Ef 1:18-21 Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang.
Di dalam TUHAN, ada kehidupan yang berbeda. Namun perbedaan itu tidak dapat segera dipahami oleh manusia, sekalipun mereka telah mengaku percaya dan menjadi anak-anak Tuhan. Orang harus belajar untuk melihat melampaui apa yang terlihat, memandang ke kedalaman, melihat dengan hati, bukan hanya mata jasmani. Mata jasmani kita mempunyai tuntutan keinginannya: ingin melihat tempat yang indah, orang yang cantik atau tampan, benda-benda yang mempesona, dan jaman sekarang juga ingin menyaksikan video yang menyenangkan dan menggugah pikiran untuk tertawa, terharu, atau tegang. Seluruhnya adalah rangkaian gambar dan suara yang ada dan ditimbulkan, membuat ilusi yang memuaskan hasrat serta emosi -- tapi bukan kehidupan manusia itu sendiri.
Kehidupan manusia dibentuk oleh pengharapan yang ada di dalamnya, yang dijaman sekarang disebut sebagai "impian". Sebuah mimpi, angan-angan, tetap hanya sebagai bayangan yang tidak bermakna jika orang tidak memiliki pengharapan untuk mencapai hal ini. Misalnya saja begini: ketika kita berjalan-jalan di mall, mungkin kita bisa melihat ada mobil baru dan mewah dipajang di atriumnya. Kita bisa mengambil brosur dan berangan-angan untuk mengendarai mobil ini, rasanya enak juga, dan sampai kita senyum sendiri. Namun mungkin saat itu kita mengingat posisi keuangan kita, sehingga tidak ada sedikitpun pengharapan untuk memperolehnya, baik dalam waktu dekat maupun kelak di masa depan. Maka, kita berlalu meninggalkan atrium dan sesaat kemudian mobil itu menghilang dari benak kita, seperti mimpi yang hilang saat orang terbangun dari tidurnya.
Tetapi akan lain jika kita mempunyai pengharapan untuk memperoleh mobil itu, karena kondisi keuangan telah memungkinkan untuk memilikinya. Kita bisa mengusahakannya; tiba-tiba saja mobil itu teringat terus, dan kita mulai menyusun rencana. Pikiran itu mulai mengubah hidup kita, dengan membersihkan garasi agar ukurannya menjadi lebih luas untuk menampung mobil yang lebih besar. Belanja yang boros segera dikekang, diganti dengan pengeluaran yang lebih hemat untuk bersiap-siap membayar cicilannya. Nomor telepon petugas pemasarannya disimpan di hp, supaya bisa dihubungi untuk ditanya mengenai variasi aksesoris dan harga diskon... dan seterusnya. Demikianlah pengharapan membentuk kehidupan kita.
Dunia menawarkan banyak gambar dan video, serta setumpuk penawaran, namun tidak dapat memberikan pengharapan. Ketika orang hidup dalam Tuhan, di sana ada pengharapan yang hebat, yang besar -- yang tidak bisa dipahami melalui gambar dan video dan pandangan mata jasmani belaka. Kita perlu berdoa supaya hati menjadi terang untuk mengerti pengharapan -- ini bukan hal yang emosional dan sekejap, bukan hasrat atau nafsu, melainkan melalui hikmat memahami panggilan Tuhan.
Panggilan Tuhan memberikan kemuliaan yang luar biasa sebagaimana yang telah ditentukan bagi orang-orang kudus. Seluruhnya merupakan suatu kekayaan, yang dapat dipahami dalam tiga makna.
Pertama, kekayaan bermakna kepemilikan -- jika orang itu kaya berarti dia memiliki, karena tidak ada orang yang kaya oleh milik orang lain. Kemuliaan sebagai orang yang dipanggil oleh Tuhan menjadi miliknya sendiri.
Yang kedua, kekayaan bermakna nilai yang tinggi, sehingga ia sanggup membayar apa yang harus dibayarnya, memenuhi apa yang harus dipenuhinya, dan memperoleh apa yang diinginkan hatinya. Ketika seseorang memperoleh kemuliaan panggilan Tuhan, ia juga mendapatkan nilai yang tinggi, sehingga sanggup memenuhi panggilan Tuhan serta bertanggung jawab atas panggilan itu.
Yang ketiga, kekayaan bermakna kesanggupan untuk memberi kepada orang lain, karena kekayaan tidak diukur dari seberapa besar orang memiliki melainkan seberapa banyak orang sanggup memberi. Kekayaan serupa dengan keindahan, yang hanya bermakna ketika dapat dinikmati juga oleh orang-orang lain. Kemuliaan dari suatu panggilan bermakna ketika dibagikan sebagai berkat, sehingga orang-orang lain memuji Tuhan dan memperoleh panggilannya masing-masing.
Kemuliaan yang diberikan panggilan ini hanya dapat dipahami ketika orang mempercayai Tuhan dan kemuliaan-Nya, karena ukuran yang diberikan oleh dunia berbeda dengan ukuran Tuhan. Dunia tidak memandang Tuhan Yesus Kristus sebagai seorang yang mulia, karena Yesus saat itu bukan seorang raja. Ketika Ia memberi makan kepada ribuan orang, mereka mencari-Nya untuk dijadikan sebagai raja -- padahal saat itu Yesus Kristus jauh lebih mulia daripada segala raja yang ada, karena Dia adalah Raja dari segala raja! Tetapi orang-orang saat itu tidak mampu memandang kemuliaan-Nya, serta berusaha menurunkan-Nya dengan menjadikan Ia raja seperti yang dimengerti oleh mata dan pikiran mereka tentang raja. Siapa Yesus sebenarnya, tidak mampu mereka lihat. Banyak orang juga masih tidak mampu melihat kemuliaan anak-anak Tuhan, yaitu orang-orang kudus.
Sementara kemuliaan mendefinisikan siapa orang-orang kudus, kuasa yang menyertai anak-anak Tuhan mendefinisikan apa yang sanggup mereka lakukan. Bagi orang percaya ada kuasa yang hebat yang berasal dari TUHAN, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya. Ada kemampuan yang lebih besar, bahkan yang ajaib, bisa dilakukan oleh orang percaya ketika mereka percaya. Ingatkah kita akan pengalaman Petrus, saat ia berjalan di atas air menghampiri Yesus? Itu adalah kuasa yang tak terbayangkan, tak terpikirkan, sehingga sampai sekarang pun ada orang-orang yang tidak dapat mempercayainya.
Masalahnya, orang membatasi apa yang mungkin dan tidak mungkin berdasarkan apa yang dapat dipahami dan masuk akalnya. Betapa terbatasnya akal manusia! Tetapi, orang merasa sudah menyelidiki alam semesta dan mengetahui hukum alam cukup banyak untuk menjelaskan segala sesuatu. Jadi, ketika ada yang tidak dapat dijelaskan menurut akal, hal itu dianggap sebagai ilusi, seperti sulap. Bukankah ada tukang sulap yang bisa berjalan di atas air? Demikianlah orang yang tidak percaya menyikapi kuasa Tuhan.
Tetapi, Petrus tidak bermain sulap ketika berjalan di atas air: itu adalah karena ia percaya. Ketika kepercayaannya kepada Kristus hilang oleh karena ancaman yang dilihatnya, Petrus tenggelam -- dan sekalipun ia adalah nelayan yang sudah biasa berenang, Petrus sangat ketakutan dan berteriak, "Tuhan tolonglah aku!" Kepercayaan yang hilang mengambil semuanya, termasuk kemampuan yang sudah ada sebelumnya, karena pada dasarnya manusia tahu bahwa ia tidak tahu. Di saat Petrus memikirkan tentang betapa dahsyatnya ancaman, dan betapa ia tidak tahu bagaimana mampu bertahan melawan ancaman itu, ia bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukan selain berseru minta tolong.
Kuasa untuk melakukan sesuatu berkaitan dengan panggilan, seiring dengan kemuliaan yang menyertai panggilan itu. Orang tidak bisa "mengetes" kuasa, karena dengan demikian ia bimbang atas kemuliaan yang diterimanya. Ketika Petrus mendapatkan panggilan Tuhan untuk datang pada-Nya, kemuliaan dari panggilan itu menentukan siapa diri Petrus dan ia bisa berjalan di atas air karena menjawab panggilan Kristus. Selama ia tetap memegang kemuliaan Kristus, Petrus tidak perlu "mengetes" kuasa yang menyertainya. Saat pikirannya teralih untuk menguji kuasa yang ada, ia melepaskan kemuliaan Kristus karena ujian merupakan perwujudan dari ketidak-percayaan, serta merendahkan nilai. Saat itu juga kuasa itu hilang, dan Petrus tenggelam.
Kalau orang Kristen bertanya-tanya tentang kuasa Tuhan dan "mencoba" apakah memang ada kuasa Tuhan, ia kehilangan kemuliaan panggilan Tuhan -- karena tidak pernah panggilan Tuhan diberikan untuk menguji kuasa-Nya. Tuhan tahu betul kuasa-Nya sendiri, tahu betul tentang apa yang telah diberikan-Nya bagi umat-Nya. Bahkan lebih dari itu, Ia tahu betul mengenai apa yang telah dikerjakan-Nya dalam Kristus -- karena di sanalah ada demonstrasi kuasa yang sesungguhnya.
Kuasa terbesar bukanlah kuasa untuk dunia, memperoleh barang-barang di dunia atau jabatan di dunia atau mengubah dunia menjadi tempat yang diinginkan manusia. Kuasa terbesar adalah kuasa untuk hidup dalam kekekalan, di luar dari dunia yang akan binasa ini. TUHAN telah mengerjakan kuasa-Nya yang terbesar dengan membangkitkan Kristus, dan dengan demikian membuka jalan rangkaian kebangkitan orang-orang percaya. Kuasa terbesar tidak berhenti hanya pada kebangkitan, melainkan juga pada posisi yang ditegaskan bagi Kristus, yaitu duduk di sebelah kanan TUHAN di Sorga.
Kita harus berusaha mengerti bahwa kehebatannya terletak pada fakta bahwa kita berada di dalam Kristus. Di dalam Kristus ada rencana kerelaan TUHAN. Di dalam Kristus ada bagian yang dijanjikan. Di dalam Kristus kita mendengar Firman Kebenaran, yaitu Injil yang menyelamatkan. Di dalam Kristus kita memperoleh Roh Kudus, yang membuat kita berada di dalam-Nya. Ketika Kristus berada di sebelah kanan Allah, maka kita yang berada di dalam-Nya pun berada di sana. Pernahkah kita membayangkannya? Tuhan Yesus Kristus jauh lebih besar daripada segala yang pernah atau dapat disebut sebagai penguasa, baik di dunia ini maupun dunia yang akan datang. Orang-orang percaya berada di dalam Dia yang terbesar di dalam kekekalan, sejak awal sampai akhirnya!
Kuasa Tuhan yang menyertai orang percaya merefleksikan posisi Kristus dan kemuliaan-Nya. Pertanyaannya: apakah kita mempercayai kuasa-Nya? Atau, kita masih merasa heran dan takjub pada kuasa itu, menyebutnya sebagai "ajaib" karena kita terus menerus tidak mempercayainya sampai Tuhan membuktikan kuasa-Nya dalam hidup kita!
Jika hati kita diterangi, maka kita mengerti kemuliaan yang menyertai panggilan Tuhan, dan dengan sewajarnya memahami kuasa yang besar yang menyertai. Kita tidak perlu mencarinya, memintanya, atau mengujinya -- karena kuasa Tuhan selalu ada di sana. Ketika kita percaya dan memuliakan Tuhan, kebesaran-Nya adalah hal yang sewajarnya dan tidak perlu diragukan. Kuasa-Nya selalu hadir, sekalipun hal itu tidak dapat kita rasakan, tidak terlihat oleh mata atau terdengar oleh telinga jasmaniah kita. Bagaimana mungkin kita masih merasa heran atas kuasa Tuhan? Bagi-Nya segala sesuatu mungkin!
Yang sesungguhnya menjadi urusan kita adalah memenuhi panggilan Tuhan, karena dalam hal ini diri kitalah yang perlu diragukan. Sekalipun kuasa itu ada pada kita, bukankah kita sendiri yang memilih untuk merasa lemah dan tidak percaya diri dan menjadi malas? Tuhan tidak perlu diragukan, kemanusiaanlah yang harus diragukan. Jika kita tidak lagi mengikuti panggilan itu, tentunya kita kehilangan kemuliaan panggilan-Nya -- dan juga kuasa yang menyertainya. Hiduplah menurut panggilan Tuhan, di sanalah kita tinggal bersama-sama dengan-Nya. Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Senin, 10 Januari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar