Ef 2:11-13 Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu--sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya "sunat", yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, -- bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus.
Kata-kata kepada jemaat Efesus bukan hanya berlaku bagi mereka saja, melainkan bagi kita juga -- yaitu orang-orang bukan Yahudi menurut daging. Ngomong-ngomong, seperti apa sih hebatnya orang-orang Yahudi? Bukankah mereka dikenal juga sebagai orang-orang yang tertutup, yang dicurigai, yang tidak disukai? Reaksi negatif terhadap orang-orang Yahudi telah lama terjadi, sampai menjadi gerakan anti semit yang memuncak pada holocaust di perang dunia kedua. Walaupun umat manusia banyak berhutang kepada orang-orang Yahudi -- mereka menjadi penemu terobosan ilmiah, menjadi pengusaha sukses yang membangun berbagai institusi yang membangun dunia -- posisi orang Yahudi tetap tidak dihormati, tidak jarang menjadi objek lelucon miring di kala senggang. Di Indonesia, apapun yang berbau "Israel" dianggap haram.
Satu hal yang benar tentang orang Yahudi, adalah bahwa benar mereka sungguh-sungguh menjaga garis keturunan, atau bisa disebut juga orang Yahudi menurut daging. Satu perbedaan yang besar adalah mereka menamakan dirinya "sunat" sedang semua bangsa lain tidak bersunat. Sekarang praktek sunat dilakukan oleh berbagai bangsa dan agama, tapi tetap saja tidak sama dengan sunat yang dilakukan orang Yahudi. Sunat lahiriah yang dikerjakan tangan manusia itu mempunyai standar prosedur yang khas dan tidak dapat digantikan. Bagi orang Israel, sunat adalah tanda dari perjanjian yang sangat penting, yang sangat mereka banggakan, yaitu sebagai anak-anak Abraham, Ishak, dan Yakub. Ini adalah Perjanjian yang memastikan keselamatan kekal, selama orang Israel mematuhi Hukum yang Allah berikan.
Perbedaan besarnya dengan bangsa lain: walaupun bangsa lain memenuhi ritual hukum Taurat, jika mereka tidak menjadi Yahudi dan tidak disunat dengan cara Yahudi, maka tidak ada keselamatan. Bangsa lain, agama lain, sekalipun mereka melakukan hal-hal seperti yang dilakukan orang Yahudi, tetapi Perjanjian itu tidak berlaku. Mereka yang tidak disunat, tidak termasuk kewargaan Israel. Ibaratnya, Perjanjian adalah fasilitas yang disediakan sebuah Kerajaan bagi rakyatnya, jika seseorang bukan warga dari Kerajaan itu maka fasilitas tidak tersedia baginya, bukan? Warga Indonesia tidak bisa memperoleh apa yang menjadi hak warga Amerika, demikian pula sebaliknya. Perjanjian yang mengikat warga Indonesia dengan Negara Indonesia bersifat khas dan khusus. Begitu juga Perjanjian sebagai umat pilihan Allah.
Namun bahkan di dalam Perjanjian, manusia mati karena dosa-dosanya, dan oleh kasih karunia mendapatkan keselamatan melalui iman. Itu bukan hasil usaha manusia, tidak ada seorang pun yang dapat membanggakan diri. Jika Perjanjian Lama mensyaratkan adanya hubungan darah serta perilaku yang sesuai Hukum Allah, kenyataannya tidak ada perbuatan manusia yang cukup baik dan konsisten serta seluruhnya mengikuti Hukum -- malah sebaliknya, Hukum itu menyatakan bahwa manusia yang bersalah dan patut dihukum mati. Perjanjian Baru yang dibuat tidak mensyaratkan perilaku "mengikuti Hukum" untuk selamat, melainkan percaya kepada Kristus. Pekerjaan melakukan perbuatan baik sesuai dengan yang Allah persiapkan sebelumnya adalah respon, atau jawaban, atas keselamatan dan hidup baru yang Tuhan telah berikan.
Kalau perbuatan tidak lagi menjadi persyaratan, maka hubungan darah dan daging, yang mendefinisikan siapa yang melakukan, juga tidak lagi berlaku. Hal yang mempersatukan orang-orang adalah kepercayaan kepada Tuhan, sehingga kita dipersatukan dengan Abraham, Ishak, Yakub, orang Yahudi yang percaya, serta segala orang percaya lain di bumi, di segala abad dan tempat, oleh pengakuan iman yang sama. Ketika dipersatukan dalam iman, maka tidak ada lagi yang "jauh", karena darah Kristus telah membawa kita semua sama-sama ke dalam diri-Nya, bersatu pada-Nya sebagai anggota tubuh di mana Kristus adalah Kepala.
Sayangnya, orang masih melihat warna kulit, suku bangsa dan kebudayaan, serta golongan. Jika gereja dibuat mengikuti suku-suku untuk mempermudah dan menajamkan Injil serta pengajaran dan pertumbuhan jemaat, itu adalah hal baik. Tetapi ketika kita mulai melihat "gereja saya" lebih superior karena diisi oleh orang-orang dari suku tertentu, sedang orang lain adalah inferior -- itu adalah saat di mana kita harus mengingat bahwa tidak ada manusia yang lebih tinggi dibanding manusia lain di hadapan TUHAN. Tidak ada lagi yang jauh, tidak ada lagi yang lebih rendah, karena kita semua telah sama-sama menerima anugerah.
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Namun bahkan di dalam Perjanjian, manusia mati karena dosa-dosanya, dan oleh kasih karunia mendapatkan keselamatan melalui iman. Itu bukan hasil usaha manusia, tidak ada seorang pun yang dapat membanggakan diri. Jika Perjanjian Lama mensyaratkan adanya hubungan darah serta perilaku yang sesuai Hukum Allah, kenyataannya tidak ada perbuatan manusia yang cukup baik dan konsisten serta seluruhnya mengikuti Hukum -- malah sebaliknya, Hukum itu menyatakan bahwa manusia yang bersalah dan patut dihukum mati. Perjanjian Baru yang dibuat tidak mensyaratkan perilaku "mengikuti Hukum" untuk selamat, melainkan percaya kepada Kristus. Pekerjaan melakukan perbuatan baik sesuai dengan yang Allah persiapkan sebelumnya adalah respon, atau jawaban, atas keselamatan dan hidup baru yang Tuhan telah berikan.
Kalau perbuatan tidak lagi menjadi persyaratan, maka hubungan darah dan daging, yang mendefinisikan siapa yang melakukan, juga tidak lagi berlaku. Hal yang mempersatukan orang-orang adalah kepercayaan kepada Tuhan, sehingga kita dipersatukan dengan Abraham, Ishak, Yakub, orang Yahudi yang percaya, serta segala orang percaya lain di bumi, di segala abad dan tempat, oleh pengakuan iman yang sama. Ketika dipersatukan dalam iman, maka tidak ada lagi yang "jauh", karena darah Kristus telah membawa kita semua sama-sama ke dalam diri-Nya, bersatu pada-Nya sebagai anggota tubuh di mana Kristus adalah Kepala.
Sayangnya, orang masih melihat warna kulit, suku bangsa dan kebudayaan, serta golongan. Jika gereja dibuat mengikuti suku-suku untuk mempermudah dan menajamkan Injil serta pengajaran dan pertumbuhan jemaat, itu adalah hal baik. Tetapi ketika kita mulai melihat "gereja saya" lebih superior karena diisi oleh orang-orang dari suku tertentu, sedang orang lain adalah inferior -- itu adalah saat di mana kita harus mengingat bahwa tidak ada manusia yang lebih tinggi dibanding manusia lain di hadapan TUHAN. Tidak ada lagi yang jauh, tidak ada lagi yang lebih rendah, karena kita semua telah sama-sama menerima anugerah.
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Tidak ada komentar:
Posting Komentar