Jumat, 14 Januari 2011

Renungan Sehari - 14 Januari 2011

Ef 2:8-9 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.

Paling enak menepuk dada sendiri. Manusia mempunyai kebutuhan untuk menyatakan dirinya sebagai orang yang berarti, mempunyai posisi dan pengaruh, serta berkuasa dalam suatu area di kehidupannya. Karena itu, ketika kita melihat sosok khayalan Tarzan yang menepuk dada sambil berteriak a-u-o, kita memahaminya dengan baik. Sekalipun kita tidak sebarbar Tarzan yang mengenakan cawat dan bergelantungan di pohon dalam rimba, namun kita mengerti maksud gerak geriknya -- bahkan menyukainya.

Beberapa orang lain tidak merasa cakap untuk menepuk dada sendiri, sehingga mengharapkan orang lain yang menepuk bahu mereka. Kebutuhan akan pengakuan diri tidak bisa dipenuhi oleh dirinya sendiri, melainkan bergantung kepada respon dari orang lain -- biasanya karena mereka sejak kecil diajarkan untuk bersikap "rendah hati" dan jangan menonjolkan diri. Ajaran itu baik, tetapi tidak menghilangkan kebutuhan yang manusiawi ini.

Mengapa orang menginginkan arti dalam hidupnya? Di satu sisi, ada kemampuan yang manusia bangun sejak masa kecilnya. Kita semua belajar merangkak, berjalan, dan berlari serta membangun kekuatan fisik. Kita belajar mengasah dan mengisi otak kita, dan perlahan-lahan kita menyadari bahwa kita mengerti dan bisa menyelesaikan berbagai tugas dari yang sederhana sampai yang rumit. Di sisi lain, kita belajar untuk menerima penghargaan atas keberhasilan-keberhasilan yang kita lakukan. Ketika kita berhasil berjalan, orang tua kita tertawa dan bertepuk tangan. Ketika kita menjadi juara kelas, orang tua kita begitu bangga dan mau membelikan hadiah yang kita sukai. Sebaliknya, jika kita cacat, atau gagal melakukan sesuatu, gagal mencapai sesuatu, kita merasa malu. Kalau keluarga kita tidak sebaik kelihatannya, kita merasa rendah diri.

Seringkali, kita berusaha untuk mencari pengalihan atas kegagalan kita. Kita menyalahkan orang lain, supaya kita sendiri nampak lebih baik. Ini adalah permainan orang yang kalah: upaya dilakukan bukan untuk jadi pemenang yang paling baik, melainkan agar jangan jadi yang paling buruk. Kesulitan hidup menjadi semakin berat ketika masalah datang bertubi-tubi, sampai akhirnya tidak ada lagi yang bisa kita tunjuk -- akhirnya sebagai orang yang kalah kita pergi dan menghilang dari komunitas lama, berupaya untuk "hidup baru" dalam komunitas yang baru, di mana pola yang sama berulang kembali.

Bagaimana dengan akhir dari hidup kita? Ketika permainannya adalah permainan orang kalah, yang mereka menghendaki agar kematian menjadi akhir final di mana semuanya berlalu, selesai, tidak ada lagi. Tetapi, siapa yang tidak dapat memahami bahwa alam semesta ini diciptakan, dan ada TUHAN Sang Pencipta yang tidakmemainkan permainan orang kalah? Sebaliknya, Tuhan menuntut pertanggung jawaban dari manusia yang pernah hidup di atas muka bumi. Kita dahulu telah mati, dan kemudian dibangkitkan kembali di dalam Kristus Yesus karena kita percaya pada-Nya. Orang-orang lain pun akan dibangkitkan, tetapi mereka harus berhadapan sendiri dengan TUHAN. Orang kalah harus menerima konsekuensinya -- kebinasaan.

Manusia berusaha dengan kekuatan dan kemampuannya sendiri untuk menjadi cukup baik di hadapan TUHAN, melalui ritual dan aturan agama. Bukankah mereka mempercayai bahwa aturan agama diturunkan langsung dari TUHAN? Tetapi, karena orang menginginkan Tuhan menurut kepentingan mereka sendiri, maka mereka juga menuntut "keadilan" Tuhan menurut versi manusia. Banyak orang berpikir bisa "menyiasati" Tuhan dengan melakukan amal sedekah dan perbuatan "sosial" serta memberi persembahan, sambil tetap memelihara karakter yang buruk yang disukainya. Bukan perbuatan "buruk" saja yang menjatuhkan manusia, tapi juga banyak perbuatan "baik" menurut manusia sendiri. Entah bagaimana, banyak orang benar-benar berharap Tuhan mau menurunkan standar-Nya mengikuti standar manusia yang "masuk akal" tanpa benar-benar tahu kebenaran.

Begitulah, orang-orang mengusahakan keselamatannya, yaitu selamat dari hari di mana mereka harus bertanggung jawab kepada TUHAN. Orang mengusahakannya persis seperti segala sesuatu di atas muka bumi, yaitu kesuksesan tergantung pada diri kita sendiri. Lantas orang berpikir, kalau sekarang ini sukses membangun gedung tempat ibadah -- apapun namanya -- tentu itu suatu pahala yang diperhitungkan besar untuk keselamatan jiwa. Bisakah kita menganggap apa yang kita lakukan benar-benar berarti bagi TUHAN, tanpa mengetahui kebenaran dan apa yang dikehendaki-Nya?

Tidak ada orang yang dapat selamat oleh karena perbuatannya, karena setiap perbuatan adalah buah dari pikiran, dan setiap pikiran adalah buah dari pengetahuan yang baik dan jahat -- justru pengetahuan itulah yang mematikan umat manusia. Kemampuan untuk menentukan apa yang baik dan jahat, yaitu kemampuan yang mendefinisikan kemanusiaan -- itulah yang menjadi dosa asali manusia dan memisahkan dengan Tuhan.

Karena itu, keselamatan adalah kasih karunia dan oleh iman saja orang memperoleh keselamatan. Dalam segala hal yang dapat dipilih oleh manusia, dari semua hal yang dapat dikerjakan orang, beriman berarti memilih untuk tidak menentukan, berperilaku tidak berusaha sendiri. Maka, tidak ada satupun kemegahan manusia atas keselamatannya, karena dalam beriman ia mengaku bahwa segala sesuatu terjadi sebagai hasil karya Allah, pekerjaan Allah. Jika kita bisa mengerjakan sesuatu dan menyelesaikan sesuatu, itu adalah anugerah bagi kita untuk boleh ambil bagian dalam pekerjaan-Nya. Sekali lagi, tidak ada kemegahan yang dapat kita terima. Kita tidak boleh menepuk dada. Kita tidak pantas menerima tepukan di bahu.

Kita tidak dapat melakukan sesuatu yang benar hanya berdasarkan apa yang baik dalam pikiran kita sendiri. Tuhan Yesus sendiri mengatakan, untuk mengikuti-Nya kita harus menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti-Nya setiap hari. Kita juga tidak boleh mengharapkan tepukan bahu dari orang dekat, termasuk ayah, ibu, suami atau istri, atau mertua, atau atasan -- Yesus mengatakan, orang yang tidak membenci mereka, tidak layak mengikuti-Nya. Bukan benci dalam pengertian relasi, melainkan menempatkan "tepukan bahu" dari orang-orang yang kita cintai lebih dari persetujuan dari Tuhan.

Keselamatan kita peroleh karena dengan sadar kita paham bahwa kita sudah mati langkah, dan kini kita sepenuhnya bergantung, sepenuhnya mempercayai Yesus. Dalam hal ini tidak berlaku hukum tabur-tuai, seperti yang dipahami manusia berlaku dalam hal-hal lainnya. Kita tidak dapat menabur kebaikan, jika hal itu berasal dari diri kita sendiri, dan berharap bisa menuai keselamatan. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk memperoleh kasih karunia.

Sebaliknya, ketika kita telah memperoleh kasih karunia, ada banyak hal yang dapat kita lakukan, banyak hal yang dapat ditabur untuk kelak dituai. Setelah kita diselamatkan, ada banyak aspek yang bisa disentuh dalam hidup, banyak pilihan untuk dilakukan. Jangan ada orang yang memegahkan diri; semuanya adalah pemberian Allah.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Tidak ada komentar: