Minggu, 13 Februari 2011

Renungan Sehari - 13 Februari 2011

Ef 3:20-21 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin. 

Kasih Tuhan mempunyai efek samping yang tidak terduga. Ketika kita memikirkan tentang kasih Tuhan, betapa Tuhan itu mengampuni, menerima kembali manusia yang berdosa, sadarkah bahwa ada sesuatu yang hilang dari benak kita? Yang hilang itu adalah suatu kenyataan, bahwa sesungguhnya Tuhan itu harus ditakuti. Dia tidak menakutkan, karena kita tidak mampu melihat-Nya begitu saja -- dan persis itulah sebabnya kita harusnya gemetar memikirkan tentang Tuhan yang berkuasa atas langit dan bumi. Seharusnya kita berlutut -- kurang tepat, seharusnya bertiarap -- di hadirat-Nya. Kita memikirkan tentang kasih-Nya yang menggendong anak kecil, seorang gadis yang berdoa dengan tulus kepada Kristus. Tapi itu anak kecil. Jika sudah dewasa, kita tidak berdoa sambil digendong, bukan? Namun, berapa banyak yang masih bersikap kekanak-kanakan di hadapan Tuhan, karena Kasih Tuhan yang besar?

Betapa sering, karena kita menganggap kasih Tuhan sangat besar, maka kita mengambil alih kendali. Kalau Tuhan begitu baiknya sehingga barangkali mau saja menerima pertobatan dari si jahat itu, kita yang "lebih tahu lapangan" membutuhkan bukti-bukti pertobatan terlebih dahulu. Dalam kesempatan lain, manusia mengatakan bahwa tidak ada jalan pertobatan bagi sekelompok orang jahat itu, tidak bisa ada pengampunan bagi mereka yang begitu kejam dan menghancurkan, mereka patut dihukum mati. Karena kasih Tuhan besar, maka kita tidak bertanya terlebih dahulu kepada-Nya, karena kita tidak ingin diganggu oleh kasih-Nya. Sejarah manusia dan gereja menunjukkan, betapa sering orang yang mengaku sebagai orang saleh, justru menindas orang lain dalam nama Tuhan. Kasih Tuhan terlihat hanya tersedia bagi anggota gereja yang taat kepada pimpinannya; tidak tersedia bagi mereka yang tinggal di luar sana!

Di sisi lain, ada juga yang menerima kasih Tuhan yang besar sebagai tanda bahwa semua orang, semua kepercayaan, harusnya diterima. Karena kasih Tuhan itu begitu besar, maka semua orang diterima-Nya, sekalipun orang itu tidak bertobat atau percaya. Dikatakan bahwa rahmat Tuhan tersedia sama bagi setiap orang, bahkan semua allah sebenarnya adalah Allah yang sama, yang Maha Esa itu. Jadi tidak perlu lagi ada pembedaan, kita harus mengasihi semua orang dan tidak perlu repot-repot menjelaskan kabar baik dari Kristus. Kalau kasih Tuhan begitu besar, bukankah apapun pilihan kepercayaannya dia tetap diterima, asal berperilaku cukup baik juga? Tanpa sadar, manusia dengan cepat mewakili Tuhan dalam hal menerima atau menolak sesamanya. Dalam beberapa keadaan yang menyedihkan, bahkan orang Kristen yang liberal lebih lebar membuka tangan kepada orang yang berlainan iman, daripada membuka tangan bagi saudara sendiri yang dengan tekun memberitakan Injil.

Baik bersikap serba keras dan kaku dalam doktrin atau sebaliknya bersikap liberal dan serba-menerima, kita yang melakukannya lupa bahwa seharusnya kita takut akan Allah. Kita tidak dapat menggantikan TUHAN menjadi penentu nasib seseorang, atau nasib sebuah komunitas, atau nasib sebuah bangsa. Kita juga tidak dapat menukar standar yang TUHAN tetapkan, membuatnya menjadi serba-mudah dan serba-menerima tanpa konsekuensi dan komitmen. Tuhan tidak dapat dipermainkan! Kasih Tuhan besar dan dahsyat, mengubah kehidupan dan membelokkan jalan manusia. Bukan jalan-Nya yang berbelok mengikuti keinginan dan harapan manusia, melainkan kita semualah yang akan berbelok mengikuti-Nya, jika kita tetap berkomitmen untuk berada di dalam-Nya.

Itulah arti dari "kemuliaan". Sesuatu yang mulia, suatu "doxa", dalam bahasa Yunani, menarik segala sesuatu untuk mengikutinya, karena itulah hal terpenting dan terutama, paling tinggi dibandingkan seluruh hal lain. Tuhan Yesus Kristus sanggup melakukan segala sesuatu, jauh lebih banyak daripada yang dapat dipikirkan manusia. Jalan-Nya adalah mulia, terbentang di dalam kehidupan kita -- di dalam diri kita sendiri. Kuasa-Nya tidak bekerja diluar, melainkan di dalam kita. Bagaimana kita masih saja berani bersikap seolah-olah masih memegang seluruh kendali, masih bisa menepuk dada dan mengangkat dagu atas segala "kepandaian" dan "keberhasilan" kita? Tapi kita diam-diam mau mengambil kemuliaan itu dari-Nya.

Kalau kita bersikap keras dan saleh, saat kita menunjukkan kesalehan kepada semua orang lain, menuntut semua orang lain juga bersikap saleh -- mungkinkah kita sedang bermimpi bahwa orang-orang ini akhirnya kita kendalikan jalannya? Kita menjadi orang yang mulia sebagai penjaga kesucian, orang saleh yang menjadi teladan dan diikuti banyak orang lainnya. Kita menjadi imam dan mereka menjadi umat, yaitu umat milik kita.

Kalau kita bersikap humanis (serba manusia) dan pluralis (serba bermacam-macam), saat kita memperlihatkan kompromi kepada semua orang lain, mengajak semua orang untuk bersatu dalam persaudaraan manusia -- mungkinkah kita sedang bermimpi bahwa semua orang mau kita kendalikan jalannya? Kita menjadi tokoh pluralis yang dihormati, seorang yang bersikap terbuka dan mesti menjadi contoh bagi banyak bangsa lainnya. Kita menjadi selebriti dan mereka menjadi fans, yang mengidolakan kita.

Bagaimanapun jalannya, kita mengambil kemuliaan itu dari-Nya. Kita tidak takut pada Allah. Di dalam jemaat, bukan Kristus yang terbesar melainkan diri kita. Apakah kita sangka, karena kasih Tuhan begitu besar maka Dia berdiam diri saja? Orang yang bertanya, "mengapa Tuhan tidak menindak kejahatan, jika Dia benar-benar Maha Kasih dan Maha Kuasa?" perlu mengingat satu hal ini: jika TUHAN tidak menahan Diri-Nya oleh kasih-Nya yang besar, maka seluruh bumi sepatutnya hangus di hadapan-Nya, termasuk manusia yang menganggap diri baik dan bisa mempertanyakan-Nya!

Tuhan tidak berubah, dari dahulu, sekarang, sampai selamanya. Kemuliaan hanya patut diterima oleh TUHAN, di dalam jemaat dan di dalam Kristus, dimulai dari gereja pertama, kemudian diteruskan turun temurun sampai selama-lamanya. Tidak ada jalan yang sempurna, tidak ada pendapat atau pengetahuan yang bebas dari kesalahan manusia. Kasih Tuhan yang besar justru membuat kita harus berkomitmen untuk memuliakan Tuhan dalam segala perkara, sebagaimana seharusnya.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Tidak ada komentar: