga tidak bisa berkata bahwa diluar upayanya adalah kesalahan.

Ketika perbedaan-perbedaan terjadi, hal yang dapat kita lakukan adalah membawanya dalam doa dan permohonan kepada Tuhan, agar Ia memberikan Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Kristus dengan benar. Biarlah Tuhan yang menanamkan apa yang harus dilakukannya, fungsi apa yang perlu dikerjakannya. Kita memohon agar segala perkataan dan tindakan adalah hasil dari perenungan dan ketaatan yang penuh, bukan sekedar dorongan emosional yang kita sendiri tidak pahami. Ketika orang sungguh-sungguh mengerti dan memiliki pengetahuan untuk mengenal TUHAN dengan benar, ia memberi dirinya sendiri untuk diubah dan diutus oleh Tuhan. Bukan urusan kita untuk menentukan siapa yang menjadi ini atau itu -- Tuhan yang memberikan karunia, serta tanggung jawab yang dibebankan pada orang itu. Bagian manusia adalah menaruh percaya sepenuhnya dan melakukan kehendak Bapa di Surga.

Tidak ada seorangpun yang dapat menepuk dadanya sendiri dan membedakan diri, menonjolkan diri sebagai orang istimewa. Semua adalah pekerjaan Allah, yang menjadi karunia bagi orang yang berkesempatan untuk melayani-Nya. Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Tidak ada komentar: