Ef 2:10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.
"Untuk apa saya hidup dan beraktivitas di dunia?" adalah pertanyaan filosofis yang sudah kuno sekali. Ada yang menjawab, untuk bertahan hidup dan meneruskan manusia -- sama seperti segala mahluk lainnya yang ada dan beranak-pinak tanpa bertanya mengapa mereka ada. Namun kepada orang yang ingin mempersamakan manusia dengan segala mahluk lainnya, kita dengan cepat bisa menunjukkan bahwa manusia mampu berpikir dan bertanya seperti itu, artinya manusia berbeda dari mahluk lainnya -- dan menambah rumit pertanyaannya, "untuk apa saya, yang mampu berpikir dan bertanya seperti ini, hidup dan beraktivitas di dunia?"
Jawaban yang lebih cepat adalah untuk dapat menikmati hidup. Bukankah alam semesta ini ada untuk dinikmati? Tetapi, jawaban ini pun tidak bisa menjelaskan alasan keberadaan manusia, apalagi mengingat kenyataan bahwa di bawah kolong langit ini manusia adalah mahluk yang paling hebat merusak bumi beserta isinya. Ketika manusia mengejar kenikmatannya, tidak ada batasan untuk memuaskan hawa nafsu dan keserakahan. Mahluk lain yang memangsa mahluk hidup lain -- disebut karnivora -- membunuh dan memakan buruannya sampai habis, baru berburu lagi. Manusia membantai banyak sekali mahluk lain untuk diambil sebagian tubuhnya, kemudian membuang sisanya -- hanya untuk menikmati hidup. Jika alasan keberadaan adalah untuk memuaskan manusia, maka siapakah atau apakah manusia itu sehingga ada secara demikian? Tidakkah manusia menjadi sejenis kanker, penyimpangan alam, menjadi sel-sel ganas yang menghancurkan bumi beserta isinya?
Pemahaman tentang keberadaan manusia di bumi tidak dapat dipahami diluar dari hubungan manusia dengan Allah. Ketika manusia terputus dari Allah yang hidup, manusia mati -- dan apapun yang mati kehilangan makna, tidak lagi punya arti. Manusia berusaha mencari arti bagi dirinya sendiri, berjuang untuk meraih kekuasaan, berusaha keras untuk mempunyai pengaruh paling besar, paling hebat, paling dikagumi semua orang -- tetapi pada akhirnya semua itu di dalam realita tidak berarti baginya. Kekaguman orang lain tidak dapat mengubah hari-hari yang suram menjadi penuh sukacita, bukan?
Tahukah cerita tentang seorang raja yang memperhatikan rakyatnya? Ia dikagumi rakyatnya, semua tunduk memuji sang raja yang disebut bijaksana serta murah hati. Sang raja berpikir bahwa ia mempunyai hidup yang penuh arti, namanya akan terus dikenang orang sebagai raja yang penuh kharisma. Pada suatu hari, datanglah seorang pandai bijaksana dari seberang lautan, yang dijamu dengan mewah oleh raja yang ingin belajar sesuatu. Tentu saja, sang raja ingin memamerkan kemurahan hatinya dan puji-pujian yang diberikan oleh rakyatnya. Dalam pesta perjamuan itu, sang raja memanggil beberapa juru kebun istana, dimulai dari orang yang paling muda. Kepadanya raja mengucapkan terima kasih untuk kebun yang indah, lalu memberikan hadiah 100 keping uang perak. Langsung saja, tukang kebun yang masih muda itu mengucapkan banyak terima kasih dan menyembah sampai jidatnya menyentuh lantai.
"Nah, mereka memang benar-benar rakyat yang senang, bukan?" kata raja kepada orang pandai bijaksana. Datanglah tukang kebun yang kedua, raja mengucapkan terima kasih dan memberi hadiah yang sama, dan kembali memperoleh senyum lebar dan sembah sampai jidat menyentuh tanah. Tapi, si orang pandai bijaksana diam saja. Setelah beberapa saat, baru ia berkata-kata.
"Tuanku raja, bukankah masih ada seorang tukang kebun lagi, yang paling tua? Ia sudah tidak butuh 100 keping uang perak. Bagaimana kalau saya ambil 1 keping saja darinya?" tanya si pandai bijaksana. Raja pun mengangguk dan menyetujuinya. 99 keping uang perak masih banyak, bukan?
Tukang kebun yang paling tua datang, mendapatkan ucapan terima kasih dan hadiah dari raja, ia pun tersenyum lebar dan menyentuhkan jidatnya ke tanah. "Nah," kata si raja dengan puas, "diapun senang, bukan?"
Jadi, mereka memulai perjamuan makan itu sambil menikmati tari-tarian dan nyanyian dari istana raja. Di akhir acara, tiba-tiba datanglah tukang kebun yang paling tua. Kali ini, wajahnya tidak seceria sebelumnya. Ia sudah keriput, tetapi kerut-kerutnya nampak lebih jelas. Ia menyembah dari jauh, mohon untuk bicara kepada sang raja.
"Ya tuanku raja... mohon ampun, hamba memberanikan diri untuk bertanya. Mengapa hamba hanya menerima 99 keping uang perak, sedangkan semua orang yang lebih muda mendapatkan 100 keping?" -- tak urung, semua bisa mendengar nada menuduh dalam pertanyaannya. Ini adalah pengungkapan ketidakpuasan, perasaan mendapat ketidak-adilan. Bagaimana ini, raja telah bertindak tidak adil! Bukan raja yang baik seperti biasanya! Sang raja termenung mendengarkan pertanyaan ini, tak bisa menjawabnya. Orang pandai bijaksana itu memberikan sekeping uang perak kepada raja, "tuanku raja, rupanya kebaikan hati tuanku tidak lebih dari sekeping uang perak saja nilainya."
Manusia tidak dapat memperoleh jawaban atas arti hidupnya dari manusia lain. Seorang raja disukai atau ditakuti, bukan karena keberadaannya sebagai manusia melainkan karena kekuasaannya sebagai raja. Tetapi kedudukan raja itu tidak memberikan arti bagi hidupnya -- ia akan berakhir sama seperti manusia lainnya, mendapatkan kesenangan dan kesusahan sama seperti orang lainnya, hanya dalam bentuk yang berbeda. Orang-orang berusaha membuat perbedaan dengan memberikan penghormatan dan perlakuan yang berbeda, tetapi semua itu tidak mengubah apa yang dapat dinikmati oleh sang raja, lebih dari yang lainnya. Dan ketika sang raja tidak berhasil membuat senang semua orang, maka ada saja ketidakpuasan yang hadir, walaupun mungkin tidak dengan terang-terangan diungkapkan di hadapannya.
Keberadaan manusia hanya bisa dipahami melalui pengertian mendasar, bahwa Allah menciptakan manusia dengan tujuan-Nya. Jawaban dari "Untuk apa saya hidup dan beraktivitas di dunia?" yang paling tepat adalah "memenuhi maksud Allah yang menciptakan." Ini adalah hakekat dasar dari penciptaan, yaitu sesuatu diciptakan dengan tujuan penciptanya, apapun itu. Dengan pemahaman ini, maka arti hidup seseorang dinilai dan diberikan oleh TUHAN, Allah semesta alam. Dalam pandangan-Nya dan penilaian-Nya, hidup bisa disebut "berarti" atau "tidak berarti". Dalam konteks penciptaan pula, kehidupan manusia bisa diumpamakan dengan tanah liat di tangan tukang periuk. Apa yang berarti dipelihara dan diolah sampai akhirnya menjadi sesuatu yang mempunyai nilai di mata si tukang periuk. Apa yang tidak berarti karena rusak, dihancurkannya, kemudian dibentuk ulang. Si tukang periuk mempunyai standar mengenai apa yang baik, yang berarti pada benda yang diciptakannya. Allah juga mempunyai standar mengenai apa yang baik pada manusia yang diciptakan-Nya.
Allah menciptakan kita di dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik. Pahamilah: pekerjaan baik ini bukan untuk memperoleh keselamatan, atau untuk mendapatkan damai sejahtera dengan Allah. Itu semua sudah diberikan-Nya dalam Kristus Yesus sebagai kasih karunia. Pekerjaan baik ini dilakukan sebagai respon terhadap kasih karunia, suatu kehidupan yang dilakukan untuk memenuhi kehendak Allah yang menghidupkan. Dalam hal inipun berlaku kasih karunia: TUHAN sudah mempersiapkan pekerjaan baik untuk dilakukan umat-Nya.
Paling sedikit ada tiga hal yang Allah persiapkan untuk pekerjaan baik ini. Yang pertama-tama, Ia memberikan kesanggupan untuk bekerja bagi anak-anak-Nya. Tanpa kesanggupan, tidak ada yang dapat dikerjakan dari segala hal yang muncul dalam kehidupan manusia. Manusia diberi kemampuan untuk berpikir, merancang, dan menciptakan segala hal melalui teknologi dan rekayasa. Kemampuan itulah yang membedakan manusia dari mahluk lain di atas muka bumi ini.
Yang kedua, TUHAN memberikan peralatan dan kesempatan untuk melakukannya. Orang membutuhkan modal, mesin, dan material untuk bekerja. Orang perlu mengikuti metode dan membutuhkan manusia lain sebagai 'pengungkit' sehingga mampu mencapai apa yang tidak bisa diusahakan sendiri. TUHAN bukan hanya menyediakan bahan baku, Ia juga memberikan orang-orang, ide-ide, dan keterampilan untuk mengerjakannya.
Yang ketiga, TUHAN memberikan pembeli, memberi objek bagi anak-anak-Nya untuk bekerja. Ada ladang yang diberikan-Nya untuk dikerjakan, mulai dari disemai, dibersihkan, sampai dituai. Ada kesempatan-kesempatan untuk kita lakukan, di mana kita bisa membuat perbedaan, dan disanalah kehidupan kita jadi mempunyai arti.
TUHAN menginginkan agar kita hidup di dalam kehidupan yang diberikan-Nya, dalam pekerjaan yang telah dipersiapkan-Nya. Dia tidak memberikan hidup yang mudah atau gampangan, tapi pasti memberi hidup yang sungguh-sungguh bernilai. Panggilan-Nya adalah untuk hidup dalam jalan dan tujuan yang telah ditetapkan-Nya, jika saja kita mau hidup mengikuti kehendak TUHAN. Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Tidak ada komentar:
Posting Komentar