Selasa, 18 Januari 2011

Renungan Sehari - 18 Januari 2011

Ef 2:14-16 Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.
Tidak ada mahluk lain di bumi yang saling membunuh dalam jumlah sangat besar dan alasan-alasan ideologis, seperti yang dilakukan oleh manusia, tercatat sepanjang sejarahnya. Mahluk lain, seperti serangga, kadang kala juga berseteru dan saling membinasakan namun hal itu dilakukan karena persaingan untuk bertahan hidup, merebutkan sumber makanan. Tetapi manusia membunuh hanya karena pihak lain berbeda -- beda warna kulit, beda kepercayaan, beda kebudayaan, dan seringkali beda kepentingan.

Saat manusia terpisah dari Allah yang hidup, tiap orang memilih sendiri apa yang baik dalam pandangannya, dan melihat pihak lain adalah "jahat" -- itulah yang diberikan oleh buah pengetahuan baik dan jahat. Bukan baik dan buruk, karena kalau buruk masih bisa diperbaiki atau ditoleransi sedangkan yang jahat harus dibinasakan, paling sedikit perilaku atau pikiran jahat harus dienyahkan. Dan betapa mudahnya orang saling menuduh dan menghakimi!

Salah satu contoh menarik adalah mengenai pornografi, dengan berita yang berlangsung selama berbulan-bulan tentang artis-artis yang berhubungan badan di luar pernikahan. Jelaslah perbuatan mereka yang mengumbar hasrat seksual bukan hal yang baik. Tetapi, apakah yang mereka lakukan -- melakukan seks yang direkam kamera hp -- adalah perbuatan yang jahat? Jika dikatakan salah, jelaslah bahwa itu perbuatan yang salah. Tetapi kejahatan lebih dari sekedar kesalahan pribadi, karena kejahatan merampas sesuatu dalam hidup orang lain. Apa yang dirampas oleh mereka yang bersetubuh itu?

Sebaliknya, orang-orang berteriak-teriak dan menuntut hukuman yang berat bagi para pelaku hubungan seks itu, yang berarti menganggap mereka telah melakukan kejahatan. Apa yang mereka lakukan bukan hanya salah, tetapi juga jahat, harus dihukum. Dan dari pandangan "harus menghukum", justru para penuntut ini merampas kehidupan para artis yang dibawa ke depan sidang pengadilan, ketika masyarakat telah menghukum sebelum pengadilan memutuskan. Siapa yang peduli dengan asas praduga tak bersalah (menurut hukum)?

Tetapi manusia telah memakan buah pengetahuan baik dan jahat, jadi menentukan sendiri apa yang baik dan jahat. Apa yang kelihatan jahat, harus dihukum, dienyahkan. Artis "pelaku pornografi" harus dienyahkan dari publik, tidak boleh lagi menjadi artis, karena orang-orang sudah melihat bagaimana mereka larut dalam nafsu badani. Lain lagi dengan mereka yang diam-diam memuaskan nafsunya dengan memangsa anak gadis baru gede, mencemari dan merusak tubuh dan pikiran para putri yang cantik dan seksi -- selama tidak diketahui bagaimana hal itu dilakukan. Sekali waktu ada tokoh agama yang ketahuan memperistri anak perempuan di bawah umur, tapi tidak ada keributan, tidak seperti terhadap artis-artis porno. Selama tidak terlihat, ada saja pembenaran dan sebagian orang mungkin berkata itu adalah hal yang baik-baik saja. Bukankah ada nabi yang juga memperistri anak perempuan di bawah umur?

Bagaimana jika yang "jahat" adalah sebuah bangsa? Orang Jerman melihat bangsa Yahudi adalah bangsa yang jahat, lantas melakukan pembinasaan. Tetapi, bukan hanya orang Jerman yang melakukan itu. Di Armenia, suku Armendia dibinasakan Turki dalam PD I. Di Kamboja, Khmer Merah membantai rakyat Kamboja. Di Irak, suku Kurdi dibinasakan pengikut Saddam Hussein. Pandangan "jahat" dilandasi oleh berbagai alasan, entah itu ideologis seperti yang dilakukan pengikut komunis, atau perebutan kekuasaan seperti di Armenia, atau kesukuan seperti holocaust Yahudi yang luar biasa sadis, juga karena alasan agama. Pada intinya, yang jahat harus dibinasakan, bangsa yang kafir harus dilenyapkan.

Hanya manusia yang menghakimi berdasarkan apa yang baik dan jahat menurut pandangannya, dan dalam penghakiman itu ada pembenaran atas pembunuhan, demonstrasi, kerusuhan, anarki -- di mana pelakunya merasa bahwa apa yang dilakukan sepenuhnya baik, beralasan, dan bermoral. Itulah yang memisah-misahkan umat manusia, mengisi sejarah dengan berbagai perang dan pembantaian. Entah bagaimana, mereka bisa memandang para wanita dan anak-anak sebagai pihak yang "jahat" dan harus ditumpas habis, dan merasa sepenuhnya benar untuk melakukannya -- seperti yang diperbuat kaum Taliban di Afghanistan.

Selama manusia tidak diselamatkan dari dosanya, selama manusia masih terpisah dari Allah dan menentukan sendiri apa yang baik dan jahat, perseteruan tetap ada di sana. Sesungguhnya, semua perang antara manusia terjadi karena manusia bermusuhan dengan TUHAN, Allah semesta alam. Orang-orang menyebut diri sebagai umat Allah, mau mengikuti berbagai ritual agama dan perilaku 'saleh' -- tetapi semua itu menurut pandangan manusia sendiri tentang apa yang baik, dan dengan begitu bertentangan dengan Allah, menjadi musuh Allah. Mereka yang berseru-seru "Allah Besar! Allah Besar!" tanpa sadar menyerukan kejatuhan mereka sendiri, jika di saat mereka meneriakkan kata-kata itu, mereka juga melawan kehendak Allah demi kepentingan dan keinginan manusia.

Orang Israel mempunyai posisi yang khusus karena mendapatkan wahyu dari Allah, dalam Perjanjian yang dimulai antara Allah dan Abraham, hingga turunnya Hukum Taurat di Gunung Sinai kepada Musa dan bangsa Israel. Hukum Taurat menunjukkan apa yang baik dan jahat menurut Allah, mengungkapkan standar Allah yang sempurna serta pilihan-Nya kepada bangsa Israel. Secara hukum dan keturunan, Israel dipisahkan dari semua bangsa lainnya, diberi kesempatan untuk selamat melalui Hukum. Tetapi bangsa ini gagal total -- justru oleh Hukum Taurat mereka tidak dapat mengelak dari hukuman yang patut mereka terima, yang dijatuhkan bukan oleh manusia melainkan oleh Allah sendiri. Hukum Taurat menegaskan bahwa bangsa pilihan Allah telah menjadi musuh-Nya, seperti istri yang berselingkuh dengan setiap laki-laki yang dikenalnya, sekalipun laki-laki itu telah merampas segala yang baik dari kehidupan sang istri yang tidak tahu diri!

Darah Kristus membawa damai antara manusia dengan Allah, dengan membawa perseteruan itu serta menyalibkannya. Ketika Kristus mati di atas salib, kehendak Allah yang dinyatakan oleh Hukum Taurat dipenuhi-Nya, sehingga Perjanjian Lama berakhir -- berakhir pula Hukum Taurat yang menyertai Perjanjian Lama. Tembok pemisah yang membedakan orang Israel -- bangsa pilihan -- dengan bangsa-bangsa lain, telah runtuh. Tuhan Yesus Kristus datang untuk memanggil semua bangsa menjadi anak-anak-Nya, umat manusia tidak lagi dipisahkan menurut darah dan keturunan, melainkan berdasarkan apa yang mereka percaya. Sebagian percaya kepada Kristus, sebagian lagi tidak.

Itulah keajaiban kasih karunia, ketika kita semua dipersatukan Kristus di dalam diri-Nya sendiri. Ketika kita semua bersama-sama menyangkal diri agar bisa mengikuti Kristus setiap hari, apa yang baik dan jahat ditentukan oleh Firman yang hidup, yaitu Yesus Kristus. Kebenaran tidak relatif menurut apa yang dipikirkan manusia, melainkan mutlak menurut Firman Tuhan -- yaitu kebenaran tentang apa yang baik dan jahat. Prinsip-prinsip kehidupan bukan lagi dibuat menurut kehendak dan keinginan serta ide manusia mengenai apa yang baik dan jahat, melainkan menurut Firman Tuhan.

Semua terjadi jika dan hanya jika perseteruan telah disalibkan -- itulah yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus Kristus dengan diri-Nya sendiri. Jika Tuhan Yesus telah menyatukan kita di dalam-Nya, maka seharusnya tidak ada lagi yang memisahkan anak-anak TUHAN, termasuk orang Yahudi dengan kita yang bukan Yahudi. Kita semua telah menjadi satu tubuh; akankah kita juga berselingkuh seperti yang diperbuat orang Israel dahulu kala? Kita telah menjadi manusia baru -- jangan lagi mau kembali seperti manusia lama!

Sementara itu, orang-orang lain yang tidak percaya pada Kristus, masih tetap memilih sendiri apa yang baik dan jahat menurut mereka. Kita berbeda dari manusia lain di dalam prinsip mengenai apa yang baik dan jahat, di mana kita tahu bahwa kejahatan memang ada tetapi adalah hak TUHAN untuk menentukan apa yang jahat serta menghukum setiap kejahatan. Orang lain yang tidak percaya masih tetap lebih suka untuk menghakimi apa saja, siapa saja, menurut kehendak dan pikirannya sendiri -- di sinilah perbedaan antara orang percaya dengan orang-orang dunia.

Lantas, bagaimana dengan hukum dan pengadilan di dunia? Sebenarnya hukum di dunia adalah perwujudan tentang kesepakatan yang diberlakukan oleh rakyat, melalui wakil-wakil rakyat di lembaga legislatif. Di sini rakyat bersepakat mengenai suatu hal, apa yang boleh dan tidak boleh, apa yang menjadi konsekuensi dari suatu perbuatan. Apa yang 'jahat' bukanlah sesuatu penghakiman menurut perasaan atau pendapat hakim, melainkan terbukti di pengadilan bertentangan dengan hukum yang telah ditetapkan. Tujuannya adalah agar rakyat dapat hidup menurut aturan yang disepakati, membentuk budaya dan pola perilaku yang dianggap sesuai -- beberapa bersifat permanen, lainnya dapat berubah seiring perubahan masyarakat.

Hukum negara berbeda dengan apa yang baik dan jahat. Ketika wakil-wakil rakyat ternyata bersekongkol untuk membuat kesepakatan yang tidak benar, hukum itu bisa diberlakukan dan setiap rakyat dipaksa harus mentaatinya dalam perilaku yang tidak benar. Tetapi, tetap saja perilaku itu jahat di hadapan TUHAN. Mengikuti apa yang tertulis dalam hukum negara tidak serta merta menjadikan orang baik di hadapan-Nya.

Pertanyaannya, apakah cukup banyak orang-orang percaya yang takut akan TUHAN menjadi wakil rakyat dan membuat kesepakatan hukum yang benar di hadapan-Nya? Ini menjadi tantangan bagi orang-orang percaya -- untuk menjadi garam dan terang dunia, bukan dengan cara diam dalam kenyamanan tempat yang gelap dan tidak terlihat, melainkan seperti lentera yang digantung tinggi dan menyinari seluruh ruangan. Setelah Tuhan Yesus mendamaikan kita dengan Allah, apakah kita cukup berpuas diri saja?

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Tidak ada komentar: