Ef 1:13-14 Di dalam Dia kamu juga--karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu--di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.
Dunia ini seperti bak sampah raksasa. Di hadapan TUHAN yang sempurna, kematian manusia oleh dosa membawa seluruh ciptaan jatuh dalam kutuk -- seperti yang dinyatakan Allah, "terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu;" -- bumi tidak lagi baik seperti yang diciptakan-Nya. Manusia yang terpisah dari Allah -- mengalami kematian -- berkembang biak dan mengisi bumi dengan kejahatan. Bahkan setelah dihancurkan oleh air bah pun, keturunan manusia yang "lebih baik" tetap melakukan kejahatan. Tidak ada seorangpun yang berbuat cukup baik dalam pandangan-Nya, termasuk mereka yang ditetapkan-Nya untuk menjadi milik-Nya.
Dengan keadaan manusia yang mati, bagaimanakah seseorang dapat berada di dalam Kristus? Manusia memiliki akal budi dan pikirannya sendiri, membuat rencana dan rancangannya sendiri, yang jauh dari rancangan Allah. Jika Allah di dalam kasih karunia-Nya berkenan mengampuni dosa-dosa manusia, hal itu tidak sama dengan perubahan manusia secara mendasar. Kepada bangsa Israel, Allah membuat Perjanjian termasuk jalan untuk pengampunan dosa -- yaitu melalui korban penebus dosa. Perjanjian itu memberi keselamatan terbatas bagi orang Israel yang memenuhi hukum Perjanjian, sekaligus menegaskan kesalahan manusia saat mereka tidak mampu memenuhi seluruh hukum. Orang Israel memperoleh jalan untuk selamat, tetapi mereka tidak memiliki kemampuan untuk menjalaninya.
Pengalaman kita sendiri menunjukkan bagaimana pengampunan dengan perubahan bukan hal yang berjalan bersama-sama. Pernahkah kita menemukan seseorang berbuat salah kepada kita? Kadang-kadang, ada orang yang tidak sengaja, atau tidak dengan kesadaran sepenuhnya, melakukan sesuatu yang merugikan diri kita. Di dalam Tuhan, kita memberikan pengampunan, menerima permintaan maafnya, dan hubungan kita dengan orang itu dipulihkan. Tetapi, kadang-kadang kita juga menemukan orang yang memiliki karakter yang buruk, sifat yang egois, mau menang sendiri, serakah, manipulatif, dan merugikan orang lain. Ketika orang ini membuat kita rugi, kita tentu dapat memaafkannya, dan harus memaafkannya lagi, dan lagi, dan lagi -- sampai habis kesabaran kita. Pengampunan yang kita berikan tidak mengubah orang itu secara mendasar; pada akhirnya kita akan menjauhkan diri dari orang semacam itu.
Bagaimana jika kitalah orang yang memiliki karakter yang buruk itu? Kitalah yang egois, mau menang sendiri, serakah, manipulatif, dan merugikan orang lain... di mata Tuhan, apa yang cukup baik telah kita lakukan? Dia memberikan pengampunan, tetapi pengampunan saja tidak mengubah umat pilihan-Nya. Bahkan TUHAN sendiri harus melakukan pemurnian, seperti terhadap bangsa Israel yang 40 tahun berputar-putar di padang gurun, sampai semua orang yang lahir di Mesir mati kecuali Yosua dan Kaleb. Pengampunan dosa dalam Perjanjian Lama menunjukkan bahwa dosa harus ditebus darah, dan bagaimana orang Israel yang berdosa harus dihukum dengan keras -- dibuang, dicerai-beraikan, dipatahkan -- sampai ada generasi baru yang menggantikan dan meneruskan Perjanjian itu.
Di dalam Kristus, Perjanjian Lama digenapi. Kepada orang-orang yang berdosa, yang berada dalam tempat sampah raksasa ini, TUHAN memberikan Firman Kebenaran -- "logon tes aletheias". Secara harafiah, artinya adalah pengetahuan sejati atas kebenaran. Orang yang dipilih-Nya mendapatkan tiga hal: yang pertama, mereka bertemu utusan yang membawa berita baik tentang keselamatan, atau Injil keselamatan. Yang kedua, mereka mendengar tentang Kebenaran, suatu pengungkapan tentang keadaan sejati yang terjadi antara Allah dan manusia dalam Kristus. Yang ketiga, mereka mendapat kesanggupan untuk menerima Firman Kebenaran, yaitu kesanggupan untuk berada di dalam Kristus. Ujian dari kebenaran adalah kenyataan dari segala pengungkapan, yang harus seluruhnya terpenuhi -- ini adalah ujian yang sudah berlaku sejak pertama Allah memberikan Firman-Nya, bagaimana para nabi harus menyampaikan segala perkataan dengan tepat dan orang-orang melihat bahwa setiap pengungkapan nabi itu dipenuhi seluruhnya. Demikian juga orang yang membawa Firman Kebenaran harus menyampaikan dengan tepat, dan yang mendengarnya pun harus memahami dengan tepat. Sedikit saja penyimpangan membuat Kebenaran runtuh.
Tuntutan ketepatan yang setinggi itu mustahil dipenuhi oleh manusia di dalam dunia -- sama mustahilnya untuk membuat sebuah tempat yang suci hama di tengah-tengah bak sampah yang penuh kebusukan. Manusia saja, sekalipun dalam satu waktu mau bertobat dan berubah, dapat kembali jatuh dalam kesesatan. Mereka malah menjadi lebih buruk daripada sebelumnya, karena sekarang manusia mencampurkan apa yang sungguh-sungguh benar dengan yang sesat -- dan siapa yang bisa mengetahui mana yang benar dan mana yang palsu?
Renungkanlah: dalam hal ini manusia yang ditetapkan TUHAN menerima tanda, sekaligus kesanggupan untuk menjadi anak-anak Allah. TUHAN memberikan Roh Kudus sebagai meterai, yaitu tanda yang tidak dapat dicabut atau digantikan, yang telah dijanjikan-Nya. Roh Kudus menjadi pembawa Firman Kebenaran di dalam hidup kita, melalui Allah Roh Kudus kita memperoleh pengetahuan sejati atas kebenaran serta kemampuan untuk bertindak sesuai dengan kebenaran -- kita mendapat kemampuan untuk mengenal TUHAN, serta mengetahui apa yang menjadi kehendak-Nya.
Jadi, kalau selama ini kita berpikir bahwa Roh Kudus hanya berperan untuk memberikan karunia Roh, atau untuk menjagai perjalanan kita, atau untuk menyuruh kita melakukan ini dan itu -- sekarang kita perlu merenungkan hal ini lebih mendalam. Roh Kudus memang melakukan hal-hal itu, tetapi hal yang paling esensial dari Roh Kudus adalah perubahan mendasar yang dibawa-Nya ketika kita mendapatkan kebenaran sejati mengenai TUHAN serta segala hal yang diajarkan oleh Tuhan Yesus Kristus. Perubahan inilah yang disebutkan sebagai "lahir baru" oleh Yesus kepada Nikodemus -- "sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." Perubahan mengangkat kita dari keadaan sebagai "sampah" di tempat sampah, menjadi anak yang dikasihi Tuhan. Itulah mujizat yang terbesar, yang tidak terlihat oleh mata atau terdengar oleh telinga, namun sangat nyata di dalam kehidupan.
Keberadaan Roh Kudus sebagai meterai menjadi suatu hal yang tetap dan pasti dalam hidup anak-anak Tuhan. Tidak ada keraguan mengenai meterai, karena hanya ada dua kemungkinan: meterai itu ada di sana, atau tidak ada di sana. Ada orang yang disertai Roh Kudus, yaitu mereka yang mendapatkan jaminan atas bagian yang dijanjikan, dan ada orang lain yang tidak disertai Roh Kudus, yaitu orang-orang yang tidak pernah menjadi milik Allah. Roh Kudus tidak datang dan pergi untuk datang kembali -- seperti beberapa doa yang memohon-mohon Roh Kudus untuk datang kembali. Jika oleh suatu sebab, orang itu menolak Roh Kudus yang telah dimeteraikan baginya sehingga Roh Kudus meninggalkannya, tidak ada cara untuk mengembalikan-Nya. Dosa menghujat Roh Kudus tidak dapat diampuni, karena ia melakukan dosa kekal.
Ketika orang menerima penebusan sebagai karya Kristus, ia belum dapat menerima seluruh kebenaran. Manusia membutuhkan waktu untuk belajar, termasuk mempelajari mengenai Firman Kebenaran. Jika suatu kebenaran belum kita pahami, maka tidak mungkin kita dapat dengan pasti berperilaku sesuai kebenaran itu. Roh Kudus terus menerus mendampingi dan mengajar, dan Firman Tuhan dituliskan oleh orang-orang yang berada dalam Kristus, seiring dengan nafas Allah, menjadi dokumen yang menyatakan kebenaran. Nubuat sejati tidak pernah dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah. Karena itu, nubuat-nubuat dalam Alkitab tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri.
Proses ini berjalan sepanjang kehidupan manusia, sampai kita memperoleh seluruh penebusan, mengalami seluruh perubahan yang harus terjadi atas kita. Demikianlah kita sepenuhnya menjadi milik TUHAN, sepenuhnya memuji kemuliaan-Nya. Kita kembali menjadi ciptaan milik-Nya, di mana kehidupan yang sempurna adalah kehidupan yang selaras dengan maksud dan kehendak TUHAN yang menciptakan. Ketika kita memuji kemuliaan Tuhan, kita memuji segala hal yang bernilai tinggi di dalam-Nya, mengangkat tinggi segala aspek dalam Tuhan, sebagai bagian utama dari hidup kita sendiri yang telah menjadi anak-anak-Nya.
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Jumat, 07 Januari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar