Ef 3:7-11 Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya. Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu, dan untuk menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah, yang menciptakan segala sesuatu, supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga, sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
Jika menjadi orang Kristen adalah suatu kasih karunia, seperti apakah sikap kita terhadap panggilan untuk memberitakan Injil? Beberapa mengatakan, bahwa itu tugasnya "hamba Tuhan". Beberapa merasa, "itu bukan bagian saya" karena, "saya tidak bisa bicara..." -- pada akhirnya, sumber dari sikap mereka adalah pikiran bahwa pekerjaan ini tidak cukup berharga atau penting untuk dikerjakan. Tidak jarang kita merasa ancaman memberitakan Injil lebih besar dibandingkan manfaat yang diperoleh -- lagipula toh orang-orang itu tidak mau menjadi Kristen, bukan?
Kalau kita berpikir demikian, maka pertama-tama kita tidak memikirkan tentang kasih karunia Allah, dan akibatnya kita juga tidak memikirkan mengenai anugerah berkesempatan memberitakan Injil. Kita mengabaikan panggilan mulia itu, karena menolak menjadi pelayan Injil. Itu bukan kehilangan di sisi Tuhan. Itu adalah kehilangan di sisi kita, suatu kerugian yang sangat besar karena tidak berkesempatan mengalami pengerjaan kuasa TUHAN yang luar biasa.
Sangat menarik untuk merenungkan apa yang terjadi dengan Rasul Paulus, yang dahulu bernama Saulus ini. Saulus tidak dibesarkan sebagai orang yang kalah, atau orang yang rendah. Sebaliknya, ia menjadi orang yang ditakuti, sangat dihormati, berkedudukan tinggi. Ia dari awal belajar untuk menegakkan Hukum Taurat setinggi-tingginya, setegak-tegaknya, dan tidak mengijinkan penyimpangan apapun terjadi, apalagi membiarkan Firman Tuhan dibahas di luar orang-orang Yahudi. Sekali pun saat itu orang Yahudi di bawah penindasan orang Romawi, dalam hal rohani spiritual penguasanya tetaplah orang-orang Farisi. Hanya perjumpaan dengan Tuhan yang membawanya menjadi Paulus, membuatnya meninggalkan segala hal yang dahulu dipegang kuat-kuat.
Bagi Rasul Paulus, ia menempatkan dirinya adalah pelayan Injil sesuai kasih karunia Allah, sebagai kuasa yang diterimanya. Perjumpaan dengan Tuhan bukan sekadar peristiwa dalam perjalanan ke Damaskus, melainkan suatu proses yang berkelanjutan seiring dengan kuasa yang berulang kali terwujud, dan akhirnya mengubah seluruh hidup Paulus. Semua hal ini lebih bermakna, lebih penting dan bernilai dari apapun juga, sampai ia tidak lagi melihat bahwa dirinya penting. Jabatan lamanya, penghormatan dan penghargaan yang banyak orang berikan padanya, menjadi tidak berarti.
Sebaliknya, Paulus melihat kehinaan dirinya. Ia menempatkan dirinya sebagai "yang paling hina dari antara semua orang kudus." walaupun dalam kenyataan, mungkin Paulus adalah rasul yang paling menguasai kitab-kitab Perjanjian Lama, juga berbagai filsafat dan pengetahuan. Semua dari masa lalunya bukan hal yang membanggakan, dan dengan demikian Paulus boleh merasa menjadi yang paling beruntung karena mendapatkan anugerah yang besar.
Ketika anugerah itu diterima, apa yang menjadi pokoknya adalah hal yang mulia -- walaupun sebelumnya hal ini sangat bertentangan. Dahulu, Saulus menentang pemberitaan terhadap orang-orang bukan Yahudi. Kini, Paulus memandang tugas pemberitaan kepada orang-orang bukan Yahudi sebagai panggilan yang mulia. Yang dibawanya kepada orang bukan Yahudi bukan sekedar berita atau cerita, melainkan kekayaan yang hebat dari Kristus Yesus, juga tugas penyelenggaraan rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah. Itu adalah hal yang sangat besar dan luar biasa!
Berita ini disampaikan bukan hanya bagi orang Efesus, tapi juga bagi kita -- sama-sama orang bukan Yahudi. Sikap seperti apakah yang kita ambil? Jika bagi si pembawa pesan, anugerah itu telah mengubah Saulus sedemikian drastis menjadi Paulus, adakah sebagai penerima pesan kita juga berubah dengan drastis? Ya, pasti!
Pertimbangkanlah baik-baik. Kepada kita telah diberitahukan pelbagai hikmat Allah, sehingga jemaat juga bisa memberitakan rahasia ini kepada pemerintah Sorga, kepada penguasa langit, sesuai maksud TUHAN yang kekal. Ketika kita mendapatkan hikmat Allah, dapatkah kita bersikap masa bodoh?
Jika kita telah mendapatkan kasih karunia, sudah sepantasnya dan selayaknya kita menerima juga panggilan-Nya, untuk memberitakan Injil. Jangankan kepada sesama manusia, bahkan kepada pemerintah pun kita perlu mengatakannya. Kita menjadi bagian dari rencana Allah untuk mengungkapkan kuasa-Nya. Ketika seluruh anak-anak Tuhan bersama-sama memberitakan Injil, ada kuasa yang dinyatakan, yang mengubah setiap tempat di mana anak Tuhan berada, dan mengubah dunia. Inilah dunia yang ada sekarang -- adakah kita masih mau mentaati panggilan untuk memberitakan Injil?
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Jumat, 28 Januari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar