Kamis, 06 Januari 2011

Renungan Sehari - 6 Januari 2011

Ef 1:11-12 Aku katakan "di dalam Kristus", karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan--kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya-- supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.

Di mana ada keselamatan di dalam dunia? Beberapa pandangan yang sangat manusiawi menunjuk kepada kenyataan bahwa semua --atau kebanyakan-- agama membuat penganutnya berperilaku "baik". Beberapa bersifat universal: jangan mencuri, jangan berdusta, jangan membunuh, jangan berzinah, dan berbuat baiklah kepada orang-orang di sekitarmu. Tetapi kemudian, ternyata apa yang disebut "baik" itu bersifat relatif. Dalam satu keyakinan, boleh saja berbohong demi kebaikan, disebut "white lies". Dalam keyakinan lain, ya adalah ya, tidak adalah tidak, lain dari itu berasal dari si jahat. Apa yang "baik" dalam pandangan satu agama, dilihat "buruk" dalam pandangan agama lain; misalnya yang satu menolak makan sapi -- karena sapi adalah binatang suci, yang lain menolak makan babi -- karena babi adalah binatang haram. Akibatnya yang satu memandang pihak lain melanggar kesucian, sebaliknya pihak lain terlihat memakan binatang haram. Kalau pengikut agama merasa harus menegakkan "kebaikan" di atas muka bumi dengan cara "memerangi kejahatan", maka mereka berperang. Pelajarilah sejarah, dan lihatlah kenyataan betapa banyak perang yang diakibatkan perbedaan keyakinan.

Satu hal yang serupa dalam setiap pihak yang bertikai karena agama: semuanya mempunyai keyakinan bahwa mereka harus menegakkan apa yang "baik", tentunya sesuai kepercayaan agamanya. Semua yang berperang melihat bahwa kebaikan ada dalam tangan mereka sendiri, dan segala yang mereka lakukan adalah tindakan suci menurut pandangan Sang Tuan yang disembah. Keselamatan ada dalam tangan mereka sendiri, berdasarkan apa yang mereka katakan, pikirkan, dan lakukan. Orang-orang berusaha bersikap sempurna: mereka berkata-kata dengan "bahasa kudus", berpakaian "saleh" lengkap dengan berbagai atributnya, serta melakukan kegiatan ritual sesuai dengan hukum agama, agar kelak mendapatkan keselamatan.

Bagaimana dengan orang-orang yang mengikuti Kristus? Ada dua kelompok pengikut Kristus. Yang pertama adalah mereka yang mengikuti Kristus. Ke mana Kristus pergi, mereka mengikutinya di belakang. Apa yang Kristus lakukan, mereka perhatikan, dan kalau dirasa bagus tentu akan dicontoh. Ketika Kristus berjalan turun ke dalam lembah keraguan dan pertentangan, mereka memandang dari atas dan melihat kemana Kristus melangkah... siapa tahu ada jalan pintas, jalan kompromi, dan mereka bisa bertemu di titik lain tanpa harus turut mengikuti perjalanan yang menakutkan itu. Mereka ini seperti sekumpulan besar orang-orang yang mencari-cari Kristus karena segala mujizat dan kebaikan serta pengajaran-Nya. Saat Kristus naik ke kapal dan melintasi badai yang menakutkan, orang-orang ini pergi mengelilingi danau. Mereka tidak perlu masuk dalam badai -- dan tentunya tidak mengalami bagaimana angin dan badai ditenangkan oleh Yesus Kristus. Tetapi mereka bisa berharap banyak dari mujizat dan menerima "pencerahan" dari pengajaran Kristus yang berkuasa, sehingga membentuk ulang etika dan cara hidup masyarakat. Bagi mereka, kekristenan menjadi agama, di mana setiap usaha mengikuti Kristus adalah usaha manusia itu sendiri. Keselamatan adalah tujuan dari pencarian selama hidup, berusaha untuk tampil baik di hadapan Tuhan dalam kata-kata, pikiran, dan perbuatan.

Kelompok kedua adalah orang-orang yang berada di dalam Kristus. Mereka bukan mengikuti, melainkan memberi diri mereka digendong oleh Tuhan Yesus Kristus. Mereka adalah orang-orang yang menerima keselamatan sebagai janji, dan tentunya janji Tuhan pasti ditepati-Nya, tidak ada keraguan sedikitpun. Mereka berada dalam Kristus melalui lembah suram, melalui angin badai, dan mengalami bagaimana kuasa Tuhan menenangkan badai yang mengerikan. Di dalam Dia, orang-orang ini sesekali merasa ketakutan dan berseru "TUHAN, kita bisa mati!" dan akibatnya dihardik sebagai orang-orang yang tidak percaya; namun mereka masih ada dalam Kristus. Orang-orang ini tidak perlu mencari-cari keselamatan, karena di dalam Dia mereka telah menerima bagian yang dijanjikan.

Siapakah orang-orang yang berada dalam Kristus? Itulah kami, "kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya" -- suatu penetapan yang bersifat konstan sejak dari semula. Orang-orang ini bukan memilih Kristus, sebaliknya merekalah yang dipilih -- sama seperti murid-murid yang dipilih-Nya untuk berada bersama-sama dengan Dia ketika perahu itu diterjang ombak besar. Dalam berbagai hal orang-orang ini tidak nampak lebih baik, atau lebih istimewa; tetapi itulah pilihan Allah.

Dalam banyak hal, pemilihan ini serupa dengan pemilihan bangsa Israel. Sebagai bangsa pilihan, mereka bukan orang-orang yang bersikap sempurna -- sebaliknya, jauh dari itu! Mereka penakut dan penggerutu seperti di masa Musa, mereka sombong seperti Samson, mereka mau menang sendiri seperti Saul, dan mereka tidak setia. Sekalipun Salomo menjadi raja yang hikmatnya melebihi segala manusia lainnya, ia gagal mendidik anak-anaknya; keturunan Salomo memecahkan kerajaan itu melalui kebodohan Rehabeam dan keserakahan Yerobeam. Kerajaan Israel pecah, dan akhirnya jatuh dalam penaklukkan, di buang ke tempatnya sang penjajah. Namun dalam segala kekacauan dan pembuangan itu, Tuhan tidak membiarkan bangsa itu binasa. Ketika orang Yahudi ada di Babel dan berada dalam ancaman, Ester dan Mordekhai dipakai untuk menyelamatkan -- melalui serangkaian peristiwa "kebetulan" yang mengangkat orang-orang rendah itu ke panggung dunia. Di sana TUHAN tidak menampilkan diri -- tidak ada Firman Tuhan secara eksplisit yang diturunkan dalam kitab Ester -- tetapi dari seluruh peristiwa ini, nampak jelas bahwa bangsa Israel tetap dipelihara-Nya.

Satu hal yang serupa antara bangsa Israel dengan orang-orang dalam Kristus, adalah kepastian pada pengharapan karena janji dari TUHAN. Bangsa Israel telah mengalami badai yang hebat, yang terhadap bangsa-bangsa lain telah memunahkan mereka dari muka bumi -- dan nyatanya kita hari ini melihat bagaimana negara Israel berdiri, betapapun ada banyak kebencian terhadap mereka -- dimana jelas bahwa TUHAN memenuhi janji-Nya. Situasi bisa saja menjadi sangat sulit di mata manusia, namun penjagaan dan pemeliharaan TUHAN senantiasa lebih besar!

Bagi orang-orang dalam Kristus juga tersedia janji yang pasti, memberikan pengharapan yang pasti, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Pada akhirnya, semuanya memuliakan Allah, menjadi puji-pujian bagi-Nya. Dan itulah satu petunjuk bagaimana melihat orang-orang yang mengikuti Kristus berbeda dengan orang-orang yang ada di dalam Kristus:

Kita yang berada dalam Kristus, menunjukkan kehidupan yang memuliakan Allah, menjadi puji-pujian bagi TUHAN. Orang-orang mengucap syukur karena keberadaan kita, mengalami berkat karena kehadiran kita membawa kehadiran Kristus. Dia membawa kebenaran dan jalan dan kehidupan -- membawa teguran kepada yang bersalah, penghiburan bagi yang berduka, dan pengharapan bagi mereka yang putus asa.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Tidak ada komentar: