Ef 1:5-6 Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.
Permulaan dan akhir dari semua yang mulia di dunia adalah kasih. Dalam kasih segala sesuatu terjadi tanpa terikat pada aturan sebab-akibat, terlepas dari hukum tabur-tuai. Kita tidak bisa memaksakan kasih dengan menabur perbuatan baik, untuk menuai kasih dan perhatian. Kalau orang menerima perbuatan baik, ia memberikan ucapan terima kasih -- karena perbuatan baik bisa dipandang sebagai kasih yang diberikan. Namun tidak ada keharusan untuk membalas dengan kasih yang sama. Kalau mengikuti budaya timur yang penuh sopan santun, perbuatan baik dibalas perbuatan baik lainnya, hutang budi dibayar budi -- namun itu bukan mengasihi atau mencintai. Itu adalah kewajiban.
Karena kasih tidak mengikuti sebab-akibat, orang tidak mengerti dan akhirnya tidak mengakui kasih dengan cara demikian. Orang menyamakan kasih dengan nafsu badani dan kehendak memiliki, kalau perlu dengan membayar harganya -- sesuatu yang sangat dipahami orang-orang. Tapi walaupun banyak orang yang menerima kasih dengan cara demikian, hasrat nafsu bukanlah kasih. Kita perlu memahami kasih yang benar untuk mengerti bagaimana Tuhan telah membuat kita ada sebagaimana kita sekarang, karena ketetapan-Nya dibuat dalam kasih. Inilah yang ada dalam TUHAN sejak sebelum alam semesta ada
Ketetapan TUHAN berasal dari kasih di dalam diri-Nya, karena Allah adalah kasih -- bukan sesuatu yang diciptakan, melainkan itulah adanya TUHAN. Hal lain yang diberikan Tuhan, seperti "ilmu pengetahuan" adalah karakteristik dari alam semesta ketika diciptakan -- semuanya menunjukkan kehendak dan pilihan TUHAN, tetapi bukan keberadaan-Nya sendiri. Itulah sebabnya, TUHAN tidak dapat diwakili oleh apapun yang ada di langit dan bumi ini, "Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi." Tetapi kasih adalah keberadaan Allah, TUHAN bersifat kasih, memberikan kasih.
Kasih diberikan hanya dalam relasi, seperti Allah Bapa kepada Allah Anak, juga kepada Allah Roh, Tritunggal yang telah ada sebelum waktu dan ruang ada. Sebelum dunia dijadikan, Allah telah menetapkan juga manusia-manusia yang kelak akan menjadi anak-anak-Nya, karena Ia mengaruniakan kasih. Ini adalah pemberian yang besar dan luar biasa, karena kasih Allah itu menandai dan menguduskan, artinya membedakan, anak-anak-Nya dari manusia lain. Kasih memang merupakan pilihan; tidak semua orang menerima kasih Allah, dan tidak ada seorang pun yang dapat menuntut kasih Allah bagi dirinya jika Allah tidak memberikannya.
Karena kita telah ditandai oleh kasih-Nya, maka Allah juga mengerjakan karya-Nya dalam diri kita dan memuliakan kasih karunia-Nya. Allah tidak memberikan kasih secara sambil lalu atau dianggap enteng saja. Renungkan: seorang raja di dunia ini juga, jika menandai seseorang sebagai objek kasihnya, memberikan tanda dan kemuliaan yang luar biasa. Ingatkah kita akan kisah ratu Ester? Ingatkah kita tentang bagaimana Mordekhai, yang duduk di pintu gerbang istana Raja, mengungkap plot pembunuhan raja? Mordekhai menjadi orang yang berjasa, akhirnya menerima anugerah dari raja Ahasyweros dan dimuliakan dengan pakaian raja, diarak dengan kuda raja melalui lapangan kota sambil disoraki oleh semua orang. Tidakkah TUHAN akan mengerjakan yang lebih besar lagi?
Mordekhai hanya diarak sehari. Setelah ia melalui semua penghormatan itu, hidupnya kembali seperti semula; ia tidak lantas menjadi bangsawan atau pejabat. Kepada anak-anak-Nya, TUHAN tidak memberikan kemeriahan semacam itu, namun Ia memberikan kemuliaan yang sama, bahkan lebih besar, dari yang sanggup diberikan raja. Tuhan memberikan hidup kekal kepada orang percaya! Mordekhai mendapatkan segala kemuliaan itu karena ia mengungkapkan rencana pembunuhan raja, menjadi orang yang berjasa bagi kerajaan. TUHAN memuliakan anak-anak-Nya bukan karena jasa perbuatan, melainkan oleh kasih-Nya yang sudah menentukan keberadaan kita sejak semula, jauh sebelum kita ada di dunia. Dia memberikan kasih bagi kita yang berada di dalam Anak-Nya yang dikasihi Bapa di Surga. Kasih menyatukan segala sesuatu!
Renungan bagi kita: apakah kita menerima kasih Allah? Orang yang pertama-tama harus memuliakan kasih karunia Allah adalah orang yang menerimanya. Adakah hidup kita mencerminkan ucapan syukur dan pujian kita atas kasih yang Tuhan telah berikan? Atau kita masih saja bersikap minder dan takut dan menganggap rendah segala kasih karunia yang telah Tuhan berikan? Atau, kita menyadari dan memuliakan kasih karunia-Nya, dengan cara hidup sebagai kesaksian yang baik dan memuliakan TUHAN?
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Senin, 03 Januari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar