Ef 4:3-6 Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.
Apa artinya menjadi satu?
Satu tubuh
Satu Roh
Satu pengharapan
Satu Tuhan
Satu iman
Satu baptisan
satu Allah dan Bapa dari semua.
Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.
Nah, itu adalah pengungkapan yang kuat, karena kebanyakan orang tidak menginginkan kesatuan semacam ini. Kebanyakan bisa menerima kesatuan yang terbatas, seperti "bersatu mengalahkan musuh" karena mempunyai kepentingan yang sama. Beberapa yang lain diikat oleh emosi, atau oleh satu misi (dan, kadang-kadang, satu visi) yang sama mengenai dunia di sekitarnya, seperti bersatu melestarikan alam. Tapi siapa yang menginginkan kesatuan dalam hal kepercayaan? Bahkan, yang sudah menjadi suami istri beda agama, yang tubuhnya secara fisik telah dipersatukan oleh kegiatan yang disebut "bersetubuh", tetap menghormati kepercayaan satu sama lain dan tidak memaksakan kesatuan. Dan disinilah kita menemukan hal pertama tentang kesatuan.
Bagaimana kesatuan terjadi? Melalui berbagai cara dan pengaturan, manusia membuat sesamanya bersatu dalam aktivitas. Contoh yang paling jelas adalah kegiatan baris-berbaris, di mana mereka bisa menyatukan derap langkah, sama langkahnya, arahnya, bahkan juga jarak langkahnya. Orang yang berbaris mengatur dirinya, atau dipaksa diatur, untuk mengikuti perintah pemimpin barisan. Kesatuan manusia adalah dalam aktivitas, melakukan suatu rencana bersama, gerak gerik bersama. Dari baris berbaris, manusia bersatu dalam organisasi, sampai disebut suatu "badan", atau "tubuh". Ciri-ciri dalam tubuh adalah: ada bagian-bagiannya, ada aturannya, dan ada kepemimpinannya. Orang bersedia masuk dalam suatu organisasi karena motivasi tertentu: ada yang menginginkan pendapatan, ada yang menginginkan pengaruh (atau dipengaruhi), ada juga yang sedang mengejar suatu idealisme.
Apakah gereja merupakan sebuah "tubuh"? Bisa ya, bisa juga tidak. Kalau gereja mempunyai anggota, memiliki aturan yang jelas, dan ada kepemimpinan -- kita dengan aman dapat menyebutnya sebagai "tubuh". Namun, seringkali organisasi gereja terdiri dari gedung, struktur organisasi, uang yang tersedia, orang-orang, dan kesepakatan bersama tentang aturan yang disebut Tata Gereja. Namun di sana tidak ada kepemimpinan, sehingga setiap orang mempunyai kepentingannya sendiri, keyakinannya sendiri, dan juga kesenangannya sendiri. Kalau dalam gereja minus kepempinan, tentunya lembaga gereja masih merupakan suatu organisasi, tetapi tidak tepat jika disebut sebagai "tubuh".
Yang menarik untuk direnungkan, yang disebut pertama kali oleh Rasul Paulus bukanlah soal tubuh, melainkan Roh. Bukan kesatuan tubuh, melainkan kesatuan Roh yang menggerakkan manusia diikat oleh damai sejahtera. Roh menjadi dasar untuk motivasi manusia, karena Tuhan membuat manusia ingin mempertahankan Roh yang menyatu dengan tubuhnya. Jika roh terpisah dari tubuh, bukankah orang itu mati? Demi menjaga roh dan tubuhnya, orang berjuang untuk makan, minum, dan segala hal lain untuk bertahan hidup. Tetapi setelah itu, manusia juga menginginkan ketenteraman dengan orang lain, penerimaan dalam rasa cinta, hingga pada puncaknya termotivasi untuk menyatu dengan Sumber Kehidupan. Roh-lah yang sesungguhnya bersatu, bukan tubuh, sekalipun secara biologis kegiatan suami-istri disebut persetubuhan.
Dalam kesatuan, selalu ada kehadiran bersama. Namun, kita tidak dapat memastikan sebaliknya: jika hadir bersama-sama, belum tentu ada kesatuan. Seorang laki-laki dan seorang perempuan dapat dipersatukan dalam pernikahan, dapat menghabiskan sebagian besar waktu dalam satu rumah yang sama, namun tetap saja di antara keduanya tidak ada kesatuan. Sebaliknya di sana ada permusuhan, kepahitan, dan kemarahan yang berlangsung selama bertahun-tahun. Sekalipun suami dan istri bersetubuh, mempunyai banyak anak-anak, roh mereka tidak menjadi satu, tidak ada ikatan damai sejahtera di sana. Mengapa demikian? Karena walaupun hidup bersama, impian mereka tentang masa depan berbeda. Keegoisan dapat menarik segala sesuatu bagi dirinya sendiri, entah di diri suami atau istri, menimbulkan harapan yang tidak melibatkan orang lain termasuk pasangannya.
Kesatuan Roh terjadi jika dan hanya jika ada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilan kepada setiap pihak. Orang beraktivitas, bersedia melakukan sesuatu dan termotivasi untuk sesuatu, adalah karena mempunyai pengharapan atas masa depan. Hanya orang yang mempunyai harapan yang masih hidup seutuhnya; tanpa impian atau kemampuan berharap, orang itu pada dasarnya telah mati walaupun tubuhnya masih hidup. Pengharapan adalah hal yang dipegang manusia atas masa depan yang belum diketahui akan datang seperti apa. Ketika sejumlah besar orang berkumpul bersama-sama, pengharapan yang sama menggerakkan orang untuk bekerja sama demi suatu masa depan yang lebih baik. Roh menginginkan kehidupan yang kekal; pengharapan terbesar yang dicari manusia adalah harapan untuk hidup kekal.
Bagaimana orang dapat berharap memiliki hidup kekal, kecuali dengan memohon kepada TUHAN yang menjadi sumber kehidupan? Masalahnya, di atas muka bumi ada banyak keyakinan, banyak pandangan mengenai sumber kehidupan. Satu-satunya cara yang masuk akal untuk memiliki kesatuan Roh adalah dengan memiliki keyakinan kepada satu Tuhan yang sama. Keyakinan ini melibatkan banyak hal yang harus dipercaya, tanpa dapat dibuktikan atau diteliti oleh manusia -- itulah satu iman yang sama. Untuk memiliki iman yang sama, manusia harus bersedia memalingkan pandangannya, bertobat dari segala kebiasaannya, menuju satu iman, kepada satu Tuhan. Demikianlah kita perlu dipersatukan oleh satu baptisan.
Kalau bicara satu baptisan, esensinya bukan tentang caranya dibaptis. Baptis adalah suatu tindakan penyucian, suatu 'penenggelaman' diri yang lama, pandangan yang lama, kepercayaan yang lama, untuk timbul kembali dalam iman yang sepenuhnya tertuju kepada Tuhan. Cara dibaptis tidak sepenting hakekat ini; sekalipun orang dibaptis dengan cara ditenggelamkan dalam air sungai Yordan, tapi jika ia masih memegang keyakinan yang lama, masih berpandangan menurut filosofi semula, maka baptis orang itu tidak bermakna lebih dari sekedar upacara agama. Sebaliknya, seorang yang hanya dibaptis dengan mempercik kepalanya dengan air, tetapi ia sepenuhnya berubah -- maka baptis itu mengubah seluruh hidupnya. Kita dipersatukan oleh satu baptisan, karena dengannya kita memiliki satu esensi yang serupa.
Pusat dari segala perubahan, tujuan dari semua perombakan, adalah memiliki Tuhan Yesus Kristus di tengah-tengah kehidupan. Namun Tuhan Yesus sendiri menunjuk kepada Bapa-Nya di Surga, karena Yesus dan Bapa-Nya adalah satu kesatuan. Kita sendiri semua dipersatukan dalam Tuhan Yesus -- akhirnya, kita semua dipersatukan dalam Allah, Dia yang di atas semua, oleh semua, dan di dalam semua -- ketika Roh Kudus turun dan berada di dalam kita, mengerjakan segala sesuatu sesuai kehendak-Nya. Roh Kudus satu dan sama, mengikat roh kita semua, dalam berbagai perbedaan kita, menjadi kesatuan di dalam Tuhan. Anda dan saya, betapapun sangat jauh terpisah, dipersatukan oleh Roh yang sama, membawa kepada perubahan hidup yang mempunyai arah sama, iman yang sama kepada Tuhan yang sama, dan mempunyai pengharapan yang sama. Bukankah hal itu indah?
Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Tidak ada komentar:
Posting Komentar