Selasa, 03 Mei 2011

Renungan Sehari - 3 Mei 2011

Ef 4:25-27 Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota. Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.
 
"Karena itu buanglah dusta..." Itulah ciri dari manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Cirinya bukan "tidak berdusta" melainkan "membuang dusta" -- dan di sini ada perbedaan besar.
 
Dusta adalah hal yang disadari oleh setiap orang; pada saat orang berdusta, ia tahu bahwa ia sedang berdusta. Hanya, di dalam prakteknya agak susah untuk membedakan antara orang yang memulai dusta dengan orang yang meneruskan dusta, karena seringkali banyak juga orang yang tidak berpikir cukup dalam dan panjang dan lebar dalam mempertimbangkan informasi yang diperolehnya. Akibatnya, banyak yang tidak berdusta, melainkan meneruskan dusta yang dibuat oleh orang lain.
 
Membuang dusta berkaitan dengan kedua keadaan ini. Pertama-tama, membuang dusta bisa berarti tidak lagi membuat dusta, atau dengan kata lain membuang kebiasaan berbohong. Ini adalah ciri kekudusan, yaitu orang meninggikan TUHAN dalam hidupnya, yaitu Terang yang sepenuhnya, sehingga dengan berani mengambil keputusan untuk tetap jujur sesuai kehendak Tuhan. Satu-satunya perkecualian, mungkin, adalah pada saat perang di mana satu kejujuran bisa menyebabkan kematian ribuan atau jutaan orang; itu adalah situasi khusus di mana konsekuensi dari pilihan dialami oleh banyak orang.
 
Arti kedua dari membuang dusta adalah tidak lagi meneruskan dusta. Ini adalah ciri kebenaran, yaitu orang selalu menguji dan mempertimbangkan setiap informasi yang diterimanya, sehingga tidak meneruskan hal-hal yang tidak benar. Untuk dapat melakukan hal ini, kita harus terus menerus memperbaharui budi dan akal pikiran, menambah wawasan dan pengetahuan. Di era informasi seperti sekarang, kemampuan untuk mampu mempertimbangkan dengan benar menjadi sangat penting, karena melalui sarana teknologi informasi yang maju justru ada banyak informasi yang palsu. Membuang dusta berarti melakukan penyaringan, membuang yang palsu dan hanya meneruskan yang benar.
 
Akibat langsung dari dusta adalah timbulnya kemarahan. Di banyak tempat, termasuk di dalam Gereja, ada orang yang berdusta dan mengakibatkan kemarahan. Ada dua macam dusta, dibedakan dari "sudah" dan "akan". Dusta yang pertama adalah berdusta atas apa yang sudah terjadi; orang melakukan sesuatu kemudian menyangkal perbuatannya itu. Kita sedari kecil diajari untuk tidak berbohong -- biasanya perilaku berbohong dimasukkan dalam kategori dusta atas apa yang sudah terjadi. Dusta yang kedua adalah berdusta atas apa yang akan terjadi; misalnya orang membuat sebuah janji yang tidak dapat (atau tidak mau) dipenuhinya. Kita sering menyebut perilaku seperti ini dengan istilah "membual". Sayangnya, sekarang ini semakin banyak orang yang membual dan menjual bualannya serta meraup keuntungan dari dustanya itu. Yang lain melihat contoh bahwa membual saja dapat mendatangkan kekayaan, maka mereka pun meniru dan membual lebih hebat lagi..
 
Dusta adalah dusta, dan ketidakbenaran akan menguap di atas api realita, hancur di bawah batu uji kenyataan. Kemarahan yang timbul dari dusta seringkali berakar dalam dan pahit, sehingga ada orang yang tidak lagi mau pergi ke gereja karena menemukan dirinya telah didustai oleh orang yang mengaku diri sebagai hamba Tuhan. Banyak, kalau tidak dibilang semua perceraian keluarga di dunia terjadi karena dusta. Kemarahan yang kemudian dianggap wajar dan bisa dimaklumi oleh orang-orang di dunia yang berdosa ini. Kemarahan pun menjadi bagian dari perilaku dosa.
 
Firman Tuhan tidak melarang kita untuk marah karena ada yang berdusta. Tetapi, sama seperti kita harus membuang dusta, kita juga harus mengendalikan kemarahan agar jangan sampai kita berbuat dosa. Kemarahan adalah emosi yang tidak berpikir, yang bisa menghukum jauh lebih berat dibandingkan kejahatannya. Kemarahan yang tidak terkendali seperti melempar api di dalam ruang keluarga, dan tahu-tahu saja semua sudah terbakar habis, tidak bisa dikembalikan lagi seperti semula. Jangan berbuat dosa karena marah. Jangan biarkan kemarahan diam berlama-lama.
 
Kita dimampukan untuk melakukan hal itu semua karena kita adalah manusia baru, diciptakan menurut kehendak Allah. Bukan kita yang menentukan pertumbuhan diri kita sendiri, melainkan TUHAN yang memberi pertumbuhan. Membuang dusta dan mengendalikan kemarahan adalah ciri penting yang menunjukkan kekudusan dan kebenaran sesungguhnya. Marilah kita hidup sesuai kehendak Tuhan yang telah menciptakan kita.
 
Salam kasih,
Donny

Tidak ada komentar: