Selasa, 11 Januari 2011

Renungan Sehari - 11 Januari 2011

Ef 1:22-23 Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.

Pertanyaan 'nakal' dari theophany -- arti harafiahnya "penampilan Tuhan" adalah, jika Allah benar-benar mahakuasa dan mengasihi, mengapa ada kejahatan di dalam dunia? Mengapa umat manusia masih mengalami penderitaan oleh ketidakadilan, seolah-olah mereka berada dalam suatu dunia yang sepenuhnya tidak terkendali, tidak ada Tuhan di dalamnya? Benarkah Allah masih berdaulat atas dunia serta segala isinya, atau Dia telah meninggalkan bumi ini, setelah kejatuhan manusia dalam dosa?

Tentu saja, orang yang bertanya demikian mengasumsikan bahwa semua orang baik, atau setidaknya mempunyai suatu bagian yang baik, dan Tuhan seharusnya mengasihi semua orang. Asumsi ini harus dibuat karena orang ingin mempercayai bahwa semua orang setara dan mempunyai nilai yang sama, sehingga mempunyai hak yang sama dan harus diperlakukan setara. Asumsi ini harus diterima, karena jika tidak maka manusia terpaksa membenarkan adanya perendahan satu orang terhadap orang lainnya, yang satu bisa memperbudak yang lain -- itulah yang telah terjadi selama berabad-abad. Tidak bisa tidak, kita harus mengasumsikan semua orang setara di mata Allah... begitulah yang menjadi dasar dari aliran universalisme dalam teologia. Keyakinan universalisme adalah bahwa semua jiwa pada akhirnya akan diselamatkan, jadi tidak ada seorangpun yang masuk neraka -- apapun kepercayaannya. Karena semua selamat oleh satu Tuhan yang sama, maka pastilah semua agama menyembah Allah yang sama -- jadi semua kepercayaan dan agama juga bisa menyelamatkan, hanya saja Allah hadir dengan bentuk-bentukyang berbeda-beda. Itu, disebut pluralisme.

Apapun juga keyakinan orang, kenyataannya masih ada kejahatan di dalam dunia. Asumsi bahwa semua orang adalah "baik", dipatahkan oleh kenyataan ada perang di dunia akibat manusia, ada penyakit dan bencana alam akibat manusia, dan segala hal yang menimbulkan pertanyaan: apakah memang masih ada Tuhan? Kepahitan itu begitu buruk, sampai banyak orang tidak lagi mengakui Tuhan dan menjadi atheist -- kita menemukan banyak atheist di masyarakat Barat saat ini. Betapa menyedihkan!

Satu fakta yang sering dilupakan adalah, bahwa sejak jaman Rasul Paulus pun kejahatan sudah merajalela di atas muka bumi. Pernyataan yang paling jelas adalah bahwa semua orang sudah berbuat berdosa, sudah kehilangan kemuliaan Allah. Memang ada kesetaraan dan kesamaan di antara seluruh umat manusia, yaitu semua sama-sama harus binasa dan membawa kebinasaan satu kepada yang lainnya. Semua orang mempunyai nilai yang sama, yaitu membawa dosa asali pada dirinya. Nilai yang ada pada manusia hidup sama dengan nilai yang ada pada manusia yang mati, suatu kesia-siaan. Itulah yang ditemukan oleh Raja Salomo yang penuh hikmat, suatu kepahitan ketika menyadari semua hal yang dikerjakan manusia di bawah matahari adalah sia-sia.

Kepada dunia yang buruk seperti ini, Tuhan mengangkat anak-anak-Nya, sesuai pilihan-Nya. Kasih mensyaratkan pilihan -- Tuhan tidak mengasihi semua orang, atau memilih semua orang, melainkan menetapkan orang-orang untuk selamat. Di dalam penetapan ini, ada penegasan bahwa TUHAN tetap berada di atas segala sesuatu karena pilihan hanya terjadi jika seluruh obyek -- yaitu seluruh bumi dan isinya -- tersedia bagi-Nya. TUHAN tidak memilih karena terpaksa, atau karena kebetulan orang-orang ini telah mendengar Kabar Baik dan mau mempercayai-Nya. Sebaliknya! Hanya setelah TUHAN menetapkan orang untuk menjadi milik-Nya, baru orang itu mampu mempercayai-Nya. Orang-orang yang dimiliki-Nya memperoleh kemuliaan dari panggilan serta kuasa yang menyertainya -- itu adalah suatu keadaan yang lebih tinggi, sebuah hak dan kewajiban yang istimewa, karena mereka berada dalam Kristus yang juga istimewa, duduk di sebelah kananTahta  Allah!

Keistimewaan itu bermakna di dalam panggilan Allah, bukan untuk merendahkan orang-orang lain atau memperbudak sesama, sebaliknya suatu hak dan kuasa untuk membawa kehadiran Tuhan di atas muka bumi, membangun Kerajaan Allah dengan kebenaran dan di dalam roh. Sekali lagi, di sini ada penegasan Kristus tetap berada di atas segala sesuatu, karena umat-Nya masih hidup dan bekerja di dalam dunia ini. Segala sesuatu telah diletakkan dibawah kaki Kristus; Dia dapat melangkah kemana saja sesuai dikehendaki-Nya, sambil membawa kita di dalam-Nya untuk melakukan pekerjaan-Nya.

Lalu, mengapa kejahatan masih ada di dalam dunia? Hal itu terjadi karena memang seluruh dunia telah mati dan terpisah dari Allah. Jika orang berpikir, "mengapa TUHAN tidak menghilangkan kejahatan dari dunia?" mereka harus siap untuk mengerti bahwa menghilangkan kejahatan dari dunia berarti menghancurkan bumi ini. Orang yang menginginkan kejahatan lenyap, harus siap untuk turut dibinasakan karena ia sendiri menjadi bagian dari kejahatan -- itulah arti dari "semua manusia telah berbuat dosa."

Tuhan tidak mengambil jalan penghancuran seperti itu karena kasih-Nya, melainkan mengerjakan keselamatan bagian demi bagian melalui orang-orang percaya. Sejak Gereja berdiri, perubahan telah terjadi di atas bumi, di dalam sejarah, dan membawa kesejahteraan yang lebih besar bagi umat manusia. Anak-anak Tuhan telah membuat sekolah-sekolah, rumah sakit, sistem keuangan, sistem pemerintahan, serta sistem keadilan yang lebih baik bagi manusia. Di mana ada orang-orang yang takut akan TUHAN, di sana terjadi perubahan positif. Ketika orang jauh dari TUHAN, terjadi korupsi dan pembusukan -- tetapi kemudian pembaharuan terjadi kembali melalui orang-orang percaya yang berupaya keras tanpa pamrih, yang memperoleh kuasa untuk melakukan hal-hal yang tak terpikirkan oleh orang-orang lainnya.

Jemaat adalah tubuh dan Kristus adalah Kepala dari segala yang ada. Selama orang tetap setia sebagai bagian yang taat pada Kristus, ia terus melakukan pekerjaan-Nya -- dan betapa banyak orang-orang yang menjadi anggota tubuh-Nya -- memenuhi segala sesuatu di seluruh dunia. Pada akhirnya, setiap orang yang menjadi tubuh-Nya juga mendapatkan kemuliaan-Nya, serta memperoleh bagian yang telah dijanjikan TUHAN. Itulah kemuliaan yang sempurna dan mengatasi segala sesuatu, ketika tiba saat Kristus menyatakan kuasa-Nya saat Ia datang kembali ke dunia -- membawa bumi dan langit yang baru, di mana manusia yang dipilih-Nya kembali hidup berdampingan dengan TUHAN.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Tidak ada komentar: