Minggu, 02 Januari 2011

Renungan Sehari - 2 Januari 2011

Ef 1:3-4 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. 

Jika ada pertanyaan mengenai "bagaimana kita bisa menjalani hidup ini?" Maka sebuah jawaban yang pasti dan dapat diterima adalah fakta bahwa kita telah menerima segala berkat rohani. Berkat-berkat ini dicurahkan berdasarkan Perjanjian Baru, yaitu ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, maka kita terhubung dengan Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Terciptalah suatu relasi yang ajaib dan indah, penuh kuasa dan kemuliaan, sekaligus menunjukkan kebenaran sejati bagi manusia yang memampukannya menjalani hidup dengan benar. Berkat rohani di dalam Sorga tidak dapat dipahami hanya dengan pemahaman manusia di dalam dunia -- ada karakteristik dan kualitas yang istimewa, yang berakar pada keberadaan Allah Bapa serta rancangan-Nya yang sempurna.

Berapa sering orang telah menganggap rendah berkat-berkat rohani? Beberapa menaruhnya tinggi sekali, sebagai mujizat-mujizat yang spektakuler, tapi pada akhirnya serupa dengan orang-orang yang mengaku bisa memakai kuasa supranatural demi kepentingannya sendiri. Mereka akhirnya menganggap rendah berkat rohani karena menempatkannya sebagai 'kuasa' yang dapat disalurkan sekehendak hatinya. Iman menjadi "kunci untuk mengklaim" kuasa Allah, yang sepertinya bisa dicurahkan setiap kali ada keinginan "baik": untuk sembuh, untuk bebas dari hutang, untuk mengubah perasaan orang, untuk membuat si dia mau menjadi pasangan hidup, dan seterusnya. Apakah semua dan setiap permohonan memang boleh, bahkan harus, dikabulkan hanya karena saat itu kita merasa bahwa inilah permohonan yang 'baik' untuk dipenuhi?

Orang lain memandang rendah berkat-berkat rohani dengan menganggap enteng, atau malah menganggapnya takhayul belaka. Kuasa dari Sorga dianggap hasil dari imajinasi orang-orang yang masih bodoh dan belum memahami ilmu pengetahuan tinggi, semua keajaiban itu dianggap hanya mitos yang diceritakan untuk mendorong keyakinan manusia karena belum memahami apa yang terjadi sebenarnya. Atas dasar keyakinan penuh pada rasio dan kemampuan menganalisa data-data, mereka menganggap bahwa semua yang dibutuhkan untuk menjalani hidup ini ada pada manusia di dunia. Orang tidak lagi butuh berkat rohani yang tidak jelas, tidak selalu bisa dijelaskan oleh rasio, dan tidak bisa dianalisa oleh metode ilmiah.

Orang-orang yang menganggap rendah berkat rohani, gagal untuk memahami bahwa manusia tidak dalam posisi untuk mengendalikan berkat rohani; semua itu berasal dari Allah, diberikan kepada manusia, untuk tujuan-tujuan Allah. Bukan manusia yang mengendalikan kapan dan bagaimana berkat rohani bekerja, melainkan Allah Bapa yang mengendalikannya. Di sinilah justru kejatuhan manusia: apa yang 'baik' diukur dari kesesuaiannya dengan pikiran manusia, cocok dengan pilihan-pilihan manusia.

Manusia tidak dalam posisi mampu memilih berkat rohani di dalam Sorga. Bahkan, manusia tidak dapat memilih tempatnya sendiri di Sorga. Pilihan ini adalah otoritas Allah, siapa saja orang yang akan datang kepada Kristus dan masuk ke dalam-Nya. Pilihan Allah bukan dibuat berdasarkan apa yang kita lakukan, karena Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan. Justru, karena Allah telah memilih, maka segala sesuatu terjadi dalam hidup dan mengantar kita kepada Kristus, tinggal di dalam-Nya, dan menerima berkat rohani. Semua yang dilakukan-Nya membuat kita menjadi kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya -- TUHAN lebih besar daripada segala masalah dan kekurangan kita.

Keajaiban dari segala rancangan Allah adalah kenyataan tentang kebebasan manusia untuk memilih dan mengambil keputusannya sendiri, yang pada akhirnya membuat rencana Allah terlaksana. Ketika Allah memilih Yakub, bukan Esau, mereka masih berada dalam kandungan. Saat Yakub dan Esau menjadi besar, nyatanya Esau yang memilih perempuan asing menjadi istrinya, Esau memilih untuk 'bebas' dan bisa begitu saja menjual hak kesulungan; sebaliknya Yakub menjadi pemuda yang banyak akalnya, bahkan mengelabui orang lain. Yakub memilih untuk setia pada keluarganya, setia kepada Tuhan ayahnya, Ishak dan Abraham. Ia memakai manipulasi untuk merebut berkat dari Ishak, dan sebagai akibatnya Yakub harus kabur dari rumahnya, meninggalkan semua harta dan warisan Ishak bagi Esau. Sampai sini, nampaknya semua hal baik tersedia bagi Esau, sedangkan Yakub lari tanpa apa-apa kepada Laban, menjadi menantu yang dipekerjakan selama bertahun-tahun.

Tetapi, Allah berpihak kepada Yakub, yang telah dipilih sebelum dilahirkan. Melalui Yakub hadirlah bangsa dan kerajaan Israel, bangsa Yehuda dan Raja Daud, dan Tuhan Yesus Kristus, Anak Daud, Juruselamat. Rancangan Allah terjadi melalui setiap pilihan-pilihan manusia yang takut kepada-Nya, ketika mereka mendapatkan segala berkat rohani di dalam Sorga, yang memberi kesanggupan, seperti bagi Yakub di tempat Laban, atau Yusuf di istana Firaun, atau Daniel di istana Nebukadnezar, atau Paulus di antara bangsa bukan Yahudi. Berkat-berkat rohani ini bukan diberikan untuk memuaskan kehendak manusia dalam waktu sesaat saja, melainkan rancangan yang terbentuk melalui berbagai pilihan bebas manusia, melintasi generasi demi generasi, hingga mencapai penggenapannya sesuai kehendak-Nya.

Kita juga dipilih oleh Allah Bapa sejak semula. Kita tidak sempurna -- kalau dibandingkan dengan sosok ideal manusia yang tidak ada salahnya -- namun karena berada di dalam Kristus, kita disempurnakan, dikuduskan, dan tampil tak bercacat di hadapan-Nya. Kita mendapatkan berkat rohani agar kita tetap berada di dalam Dia, yaitu Roh Kudus yang menyertai dan mengerjakan segala karya-Nya melalui hidup kita. Terpujilah TUHAN atas segala karya-Nya!

Salam kasih,
Donny

Tidak ada komentar: