Ef 2:21-22 Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.
Urusan menjadi satu di dalam Kristus, pertama-tama, adalah urusan TUHAN. Keberadaan kita sebagai Gereja yang berada di dalam Kristus bukanlah sebuah pilihan manusia, dan utamanya juga bukan untuk melayani kepentingan manusia. Walaupun ada banyak sekali manfaat bagi orang-orang percaya untuk bersatu, ada banyak sekali sukacita dan keuntungan yang dapat kita peroleh -- kesatuan umat Allah adalah kepentingan TUHAN, di dalam Tuhan Yesus Kristus. Karena ini adalah urusan-Nya, maka Tuhan membangun dan menumbuhkan setiap orang percaya, individu demi individu, ke dalam Kristus, di dalam damai sejahtera dan kasih karunia. Tuhan tiap hari menambahkan orang-orang percaya, hingga kini gereja telah berada di seluruh dunia. Pertumbuhan, pada akhirnya, benar-benar merupakan karya Tuhan.
Ada tiga hal yang menarik untuk direnungkan. Yang pertama, jika Tuhan yang menumbuhkan, lalu apa peran manusia? Kita bersyukur karena Tuhan memberi anugerah untuk kita boleh ambil bagian. Seperti yang dikatakan rasul Paulus, "Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan." Bukan berarti Tuhan tidak bisa menanam atau tidak bisa menyiram -- Dia sanggup mengerjakan apapun juga dengan sempurna, namun dalam kasih karunia-Nya Tuhan memberi peran kepada umat-Nya untuk melakukan sesuatu. Kalau kita boleh aktif, bisa turut serta dalam suatu kegiatan gereja, dapat berbicara kepada seseorang dan menolongnya mendengar tentang TUHAN -- semua adalah peran yang diberikan Tuhan. Jika kita tidak mau ambil bagian, tujuan Tuhan tetap akan terlaksana -- tapi betapa ruginya kita yang tertinggal di belakang!
Yang kedua, pertumbuhan tidak terjadi sesuai rancangan manusia. Mungkin manusia bisa membuat bangunan gereja yang bagus, bisa membuat acara yang besar-mewah-mengesankan, namun tidak ada seorangpun yang dapat membuat kerajaan Allah. Yang terjadi, malah kekayaan gereja dan rencana pembangunan gedung gereja seringkali menimbulkan percekcokan, perselisihan, dan sakit hati. Sekali waktu ada rencana untuk pegelaran rohani -- musik dan tari -- yang hebat, yang meriah, mengesankan banyak orang -- tetapi di akhir acara, justru timbul kepahitan karena ada ketidakpuasan dan kritik. Saat manusia hanya memikirkan tentang rencananya sendiri, dengan ukuran-ukurannya sendiri, kebanggaan dan kesombongannya sendiri -- di saat itulah orang tidak mengikuti kehendak dan rencana Allah, dan hasilnya adalah bangunan yang kacau balau, tidak rapih tersusun, dan harus dirubuhkan untuk dapat dibangun kembali.
Yang ketiga, apa yang dibangun bukan sekedar organisasi, bukan lembaga, bukan komunitas. Memang dalam perwujudannya, ada organisasi, ada lembaga gereja, dan pasti ada komunitas orang-orang percaya. Tetapi TUHAN tidak sedang membangun sebuah masyarakat, melainkan Dia sedang membangun bait-Nya yang kudus. Dia bersemayam di antara umat-Nya -- bukan hanya seorang, bukan cuma satu individu -- dan tidak ada seorang pun yang dapat mengklaim bahwa "Tuhan ada pada saya, tidak ada pada kamu" karena pengalamannya bersama Tuhan. Apa yang dilakukan Tuhan dalam setiap individu yang percaya dan takut akan Tuhan menjadi pengalaman individu itu sendiri, tetapi TUHAN hadir dalam individu yang berelasi dengan individu lainnya. "Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka," Firman Tuhan.
Jika kita benar-benar menjadi murid Yesus Kristus, perintah yang kita terima adalah untuk mengasihi satu sama lain. Kasih adalah kekuatan yang mengikat kita -- demikianlah bangunan bait Allah dibangun di dalam Tuhan yang mengasihi. Barangkali kita mendapati bahwa sesama orang Kristen bukanlah orang yang sempurna, bukan orang yang berkarakter benar dan kuat, sebaliknya masih saja penuh banyak kekurangan. Yang paling buruk, karakter yang bertentangan dengan kebenaran serta melanggar prinsip-prinsip dasar dari Tuhan. Yang tidak terlalu buruk, karakter yang bertentangan dengan keinginan kita sendiri, sehingga kita tetap saja merasa tidak suka kepadanya walaupun orang itu tidak melakukan sesuatu yang salah di dalam prinsipnya.
Sayangnya, lebih sering perpecahan terjadi karena orang yang satu "melanggar" orang yang lain. Kita berpikir tentang gereja serupa seperti perusahaan, atau organisasi sosial, atau kumpulan lainnya. Kita berpikir bahwa "bersatu" adalah urusan kita, kehendak manusia. Kita duduk dan melakukan rapat untuk saling membagi pikiran, mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan rasional dan emosional -- kita memakai apa saja, tanpa mengijinkan Roh Tuhan bekerja. Seringkali, hubungannya adalah hubungan sebab-akibat: sebab saya berbuat baik, Anda berbuat baik. Jika Anda berbuat tidak baik, akibatnya saya juga tidak berbuat baik kepada Anda. Tidak ada kasih di sana, sama seperti organisasi lain -- toh, kasih atau cinta hanya dituturkan sebagai cinta antara pria dan wanita, bukan?
Jika benar demikian, maka apa yang kita bangun bukanlah bangunan yang kudus bagi Allah. Gereja yang ramai dengan konflik, kepahitan, kemarahan dan kekecewaan sambil terus berupaya untuk bersatu, bukanlah gereja yang kudus. KIta turut dibangunkan di dalam Roh, di dalam ketaatan, di dalam takut akan Tuhan. Bersama-sama, kita mengalami Tuhan berada di tengah kita. Bersama-sama, kita memberikan kesaksian kepada dunia bahwa karya Tuhan tidak terputus, belum berhenti, sampai semuanya digenapi.
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Tidak ada komentar:
Posting Komentar