Senin, 30 Mei 2011

Renungan Sehari - 30 Mei 2011

Eph 4:28  Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan. 

Manusia hidup dalam situasi di mana ketersediaan terbatas bagi orang yang hanya bekerja biasa-biasa saja. Salah satu hukum ekonomi mengatakan bahwa segala sesuatu itu terbatas, karena itu harus berusaha untuk mencukupi diri dengan apa yang ada -- atau mengambil milik orang lain. Kita menyebutkannya dengan berbagai cara: langkah strategis, perjuangan hidup, upaya meraih masa depan -- tetapi, pada hakekatnya adalah mengambil bagian orang lain untuk diri sendiri, karena dua alasan. Yang pertama, manusia beranggapan bahwa segala sesuatu terbatas. Yang kedua, manusia malas untuk terus menerus bekerja -- mereka ingin sedikit mengeluarkan tenaga, sedikit mengeluarkan modal, untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya. Dalam keterbatasan itu, banyak orang berpikir tentang bagaimana caranya agar tidak perlu bekerja tapi bisa menerima semua kelimpahan dalam hidup.

Kapan kita menyebut seseorang sebagai "pencuri"? Pada umumnya, orang hanya membatasi definisi ini untuk tiga hal. Yang pertama adalah pencurian yang sangat disengaja, seperti misalnya pencuri pada waktu malam membongkar masuk ke rumah dan mengambil barang-barang, kita menyebut ini adalah tindakan "kriminal". Yang kedua, kita menjadi "korban" ketika orang lain mengambil sesuatu yang kita anggap adalah milik kita pribadi, sekalipun mungkin kita tidak sampai melaporkannya kepada polisi. Yang ketiga, kita menyebut seseorang sebagai "pencuri" ketika kita melihat tindakannya tidak adil karena ada kepentingan sendiri, sehingga merugikan kepentingan orang lain.

Masalahnya, definisi itu sangat sempit untuk menyebut "pencuri". Bagaimana dengan orang yang merebut pelanggan dalam dagang? Walaupun orang tidak mengucapkannya, pihak yang kalah dalam persaingan seringkali memaki pesaingnya sebagai "pencuri", bahkan kemudian bersikap membenci. Orang yang dengan keras menyerukan "PENCURI!!" seringkali memiliki sikap yang pada dasarnya serupa yaitu menginginkan segala sesuatu bagi dirinya. Hanya, karena ia kalah dalam persaingan maka seruan "pencuri" dipakai untuk menarik pihak ketiga agar membelanya. Banyak orang, karena tidak bisa mengambil bagian yang ia inginkan, lantas memakai tangan orang lain. Bukankah itu adalah sumber dari banyak konflik dan keributan saat ini?

TUHAN tidak sembarangan dalam memberi perintah "Jangan Mencuri". Di dalam perintah ini ada satu pernyataan tegas bahwa TUHAN menyediakan segala sesuatu dengan cukup bagi semuanya. Hukum yang ditetapkan Allah bukanlah hukum keterbatasan, melainkan pemeliharaan. Semua tersedia, namun manusia harus mau bekerja dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya. Pemeliharaan Tuhan tidak diberikan begitu saja, sehingga orang yang malas dan enggan bekerja bisa menerima apapun hanya dengan duduk diam dan sembahyang saja. Tuhan tidak sama dengan penguasa kegelapan di atas gunung yang dipercaya bisa memberi "berkah" asal membawa sesajen dan tumbal sembahyangan.

Dia memelihara dan menyediakan, namun kita harus mau bekerja untuk itu. Firman Tuhan menempatkan anak-anak Allah sebagai orang-orang yang produktif, yang hidup di dalam pekerjaan baik yang Allah sudah persiapkan sebelumnya. Kita adalah manusia baru, yang tidak bermalas-malasan dan hanya duduk diam seperti orang yang tidak lagi berdaya untuk melakukan sesuatu. Bukankah TUHAN kita adalah Allah Yang Maha Besar? Bagaimana kita, yang mengaku sebagai anak-anak Allah, bisa menjadi orang yang kehilangan daya upaya dan menjadi kecil menghadapi masalah? Kita mengatakan bahwa Allah lebih besar daripada semua masalah yang kita hadapi. Bukankah kita, anak-anak Allah, juga lebih besar daripada masalah-masalah kita?

Dalam Firman ini, TIDAK dikatakan, "jangan mencuri lagi, melainkan berdoalah dan lihat Tuhan memenuhi kebutuhanmu". Kalau kita menghadapi masalah, TUHAN memberi kesanggupan kepada kita untuk menyelesaikannya. Jika dahulu, sebelum kita mengenal Tuhan, kita terpaksa mencuri dan merebut milik orang lain, maka sekarang kita sanggup bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangan kita sendiri. Kita akan dimampukan dengan luar biasa, sehingga bukan saja kita mampu memenuhi kebutuhan kita, lebih dari itu kita mampu membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.

Pesan inilah yang seharusnya mengalir dalam kehidupan produktif orang-orang percaya. Sayangnya, masih banyak anak Tuhan yang lebih cenderung untuk menekankan pada sikap duduk diam berdoa, untuk menantikan berkat dan rejeki datang dalam bentuk pemberian yang muncul di saat yang tepat. Masih banyak kotbah yang "memuliakan TUHAN" dengan menceritakan betapa ajaibnya, ketika ada kebutuhan untuk membayar sesuatu saat di dompet tidak ada uang, tiba-tiba datanglah orang yang tergerak untuk menyediakan dana. Seolah-olah itu adalah norma yang bisa diharapkan semua anak Tuhan... Kalau Tuhan memberikan apa yang dibutuhkan secara demikian, bukankah itu adalah kasih yang diberikan kepada anak yang sakit dan lemah? Bagaimana kita bisa berbangga menjadi anak yang sakit dan lemah! Bagaimana kita bisa berharap untuk terus sakit dan lemah sehingga harus terus disuapi oleh Bapa di Surga!

TUHAN tidak dimuliakan oleh anak-anak-Nya yang lemah dan mengharapkan untuk diberi, yang sangat jauh dari pikiran atau niat untuk memberi dan membagi. Kalau dahulu mencuri dan sekarang menjadi pengemis -- di mana kesaksian dari anak Allah yang dikatakan Maha Besar itu? Jangan mencuri, melainkan bekerjalah. Selalu ada jalan untuk menjadi lebih produktif. Selalu ada kesempatan, bahkan saat tidak ada kesempatan yang diberikan oleh dunia, kita dapat menciptakan sendiri kesempatan itu. Bukankah kita adalah anak Allah yang menciptakan langit dan bumi? Jika kita bekerja keras dan mengerjakan pekerjaan yang baik, selalu ada yang dapat kita buat. Selalu ada yang dapat kita berikan, untuk membuat hidup yang lebih baik.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

Selasa, 03 Mei 2011

Renungan Sehari - 3 Mei 2011

Ef 4:25-27 Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota. Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.
 
"Karena itu buanglah dusta..." Itulah ciri dari manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Cirinya bukan "tidak berdusta" melainkan "membuang dusta" -- dan di sini ada perbedaan besar.
 
Dusta adalah hal yang disadari oleh setiap orang; pada saat orang berdusta, ia tahu bahwa ia sedang berdusta. Hanya, di dalam prakteknya agak susah untuk membedakan antara orang yang memulai dusta dengan orang yang meneruskan dusta, karena seringkali banyak juga orang yang tidak berpikir cukup dalam dan panjang dan lebar dalam mempertimbangkan informasi yang diperolehnya. Akibatnya, banyak yang tidak berdusta, melainkan meneruskan dusta yang dibuat oleh orang lain.
 
Membuang dusta berkaitan dengan kedua keadaan ini. Pertama-tama, membuang dusta bisa berarti tidak lagi membuat dusta, atau dengan kata lain membuang kebiasaan berbohong. Ini adalah ciri kekudusan, yaitu orang meninggikan TUHAN dalam hidupnya, yaitu Terang yang sepenuhnya, sehingga dengan berani mengambil keputusan untuk tetap jujur sesuai kehendak Tuhan. Satu-satunya perkecualian, mungkin, adalah pada saat perang di mana satu kejujuran bisa menyebabkan kematian ribuan atau jutaan orang; itu adalah situasi khusus di mana konsekuensi dari pilihan dialami oleh banyak orang.
 
Arti kedua dari membuang dusta adalah tidak lagi meneruskan dusta. Ini adalah ciri kebenaran, yaitu orang selalu menguji dan mempertimbangkan setiap informasi yang diterimanya, sehingga tidak meneruskan hal-hal yang tidak benar. Untuk dapat melakukan hal ini, kita harus terus menerus memperbaharui budi dan akal pikiran, menambah wawasan dan pengetahuan. Di era informasi seperti sekarang, kemampuan untuk mampu mempertimbangkan dengan benar menjadi sangat penting, karena melalui sarana teknologi informasi yang maju justru ada banyak informasi yang palsu. Membuang dusta berarti melakukan penyaringan, membuang yang palsu dan hanya meneruskan yang benar.
 
Akibat langsung dari dusta adalah timbulnya kemarahan. Di banyak tempat, termasuk di dalam Gereja, ada orang yang berdusta dan mengakibatkan kemarahan. Ada dua macam dusta, dibedakan dari "sudah" dan "akan". Dusta yang pertama adalah berdusta atas apa yang sudah terjadi; orang melakukan sesuatu kemudian menyangkal perbuatannya itu. Kita sedari kecil diajari untuk tidak berbohong -- biasanya perilaku berbohong dimasukkan dalam kategori dusta atas apa yang sudah terjadi. Dusta yang kedua adalah berdusta atas apa yang akan terjadi; misalnya orang membuat sebuah janji yang tidak dapat (atau tidak mau) dipenuhinya. Kita sering menyebut perilaku seperti ini dengan istilah "membual". Sayangnya, sekarang ini semakin banyak orang yang membual dan menjual bualannya serta meraup keuntungan dari dustanya itu. Yang lain melihat contoh bahwa membual saja dapat mendatangkan kekayaan, maka mereka pun meniru dan membual lebih hebat lagi..
 
Dusta adalah dusta, dan ketidakbenaran akan menguap di atas api realita, hancur di bawah batu uji kenyataan. Kemarahan yang timbul dari dusta seringkali berakar dalam dan pahit, sehingga ada orang yang tidak lagi mau pergi ke gereja karena menemukan dirinya telah didustai oleh orang yang mengaku diri sebagai hamba Tuhan. Banyak, kalau tidak dibilang semua perceraian keluarga di dunia terjadi karena dusta. Kemarahan yang kemudian dianggap wajar dan bisa dimaklumi oleh orang-orang di dunia yang berdosa ini. Kemarahan pun menjadi bagian dari perilaku dosa.
 
Firman Tuhan tidak melarang kita untuk marah karena ada yang berdusta. Tetapi, sama seperti kita harus membuang dusta, kita juga harus mengendalikan kemarahan agar jangan sampai kita berbuat dosa. Kemarahan adalah emosi yang tidak berpikir, yang bisa menghukum jauh lebih berat dibandingkan kejahatannya. Kemarahan yang tidak terkendali seperti melempar api di dalam ruang keluarga, dan tahu-tahu saja semua sudah terbakar habis, tidak bisa dikembalikan lagi seperti semula. Jangan berbuat dosa karena marah. Jangan biarkan kemarahan diam berlama-lama.
 
Kita dimampukan untuk melakukan hal itu semua karena kita adalah manusia baru, diciptakan menurut kehendak Allah. Bukan kita yang menentukan pertumbuhan diri kita sendiri, melainkan TUHAN yang memberi pertumbuhan. Membuang dusta dan mengendalikan kemarahan adalah ciri penting yang menunjukkan kekudusan dan kebenaran sesungguhnya. Marilah kita hidup sesuai kehendak Tuhan yang telah menciptakan kita.
 
Salam kasih,
Donny