Ef 2:4-7 Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita--oleh kasih karunia kamu diselamatkan-- dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus.
Pelanggaran karena tidak mengikuti standar Allah menjadi hal yang sewajarnya terjadi ketika manusia terputus hubungannya dengan Allah. Adalah suatu ketidakmungkinan yang mutlak untuk hidup mengikuti standar Allah, sementara Allah itu tersembunyi bagi umat manusia. Maka, satu-satunya kemungkinan adalah, Allah sendiri yang menyatakan diri-Nya kepada manusia dan memberikan wahyu serta kuasa, yang menjelaskan standar-standar-Nya berupa hukum dan tuntutan serta etika bagi manusia yang mati. Masalahnya, manusia itu sendiri masih tetap mati karena menentukan sendiri apa yang baik dan buruk; dan masalah ini diperparah dengan adanya kuasa iblis yang jatuh ke dunia.
Karena manusia memilih sendiri apa yang baik dan buruk, akhirnya pencarian akan Tuhan diukur berdasarkan kebaikan dan keburukannya bagi manusia; cara-cara yang "ditemukan" serta "dibakukan" menjadi agama bagi manusia. Kalau manusia mengikuti agama, diyakini bahwa hidupnya di dunia akan menjadi "baik", sebaliknya hidup menjadi "buruk". Iblis berperan dengan membohongi orang tentang apa yang baik dan buruk itu -- memanfaatkan fakta bahwa orang tidak dapat berpikir panjang dan kompleks, banyak yang dikuasai oleh emosinya daripada pikirannya. Emosi tidak rasional, tidak mengingat masa lalu atau mempertimbangkan masa depan yang jauh, selain memenuhi rasa saat ini, suatu dorongan untuk bertindak sekarang juga. Iblis dengan mudah memenuhi emosi manusia, mendustai mereka dengan "keuntungan" yang segera dan nyata seperti kekayaan dan kekuasaan yang cepat. Dengan menyamar sebagai malaikat terang, iblis menampilkan dirinya sebagai allah dan menarik manusia untuk menyembahnya, serta menguasai mereka. Selama manusia mati, mustahil untuk mengikuti Allah yang hidup, sebaliknya iblis membunuh manusia dengan menarik kedalam kematian bersamanya.
Kasih TUHAN dan rahmat-Nya diberikan bersama dengan Kristus untuk mengatasi situasi yang mustahil ini. Kita dihidupkan bersama dengan Kristus, dipindahkan dari kematian menuju kehidupan -- artinya, kita dapat memilih untuk tidak menetapkan apa yang "baik" atau "jahat" menurut pikiran kita sendiri, karena kita mengikuti Kristus yang menunjukkan apa yang "baik" dan "jahat", apa yang benar, dan jalan yang harus dilalui. TUHAN bersedia menunjukkan kehendak-Nya kepada kita sekalipun dalam segala hal kita tidak layak di hadapan-Nya, karena Ia mengasihi kita. Kehidupan dalam Kristus menjadi suatu hidup yang terus menerus berupaya untuk selaras dengan Kristus, yang mensyaratkan Kristus bersedia menerima kita berada bersama-Nya. Merenungkan hal ini, kita dapat menyimpulkan bahwa kasih karunia yang terbesar adalah kenyataan bahwa kita diterima-Nya untuk hidup bersama-Nya.
Untuk memahaminya, ingatlah pada kisah Musa. Saat itu situasi bagi orang Israel di Mesir adalah sebagai budak yang dibenci dan ditekan. Anak-anak ibrani dibunuh selagi masih kecil, dengan cara dibuang ke sungai, supaya jumlah mereka tidak bertambah banyak. Di bawah tekanan, banyak orang tua yang mengikuti apa yang "baik" sesuai maklumat Firaun, yaitu penguasa dunia, dan membunuh anak mereka demi sedikit kesejahteraan mereka sendiri. Bandingkan dengan orang-orang masa kini yang melakukan aborsi -- membunuh anak selagi di kandungan -- untuk sedikit kesejahteraan mereka sendiri. Tetapi kasih menyelamatkan Musa; pertama-tama, kasih dari orang tuanya membuat Musa tidak ditenggelamkan begitu saja, melainkan membuat peti pandan yang dilapisi ter dan diapungkan di sungai Nil. Kemudian, kasih dari Putri Firaun membuat Musa diangkat dari kematian menuju hidup sebagai bagian dari istana Firaun. Bagi Musa kehidupannya diterima sebagai kasih karunia dari orang-orang di sekitarnya, yang berasal dari Allah. Musa diterima oleh Allah bukan saja untuk hidup, tetapi juga untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir kelak -- 80 tahun kemudian sejak kasih karunia itu diterimanya.
Kita yang mendapatkan kasih karunia, dihidupkan bukan untuk tinggal di istana Firaun melainkan hidup di dalam Kristus Yesus. Kehidupan kekal yang sesungguhnya berarti terhubung dengan sumber kehidupan, yaitu TUHAN dan menyertai-Nya hingga dalam kekekalan. Kita memperoleh kehidupan kekal ini sejak Kristus membangkitkan kita, saat kita mengaku percaya dan dilahirkan kembali dalam roh. Kebangkitan TELAH diberikan, juga tempat kita di Sorga. Kita tidak perlu mencari-cari kehidupan atau kebangkitan dan hidup kekal -- semua itu telah kita terima. Tempat di Sorga adalah janji yang diberikan kepada orang-orang yang telah dibangkitkan -- saat itu kita dapat sepenuhnya memahami betapa kaya kasih karunia yang dilimpahkan TUHAN, sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus.
Jika kita sungguh-sungguh memahami kekayaan kasih karunia TUHAN, kita bahagia dengan kemiskinan hidup kita di hadapan Allah, karena memiliki pengharapan yang pasti bahwa kita mempunyai Kerajaan Sorga. Kita tidak lagi perlu mencari TUHAN, dan ukurannya bukanlah soal hidup di dunia yang "baik" atau "buruk" bagi kita di dunia. Dalam hal ini, kekristenan berbeda dari agama, bahkan kekristenan bukanlah agama. Kekristenan adalah pengakuan dan penerimaan terhadap kasih karunia, sehingga apa yang mustahil dilakukan manusia telah dipenuhi oleh TUHAN, di mana manusia menempatkan diri untuk mengikuti-Nya -- sekalipun sebelumnya manusia telah mati oleh karena kesalahannya. Kasih karunia itu berlimpah-limpah, mengimbangi kenyataan bahwa kita sendiri, sebagai manusia yang masih berdaging dan dikuasai daging, masih melakukan kesalahan, yang kita sendiri tidak menginginkannya... tapi namanya orang masih hidup di bumi, dan masih bodoh juga... Memang, TUHAN sungguh baik!
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Tidak ada komentar:
Posting Komentar