Rabu, 12 Januari 2011

Renungan Sehari - 12 Januari 2011

Ef 2:1-3 Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.

Kamu dahulu sudah mati. Sebenarnya kami dahulu juga sudah mati. Rasul Paulus mengatakan itu kepada jemaat di Efesus dan semua orang percaya yang turut mempelajari kata-kata yang diberikan melalui Roh -- juga menjadi kata-kata bagi kita sekarang, di sini, di segala abad dan tempat. Renungkanlah: bagaimana kita dapat memahami bahwa semua manusia sudah mati, termasuk orang-orang yang kita kenal selalu berbuat baik kepada sesamanya? Kita merasa heran karena seharusnya orang-orang baik itu selamat, meskipun mereka tidak percaya kepada Kristus, bukan? Kalau seseorang selalu mengasihi orang lain, selalu menyenangkan sesamanya dan diterima baik oleh masyarakat di sekitarnya, bukankah itu adalah pahala yang kelak akan diperhitungkan berikut segala amal perbuatannya?

Hal pertama mengenai dosa bukan menyangkut dari kualitas suatu perbuatan "baik" atau "buruk". Ketika manusia mati saat memakan buah pengetahuan baik dan jahat, mereka belum berbuat perbuatan "buruk" -- sebaliknya, Adam dan Hawa tiba-tiba menyadari bahwa mereka telanjang dan menjadi takut, katanya, "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi." Coba katakan, bukankah itu adalah hal yang baik? Telanjang itu MEMANG buruk, bukan? Sampai kita menganggap orang yang telanjang sambil berjalan-jalan di tempat terbuka adalah orang yang tidak sopan, atau orang gila. Anak-anak Tuhan yang sopan-sopan, harus berpakaian dengan baik, bukan?

Namun TUHAN memahami hal yang lebih penting dari kualitas suatu perbuatan sehingga bertanya, "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?"

Tidak ada yang memberi tahu manusia bahwa mereka telanjang. Mereka mengatakan bahwa telanjang itu buruk berdasarkan pengetahuan mereka sendiri. Manusia menetapkan sendiri apa yang baik dan apa yang buruk, sesuatu yang tadinya hanya ditetapkan oleh TUHAN, Allah semesta alam. Berfirmanlah TUHAN Allah: "Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya."

Pelanggaran manusia bukan mengenai berbuat apa yang buruk, melainkan mengenai menentukan sendiri apa yang baik dan buruk. Ketika manusia melakukan sesuatu, mereka cenderung berpikir sendiri bahwa itu adalah hal yang "baik". Berapa sering perbuatan yang kita pikir "baik" ternyata mendatangkan malapetaka, berapa sering tindakan "kasih" yang dilakukan justru membawa bencana? Ketika orang berusaha keras untuk melakukan kebaikan, justru mereka melakukan kejahatan. Tragedi besar adalah bagaimana orang tua membesarkan anak-anaknya dengan hasrat dan niat yang kuat untuk menjadikan anak mereka "baik". Semakin besar mereka berusaha mengarahkan dan mengendalikan anak-anak mereka, bahkan dengan niat baik agar anak-anak selalu dalam Tuhan, menghasilkan anak-anak yang justru memberontak dan karakter yang buruk di sepanjang hidup mereka. Bapak teologia modern, Friedrich Schleiermacher (1768-1834) yang menyangkali kebenaran mutlak Firman Tuhan, terlahir dari keluarga gereja Moravian yang sangat mengutamakan kesalehan dan secara mutlak menekankan disiplin rohani. Schleiermacher saat kecilnya bersekolah di tempat yang menerapkan teologia Moravian, tetapi ketika besar ia justru meninggalkan praktek hidup suci (pietisme), sebaliknya merangkul rasionalisme yang dimulai Immanuel Kant dan filosofi Yunani kuno dari ajaran Plato dan Aristoteles.

Bagi orang tua Schleiermacher -- ayahnya adalah chaplain dalam ketentaraan Prussia di Gereja Reformed -- segala disiplin rohani bermaksud baik, tetapi hasilnya justru menumbuhkan keraguan dan pemberontakan. Bagi Schleiermacher, segala pemberontakannya bermaksud baik yaitu agar orang-orang menghargai pemikiran bebas dan nilai diri yang lebih tinggi, tetapi hasilnya adalah pengajaran yang menolak otoritas Allah, suatu sikap liberal atas kuasa ilahi -- itulah sebabnya maka teologianya disebut juga teologia liberal. Buah pemikiran dari Schleiermacher berkembang dan membawa banyak teolog liberal sampai awal abad ke-20, ketika Karl Barth menulis tafsir Roma dan mematahkan segala pengajaran teologia liberal, digantikan oleh teologia neo-orthodox -- yang sampai sekarang menjadi landasan dari banyak gereja 'modern' dan pandangan hidup post-modernisme. Dalam teologia yang serba relatif ini, tetap saja kemutlakan otoritas Allah diragukan, baik dalam kebenaran mutlak yang disampaikan Alkitab maupun kemutlakan keselamatan hanya melalui Tuhan Yesus Kristus.

Dalam semua rangkaian peristiwa ini, tidak ada satu perbuatan mereka yang dapat dikatakan buruk, tidak terhormat, atau menyimpang. Teolog-teolog besar seperti Karl Barth dan Friedrich Schleiermacher adalah orang yang patut dihormati dan dikagumi, dalam ketekunannya, dalam kegigihannya, dan dalam kerendah-hatiannya. Dalam banyak hal, keseriusan mereka untuk menunjukkan "kebenaran" tidak dapat ditandingi oleh teolog lain jaman sekarang. Siapa yang mampu menulis analisa yang begitu kuat dan mendalam seperti Karl Barth dalam bukunya, "Church Dogmatics" yang terdiri dari 13 volume, dan disebut magnum opus oleh para teolog sedunia?

Tetapi, ketika orang tidak mengikuti dengan tepat apa yang Tuhan tetapkan sebagai "baik" atau "buruk", ia melanggar, ia berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Kita semua sudah mati di dalam pelanggaran dan dosa-dosa kita -- saat kita berbuat "buruk" maupun saat kita berbuat "baik" dalam pandangan kita sendiri. Kita tidak mengikuti apa yang menjadi pemikiran Allah, melainkan memikirkan apa yang diarahkan oleh penguasa kerajaan angkasa, yang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka.

Menarik untuk merenungkan istilah yang digunakan Rasul Paulus: "kerajaan angkasa", dalam bahasa aslinya "exousias tou haesos" atau "kekuatan angin". Ini adalah kekuatan yang tidak nampak, seperti angin yang berhembus, yang bisa dirasakan namun tidak terlihat. Kekuatan ini mampu menghancurkan, tetapi tidak ada yang bisa memahami dengan persis bagaimana mulanya -- bahkan sampai sekarang pun orang-orang berusaha keras untuk mengerti bagaimana angin topan terjadi. Angin membawa rasa senang dan malas, angin juga membawa kemusnahan yang mengerikan. Angin mendatangkan keuntungan, tetapi kemudian menghancurkan.

Kekuatan dari hawa nafsu manusia bersifat seperti angin -- tidak nampak mulainya, tetapi nyata akibatnya. Dalam satu sisi kita membutuhkannya, seperti nafsu makan, atau hasrat untuk membuat keturunan. Kita memiliki hasrat untuk berkembang, dan di dalamnya ada pemahaman bahwa diri kita ini baik, positif, dan mempunyai kehendak bebas. Bukankah itu yang membuat kita menjadi manusia -- sekalipun adalah manusia berdosa? Tetapi semua hasrat ini membawa bencana -- hasrat berkembang yang positif dan nilai diri yang tinggi membuat bangsa Jerman mengobarkan perang dunia yang mengerikan.

Mereka yang tidak berada dalam Tuhan, melakukan pelanggaran bukan karena memilih yang buruk dari yang baik, melainkan karena membuat pilihannya sendiri. Tetapi, kini manusia telah memakan buah itu, telah membuat sendiri pilihan yang baik dan buruk. Tuhan tidak mengubah keadaan itu, sekalipun kita telah diselamatkan-Nya. TUHAN memberikan kehidupan yang baru -- dan dari puing-puing, Ia menghidupkan kita kembali... (bersambung)

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Tidak ada komentar: