Senin, 09 Desember 2013

Renungan Natal 2013

Filipi 2:5-7  Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Natal saat ini adalah ajang pemasaran. Natal adalah kesempatan untuk bertransaksi lebih besar, berkaitan juga dengan malam tahun baru. Waktu berbelanja. Waktu banyak orang Kristen -- termasuk gereja -- mengeluarkan uang untuk berbagai-bagai macam keperluan. Di dalam berbagai-bagai transaksi ini, bisa terjadi aksi dan peristiwa khusus dari Natal: lebih banyak cinta, lebih banyak perhatian, juga pemberian pengampunan. Kebaikan yang dilakukan untuk orang yang lemah, yang kurang, yang terbelakang. Betapa indahnya melihat semua kebaikan itu! Dilengkapi dengan indahnya pohon Natal, demikianlah Natal menjadi sesuatu yang berharga bagi semua orang, percaya atau tidak percaya.

Tidak ada yang salah dengan kebaikan. Hanya saja, ketika kita melihat kebaikan-kebaikan manusia, kita tidak lagi melihat kehebatan Tuhan. Apa yang baik (good) dapat menutupi apa yang hebat (great) ketika orang lebih memperhatikan kemegahan dan kemewahan yang ditampilkan dunia. Tambah lagi ada satu kenyataan tentang "peningkatan nilai" yang sengaja diberikan, untuk memperoleh keuntungan ekonomi dalam citra merek dan perolehan pangsa pasar.

Dalam pemasaran, ada langkah-langkah untuk memperlihatkan 'wajah' dari suatu usaha, yang diharapkan akan disukai, dicintai masyarakat sehingga mendorong terjadi lebih banyak transaksi, lebih banyak omzet, lebih banyak keuntungan. Perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan adalah aksi dengan modal kecil, lalu direkam, dituliskan, dan diberitakan melalui sarana komunikasi -- hari ini dunia memiliki internet dimana semuanya bisa memberitakan apa saja. Membangun citra, membuat sebuah usaha tampak baik dengan cara mengajarkan dan membagikan kebaikan, serta menempatkan usaha tersebut sebagai teladan, sebagai pemimpin yang perlu diikuti.

Dunia menyukai cara-cara seperti ini. Heal The World. Love Your Neighbour. You Can Do It. Segala hal yang terlihat bijaksana, baik, menarik. Tidak ada yang salah dengan pesan-pesan yang baik, yang mengangkat moral dan kebijaksanaan yang lebih. Tidak ada yang salah untuk memberi kebaikan kepada sesama. Namun ada sesuatu yang sangat salah ketika semua kebaikan ini menutupi kehebatan Tuhan.

Kehebatan Tuhan itu adalah karya-Nya di dunia. Yang terhebat dimulai dari fakta bahwa untuk melakukan ini, Tuhan harus mengeluarkan modal yang teramat sangat besar. Renungkanlah ini: dunia mengeluarkan sedikit modal, tidak banyak usaha (seringkali, bergantung pada insiden-insiden yang dilakukan oleh para karyawan yang hatinya baik luar biasa) untuk mendapatkan citra perusahaan, citra merek, yang hebat. Tetapi TUHAN memulai dengan mengesampingkan citra-Nya sebagai Tuhan.

Natal adalah saat di mana TUHAN tidak lagi tampil sebagai Tuhan, melainkan menjadi manusia.

Sebelum Natal pertama, sosok Putra Tunggal Allah Yang Maha Mulia adalah serupa dan setara dengan Allah. Ini adalah suatu Pribadi yang luar biasa, yang melampaui pikiran manusia. Bagi manusia, Hukum yang diberikan Allah sangat jelas: "Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi." (Kel 20:3-4)

Tidak ada allah lain yang boleh dipikirkan atau dibuat manusia, tidak ada yang boleh dibuat patung menyerupai apapun di atas, di bawah, dan di dalam air di bawah bumi. Pada langit dan bumi ciptaan, tidak ada apapun yang dapat serupa dan setara dengan Allah. Tidak ada apapun yang dapat dipikirkan manusia tentang sosok Allah. Tidak ada apapun yang layak untuk disembah manusia, karena sesungguhnya manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah sehingga menjadi lebih utama diatas segala ciptan lain -- tapi manusia tidak memiliki rupa Allah. Manusia tidak memiliki wajah Allah; sudah tentu tidak setara dengan Penciptanya.

Tuhan Yesus sudah memiliki rupa Allah, Dia sungguh setara dengan Allah. Dia sudah ada sebelum dunia ada; segala sesuatu diciptakan melalui-Nya. Di bawah kolong langit ini tidak ada yang dapat melebihi-Nya, tidak ada yang memiliki kemuliaan seperti yang Tuhan Yesus miliki. Kemuliaan yang melebihi segala hal di bumi dan di Sorga.

Bayangkan, apa yang Tuhan Yesus pikirkan, apa yang Dia rasakan, ketika memutuskan untuk mengosongkan Diri-Nya sendiri, mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia?

Natal adalah peristiwa istimewa, ketika langit tertekuk turun hingga menyentuh bumi, dalam diri bayi yang lahir di kandang binatang, yang dibalut kain lampin yang kasar dan ditidurkan dalam palungan tempat makan ternak. Bagi manusia, kondisi seperti ini adalah kehinaan luar biasa. Hanya dialami orang-orang yang benar-benar tidak punya apa-apa. Tidak ada kemuliaan. Tidak ada keindahan -- meskipun orang berusaha menggambarkan suasana di kandang itu dengan indah, sampai menjadi hiasan kartu Natal yang mewah.

Kenyataannya, Tuhan membuat situasi paling ekstrim, dari posisi yang paling mulia, turun ke posisi yang paling hina. Itu adalah anugerah Natal, suatu awal dari misi Tuhan di atas bumi. Misi hebat yang akhirnya memperhadapkan Tuhan dengan sang maut di atas salib, dan pada puncaknya mengalahkan kuasa maut dengan kebangkitan-Nya. Semua dimulai dari Natal, yang diberitakan oleh para malaikat: "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya." (Lukas 2:14)

Kita jarang mendengar kata-kata ini di dunia. Apa yang baik bagi dunia adalah peningkatan citranya sendiri. Tetapi Natal sejatinya mengungkapkan kemuliaan TUHAN, Allah semesta alam di tempat yang mahatinggi. Natal hakekatnya membawa damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya. Ini adalah awalnya. Selebihnya adalah anugerah demi anugerah, karena dalam Kristus Yesus ada nasehat, ada penghiburan kasih, ada kasih mesra dan belas kasihan. Kasih Allah yang melepaskan citra-Nya sendiri.

Jika Natal dirayakan, apa yang kita pikirkan? Apakah kita turut mengikuti pencitraan - mengejar kemegahan dan citra, menjadi yang terbesar dan terbaik serta terkenal? Apakah yang sedang kita muliakan, apa yang sedang kita harapkan, yang sedang kita kejar? Apakah citra kita yang baik, jemaat yang besar, gereja yang terkenal?

Atau, kita mentaati Firman Tuhan yang diberikan melalui Rasul Paulus ini: Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus .....?

Selamat Hari Natal!
Desember 2013

Donny A. Wiguna

Kamis, 06 Juni 2013

Renungan Pagi - Sungguh

Ibr 6:11-12 Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.

Bagi orang yang bekerja, ada tiga kemungkinan sikap yang diambilnya. Kemungkinan pertama adalah melakukan apa yang diharapkan untuk dikerjakan. Ini sikap yang paling banyak diambil; praktis semua karyawan melakukan hal demikian. Orang yang mengambil sikap ini tergantung pada pihak lain untuk menentukan apa yang harus dikerjakannya. Berkualitas adalah memenuhi harapan pihak lain sesuai dengan apa yang sudah disepakati. Dalam sikap ini juga muncul arti dari kata 'patuh' atau 'taat', berkaitan dengan kesesuaian antara perilaku dengan tuntutan pihak lain.

Kemungkinan kedua adalah mengerjakan untuk mencapai suatu tujuan, mengejar mimpi dan harapannya sendiri. Ini sikap para wirausaha, mereka tidak bergantung kepada orang lain untuk menentukan apa yang perlu dikerjakan. Bagi orang yang mengejar harapan ini, bahkan mereka tidak bersedia dibatasi, tidak mau dihalangi untuk mencapai tujuan mereka. Dikatakan bahwa tujuan menghalalkan cara, tanpa memikirkan konsekuensi moral dari tindakan yang diambil. Beberapa dapat menjadi pengubah dunia, sangat besar, sangat kuat dan mempengaruhi semua orang. Beberapa lainnya menjadi perusak, menghancurkan, menimbulkan banyak sekali kematian.

Kemungkinan ketiga adalah mereka yang tidak memikirkan apa yang mereka kerjakan. Mereka berjalan ketika diperintahkan, bergerak ketika disuruh. Mereka tidak berpikir tentang apa yang mereka lakukan, mereka berhenti bekerja saat tidak ada pengawas. Atau, mereka mengerjakan hal yang sama berulang-ulang, bahkan pada saat seharusnya mereka berubah dalam cara kerja atau berubah tujuan. Mereka tidak tahu sedang memenuhi harapan siapa atau standar apa yang perlu dicapai; hidup adalah duduk dan bernafas serta merasakan, bukan berpikir.

Nah, jika itu adalah sikap dalam bekerja, maka hal serupa juga terjadi dalam urusan iman beriman. Orang bisa menjadi beriman demi memenuhi harapan pihak lain -- harapan orang tua, harapan guru, harapan lingkungan. Orang tampil sebagai 'orang saleh' demi dilihat oleh orang lain di sekelilingnya. Beriman, atau beragama, menjadi pokok identitas, di mana yang penting adalah penilaian orang lain. Lalu, ada lagi orang yang beriman karena hatinya tergerak untuk mencapai sesuatu, mewujudkan sesuatu. Inilah orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk menjadikan pengharapannya suatu milik yang pasti. Melihat apa yang dibayangkan menjadi kenyataan, suatu kepastian -- mencapai apa yang ingin didapat, antara lain masuk ke dalam Surga serta menikmati segala sesuatu di dalamnya.

Urusan tentang mencapai keinginan sendiri ini menjadi pelik, karena tujuan sendiri akan menuntut kekuatan diri sendiri. Kalau seseorang mau mencapai impiannya sendiri, ia tidak bisa mengharapkan tangan orang lain. Ia sendiri yang harus mencapainya. Saat tujuannya adalah keselamatan di dalam Tuhan, maka orang harus berusaha dengan segenap kemampuannya untuk benar dan selamat di hadapan Tuhan -- semua dengan kekuatannya sendiri. Di sisi lain, ketika seorang memenuhi harapan orang lain, mungkin saja terjadi yang dilakukannya adalah memenuhi keinginan atau tujuan pribadi orang lain, tapi dibungkus atas nama Tuhan karena orang lain itu punya pengaruh sebagai pemimpin.

Yang ketiga, orang bisa menjadi Kristen, atau menjadi beragama, tanpa memikirkan apa yang mereka percayai. Agama menjadi identitas, sesuatu label yang melekat begitu saja, tanpa konsekuensi. Mereka kebaktian karena sudah biasa dalam keluarga seperti itu, mereka tidak berpikir tentang Tuhan atau Surga atau neraka. Jika tidak ada yang mengawasi, mereka dapat berhenti percaya, atau sekedar melakukan hal yang sama, seperti berdoa, berulang-ulang tanpa memiliki pikiran apapun mengenai doa atau aktivitas agamawi itu. Mungkin, orang itu bersungguh-sungguh jadi wirausahawan, dan menaruh urusan iman di pinggiran hidupnya -- asal ada saja, iman tidak berpengaruh dalam hidupnya.

Pertanyaannya: kita bersungguh-sungguh untuk apa? Orang yang beriman mempunyai tujuan yang timbul dari harapan, yaitu bersatu dengan Tuhan. Esensi dari keselamatan adalah "sampai ke Bapa di Sorga", memperoleh kedamaian dengan berada di dekat-Nya. Namun, sampai sejauh mana kita mengerti tentang pengharapan itu, apalagi menjadikannya suatu milik yang pasti? Kalau kita bersungguh-sungguh dalam iman, maka acuan yang kita pakai bukanlah tentang memenuhi harapan orang lain (seperti, menjadikan gereja sebagai tempat yang mengasyikkan dan keren), juga bukan memenuhi tujuan yang kita buat sendiri. Acuan bagi kita adalah meneladani mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan oleh Allah. Pengharapan itu dijanjikan oleh Allah, bukan manusia. Kalau manusia yang membuat tujuan dan harapan, bagaimanapun pasti terbatas oleh kemanusiaan dan kedagingan. Entah itu adalah harapan orang lain atau dari diri sendiri, pasti tidak dapat melampaui dunia di sekitarnya.

Dalam bekerja, banyak orang yang melakukan apa yang diharapkan untuk dilakukan, tapi dalam hal iman, banyak yang tidak memikirkannya. Atau ada yang berambisi pribadi dalam membangun kepercayaan, malah menjadi pemimpin sekte dan membuat orang di sekitar mengkultuskan dirinya sebagai pemimpin tertinggi dalam agama. Orang yang tidak berpikir soal agamanya, dapat mengikuti apa saja, bahkan dapat mengikuti segala "apa yang baik" dari semua agama dan "yang penting melakukan hal yang baik" -- karena toh mereka tidak memikirkan soal pengharapan. Hidup adalah duduk dan bernafas serta merasakan, bukan mencari Allah -- kecuali kalau sudah kepepet dan tidak tahu lagi harus berbuat apa, baru berdoa sebagai "solusi jalan keluar segala masalah".

Oh ayolah, seperti apakah Tuhan dalam pikiran kita?

Indahnya: TUHAN yang mengasihi kita, Dialah yang lebih dahulu merangkul kita dalam anugerah-Nya. Kita tidak memikirkan-Nya, tapi Dialah yang memikirkan dan mencari kita dan menunjukkan Diri pada kita. Kita berharap karena hal itu diberikan-Nya, dan usaha kita bukanlah untuk memperoleh harapan melainkan agar pengharapan itu menjadi suatu milik yang pasti. Itu yang membuat kita giat, yang mendorong kita untuk melangkah lebih jauh di dalam Tuhan. Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny